Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Dharma Article’ Category


Disadur dari Buku Karya Shengyen-Lu ke-306 — “Memahami Perwujudan” (Natures Way)

Judul asli: 008 過河的卒子 (節錄自蓮生活佛盧勝彥文集第306册 《造化之通》)

Diterjemahkan oleh: Meilinda Xu, 29 Maret 2026

Selama suatu kurun waktu, hati saya tidaklah tentram. Saya pernah terpikirkan seperti ini: apakah saya sedang berhalusinasi? Tersesat?

Apakah saya normal?

Pertemuan yang saya alami kok seperti dongeng?

Saya menjalani hidup selayaknya orang normal lainnya, namun saya malah bertemu dengan dunia yang tidak sama (dunia arwah).

Apakah bagus jika begini terus?

Saya tentu saja “yakin” bahwa ada banyak semesta, karena saya telah mengalami sendiri keberadaan dunia arwah secara nyata.

Mahadewi Kolam Yao benar-benar ada.

Mister Sanshanjiuhou benar-benar ada.

Dewa dan Orang Suci lainnya juga sudah saya temui, ini tidak perlu diragukan lagi.

Namun, mengapa harus saya?

Mengapa orang lain tidak bisa?

Mengapa saya bisa?

Saya datang ke dunia manusia, untuk apa?

Suatu malam, saya gundah, pusing tujuh keliling tidak habis pikir. Kemudian, Mahadewi Kolam Yao datang. Beliau membawa saya mengunjungi puncak sebuah gunung besar.

Di sana, ada dua orang Dewa sedang bermain catur.

Satunya adalah Dewa Bintang Kutub Selatan (南極仙翁).

Satu lagi adalah Dewa Bintang Planet Venus (太白金星).

Ada sebuah papan catur di hadapan mereka.

Saya mendengar kedua Dewa sedang bersama-sama melantunkan sebuah syair:

Empat kebenaran tidak lahir dari Aku,

Pancaskandha jugalah sunya;

Setiap orang bagaikan bidak catur,

Masing-masing orang itu berbeda.

Begitu saya mendengarnya, saya jadi paham bahwa kehidupan manusia itu ibarat bermain catur; nasib setiap orang tidaklah sama, peranan tiap orang berbeda, jodoh karma juga berbeda. Takdir saya berbeda dengan takdir orang lain.

Dewa Bintang Kutub Selatan memandang sekilas ke arah saya, sambil berkata, “Kamu adalah prajurit yang menyeberangi sungai!”

Dewa Bintang Planet Venus juga berkata, “Kamu hanya bisa maju terus!”

Akhirnya saya mengerti. Prajurit yang sudah menyeberangi sungai hanya bisa maju terus, tidak ada jalan untuk kembali.

Maju terus sudah benar!

Saya sudah tidak punya jalan untuk kembali!

Saya menulis sebuah syair:

Karena sudah saling bertemu

Saya serahkan nyawa saya

Saya hanya memohon

Tidak akan saling menunda

Di bawah sinar rembulan sebelum angin bertiup

Telah mengucapkan sumpah janji

Sekarang hanya bisa melangkah maju

Tidak perlu terus bimbang

Jodoh ini adalah Persamuan Para Dewa

Walaupun gugur

Semoga kabar baik jauh bersinambung

Hingga mencapai gua dan melampaui awan

Dunia saha ini

Sama seperti papan catur

Perduli amat akhirnya akan bagaimana

Jalani saja

***

Saya telah memahami ‘sesuai jodoh’, ‘alamiah’, ‘sewajarnya’. Inilah yang mendasari batin saya saat saya beralih dari ‘Ajaran Kristen Protestan’ ke ‘Ajaran Tao’, lalu ke ‘Ajaran Buddha’.

Sebenarnya, ketiga ajaran tersebut adalah ‘demikianlah adanya’, ketiganya sangat bagus, adalah ‘awan’, ‘hujan’, ‘air’.

Read Full Post »


https://reader.tbboyeh.org/

Disadur dari Buku Karya Shengyen-Lu ke-053 — “Antara Buddha dan Mara” (Between The Buddha and The Mara)

Judul asli: 020 隔空的念力(祈求法) (節錄自蓮生活佛盧勝彥文集第053册 《佛御魔之間》)

Diterjemahkan oleh: Meilinda Xu, 27 Maret 2026

Terlebih dahulu saya lampirkan sepucuk surat di permulaan artikel ini, kemudian baru saya jelaskan!


Mohon agar Mahaguru memeriksanya:

Belakangan ini, Murid membaca sebuah artikel pembahasan Jalan Kebenaran di sebuah jurnal yang dicetak oleh “Biksu XX”. Artikel tersebut menyinggung mengenai “abhijna (kekuatan spiritual)”. Meskipun artikel tersebut tidak menyebutkan nama Mahaguru, namun digambarkan ibarat ‘pembunuh yang menyamar sebagai rombongan penari profesional’, orang yang paham pasti akan memahami siapa orang yang dimaksudkan dalam sekali baca. Artikel tersebut menegaskan bahwa orang yang mengaku sebagai Buddha Bodhisattva, itu pastilah Mara yang sedang menyamar, kelak akan masuk Neraka.”

Reputasi Mahaguru sudah terkenal di seantero dunia, dihujat dan difitnah bertubi-tubi oleh insan di dunia. Orang yang menghujat menganggap Anda sebagai ‘binatang buas dan malapetaka’, ‘Iblis menempel di tubuh’, ‘kesurupan Iblis dan sesat’. Namun, Mahaguru, hingga sekarang, Murid tidak pernah melihat ada Guru Bajik ‘kesurupan Iblis dan sesat’ yang tidak pernah putus melatih diri dalam penderitaan, tidak putus membuat karya tulis dan mengutamakan maitri karuna (welas asih), rela mengorbankan diri demi menolong orang lain.

Jika Mahaguru benar-benar sudah ‘kesurupan Iblis dan sesat’, maka itu kemungkinan adalah Mahaguru sudah menyelamatkan terlalu banyak insan, mujizat kekuatan spiritual terlalu dahsyat, misi penyelamatan manusianya telah tak terukur dan terlampau membara, sehingga mengundang rasa cemburu dan kedengkian yang membabi buta dari Mara Langit. Mara Langit masuk ke dalam hati beberapa pelatih diri, sehingga orang-orang ramai menghujat Mahaguru sebagai orang yang ‘kesurupan Iblis dan sesat’. Dengan demikian, Mahaguru telah dihakimi sebagai tokoh simbolik ‘kesurupan Iblis dan sesat’.

Mahaguru, Murid tidak pernah bertemu dengan orang yang sedemikian welas asihnya seperti Mahaguru. Mahaguru rela mengorbankan diri demi umat manusia. Pengorbanan waktu, tenaga, dan konsentrasi Mahaguru yang berharga demi umat manusia sudah melampaui batas seorang manusia normal. Sebegitu banyaknya orang yang mencari Anda untuk meminta tolong, dan Mahaguru menolong semuanya satu per satu, dan tidak pernah meminta balas budi ataupun imbal jasa kepada yang sudah ditolong. Siapa yang sudi mengambil peranan ‘orang bodoh’ seperti ini? Saat ini, banyak pelatih diri yang walaupun penampilan luarnya memuja Buddha dan melatih diri, namun hatinya masih belum bersih dari nama dan tahta, haus reputasi dan haus keuntungan. Selama hati mereka masih belum bisa benar-benar Anatta (Tanpa Aku), mereka tidak memahami karakter dan jati diri Mahaguru, sedikit-sedikit menghujat Mahaguru, bagaimana mereka bisa memupuk ladang kebajikan?

Mahaguru, setiap mengangkat pena, Murid teringat pada budi dan jasa Mahaguru kepada kami sekeluarga. Terutama di saat penyakit Ibunda sedang dalam kondisi gawat. Murid sudah tidak punya jalan keluar, siang malam tidak bisa tidur, teringat mengapa tidak meminta tolong pada Mahaguru? Sehingga, Murid membulatkan hati bertaruh untuk mencoba menulis surat. Saat itu, Murid belum bersarana pada Mahaguru. Bagi Mahaguru, itu bagaikan hanya satu orang di antara jutaan orang yang meminta tolong kepada Mahaguru. Namun tak disangka, dalam waktu tiga minggu, balasan Mahaguru tiba. Yang lebih ajaib lagi, penyakit yang diderita Ibunda menemui titik terang, sembuh sendiri tanpa obat. Ini semua sungguh-sungguh merupakan jerih payah dari Mahaguru, Murid sangat kagum dari lubuk hati terdalam. Mahaguru, jika bukan karena Anda telah memperlihatkan maha abhijna satu kali kepada Murid, keluarga Murid entah akan menjadi seperti apa sekarang!

Sebagai penutup surat, Murid merasa apa yang menimpa Mahaguru sangatlah tidak adil. “Biksu XX” mungkin tidak memahami perasaan seorang anak yang amat sangat mengharapkan pertolongan dari Dewata, yang telah putus asa meminta pertolongan ke segala penjuru namun tidak membuahkan kemanjuran atas penyakit Ibunda yang sudah gawat. Maha abhijna dari Mahaguru selamanya terpatri di dalam hati Murid, dan Murid bersedia memberikan kesaksian untuk Mahaguru. Andaipun hasilnya seperti yang dikatakan oleh “Biksu XX”, memperlihatkan abhijna untuk menolong orang akan mengakibatkan jatuh ke Neraka, Murid rela menggantikan Mahaguru untuk menanggung akibatnya, Murid tidak menyesal.

Mahaguru, bagaimana kabar dan kondisi kehidupan Anda di Amerika? Terpisah berjarak ribuan gunung yang melintang dan samudera yang melintasi, Murid ingin bertemu dan melihat sosok dan suara Mahaguru yang welas asih, namun Murid hanya dapat berharap mampu berjumpa Mahaguru di dalam mimpi saja.

Salam hormat kepada Mahaguru dan keluarga, semoga Mahaguru dan keluarga sehat walafiat dan aman sejahtera.

Salam Hormat dari Murid,

Lianyi

19 Maret 1984


Setelah menerima surat ini, saya merenungkan beberapa hal:

Pertama, saya ‘kesurupan Iblis dan sesat’ juga tidak apa-apa! Tidak ‘kesurupan Iblis dan sesat’ juga tidak apa-apa! ‘Mara Langit menempel di tubuh’ juga tidak apa-apa, bukan ‘Mara Langit menempel di tubuh’ juga tidak apa-apa. Terserah orang mau berkata seperti apa, sekarang saya sudah tidak merasa heran. Namun saya bukan hidup menyepi karena masalah ini, dan tekad (sradha) saya untuk ‘menolong orang’ juga tidak luntur. Saya ini adalah seorang yang bermental baja dan bertekad baja, tidak patah semangat walaupun telah mengalami kegagalan ratusan kali. Seumur hidup saya dijalani tanpa kata ‘menyesal’. Bagaimanapun juga, saya menggunakan semua cara untuk mencapai tujuan mengikis dan menyelesaikan permasalahan dan kesulitan umat manusia. Jika aktivitas menolong umat manusia terbebas dari penderitaan tersebut dikatakan sebagai aktivitas dari seorang ‘Mara Langit’, maka saya adalah ‘Maha Mara Langit’. Dan walaupun saya adalah ‘Maha Mara Langit’, saya juga tidak menyesal.

Kedua, mengurangi dan menghilangkan derita penyakit orang, tidaklah termasuk “maha abhijna”. Saya hanya menuliskan delapan data kelahiran pasien, membacanya, di depan pelita cahaya persembahan kepada Bodhisattva, lalu saya mengundang ‘wujud astralnya’, kemudian menempelkan tubuh astral pasien ke tubuh saya, jadi yang saya pakai adalah “metode permohonan dengan menempel”, kemudian saya melakukan tiga kali namaskara (bersujud) kepada para Buddha Bodhisattva. Ini adalah menggantikan “pasien” untuk bernamaskara kepada Buddha Bodhisattva.

Kemudian, saya menggunakan kekuatan mantra. Mantra yang dijapa dari dalam hati berubah menjadi mantra berkekuatan besar yang membantu “pasien” terlepas dari penderitaan, menggunakan “metode memutar roda Dharma 1000 kali” dan “mantra memutar roda Dharma 1000 kali”, mengubahnya menjadi cahaya kemujuran, dan mengikis karma “pasien”; ini adalah “metode membuat permohonan” yang mengandalkan “daya pikiran melampaui dimensi”, bukan maha abhijna apa.

“Metode membuat permohonan” yang seperti ini, apakah termasuk menampilkan abhijna? Apakah tidak diperbolehkan? Apakah harus masuk Neraka? Sakit penyakit ibunda Lianyi, disembuhkan dengan cara ini.

Ketiga, Lianyi mengatakan bersedia menggantikan saya masuk Neraka. Saya bilang, tidak perlu. Karma setiap orang ditanggung masing-masing. Dari dalam hati, saya berterima kasih pada niat baiknya, namun saya percaya, ini tidak akan membuat saya masuk Neraka. Saya setiap hari sudah masuk Neraka, karena saya memiliki “daya abhijna”, juga pernah tiba di ‘Istana Raja Naga’, pernah tiba di ‘Neraka’, dan pernah berdharmadesana di ‘Neraka’. Ini adalah kenyataan, bukan ilusi. Di dunia ini, yang dapat membedakan ‘kenyataan’ dan ‘ilusi’ paling jelas serta tidak melekatinya adalah “Vajracarya Lu Shengyan, Sang Sadhaka Rahasya Bermahkota Merah Berpita Suci”. Saya sudah pernah ke Neraka. Saya pergi ke Neraka untuk menyeberangkan insan yang menderita di Neraka. Saya juga pernah bersumpah, kelak saya akan tinggal selamanya di dalam Neraka, selama Neraka tidak kosong, maka saya bersumpah tidak akan mencapai Kebuddhaan. Muladinata saya adalah “Ksitigarbha Bodhisattva”!

Saya menuliskan sebait gatha:

Mara Langit dibalik adalah Buddha juga,

Abhijna menolong insan dari derita;

Hitam putih sering dibalikkan di dunia,

Maju terus pantang mundur menolong insan.

Read Full Post »


https://reader.tbboyeh.org/

Disadur dari Buku Karya Shengyen-Lu ke-267 — “Pancaran Cahaya Ilahi” (Ray of Divine Light)

Judul asli: 002 網路「霸凌」事件 (節錄自蓮生活佛盧勝彥文集第267册 《靈光隱隱》)

Diterjemahkan oleh: Meilinda Xu, 25 Maret 2026

Semua orang tahu bahwa perkembangan internet di zaman sekarang sangatlah pesat. Banyak orang yang mengembangkan internet, menciptakan “dunia internet”.

Internet tidak mengenal batas negara.

Apa saja bisa didapatkan di internet.

Tentu saja, kasus perundungan (bully) di dunia internet juga ada. Orang yang mengalami perundungan, nama baiknya akan tercemar.

Ada yang memilih mengendalikan penyebaran berita.

Ada yang memilih menyudahi nyawanya sendiri.

Sudah tentu, saya juga mengalami “perundungan” di internet, oleh karena ada orang yang tidak tahan pada ketenaran orang lain.

Dengar-dengar:

Di Malaysia, ada seorang bermarga Hou memfitnah saya.

Di Singapura, seorang bermarga Yao memfitnah saya.

Di Taiwan, seorang bermarga Yang juga memfitnah saya.

……

Sungguh disayangkan, saya adalah orang yang tidak mengikuti perkembangan internet, bahkan satu huruf di internet pun tidak pernah saya baca. Mengapa?

Seumur hidup, saya tidak punya ponsel.

Saya tidak punya produk galaxy tab.

Saya tidak punya komputer.

(Di segi pengetahuan mengenai komputer, saya adalah orang yang gaptek, sama sekali tidak punya pengetahuan dasar tentang itu).

Ini adalah kehendak saya sendiri.

Karena, saya tidak ingin melewati kehidupan yang terlalu rumit. Saya hanya ingin “bekerja saat matahari terbit, kembali beristirahat saat matahari sudah terbenam”.

Saya hanya ingin:

“Hidup sehari, berbahagia sehari.”

“Hidup sehari, bersyukur sehari.”

“Hidup sehari, berbhavana (melatih diri) sehari.”

Ada seorang Profesor yang bernama You Jiangcheng berkata, “Sudah sangat lama, asalkan mengetik ‘Lu Shengyan Tantrayana Satya Buddha’, akan muncul sangat banyak berita negatif. Semua kata fitnahan di internet bermunculan satu per satu. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?”

Ada yang bertanya, “Fitnah itu seperti apa?”

Saya menjawab, “Lebah memanen madu.” (Cuma salah satu hal yang umum.)

Tanya, “Apakah nama baik tercemari?”

Jawab, “Saya tidak tahu tercemari atau tidak.”

Tanya, “Kenapa demikian?”

Jawab, “Bahkan tubuh fisik itu juga sunya adanya, dimanakah nama baik bisa melekat?” (Saya adalah orang yang tidak peduli nama baik.)

Tanya, “Seperti apakah orang yang tidak peduli nama baik?”

Jawab, “Tiada aku, tiada nama, itulah orang yang bahagia.” (Oleh sebab tiada ego dan tiada reputasi, maka lebih bahagia.)

Tanya, “Mahaguru Lu menolong umat melalui upaya kemudahan (abhijna), lalu kemudian Mahaguru menuai fitnahan, apakah Mahaguru Lu juga tidak gusar dan tidak marah?”

Jawab, “Murid saya memenuhi seluruh penjuru bumi, namun berapakah yang benar-benar memahami saya? Jangan-jangan setengah orang pun tidak ada.” (Oleh sebab insan pada dasarnya avidya, sehingga tidak gusar dan tidak marah.)

Tanya, “Ada fitnahan, bagaimana mengatasinya?”

Jawab, “Banyak orang yang tidak mengetahui bagaimana cara mengatasinya.”

Tanya, “Jika sudah menemukan cara mengatasinya, lantas bagaimana?”

Jawab, “Tidak usah dipedulikan! Tidak usah dipedulikan! Tidak usah dipedulikan!”

(Mahaguru Lu berkata, selain “tidak usah dipedulikan”, apakah para Siswa Budiman memiliki strategi yang jitu?)

Read Full Post »


(Disadur dari Buku Karya Shengyen-Lu ke-34 — “Rahasia Tumimbal Lahir”)

Judul asli: 自杀绝非解脱 (节录自莲生活佛卢胜彦文集第34册 “轮回的秘密”)

Diterjemahkan oleh: Meilinda Xu

Pada suatu hari, ada tiga teman baik dari Taipei yang datang berkunjung. Salah satu di antaranya membawa serta seorang rekan kerja wanita. Hubungan mereka berdua bagaikan api yang membara, sekental teh yang kaya rasa. Rekan wanita tersebut masih sangat belia, kira-kira dua puluh lima tahun. Saat sesi perkenalan, ternyata ia bermarga Zhu, bernama Li. Marga dan namanya hanya dua kata, sangat mudah diingat. Perawakan Zhuli sangatlah anggun, rambutnya halus dan panjang, tutur katanya sopan dan kalem, memiliki aura kawula muda, memancarkan pesona gadis muda yang spesial dan menawan. Dari tingkah laku dan ucapannya, saya berpendapat bahwa teman baik saya ini sangat pandai dalam menjatuhkan pilihannya, karena Zhuli adalah seorang wanita yang memiliki keanggunan dan aura elegan yang mendalam.

Kami semua duduk mengobrol santai di ruang tamu saya. Suasananya sangat menyenangkan dan membaur. Setelah beberapa lama, saya menyadari bahwa ada yang aneh dengan Zhuli, karena jarinya menekan kepalanya, dan wajahnya dari merah merona berubah menjadi pucat pasi. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia sedikit kesakitan dan kesadarannya menurun. Ia bahkan tidak mengikuti topik obrolan kami. Ia mendadak jadi pendiam sehingga kami semua melihat ke arahnya. Kelihatannya ia sudah tidak mampu menahan rasa sakitnya, sekujur badannya mulai gemetar.

“Zhuli, ada apa?” teman baik saya bertanya dengan cemas.

Ia menggelengkan kepalanya, tidak mampu berbicara. Kami menyadari bahwa kondisinya tidaklah baik. Kami bersiap-siap untuk mengangkatnya ke dalam kamar dan memberikan pertolongan darurat. Saya ingin menelepon teman saya yang berprofesi sebagai seorang dokter untuk datang memeriksanya. Di saat inilah, tiba-tiba kondisi Zhuli membaik, ia meluruskan pakaiannya dan duduk dengan tegak, tangannya tidak lagi menekan kepalanya. Sepasang matanya memancarkan sejenis cahaya yang aneh. Cahaya ini sangat unik, warnanya kebiru-biruan, dan bergemerlapan.

“Lu Shengyen, apakah kamu masih mengenali saya?” mendadak kata-kata ini keluar dari mulut Zhuli, membuat kami semua merasa tercengang.

“Ada apa, Zhuli?” teman baik saya menjadi lebih panik.

“Saya bukan Zhuli, nama saya adalah Ou Xiuluan. Tuan Lu, saya adalah Ou Xiuluan! Saya pernah membaca banyak buku karya Anda tentang roh. Oleh karena itu, saya mondar-mandir dua puluh empat jam di depan pintu rumah Anda, tidak dapat masuk ke dalam rumah Anda. Hari ini akhirnya saya menemukan satu kesempatan, gelombang arwah nona Zhuli ini dekat dengan gelombang arwah saya, sehingga saya dapat menempeli dirinya dan masuk melewati pintu rumah Anda. Tuan Lu, Anda adalah orang yang bermaitri karuna, mohon jangan diambil hati.”

Saat mendengar kata-kata ini, kami berempat kaget setengah mati hingga hampir kabur keluar rumah. Teman baik saya terus-menerus menggosok-gosokkan kedua tangannya dan berujar tanpa henti, “Bagaimana ini? Bagaimana ini? Bagaimana ini? Kenapa bisa jadi begini.”

Saya terlebih dahulu menenangkan mereka bertiga, sambil menjelaskan bahwa ini adalah gejala “ditempeli arwah”. Jangan panik, biarkan saya yang menanyainya. Mengenai menyelesaikan permasalahan yang seperti ini, saya adalah orang yang berpengalaman.

“Nona Ou Xiuluan, kenapa Anda bisa meninggal?”

“Meminum racun membunuh diri.”

“Mengapa anda bunuh diri dengan meminum racun?”

“Terbelenggu oleh masalah asmara.”

“Sekarang Anda datang mencari saya, ada tujuan apa? Harusnya Anda mengerti tata krama, mana bisa suka-suka menempeli tubuh teman saya. Jika ia menjadi sakit pikiran karena hal ini, dosa Anda tidaklah ringan.”

“Maafkan saya, Tuan Lu, saat saya masih hidup, saya pernah membaca buku Anda. Setelahnya saya dicampakkan oleh pacar saya, sakitnya tak tertahankan hingga saya meminum racun membunuh diri agar dapat terlepaskan dari penderitaan tersebut. Setelah meninggal, arwah saya tidak ada sandaran dan pegangan. Derita akibat meminum racun selamanya muncul di depan mata saya. Saya menyesal, saya tidak seharusnya membunuh diri. Karena, bunuh diri tidak hanya tidak dapat menyelesaikan penderitaan, malah deritanya menjadi berlipat ganda, karena sensasi sakit yang timbul saat menelan racun tersebut harus dirasakan kembali, setiap hari diulangi sekali. Karena inilah, saya terlunta-lunta datang dari nun jauh hingga kemari, bergentayangan di depan pintu rumah Tuan, tertahan di luar pintu. Kesempatan hari ini sungguh langka, saya terpaksa menerobos bahaya. Hari ini saya berharap Tuan dapat berbelaskasihan menolong menyeberangkan saya, agar saya dapat meninggalkan alam penderitaan ini.”

“Apakah penderitaan setelah meninggal karena bunuh diri lebih berat daripada penderitaan saat masih hidup?”

“Lebih berat dari penderitaan semasa hidup sebanyak ratusan kali lipat, ribuan kali lipat, jutaan kali lipat. Di saat yang bersamaan, arwah yang mati bunuh diri akan dihina di kota arwah mana pun ia berada. Tuan Lu, mohon Anda mengabulkan permohonan saya, tolong seberangkan saya,” ia hampir meneteskan air mata.

“Baiklah! Saya berjanji pada Anda, saya akan melakukan semampu saya. Sekarang, mohon agar Anda segera meninggalkan tubuh Zhuli, untuk mencegah akibat Anda ‘merasuki’ dirinya terlalu lama, ia menjadi tidak mampu menahan beban ini. Segeralah pergi, segeralah pergi.”

Setelah beberapa saat, sepasang mata Zhuli kembali tertutup, badannya lunglai dan jatuh ke sofa, sekujur tubuhnya sama sekali tidak ada energi, kepalanya berat dan pusing. Kira-kira setengah jam kemudian, setelah meminum teh, ia pun berangsur-angsur kembali normal; kami menanyai dia kejadian yang tadi, ia mengatakan bahwa ia hanya merasakan kepalanya sangat sakit dan sangat pusing, kemudian ia tertidur, dan tidak tahu apa-apa lagi.

Melalui kejadian ini, terbuktilah satu kalimat di dalam Kitab Catatan Pengadilan Akhirat Menasihati Dunia sebagai berikut: “Jika ada manusia di bumi, melupakan bahwa Langit dan Bumi melahirkan manusia, dan juga budi besar orang tua yang membesarkan manusia, hidup di dunia namun belum membalaskan empat budi besar, tanggal kematiannya belum tiba, namun oleh karena ganjalan sepele hingga membunuh diri, menyayat diri sendiri atau menggantung diri, meminum racun atau menenggelamkan diri, dan yang sejenisnya, yang selain karena kesetiaan dan pengabdian diri demi kebaikan sehingga membunuh diri, dan yang selain mengorbankan nyawanya dalam kondisi krisis, manusia tidak boleh membunuh diri karena kebencian akibat masalah kecil, atau karena ingin melarikan diri dari hukuman pidana, atau pura-pura bunuh diri namun benar-benar meninggal, atau terpaksa bunuh diri karena dirundung kemiskinan dan penyakit yang menemui jalan buntu. Orang-orang yang demikian, setelah meninggal, arwahnya akan masuk ke neraka setan kelaparan dan kehausan, setiap hari pukul 19.00-23.00 akan dihukum mengulangi adegan kematiannya beserta penderitaan kematiannya satu kali, dan arwahnya akan menempel di tempat ia membunuh diri, sulit untuk terseberangkan.”

“Bunuh diri sama sekali bukanlah jalan pembebasan”, inilah artikel pertama yang saya tulis di dalam buku karya saya yang satu ini. Penulis dapat merasakan penderitaan hidup di dunia manusia, namun penderitaan hidup manusia tidak dapat diatasi dengan bunuh diri. Orang awam mengira bahwa segalanya tuntas setelah meninggal, kematian merupakan salah satu wujud pembebasan. Sebenarnya, pandangan seperti ini tidaklah benar. Bunuh diri tidak melahirkan pembebasan, dunia manusia memiliki syarat dan kondisi, tidaklah mudah melarikan diri darinya. Kita sebagai manusia yang hidup di dunia ini harus menghadapi kenyataan, jadilah seorang ksatria yang tidak menyerah walaupun diterjang cobaan bertubi-tubi.

Saya merasa bahwa saya memiliki tanggung jawab untuk menuliskan sebuah buku yang seperti ini, yang menjelaskan tentang ‘wajah asli dari tumimbal lahir’. Tujuan saya adalah menasihati umat manusia agar ‘hindari segala kejahatan, lakukan segala kebajikan’. Jika semua umat manusia di muka bumi ini dapat mengenali ‘tumimbal lahir’, maka di dalam hati seluruh umat manusia secara otomatis akan ada kesadaran akan kewaspadaan, setiap orang akan menjadi orang baik, sehingga tidak ada lagi orang jahat. Dengan demikian, ke atas akan selaras dengan niat Langit, ke bawah akan mengabulkan kehendak manusia. Bukankah dunia manusia akan berubah menjadi Sukhavatiloka?

Oleh karena ‘indera roh’ saya yang istimewa, saya memastikan bahwa selain tubuh jasmani, saya masih punya satu lagi yaitu ‘nyawa roh’ yang sejati. Nyawa saya yang sejati didasarkan pada ‘Dia’ sebagai pusatnya, untuk mengembangkan untaian tulisan yang bermakna di dalam kehidupan manusia. Oh, semoga! Semoga manusia di muka bumi ini dapat memahami jerih payah saya dan ketulusan hati saya. Dengan demikian, saya sudah puas! Biarlah kuas gundul saya ini mengupas habis asal muasal kehidupan, memasuki rintangan hidup dan mati, alam tumimbal lahir, untuk menguak satu demi satu rahasia yang tersembunyi ini!

Read Full Post »

Older Posts »