Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2010


(Intisari Ceramah Dharmaraja Liansheng pada Kebaktian Sabtu Tanggal 19 September 2009 di Ling Shen Ching Tze Temple)
diterjemahkan oleh Yau Fong

Sembah sujud pada Bhiksu Liaoming, Guru Sakya Zhengkong, Gyalwa Karmapa XVI, Guru Thubten Dhargye, Triratna Mandala! Sembah sujud pada yidam hari ini Padmakumara! Pemandu kebaktian Acarya Lianzhu, Gurudhara, Para Acarya, Dharmacarya, Bhiksu Lama, Pandita Dharmaduta, Pandita Lokapalasraya, Ketua Vihara, para umat se-Dharma, dan para umat se-Dharma di internet, salam sejahtera semuanya!

Hari ini kita lanjut menerangkan SUTRA ALTAR PATRIAK VI, Patriak VI bersabda, “Kalyana-mitra! Orang berbakat kecil, mendengar ajaran instan ini, ibarat tumbuhan berakar kecil, jika ditimpa hujan deras, semua ambruk, tidak dapat tumbuh. Orang berbakat kecil, juga demikian.” Saya baca sekali lagi, Patriak VI bersabda, “Kalyana-mitra! Orang berbakat kecil, mendengar ajaran instan ini, ibarat tumbuhan berakar kecil, jika ditimpa hujan deras, semua ambruk, tidak dapat tumbuh. Orang berbakat kecil, juga demikian.”

Di sini ada 2 titik berat. Titik berat pertama adalah “ajaran instan”. Di dalam Agama Buddha ada yang namanya “Eksoterik” dan “Esoterik”, ada yang namanya “Ajaran Bertahap” dan “Ajaran Instan”. Yang namanya “Ajaran Bertahap” adalah setahap demi setahap, mulai dari dasar. Tadi, Acarya Lianzhu bercerita tentang pelatihan militer, dari dasar dilatih setahap demi setahap, hingga menjadi seorang tentara yang serba bisa. Seorang tentara setelah melalui bermacam-macam latihan, pada akhirnya bisa menjadi seorang tentara sejati. Metode pendidikan demikian disebut “ajaran bertahap”, diajarkan secara bertahap.

Patriak VI bersabda, Dharma yang disabdakan Patriak VI disebut “Ajaran Instan”. Apa yang dimaksud “Ajaran Instan”? Di awal sudah diterangkan cara mencapai pencerahan, apa itu pencerahan, wujud dunia yang sebenarnya, kebenaran tertinggi alam semesta. Di awal Beliau sudah menerangkan hal-hal demikian. Sebagian besar orang awam, begitu mendengar “Ajaran Instan”, mereka tidak berani percaya. Oleh karena itu, “Ajaran Instan” tidak boleh langsung diutarakan, hanya boleh diutarakan secara tidak langsung, karena langsung diutarakan, banyak orang tidak akan percaya ada hal demikian. Oleh karena itu, Anda akan merasa “mengapa pencerahan itu sulit sekali?” Orang yang mencapai pencerahan dalam aliran kita, ia tentu saja tahu. Namun, yang tidak cerah, mereka menulis kata-kata yang dikira telah mencapai pencerahan, setelah saya membacanya, saya jelaskan sebentar, tidak langsung mengutarakan. Yang tidak cerah masih banyak. Mengapa? Karena sulit sekali dibayangkan bagaimana kondisi pencerahan itu. Sulit sekali dipikirkan, sulit sekali dituliskan, sulit sekali dicerahi. Ini disebut “Ajaran Instan”, ajaran instan artinya langsung mengutarakan pada Anda dan Anda harus mencerahinya, itu adalah “Pencerahan Instan”, Anda cerah dalam seketika.

Yang disabdakan Patriak VI adalah “Ajaran Instan”. Sekte Zen ada 2 macam, satu adalah “ajaran bertahap”, yaitu secara bertahap Anda dibimbing hingga mencapai pencerahan, disebut “ajaran bertahap”; satu lagi adalah “ajaran instan”, secara langsung mengatakan sudah sangat mendekati, lantas Anda pun mencapai penceahan instan dalam seketika, ini disebut “ajaran instan”. Di dalam sabda Patriak VI ini sempat dibahas satu contoh, orang awam pada umumnya disebut orang berbakat kecil. Orang berbakat kecil tidak akan percaya ajaran instan yang langsung mengutarakannya pada Anda, yakni tidak berani percaya ada hal demikian; ibarat turun hujan yang sangat deras, tidak hanya tanah longsor, rumah juga ambruk, apalagi tumbuhan kecil, semua rubuh. Karena hujan ini terlalu deras. Ajaran instan ibarat hujan deras, begitu turun, Anda tidak dapat menerimanya, Anda pun tidak berani percaya, lalu mati. Itulah sebabnya pencerahan tidak boleh langsung diutarakan. Mahaguru adalah orang yang telah mencapai pencerahan, mengapa tidak langsung mengutarakan prinsip pencerahan ini kepada Anda semua, karena di antara insan ada yang berbakat besar, begitu mendengarnya, hati dan pikirannya terbuka, segera mengerti. Namun, ada sebagian orang setelah mendengarnya tidak berani percaya, sebaliknya malah mencelakainya. Di sinilah alasan pencerahan itu sangat sulit, karena di luar dugaan Anda.

Dulu, Buddha Sakyamuni mencapai pencerahan di bawah Pohon Bodhi, Anda tidak bisa membayangkan sebenarnya apa yang dicerahi-Nya. Banyak Mahabhiksu, Mahabhiksuni, orang yang telah lama melatih diri, belum tentu dapat mencerahi tingkat pencerahan Buddha Sakyamuni, ini sangat sulit. Makanya, Patriak VI bersabda, mendengar ajaran instan ini, ibarat ditimpa hujan deras, banyak rumput, bunga, semua terbawa arus. Orang berbakat kecil tidak dapat menerima pencerahan. Makanya ada satu kalimat mengatakan, orang berbakat besar mendapatkan manfaat besar, orang berbakat kecil mendapatkan manfaat kecil, di sini Buddhadharma justru ada perbedaan, membimbing secara bertahap dan mencerahi Anda dalam seketika.

Bagaimana menjelaskan prinsip ini? Tadi, Lama Lianye mengatakan bahwa diam-diam ada takdirnya. Sebenarnya kita bisa mengubah takdir, takdir bisa diubah, Mahamayuri Vajrarajni pun berkata, karma tetap boleh diubah. Makanya, di dalam buku Empat Nasihat Liaofan ada “Cara Mengubah Nasib”, pada bagian pendahuluan Empat Nasihat Liaofan diceritakan tentang ada seorang yang mengerti Ilmu Perubahan Shaozi, orang yang mengerti ilmu perubahan, dengan sendirinya tahu diam-diam ada takdirnya. Shaozi adalah Shao Kangjie, ia adalah orang yang sangat hebat dalam mengetahui hal yang belum terjadi. Dulu ia membaca banyak buku, ia sangat pintar, semua buku sudah habis dibacanya. Setelah buku habis dibacanya, ia melanglang buana. Karena ia sangat pintar, tampangnya juga pintar. Ada seorang yang seperti dewa, ia setengah dewa, ia melihat Shao Kangjie, ia mengatakan orang ini sangat berbakat, lalu memberinya 3 kitab, kitab pertama adalah “Yijing”, kitab kedua adalah “Hetu”, “kitab ketiga adalah “Luoshu”.

Shao Kangjie membaca ketiga kitab ini, terus-menerus menyelidiki, tahu bahwa di antara langit dan bumi diam-diam ada takdirnya, sehingga ia menuliskan takdir ini menjadi beberapa buku, itulah “Ilmu Perubahan Shaozi”, yaitu “Tie Ban Shen Shu” (Ramalan Sejitu Baja) yang beredar sekarang. Tie Ban artinya, apa yang saya katakan ibarat baja, ramalan adalah hidup kita diramal, inilah takdir, diam-diam ada takdirnya. Inilah karya Shao Kangjie setelah “Yijing”, “Hetu”, dan “Luoshu” diselidiki, ditulis menjadi ratusan hingga ribuan butir, pokoknya Anda tidak bisa mengelak dari takdir ini, saya ramal, itulah takdir Anda. Kapan Anda lahir, siapa nama ayah, siapa nama ibu, berapa saudara, kapan Anda meninggal dunia, semua sudah ditakdirkan.

Yuan Liaofan mengatakan, setelah ia mengerti Ilmu Perubahan Shaozi, hatinya ibarat air mandek, selain itu, ia bertemu seseorang yang memberinya petunjuk, “Pemikiran Anda ini tidak benar, takdir bisa diubah.” Berdasarkan apa diubah, yang dijelaskan di dalam Empat Nasihat Liaofan adalah, mengubahnya dengan kebaikan dan kejahatan, mengubah takdir Anda dengan kebajikan besar, inilah yang tertulis di dalam Empat Nasihat Liaofan, diam-diam ada takdirnya, namun takdir bisa diubah. Makanya, masa lalu yang dikatakan Shao Kangjie sangat tepat, peristiwa yang telah berlalu mutlak sangat tepat; jika nasib Anda tidak berubah, masa depan juga sangat tepat, namun jika nasib Anda telah berubah, masa depan tidak tepat lagi. Oleh karena itu, Tie Ban Shen Shu karya Shao Kangjie adalah intisari hidupnya. Anda mengerti Tie Ban Shen Shu, berapa jumlah saudara Anda, bisa diramal. Berapa yang meninggal dunia dan umur berapa, apa shio ayah; contoh ayah saya shio macan, ibu shio kelinci, saya shio ayam; ia menggunakan tahun, bulan, tanggal, waktu, diramal sampai waktu, kemudian, takdir Anda diramalkan, tepat sekali, inilah Ilmu Perubahan Shaozi karya Shao Kangjie yang diwariskan turun-temurun di China.

Namun, apakah takdir ini bisa diubah? Bisa diubah. Bagaimana mengubahnya? Bersadhana bisa mengubahnya. Karena melatih diri itu sendiri adalah kebajikan besar. Contoh, Sadhana Mahamayuri, ia bisa mengubah takdir. Kita harus menjapa Mantra Mahamayuri, menjapa Mantra Sataksara, menjapa mantra banyak yidam, semua bisa mengubah takdir. Tadinya, Anda seharusnya terlahir menjadi kelahiran melalui telur, saya katakan, Anda bisa mengubah semua kelahiran antara lain: kelahiran melalui telur, kelahiran melalui janin, kelahiran melalui kelembaban, hanya bisa kelahiran secara spontan. Lewat kelahiran secara spontan, paling tidak Anda adalah Padmakumara. (Hadirin tepuk tangan) Oleh karena itu, kita mementingkan bersadhana, juga mementingkan membangkitkan Bodhicitta, berbuat kebajikan, alasannya di sini. Kita mesti menyesuaikan dengan Buddhadharma, kita harus kontak yoga dengan Buddhadharma, kontak yoga dengan yidam, kontak yoga dengan Buddha, kontak yoga dengan Bodhisattva, kontak yoga dengan semua yidam, boleh mengubah diri kita sendiri.

Pagi ini saya menulis tentang “prinsip kontak yoga”, saya merasa kontak yoga adalah penjelmaan, kontak yoga dan penjelmaan, kontak yoga adalah manunggal, setelah manunggal adalah menjelma. Jika Anda tidak kontak yoga dengan Buddha dan Bodhisattva, Anda selamanya seorang awam, tidak dapat bebas dari tumimbal lahir. Tadi, Acarya Lianzhu mengatakan bahwa ia menerangkan banyak sekali, penjelmaan pertama itu apa, penjelmaan kedua itu apa, ia bicara tentang “hidup dan mati”, “untung dan rugi”, “suka dan duka”, “kekuasaan dan kewajiban”, bicara lagi tentang “separuh kehidupan sebelumnya”, “separuh kehidupan sesudahnya”, bicara tentang “aku sejati” dan “aku palsu”, semuanya berlawanan. Ia tidak mengatakan cinta dan benci, sebenarnya cinta dan benci keluar dari perasaan yang sama, jangan mengira cinta dan benci itu perasaan yang berbeda. Salah! Cinta dan benci sama-sama keluar dari hati Anda, benda yang sama, semua ada perasaan, cinta dan benci adalah perasaan. Oleh karena itu, yang saya bicarakan adalah “teori 1”, yang dibicarakan Acarya Lianzhu adalah “teori 2”, apa itu penjelmaan pertama, apa itu penjelmaan kedua, sebenarnya adalah satu. Suka dan duka adalah satu; hidup dan mati adalah satu; untung dan rugi adalah satu; kekuasaan dan kewajiban adalah satu; separuh kehidupan sebelumnya dan separuh kehidupan sesudahnya tidak terbagi menjadi 2, tetapi 1; “aku sejati” dan “aku palsu” juga satu. Ia membaginya menjadi 2, saya gabungkan lagi, (hadirin tepuk tangan) ini adalah manunggal, Buddha dan saya adalah 1, bukan 2, Buddha dan saya adalah 1, sama sekali bukan 2, ini disebut manunggal.

Dalam ilmu pengetahuan, kita bisa melihat, jika nenas dikawinkan dengan Sarikaya, ia pun berubah menjadi sarikaya rasa nenas, ini adalah metode pencangkokan tumbuhan. Contoh, saya cangkok tumbuhan apa dengan tumbuhan apa, kelak kita makan pir, pir akan sebesar semangka, karena Anda cangkokkan, pir akan berubah menjadi sebesar semangka, ini adalah manunggal. Anda gunakan metode pencangkokan, bisa menciptakan banyak buah baru, binatang juga sama. Satu yang terpenting adalah, virus juga bisa manunggal, lekas selidiki vaksin untuk melawan virus itu. Asalkan virus manunggal maka bertransformasi, menjelma. Pagi ini, “Prinsip Kontak Yoga” yang saya tulis, Buddha dan saya manunggal, maka menjelma menjadi Buddha baru, muncullah Buddha yang baru, inilah manunggal dan menjelma.

Seseorang menulis sebuah cerita lucu untuk saya, tikus bertemu kucing, tikus berkata pada kucing, “Lain kali saya tidak takut kamu lagi, karena anak cucu saya sudah kawin dengan kelelawar, kelak tikus akan terbang di langit seperti kelelawar, kucing juga tidak bisa mengejar dan menangkap saya lagi.” Kucing ini tertawa sinis, “Anak cucu saya kawin dengan burung hantu, bagaimana kelelawar terbang, burung hantu tetap akan menangkapmu.” Inilah penjelmaan. Anda lihat begitu tikus kawin dengan kelelawar, ia pun bisa terbang, kucing kawin dengan burung hantu, ia pun berubah menjadi burung hantu, semua itu bisa berubah. Tantra itu sendiri justru sedang berubah, orang berbakat kecil tidak rasional, orang berbakat kecil tidak mengerti prinsip.

Di sini juga ada satu orang yang menuliskan cerita lucu. Ada seorang bhiksu menumpang di perahu yang sama dengan seorang gadis jelek sedang menyeberangi sungai. Bhiksu itu melihat sekilas wanita yang sangat jelek itu, wanita yang sangat jelek itu berkata, “Anda ini bhiksu genit, berani-beraninya mengintip wanita baik-baik.” Begitu bhiksu ini mendengar, ia tidak berani membuka matanya, matanya pun dipejamkan. Tak disangka, wanita jelek ini berkata, “Anda tidak berani membuka mata berarti Anda sedang membayangkan saya.” Bhiksu ini terpojok! Buka mata tidak benar, pejam mata juga tidak benar, bhiksu ini buru-buru menoleh, sekalian saja saya tidak buka mata dan tidak pejam mata, saya menoleh saja, tidak melihat Anda. Wanita jelek ini berpikir, “Anda malu bertemu saya, hati Anda pasti merasa bersalah.” Orang seperti ini tidak bisa diberi penjelasan, kita jelaskan prinsip padanya, ia justru berpikiran seperti itu, menurut Anda, apa yang harus dilakukan, benar tidak?! Makanya, tidak dapat diberi penjelasan.

Kadang-kadang saat konsultasi, saya bertanya A, orang lain menjawab B, atau orang lain bertanya A, saya menjawab B, kadang-kadang bisa tidak sambung juga. Seseorang menelepon, kalau di Amerika telepon 911, kalau di Taiwan telepon 119, saat telepon ke sana, ia berkata, “Rumah saya kebakaran!” Seberang bertanya, “Di mana?” Ia berkata, “Di dapur saya.” Seberang bertanya, “Saya tanya di mana lokasi kebakarannya?” “Dapur.” “Kalau begitu, di mana tempatnya?” “Rumah saya.” “Sekarang saya tanya Anda, bagaimana kami pergi ke rumah Anda?” “Bukankah Anda punya mobil pemadam kebakaran?” Apa yang dijawab selalu salah. Anda harus menjelaskan alamat rumah Anda, ini adalah tidak sambung.

Oleh karena itu, apa yang dikatakan Mahaguru, orang berbakat besar mengerti, orang berbakat kecil tidak mengerti. Orang berbakat besar mendengar kata-kata pencerahan, ia akan merasa mustahil. Jika saya mengutarakan apa itu pencerahan, orang berbakat besar sekali mendengar sudah mengerti, begini rupanya. Seperti yang dikatakan Acarya Lianzhu bahwa hidup bagai sandiwara, kita memainkan sebuah sandiwara, Upacara Penyeberangan Amitabha, semua orang hadir, Mahaguru menerangkan Sadhana Mahamayuri, umat dari berbagai belahan dunia pun datang, semua datang mendengarkan, wah! Sadhana ini bagus sekali, setelah mendengarnya, banyak orang menekuninya secara nyata. Juga ada orang setelah mendengar Sadhana Menstabilkan Gempa Bumi, contoh gempa bumi Washington, kita harus ambil tanah dari empat penjuru, harus ke Spokane, begitu jauh, ke tepi laut Seattle, ke perbatasan Vancouver, ke samping jembatan besi Portland. Wah! Kita harus pergi ke tempat yang begitu jauh untuk mengambil tanah dari empat penjuru, harus menjapa mantra, menjapa begitu banyak. Acarya Lianyin berkata, “Mahaguru lakukan saja, mohon Mahaguru melakukannya.”

Anda pintar sekali! Saya juga tidak bodoh! Siapa yang mengatakan, dia yang melakukan! Acarya Lianyin serba bisa, setelah saya mengajarkan sadhana homa, ia segera melakukannya 1000 kali homa. (Hadirin tepuk tangan) Ia juga melatih diri secara nyata. Sadhana begitu bagus, kita semua suruh Acarya Lianyin saja yang melakukannya, siapa yang mengatakan, dia yang melakukan!

Kejadian hidup ini benar-benar mirip sebuah sandiwara. Lihatlah begitu banyak orang berkumpul bersama, waktu sudah berlalu, menurut Anda, bisakah kita pada waktu yang sama, menghimpun orang-orang yang dulu pernah datang berkumpul di satu lokasi untuk mengadakan upacara ini lagi? Apakah bisa? Tidak bisa. Mustahil! Pertama, waktunya tidak mungkin sama, orang-orangnya juga mustahil sama lagi. Ada orang begitu pulang, yang sudah lanjut usia, sepulangnya tidak mungkin kembali lagi. Ia mengatakan cukup datang sekali saja, sepulangnya ia tidak mungkin datang lagi. Orang-orang yang sama mau dikumpulkan lagi, upacara yang sama, sadhana yang sama, waktu yang sama, lokasi yang sama, mustahil. Beginilah sandiwara kehidupan. Sudah berlalu, tidak mungkin terjadi lagi.

Oleh karena itu, di dalam Enlightenment Magazine saya menulis sepatah kata “Berlalu”, justru mengacu pada hal ini, apa itu berlalu, yaitu yang sudah berlalu tidak akan terjadi lagi, sandiwara ini tidak mungkin berulang lagi. Oleh karena itu, ini adalah masalah jodoh, ada sebagian orang sangat berjodoh, sebagian orang kurang berjodoh, sebagian orang hanya berjodoh bertemu sekali saja, sebagian orang bisa bertemu sepuluh kali, sebagian orang dapat hidup bersama sekian tahun. Suami istri paling malang, suami istri harus hidup bertahun-tahun. Seseorang pergi berobat, dokter memeriksanya, “Anda radang usus buntu, harus segera dioperasi.” Pasien pun berkata, “Dokter, coba periksa sekali lagi dengan lebih saksama.” Dokter sangat marah, “Saya dokter atau Anda dokter? Saya adalah dokter! Anda adalah pasien! Saya bilang radang usus buntu ya radang usus buntu.” Pasien pun berkata, “Tahun lalu saya baru operasi usus buntu.” (Hadirin tertawa) Tahun lalu baru operasi usus buntu mengapa masih bisa radang usus buntu?! Oleh karena itu, memeriksa pasien harus benar, Mahaguru juga sama, terhadap semua insan harus memberikan obat yang benar sesuai dengan penyakitnya.

Kita yang menggambar Fu juga tidak boleh sembarangan meracik Fu, kita harus memberi Fu sesuai dengan penyakitnya, orang ini sakit, saya berikan Fu pernikahan, bercanda! Saya bilang pada Acarya Lianning, orang ini sakit jiwa, Anda berikan Fu usus, ini sudah tidak benar. Oleh karena itu, kadang-kadang begitu saya melihat Fu, ini kembalikan, ambil lagi yang baru; orang ini sakit tulang, harus diberikan Fu untuk tulang, alhasil ia salah ambil karena buru-buru, diambil Fu untuk otak, ini tidak benar. Makanya, Buddhadharma ada 84000 pintu Dharma untuk menyembuhkan 84000 jenis penyakit. Di samping Ling Shen Ching Tze Temple disusun enam buah tungku, keenam tungku ini harus disesuaikan dengan penyakitnya. Jika Anda sakit kepala, sakit mata, sakit mulut, sakit hidung, sakit telinga. Bakar kertas sembahyang di tungku pertama, ini adalah kepala! Tungku pertama. Anda sakit kaki, sakit telapak kaki! Atau kaki keseleo, bakar kertas sembahyang di tungku keenam, itu adalah kaki. Jantung Anda bermasalah, bakar kertas sembahyang di tungku ketiga, tungku ketiga menguasai bagian jantung, empedu, limpa, dan paru-paru. Ginjal Anda bermasalah, bakar kertas sembahyang di tungku keempat. Tungku kedua menguasai leher. Bagi Anda yang mau kaya, jangan ambil Fu untuk kepala, Anda demam, bakar kertas sembahyang di tungku pertama, itu mengacu pada langit. Tungku pertama adalah langit. Tungku keenam adalah bumi. Anda mau kaya, semua kekayaan berasal dari bumi, misalnya: rumah, mobil, kavling, sandang dan pangan, tumbuh dari dalam bumi, bakar di tungku keenam.

Dari tungku pertama hingga tungku keenam, saya ajari kalian cara bakar kertas sembahyang itu ada alasannya. Anda sakit lutut, tungku kelima. Oleh karena itu, saya suruh Anda bakar di tungku keberapa itu bukan tidak ada maksudnya, itu adalah memberi obat sesuai penyakitnya. (Hadirin tepuk tangan) Begitu Buddha dan Bodhisattva menerimanya, Mereka pun tahu penyakit Anda di bagian itu, kemudian mencari di sana, dan mengatasinya. Dengan demikian baru bisa sembuh. Oleh karena itu, 84000 pintu Dharma, menyembuhkan 84000 jenis penyakit.

Setiap orang punya penyakit, oleh karena itu, melatih diri di alam manusia, karena ia memiliki duka dan suka, Anda tahu duka, Anda menderita baru bisa tahu melatih diri, setelah melatih diri baru bisa menghasilkan obat Dharma, menghasilkan obat Dharma, Anda pun mudah melatih diri. Sebenarnya takdir itu sulit diubah, seperti yang dikatakan Shao Kangjie, takdir sulit sekali diubah, hanya melatih diri satu-satunya cara mengubah takdir. Anda japa SUTRA RAJA AGUNG, japa Mantra Sataksara, atau Anda berusaha japa mantra Buddha Bhaisajyaguru, atau japa mantra yidam, setiap mantra ada efeknya. Kalau begitu, lekas rajin melatih diri, lihat apakah takdir bisa diubah. Atau sesuai dengan ramalan Shao Kangjie, jika Anda berjalan menurut takdir Anda sendiri, kapan Anda diramalkan meninggal dunia, Anda pun meninggal dunia pada hari itu, ia bahkan tidak hanya meramalkan hidup dan mati, kapan menikah, umur berapa Anda menikah, umur berapa bercerai, umur berapa menikah lagi, umur berapa bercerai lagi, umur berapa menikah lagi, semua sangat jelas, semua bisa diramalkan. Ada lagi, Anda bertemu siapa, orang itu membuat Anda rugi sekian, berapa bilangannya, mencakup orang itu marga apa, marga Guan, semua bisa diramalkan. Dulu, Mahaguru menggunakan Ilmu Perubahan Shaozi untuk meramal, butir tersebut kebetulan adalah “Buddha Sejati Turun ke Dunia, Berlaksa Manusia Bersarana”. (Hadirin tepuk tangan) Saya justru butir tersebut “Buddha Sejati Turun ke Dunia, Berlaksa Manusia Bersarana”, tepat sekali. Oleh karena itu, diam-diam Anda berjodoh dengan siapa, umur berapa meninggal dunia, diam-diam ada takdirnya. Satu-satunya cara mengubahnya adalah belajar Buddhadharma dan melatih diri, menekuni secara nyata, ubah takdir tersebut, maka muncullah mukjizat. Om Mani Padme Hum.

Sumber:
http://indonesia.tbsn.org/modules/news2/article.php?storyid=446

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Reposting is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Postingan ulang Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


Resume of Ajahn Brahm tour d’ Indonesia 2010 @ UPH Karawaci, March 20, 2010

(Reported by Mei Linda (Chemical Engineering 2006) at March 22, 2010)

This year, Ajahn Brahm tour d’ Indonesia is held again at the end of March 2010, and on March 20, it took place at Tower C of UPH Karawaci, Tangerang, started from 7pm – 10pm. Ajahn Brahm started from talking stories about “Good, Bad, Who Knows?” before entering the main topic, “Loving You, Loving Me”.

The first story is about a king who is very fond of hunting with his doctor who is always following him. One day, when the king was hunting in the jungle, he cut his finger himself accidentally. Then his doctor checked his finger immediately, and the king asked whether his finger’s condition was good or bad. Then his doctor replied, “Good, bad, who knows?”, and he put medicine to the cut finger. Several days later, the king’s finger was getting worse, so the king called his doctor again and asked him, “How is my finger’s condition? Good or bad?” Again, the doctor just replied, “Good, bad, who knows?” And he bandaged the injured finger. But, several days later, the finger was getting worse again, and the king had to be willing to let his finger be amputated by the doctor. Because of losing his finger, the king was so angry and sent his doctor to jail while saying, “You are a bad doctor!!” Again, the doctor answered, “Good, bad, who knows?”

The next day, the king was hunting again in the jungle. This time, he had lost the direction and got separated from his armies. Later, he was arrested by the indigenous people of the jungle and they wanted to sacrifice him in their ritual because, as a king, he would be a perfect sacrificial gift to their god. But, just before they sacrificed the king, they noticed that his finger wasn’t complete (only 9 fingers), so they let him go because of his imperfection as a gift. When he came back to the palace, he was so thankful to his doctor because of amputating his finger so that he freed his doctor from jail and said, “You are a good doctor, it was a bad decision for me to send you to jail!” But, the doctor just answered, “Good, bad, who knows?” The king was surprised, “Why? Isn’t it a bad decision?” The doctor said, “If you didn’t send me to jail, than I would have lost with you in the jungle and I would have been the victim to be sacrificed.”

The second story told about a poor couple who lived in Australia. The wife was sick and had to live in the hospital. They’ve been married for over 40 years, but they didn’t have any child. One day, the wife’s illness finally killed her. The husband was very sad so that 3 days after his wife’s death, the husband died too. Their souls arrived together in heaven’s gate at the same time, and they’ve been waiting by an angel and a devil there. The angel said that because of their kindness when they still lived, they were decided to live at heaven. Then the devil left, and they entered the heaven. They were given a large manor with many rooms, gold furnishings, antiques, a golf course, and cars with best design and technology. When the husband looked at the manor’s size and the antiques, he was so afraid that he said to the angel, “My salary in the earth could never afford the taxes of these housing.” The angel told him, “Don’t worry, there is no government in heaven, so you don’t need to pay any taxation.” Then, the angel took them to have a look inside the manor. There were many gold furniture and antiques in every rooms of the manor, and all the bathrooms were made by gold, including the equipments. After taking a look, the angel said to them, “If there is something you dislike, just told me, I’ll change it immediately for you.” The husband, looking at the antiques anxiously, said, “I could never afford the insurance of these luxuries!” Angel said, “Don’t worry, there is no burglar in heaven, so you don’t need to insurance anything.”

The angel took them out to have a look at the cars in the garage of the manor. There were a car which could hike to the peak of the mountain, a limousine with a tennis court inside it, and a red- newest-Ferrary. The husband shouted happily, “Wow! I’ve been dreaming to have a red-newest-Ferrary for a long time! But my salary will not be enough to afford it! But I’m afraid to be caught by the officer because of overspeed…” Angel said, ”Don’t worry, there is no officer in heaven. Besides, you are save to drive as fast as you want, because you have already died!”

When he was opening the garage and about to run the Ferrary, he saw a garden outside the manor. There was a golf course with 18 holes. The angel said, “This golf course was specially made for you. You know Tiger Woods? When he got a car accident, his soul had ever gone out to this place. So, I just asked him to design a golf course for you. Wherever the ball landed, it will be directed to one of the hole!” The husband was so happy, but he saw that his wife was a little bit angry, so he asked her, “What’s wrong? Finally we can live happily in heaven now.” Her wife replied, “If you didn’t take care of me so good when I was still live, I would have enjoy all of this facilities 3 years earlier!!” And after that, they lived happily in heaven.

So, the main meaning of this story is, when something (that you assumed) bad came to you, don’t think that it was really a bad condition, because good, bad, who knows? Maybe actually it’s a good thing. And, if you assumed that it’s a bad thing, then believe that a good thing always follow a bad thing. For example, if your someone special died, don’t be so sad or cry of his/her death, because maybe his/her condition will be better after they died.

Ajahn Brahm said that, actually, if we cried when one of our beloved dead, we didn’t cry for his/her death, but we were crying because of feeling a pity to ourselves. It was because he/she was the ones who could accept and love us whoever we are, and it was also because we couldn’t accept and love ourselves and value our life thoroughly, so we assumed that the death of our beloved, as well as the natural disasters that destroyed our house, was bad thing to us. (Ajahn Brahm also said that there was a woman whose house was destroyed by a natural disaster. The bad weather and the broken house had forced her and her family moving to another new-foreign-place. At first, the woman felt that it was a bad thing, but because of the disaster, she unexpectedly met Ajahn Brahm in the new place and she become a student of Him now. So, actually the disaster was a good thing to her, because it’s not bad at all.)

Talking about the ones who could accept and love us, accepting and loving ourselves whoever we are, and value our life thoroughly that had been mentioned above, Ajahn Brahm told us about the next interesting story derived from the topic “Love You”, about a burglar and a temple’s leader monk. One day, the leader monk woke up early in the morning because of strange voice coming from the chanting room. When he went there, he saw a burglar with his knife was trying to open the charity box. The burglar saw him and pointed the knife to him and threatening him. But in spite of scare, the monk, filled in compassionate heart, said, “Why are you keep trying to open it with your knife? Here is the key.” He gave him the key, and the burglar said threateningly, “Are you tricking me??” “No, I’m not tricking you. The donation is made for the needed people like you, so go ahead and have it.” So the burglar opened the box while keep pointing his knife to the monk. While the burglar emptying the box, the monk noticed that he is very thin, so the monk told him, “There are some leftover offering this morning in that cupboard, take them and serve yourself after you emptied the charity box.” And after emptying the box, the burglar, still pointing his knife at the monk, opened the cupboard and emptying it. The burglar was about to leave when he threatened the monk for the last time with his knife, “Don’t try to call the officer for this robbery!!” The monk replied, “Why should I call the officer? I gave you these things, so you needn’t to be worry.” After the conversation ended, the burglar left the temple.

Several days later, the burglar was caught by the officer when stealing in a citizen’s house. He was imprisoned for 10 years. 10 years and 1 month after that day, the monk woke up again early in the morning because of the noise in chanting room. He saw the burglar with his knife had come back to that room. The burglar, with the threatening voice, asked the monk, “Remember me??” “Oh yeah, here is the key”, said the monk, giving the key to him. This time, the burglar didn’t pointing his knife to the monk after accepting the key. The burglar smiled, and said, “You know, when I was in prison, I always remembered you. It’s only you, who treated me so kindly. My parents always hit me, all my friends dislike me and get away from me. And now, I come to steal something from you.” “What is it?” the monk asked calmly. He answered, “I want to steal your kindness and your passion. Please accept me as your student.” And the monk shaved the burglar’s hair…

After telling the story above, Ajahn Brahm continued with his own life’s story. He said that when He was still at school, once, His father fetched him home by car. But, His father dropped Him right before they reached home, and His father said to him, “Son, whenever you are, my door will always open for you.” At that time, He didn’t understand very well the meaning of His father’s words. He though, his father’s (house’s) door would always open, because of their poverty, they didn’t have any padlock at all to lock the front door, and they thought they needn’t to lock it at all, based on their poor condition of life at that time. Even, His parents always hoped there would appear a burglar to rob their house, so that when the burglar saw their poverty, maybe the burglar would even dropped something for them. But later, He understood the meaning when he had become a monk. That is, no matter what we have become, or whatever happened to us, or however our life has changed, the door of our parents will always open to us, will always accept us.. just like the story of burglar and the monk above, where the monk always opened his door to everyone, even for the burglar.. the point is, “loving you, loving me”.

There was a time too, when one of Ajahn Brahm’s students was facing robbery in her house in Australia. At that time, the burglar entered her garden and commanded her to lie on the ground. But, because the student has had a ‘brain-wash’ (said Ajahn Brahm 😀 hehe,,) by listening to Ajahn Brahm’s teaching of “loving you”, she didn’t fear of the burglar. All she did was just saying calmly, “I’m a peaceful woman.” Unexpected, the burglar replied, “I’m a peaceful man too,” and he started crying. “My wife was about to give birth, but we don’t have any money for it. I don’t have any chance, I was forced to do this,” said the burglar. Knowing this, the student gave 50 dollars from her purse and her car’s key to the burglar. The burglar was very thankful so that before he left with the car, he turned to the woman and said, “May God Bless You”. At that time, this news was booming in Australia, because this was the first time that a burglar blessed his victim.

To describe the meaning of “loving you & loving me” further, Ajahn Brahm continued with another story. There was a wife who was holding a death ceremony for his husband. At the funeral procession, she was asked to give some words for commemorating her husband. She said, “When he was still life, my husband always keeps this, his treasure, inside his wallet.” She pulled out a piece of small yellowish paper. “Every time my husband would get angry to anyone, he always opened his wallet and looked at this paper, then his anger would disappear.”

“He attained this paper when he was in school. One day, two of his classmates nearly came to fight. At that time, his teacher told each of them in that class to stay at their desk and pulled out a piece of paper.” “The teacher told them to draw a straight line separating the paper to two identical columns, write down the name of their most-dislike-person at the top of the paper and all of the bad behavior that person had that made them dislike very much on the left side.” “Soon, the left side had been filled. Then, the teacher told them again to fill in the right column with the good behavior and positive side of their dislike-person. This time, the students took a long time to fill in the right column. But when all of them finished writing, the teacher told them to tear off that piece of paper right on the line that separated the two columns, throw the left side to the trash can on the teacher’s hands, and gave the right piece to the person they were writing about.” “From this experience, my husband learned not to hate or get anger to anyone. That’s how he could live in peace until the end of his life.”

From the story above, Ajahn Brahm told us to love everyone, because everyone had the positive side. And, actually, we have let our heart hurt again and again, each time we thought of anyone, as our “enemy”. At last, hating people would only result on hurting ourselves. The more we hate them, the more we’ve hurt ourselves because of our thought and our bad feeling. So, let’s forget the text written on the left side of the paper (the negative side) of every person, throw it into the trash can, keep the right piece of paper well, and read it every time you started to hate that person, so that you can forget your hate and change it to love (Ajahn Brahm also said that we may have a copy for ourselves if we want to present that right piece of paper to that person). Because, by loving everyone, we’ve opened the door to our heart for everyone, and by that way, we can have a peaceful mind, be a peaceful person, and live in peace each other.

Actually, we couldn’t know whether what we’ve just faced is good or bad things (good, bad, who knows?), and as long as we can take the positive side of our experiences, love ourselves and love others (loving you, loving me), we can peacefully let our beloved ones or our other valuable things go someday when it happened. And, remember, bad things usually followed by good things, so keep valuing our worthy life by living happily with a peaceful mind, loving ourselves and others, and opening the door to our heart for everyone, and always think positive in every condition, even to the disasters that hit us, or the death of our beloved, because good, bad, who knows?

Read Full Post »

Hello world!


Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Read Full Post »