Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Buddha Bodhisattva’ Category


Disadur dari Buku Karya Shengyen-Lu ke-306 — “Memahami Perwujudan” (Natures Way)

Judul asli: 008 過河的卒子 (節錄自蓮生活佛盧勝彥文集第306册 《造化之通》)

Diterjemahkan oleh: Meilinda Xu, 29 Maret 2026

Selama suatu kurun waktu, hati saya tidaklah tentram. Saya pernah terpikirkan seperti ini: apakah saya sedang berhalusinasi? Tersesat?

Apakah saya normal?

Pertemuan yang saya alami kok seperti dongeng?

Saya menjalani hidup selayaknya orang normal lainnya, namun saya malah bertemu dengan dunia yang tidak sama (dunia arwah).

Apakah bagus jika begini terus?

Saya tentu saja “yakin” bahwa ada banyak semesta, karena saya telah mengalami sendiri keberadaan dunia arwah secara nyata.

Mahadewi Kolam Yao benar-benar ada.

Mister Sanshanjiuhou benar-benar ada.

Dewa dan Orang Suci lainnya juga sudah saya temui, ini tidak perlu diragukan lagi.

Namun, mengapa harus saya?

Mengapa orang lain tidak bisa?

Mengapa saya bisa?

Saya datang ke dunia manusia, untuk apa?

Suatu malam, saya gundah, pusing tujuh keliling tidak habis pikir. Kemudian, Mahadewi Kolam Yao datang. Beliau membawa saya mengunjungi puncak sebuah gunung besar.

Di sana, ada dua orang Dewa sedang bermain catur.

Satunya adalah Dewa Bintang Kutub Selatan (南極仙翁).

Satu lagi adalah Dewa Bintang Planet Venus (太白金星).

Ada sebuah papan catur di hadapan mereka.

Saya mendengar kedua Dewa sedang bersama-sama melantunkan sebuah syair:

Empat kebenaran tidak lahir dari Aku,

Pancaskandha jugalah sunya;

Setiap orang bagaikan bidak catur,

Masing-masing orang itu berbeda.

Begitu saya mendengarnya, saya jadi paham bahwa kehidupan manusia itu ibarat bermain catur; nasib setiap orang tidaklah sama, peranan tiap orang berbeda, jodoh karma juga berbeda. Takdir saya berbeda dengan takdir orang lain.

Dewa Bintang Kutub Selatan memandang sekilas ke arah saya, sambil berkata, “Kamu adalah prajurit yang menyeberangi sungai!”

Dewa Bintang Planet Venus juga berkata, “Kamu hanya bisa maju terus!”

Akhirnya saya mengerti. Prajurit yang sudah menyeberangi sungai hanya bisa maju terus, tidak ada jalan untuk kembali.

Maju terus sudah benar!

Saya sudah tidak punya jalan untuk kembali!

Saya menulis sebuah syair:

Karena sudah saling bertemu

Saya serahkan nyawa saya

Saya hanya memohon

Tidak akan saling menunda

Di bawah sinar rembulan sebelum angin bertiup

Telah mengucapkan sumpah janji

Sekarang hanya bisa melangkah maju

Tidak perlu terus bimbang

Jodoh ini adalah Persamuan Para Dewa

Walaupun gugur

Semoga kabar baik jauh bersinambung

Hingga mencapai gua dan melampaui awan

Dunia saha ini

Sama seperti papan catur

Perduli amat akhirnya akan bagaimana

Jalani saja

***

Saya telah memahami ‘sesuai jodoh’, ‘alamiah’, ‘sewajarnya’. Inilah yang mendasari batin saya saat saya beralih dari ‘Ajaran Kristen Protestan’ ke ‘Ajaran Tao’, lalu ke ‘Ajaran Buddha’.

Sebenarnya, ketiga ajaran tersebut adalah ‘demikianlah adanya’, ketiganya sangat bagus, adalah ‘awan’, ‘hujan’, ‘air’.

Read Full Post »


Feel free to download. Below is the preview of the document :

Melalui Dharmadesana Mahaguru Lu di LCS Seattle (di Sadhana Yidamyoga Ksitigarbha 3 Februari 2024 penanggalan lokal Seattle), ada topik tanya jawab yang menanyakan apakah saat membaca sutra harus sambil memikirkan artinya, dan sambil diresapi maknanya? Mahaguru menjawab, kalau saat membaca ya fokus di baca saja (mengacu ke saat sedang bersadhana atau di pembacaan sutra di vihara). Boleh mengatur waktu senggang lain yang dikhususkan untuk meresapi maknanya. Karena harus fokus, jadi jika sambil dipikirkan maksudnya apa, ujung-ujungnya jadi tidak fokus dalam pembacaan. Selain itu, tidak semua Sutra mudah dipahami. Jadi, membaca adalah membaca, merenungkan adalah merenungkan, itu adalah dua hal yang berbeda. Atur waktunya untuk fokus ke salah satu saja.

Sutra versi ini khusus disusun untuk membantu pembacaan agar dapat berlangsung lancar (setidaknya mengurangi beban dalam memikirkan “huruf ini harusnya dibaca sebagai apa, bagaimana bunyinya”)

Di bagian mandarin juga sudah ditambahkan mantra pembalas jasa orang tua, mantra penambal kekurangan, mantra paripurna, mantra Sukhavati Vyuha Dharani, mantra Tujuh Buddha masa lampau. Selain itu juga ada penjelasan di dalam Sutra tentang penerima penyaluran jasa kebajikan hanya mendapatkan 1/7 bagian, sedangkan pelaku kebajikan tetap akan mendapatkan 6/7 bagian (lebih jelasnya bisa dilihat di bagian terjemahan Indonesia, sudah digaris bawahi dan dicetak tebal di sana).

Read Full Post »


Sutra Ksitigarbha yang dapat di-Download (tekan tombol “Download” di dekat judul), menggunakan Bahasa Indonesia sehingga dapat lebih mudah dipahami.

Tampilan dari file yang dapat di-download secara Gratis ini adalah sebagai berikut :

Ada penjelasan di dalam Sutra tentang penerima penyaluran jasa kebajikan hanya mendapatkan 1/7 bagian, sedangkan pelaku kebajikan tetap akan mendapatkan 6/7 bagian (sudah digaris bawahi dan dicetak tebal di sana).

Read Full Post »


002 一切遍礼尽无余

From B174 一道彩虹 – An Arc of Rainbow 《Seutas Pelangi》

Author  : Grand Master ShengYen Lu

Translation : Meilinda Xu 莲花许月珊

Saat saya sedang bertapa di “Danau Daun”, timbul suatu keinginan, seumur hidup ini, saya sangat ingin menjelajahi seluruh Vihara Vajragarbha di seluruh dunia, seluruh Vihara Cabang True Buddha di seluruh dunia, seluruh Perkumpulan Ibadah True Buddha di seluruh dunia, namun, saya mengetahui, ada sebuah jawaban : “Tidak terlalu memungkinkan!”Alasannya sangatlah sederhana, berdasarkan pada usia hidup yang berbatas, hendak menjelajahi dan bersembah sujud di seluruh vihara Vajragarbha, vihara cabang, perkumpulan ibadah, benar-benar tidak terlalu memungkinkan.

Saat saya bermukim di Vihara Vajragarbha Seattle 一一

Vihara Vajragarbha Miyi di Texas, USA, mengundang saya, saya menjawab :”Akan pergi!”

Vihara Dengbao Washington DC, USA, mengundang saya, saya menjawab : “Akan pergi!”

Vihara Vajragarbha London dan Vihara Vajragarbha Zhendu Inggris, mengundang saya, saya menjawab :”Akan pergi!”

Masih ada tak terhitung Vihara Vajragarbha, Vihara Cabang, Perkumpulan Ibadah yang mengundang saya, saya juga menjawab yang sama :”Akan pergi!”

Sekarang saya duduk bersadhana di hadapan altar di “Danau Daun”, mulut saya menjapa mantra, pikiran saya bervisualisasi, di sepuluh penjuru Vihara Vajragarbha, sepuluh penjuru Vihara Cabang, sepuluh penjuru Perkumpulan Ibadah,satu persatu Buddha, Bodhisattva, Vajra, Dharmapala, para Dewata, di hadapan masing-masing semuanya terdapat satu orang Lu Shengyan sedang bersembah sujud, “bersembah sujud kepada semuanya tanpa tersisa”, semuanya terdapat dalam satu niat pikiran ini, inilah Tantrayana.

Jasmaniku belum tiba.

Namun niatku sudah tiba.

Maaf!

Kekuatan luar biasa dari menjalankan sumpah di dalam samadhi,

Muncul di hadapan seluruh Tathagatha,

Satu jasmani dalam sekejap berubah menjadi sebanyak butiran debu,

Satu-persatu bersembah sujud kepada semuanya tanpa tersisa.

Menuliskan sebuah sajak:

Menutup pintu bertapa sedari awal diam

Tidak terganggu oleh semarak musim semi di luar pintu

Sering teringat pertemuan singkat dengan para Siswa Agung di saat berkumpul bersama

Hanya menambah kerinduan

Asap yang membumbung sudah buyar

Hanya tinggal Vihara Vajragarbha, Vihara Cabang, dan Perkumpulan Ibadah yang masih ada

Ingin menjelajahi masuklah ke dalam lautan hati

Read Full Post »

Older Posts »