Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘grandmaster lu’


https://reader.tbboyeh.org/

Disadur dari Buku Karya Shengyen-Lu ke-053 — “Antara Buddha dan Mara” (Between The Buddha and The Mara)

Judul asli: 020 隔空的念力(祈求法) (節錄自蓮生活佛盧勝彥文集第053册 《佛御魔之間》)

Diterjemahkan oleh: Meilinda Xu, 27 Maret 2026

Terlebih dahulu saya lampirkan sepucuk surat di permulaan artikel ini, kemudian baru saya jelaskan!


Mohon agar Mahaguru memeriksanya:

Belakangan ini, Murid membaca sebuah artikel pembahasan Jalan Kebenaran di sebuah jurnal yang dicetak oleh “Biksu XX”. Artikel tersebut menyinggung mengenai “abhijna (kekuatan spiritual)”. Meskipun artikel tersebut tidak menyebutkan nama Mahaguru, namun digambarkan ibarat ‘pembunuh yang menyamar sebagai rombongan penari profesional’, orang yang paham pasti akan memahami siapa orang yang dimaksudkan dalam sekali baca. Artikel tersebut menegaskan bahwa orang yang mengaku sebagai Buddha Bodhisattva, itu pastilah Mara yang sedang menyamar, kelak akan masuk Neraka.”

Reputasi Mahaguru sudah terkenal di seantero dunia, dihujat dan difitnah bertubi-tubi oleh insan di dunia. Orang yang menghujat menganggap Anda sebagai ‘binatang buas dan malapetaka’, ‘Iblis menempel di tubuh’, ‘kesurupan Iblis dan sesat’. Namun, Mahaguru, hingga sekarang, Murid tidak pernah melihat ada Guru Bajik ‘kesurupan Iblis dan sesat’ yang tidak pernah putus melatih diri dalam penderitaan, tidak putus membuat karya tulis dan mengutamakan maitri karuna (welas asih), rela mengorbankan diri demi menolong orang lain.

Jika Mahaguru benar-benar sudah ‘kesurupan Iblis dan sesat’, maka itu kemungkinan adalah Mahaguru sudah menyelamatkan terlalu banyak insan, mujizat kekuatan spiritual terlalu dahsyat, misi penyelamatan manusianya telah tak terukur dan terlampau membara, sehingga mengundang rasa cemburu dan kedengkian yang membabi buta dari Mara Langit. Mara Langit masuk ke dalam hati beberapa pelatih diri, sehingga orang-orang ramai menghujat Mahaguru sebagai orang yang ‘kesurupan Iblis dan sesat’. Dengan demikian, Mahaguru telah dihakimi sebagai tokoh simbolik ‘kesurupan Iblis dan sesat’.

Mahaguru, Murid tidak pernah bertemu dengan orang yang sedemikian welas asihnya seperti Mahaguru. Mahaguru rela mengorbankan diri demi umat manusia. Pengorbanan waktu, tenaga, dan konsentrasi Mahaguru yang berharga demi umat manusia sudah melampaui batas seorang manusia normal. Sebegitu banyaknya orang yang mencari Anda untuk meminta tolong, dan Mahaguru menolong semuanya satu per satu, dan tidak pernah meminta balas budi ataupun imbal jasa kepada yang sudah ditolong. Siapa yang sudi mengambil peranan ‘orang bodoh’ seperti ini? Saat ini, banyak pelatih diri yang walaupun penampilan luarnya memuja Buddha dan melatih diri, namun hatinya masih belum bersih dari nama dan tahta, haus reputasi dan haus keuntungan. Selama hati mereka masih belum bisa benar-benar Anatta (Tanpa Aku), mereka tidak memahami karakter dan jati diri Mahaguru, sedikit-sedikit menghujat Mahaguru, bagaimana mereka bisa memupuk ladang kebajikan?

Mahaguru, setiap mengangkat pena, Murid teringat pada budi dan jasa Mahaguru kepada kami sekeluarga. Terutama di saat penyakit Ibunda sedang dalam kondisi gawat. Murid sudah tidak punya jalan keluar, siang malam tidak bisa tidur, teringat mengapa tidak meminta tolong pada Mahaguru? Sehingga, Murid membulatkan hati bertaruh untuk mencoba menulis surat. Saat itu, Murid belum bersarana pada Mahaguru. Bagi Mahaguru, itu bagaikan hanya satu orang di antara jutaan orang yang meminta tolong kepada Mahaguru. Namun tak disangka, dalam waktu tiga minggu, balasan Mahaguru tiba. Yang lebih ajaib lagi, penyakit yang diderita Ibunda menemui titik terang, sembuh sendiri tanpa obat. Ini semua sungguh-sungguh merupakan jerih payah dari Mahaguru, Murid sangat kagum dari lubuk hati terdalam. Mahaguru, jika bukan karena Anda telah memperlihatkan maha abhijna satu kali kepada Murid, keluarga Murid entah akan menjadi seperti apa sekarang!

Sebagai penutup surat, Murid merasa apa yang menimpa Mahaguru sangatlah tidak adil. “Biksu XX” mungkin tidak memahami perasaan seorang anak yang amat sangat mengharapkan pertolongan dari Dewata, yang telah putus asa meminta pertolongan ke segala penjuru namun tidak membuahkan kemanjuran atas penyakit Ibunda yang sudah gawat. Maha abhijna dari Mahaguru selamanya terpatri di dalam hati Murid, dan Murid bersedia memberikan kesaksian untuk Mahaguru. Andaipun hasilnya seperti yang dikatakan oleh “Biksu XX”, memperlihatkan abhijna untuk menolong orang akan mengakibatkan jatuh ke Neraka, Murid rela menggantikan Mahaguru untuk menanggung akibatnya, Murid tidak menyesal.

Mahaguru, bagaimana kabar dan kondisi kehidupan Anda di Amerika? Terpisah berjarak ribuan gunung yang melintang dan samudera yang melintasi, Murid ingin bertemu dan melihat sosok dan suara Mahaguru yang welas asih, namun Murid hanya dapat berharap mampu berjumpa Mahaguru di dalam mimpi saja.

Salam hormat kepada Mahaguru dan keluarga, semoga Mahaguru dan keluarga sehat walafiat dan aman sejahtera.

Salam Hormat dari Murid,

Lianyi

19 Maret 1984


Setelah menerima surat ini, saya merenungkan beberapa hal:

Pertama, saya ‘kesurupan Iblis dan sesat’ juga tidak apa-apa! Tidak ‘kesurupan Iblis dan sesat’ juga tidak apa-apa! ‘Mara Langit menempel di tubuh’ juga tidak apa-apa, bukan ‘Mara Langit menempel di tubuh’ juga tidak apa-apa. Terserah orang mau berkata seperti apa, sekarang saya sudah tidak merasa heran. Namun saya bukan hidup menyepi karena masalah ini, dan tekad (sradha) saya untuk ‘menolong orang’ juga tidak luntur. Saya ini adalah seorang yang bermental baja dan bertekad baja, tidak patah semangat walaupun telah mengalami kegagalan ratusan kali. Seumur hidup saya dijalani tanpa kata ‘menyesal’. Bagaimanapun juga, saya menggunakan semua cara untuk mencapai tujuan mengikis dan menyelesaikan permasalahan dan kesulitan umat manusia. Jika aktivitas menolong umat manusia terbebas dari penderitaan tersebut dikatakan sebagai aktivitas dari seorang ‘Mara Langit’, maka saya adalah ‘Maha Mara Langit’. Dan walaupun saya adalah ‘Maha Mara Langit’, saya juga tidak menyesal.

Kedua, mengurangi dan menghilangkan derita penyakit orang, tidaklah termasuk “maha abhijna”. Saya hanya menuliskan delapan data kelahiran pasien, membacanya, di depan pelita cahaya persembahan kepada Bodhisattva, lalu saya mengundang ‘wujud astralnya’, kemudian menempelkan tubuh astral pasien ke tubuh saya, jadi yang saya pakai adalah “metode permohonan dengan menempel”, kemudian saya melakukan tiga kali namaskara (bersujud) kepada para Buddha Bodhisattva. Ini adalah menggantikan “pasien” untuk bernamaskara kepada Buddha Bodhisattva.

Kemudian, saya menggunakan kekuatan mantra. Mantra yang dijapa dari dalam hati berubah menjadi mantra berkekuatan besar yang membantu “pasien” terlepas dari penderitaan, menggunakan “metode memutar roda Dharma 1000 kali” dan “mantra memutar roda Dharma 1000 kali”, mengubahnya menjadi cahaya kemujuran, dan mengikis karma “pasien”; ini adalah “metode membuat permohonan” yang mengandalkan “daya pikiran melampaui dimensi”, bukan maha abhijna apa.

“Metode membuat permohonan” yang seperti ini, apakah termasuk menampilkan abhijna? Apakah tidak diperbolehkan? Apakah harus masuk Neraka? Sakit penyakit ibunda Lianyi, disembuhkan dengan cara ini.

Ketiga, Lianyi mengatakan bersedia menggantikan saya masuk Neraka. Saya bilang, tidak perlu. Karma setiap orang ditanggung masing-masing. Dari dalam hati, saya berterima kasih pada niat baiknya, namun saya percaya, ini tidak akan membuat saya masuk Neraka. Saya setiap hari sudah masuk Neraka, karena saya memiliki “daya abhijna”, juga pernah tiba di ‘Istana Raja Naga’, pernah tiba di ‘Neraka’, dan pernah berdharmadesana di ‘Neraka’. Ini adalah kenyataan, bukan ilusi. Di dunia ini, yang dapat membedakan ‘kenyataan’ dan ‘ilusi’ paling jelas serta tidak melekatinya adalah “Vajracarya Lu Shengyan, Sang Sadhaka Rahasya Bermahkota Merah Berpita Suci”. Saya sudah pernah ke Neraka. Saya pergi ke Neraka untuk menyeberangkan insan yang menderita di Neraka. Saya juga pernah bersumpah, kelak saya akan tinggal selamanya di dalam Neraka, selama Neraka tidak kosong, maka saya bersumpah tidak akan mencapai Kebuddhaan. Muladinata saya adalah “Ksitigarbha Bodhisattva”!

Saya menuliskan sebait gatha:

Mara Langit dibalik adalah Buddha juga,

Abhijna menolong insan dari derita;

Hitam putih sering dibalikkan di dunia,

Maju terus pantang mundur menolong insan.

Read Full Post »


Disadur dari Buku Karya Shengyen-Lu ke-228 — “Inkarnasi Dharmaraja”)

Judul asli: 025-懂得轉運的人 (節錄自蓮生活佛盧勝彥文集第228册 “法王大轉世”)

Diterjemahkan oleh: Meilinda Xu, 24 Maret 2026

Di masa lampau, di masa Yao menjadi raja dari sebuah dinasti di Tiongkok, Raja Yao memiliki seorang guru, seorang petapa yang bernama Xu You. Xu You memiliki kebijaksanaan yang sangat tinggi dan istimewa, bukan level kebijaksanaan yang dimiliki orang awam, melainkan setara orang suci.

Maka itu, Raja Yao sesungguhnya juga termasuk seorang Suciwan. Raja Yao memberikan tahtanya kepada Raja Shun, dan Raja Shun memberikan lagi tahtanya kepada Raja Yu. Sikap “memberikan tahta” ini merupakan cerminan tindakan terpuji dari para Suciwan.

Yao-Shun-Yu adalah tiga orang raja di sebuah dinasti, kedudukan mereka di Tiongkok sangatlah tinggi dan terhormat, dan diberikan gelar kehormatan “Tiga Maharaja Pejabat Pengendali Tiga Elemen”.

Raja Yao adalah Maharaja Pejabat Pengendali Elemen Langit.

Raja Shun adalah Maharaja Pejabat Pengendali Elemen Bumi.

Raja Yu adalah Maharaja Pejabat Pengendali Elemen Air.

Mereka sangat dihormati sejak dulu, melintasi generasi demi generasi, ribuan tahun tiada terputus.

Raja Yao pernah berlibur ke suatu tempat dan bertemu dengan seseorang. Orang ini berkata kepada Raja Yao, “Selamat datang, Suciwan! Semoga Suciwan panjang umur!”

Raja Yao menjawab, “Tidak.”

Orang itu berkata lagi, “Semoga Suciwan menguasai kekayaan di kolong langit ini!”

Raja Yao kembali menjawab, “Tidak.”

Orang itu terus berkata, “Semoga Suciwan dianugerahi putra!”

Raja Yao tetap menjawab, “Tidak.”

Orang itu pun bertanya, “Asalkan manusia di muka bumi ini, semuanya pasti mengharapkan memiliki tiga hal ini: kekayaan, keturunan, dan panjang usia. Kekayaan, keturunan, dan panjang usia adalah impian setiap orang. Namun demikian, mengapa Anda tidak menginginkannya?”

Raja Yao berkata, “Jika saya telah memiliki putra kandung, maka saya akan khawatir mengenai masa depan anak ini. Selain itu, jika saya telah menjadi kaya raya, maka akan ada banyak masalah yang timbul. Orang yang kaya, masalahnya pun banyak. Lagi, jika saya panjang usia, orang yang memfitnah saya dapat menghina saya lebih lama lagi. Oleh sebab itulah, saya tidak berani menerima kekayaan, keturunan, dan panjang usia.”

Orang itu lantas berkata, “Ternyata kamu bukan Suciwan. Suciwan harus paham mentransformasikan nasib. Jika tidak paham, berarti bukanlah Suciwan.”

Raja Yao bertanya, “Apa yang dimaksud dengan ‘mentransformasikan nasib’?”

Orang itu berkata, “Setelah melahirkan putra kandung, maka harus mendidiknya, hingga ia tumbuh dewasa. Orang yang jujur dan bermoral, apa yang perlu ia takutkan? Setelah memiliki harta kekayaan dari bawah kolong langit, maka harta dari bawah kolong langit tersebut, didanakan kembali kepada orang-orang di bawah kolong langit. Bukankah ini lebih baik? Dengan demikian, maka tidak akan ada ‘banyak masalah’ lagi. Selain itu, usia yang panjang, fitnahan pun panjang. Tidak perduli fitnahan panjang ataupun pendek, asalkan jalan tersebut benar, maka jalanilah. Asalkan dapat terus berpraktik di jalan kebenaran, fitnahan itu ada untuk membangun praktik di jalan kebenaran. Setelah berhasil dalam praktik, naik tingkat ke alam dewa, mengendarai awan putih, bebas leluasa, apalah artinya fitnahan tersebut!”

Seketika Raja Yao tersadarkan.

Orang itu bergegas pergi!

Raja Yao ingin bertanya lagi.

Orang itu berkata, “Cepatlah Anda pulang!”

Di kehidupan ini, saya (Guru Lu Shengyen):

Punya satu putra kandung: didik dia. Menjadi baik atau buruk, itu terserah dia.

Punya sedikit harta: mendirikan “Sheng-yen Lu Foundation (Lotus Light Charity Society)”.

Punya usia yang agak panjang: fitnahan? Perduli amat.

Sebenarnya, ‘Padmakumara dari Maha Dwikolam Teratai’ sudah bereinkarnasi di dunia manusia sejak dimulainya zaman Tiga Kaisar Lima Raja. Malahan, setiap kali bukan cuma satu saja yang bereinkarnasi, namun sekaligus banyak, seperti halnya reinkarnasi transformasi. Di dalam satu zaman, bisa terdapat beberapa Padmakumara. Kalian tidak perlu terkejut, dalam pandangan saya, ini sebenarnya sangat umum.

Jika saya bukan Raja Yao, maka siapakah saya?

Rahasia, rahasia, rahasia.

Read Full Post »