Semua orang tahu bahwa perkembangan internet di zaman sekarang sangatlah pesat. Banyak orang yang mengembangkan internet, menciptakan “dunia internet”.
Internet tidak mengenal batas negara.
Apa saja bisa didapatkan di internet.
Tentu saja, kasus perundungan (bully) di dunia internet juga ada. Orang yang mengalami perundungan, nama baiknya akan tercemar.
Ada yang memilih mengendalikan penyebaran berita.
Ada yang memilih menyudahi nyawanya sendiri.
Sudah tentu, saya juga mengalami “perundungan” di internet, oleh karena ada orang yang tidak tahan pada ketenaran orang lain.
Dengar-dengar:
Di Malaysia, ada seorang bermarga Hou memfitnah saya.
Di Singapura, seorang bermarga Yao memfitnah saya.
Di Taiwan, seorang bermarga Yang juga memfitnah saya.
……
Sungguh disayangkan, saya adalah orang yang tidak mengikuti perkembangan internet, bahkan satu huruf di internet pun tidak pernah saya baca. Mengapa?
Seumur hidup, saya tidak punya ponsel.
Saya tidak punya produk galaxy tab.
Saya tidak punya komputer.
(Di segi pengetahuan mengenai komputer, saya adalah orang yang gaptek, sama sekali tidak punya pengetahuan dasar tentang itu).
Ini adalah kehendak saya sendiri.
Karena, saya tidak ingin melewati kehidupan yang terlalu rumit. Saya hanya ingin “bekerja saat matahari terbit, kembali beristirahat saat matahari sudah terbenam”.
Saya hanya ingin:
“Hidup sehari, berbahagia sehari.”
“Hidup sehari, bersyukur sehari.”
“Hidup sehari, berbhavana (melatih diri) sehari.”
Ada seorang Profesor yang bernama You Jiangcheng berkata, “Sudah sangat lama, asalkan mengetik ‘Lu Shengyan Tantrayana Satya Buddha’, akan muncul sangat banyak berita negatif. Semua kata fitnahan di internet bermunculan satu per satu. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?”
Ada yang bertanya, “Fitnah itu seperti apa?”
Saya menjawab, “Lebah memanen madu.” (Cuma salah satu hal yang umum.)
Tanya, “Apakah nama baik tercemari?”
Jawab, “Saya tidak tahu tercemari atau tidak.”
Tanya, “Kenapa demikian?”
Jawab, “Bahkan tubuh fisik itu juga sunya adanya, dimanakah nama baik bisa melekat?” (Saya adalah orang yang tidak peduli nama baik.)
Tanya, “Seperti apakah orang yang tidak peduli nama baik?”
Jawab, “Tiada aku, tiada nama, itulah orang yang bahagia.” (Oleh sebab tiada ego dan tiada reputasi, maka lebih bahagia.)
Tanya, “Mahaguru Lu menolong umat melalui upaya kemudahan (abhijna), lalu kemudian Mahaguru menuai fitnahan, apakah Mahaguru Lu juga tidak gusar dan tidak marah?”
Jawab, “Murid saya memenuhi seluruh penjuru bumi, namun berapakah yang benar-benar memahami saya? Jangan-jangan setengah orang pun tidak ada.” (Oleh sebab insan pada dasarnya avidya, sehingga tidak gusar dan tidak marah.)
Tanya, “Ada fitnahan, bagaimana mengatasinya?”
Jawab, “Banyak orang yang tidak mengetahui bagaimana cara mengatasinya.”
Tanya, “Jika sudah menemukan cara mengatasinya, lantas bagaimana?”
Jawab, “Tidak usah dipedulikan! Tidak usah dipedulikan! Tidak usah dipedulikan!”
(Mahaguru Lu berkata, selain “tidak usah dipedulikan”, apakah para Siswa Budiman memiliki strategi yang jitu?)
(Disadur dari Buku Karya Shengyen-Lu ke-34 — “Rahasia Tumimbal Lahir”)
Judul asli: 自杀绝非解脱 (节录自莲生活佛卢胜彦文集第34册 “轮回的秘密”)
Diterjemahkan oleh: Meilinda Xu
Pada suatu hari, ada tiga teman baik dari Taipei yang datang berkunjung. Salah satu di antaranya membawa serta seorang rekan kerja wanita. Hubungan mereka berdua bagaikan api yang membara, sekental teh yang kaya rasa. Rekan wanita tersebut masih sangat belia, kira-kira dua puluh lima tahun. Saat sesi perkenalan, ternyata ia bermarga Zhu, bernama Li. Marga dan namanya hanya dua kata, sangat mudah diingat. Perawakan Zhuli sangatlah anggun, rambutnya halus dan panjang, tutur katanya sopan dan kalem, memiliki aura kawula muda, memancarkan pesona gadis muda yang spesial dan menawan. Dari tingkah laku dan ucapannya, saya berpendapat bahwa teman baik saya ini sangat pandai dalam menjatuhkan pilihannya, karena Zhuli adalah seorang wanita yang memiliki keanggunan dan aura elegan yang mendalam.
Kami semua duduk mengobrol santai di ruang tamu saya. Suasananya sangat menyenangkan dan membaur. Setelah beberapa lama, saya menyadari bahwa ada yang aneh dengan Zhuli, karena jarinya menekan kepalanya, dan wajahnya dari merah merona berubah menjadi pucat pasi. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia sedikit kesakitan dan kesadarannya menurun. Ia bahkan tidak mengikuti topik obrolan kami. Ia mendadak jadi pendiam sehingga kami semua melihat ke arahnya. Kelihatannya ia sudah tidak mampu menahan rasa sakitnya, sekujur badannya mulai gemetar.
“Zhuli, ada apa?” teman baik saya bertanya dengan cemas.
Ia menggelengkan kepalanya, tidak mampu berbicara. Kami menyadari bahwa kondisinya tidaklah baik. Kami bersiap-siap untuk mengangkatnya ke dalam kamar dan memberikan pertolongan darurat. Saya ingin menelepon teman saya yang berprofesi sebagai seorang dokter untuk datang memeriksanya. Di saat inilah, tiba-tiba kondisi Zhuli membaik, ia meluruskan pakaiannya dan duduk dengan tegak, tangannya tidak lagi menekan kepalanya. Sepasang matanya memancarkan sejenis cahaya yang aneh. Cahaya ini sangat unik, warnanya kebiru-biruan, dan bergemerlapan.
“Lu Shengyen, apakah kamu masih mengenali saya?” mendadak kata-kata ini keluar dari mulut Zhuli, membuat kami semua merasa tercengang.
“Ada apa, Zhuli?” teman baik saya menjadi lebih panik.
“Saya bukan Zhuli, nama saya adalah Ou Xiuluan. Tuan Lu, saya adalah Ou Xiuluan! Saya pernah membaca banyak buku karya Anda tentang roh. Oleh karena itu, saya mondar-mandir dua puluh empat jam di depan pintu rumah Anda, tidak dapat masuk ke dalam rumah Anda. Hari ini akhirnya saya menemukan satu kesempatan, gelombang arwah nona Zhuli ini dekat dengan gelombang arwah saya, sehingga saya dapat menempeli dirinya dan masuk melewati pintu rumah Anda. Tuan Lu, Anda adalah orang yang bermaitri karuna, mohon jangan diambil hati.”
Saat mendengar kata-kata ini, kami berempat kaget setengah mati hingga hampir kabur keluar rumah. Teman baik saya terus-menerus menggosok-gosokkan kedua tangannya dan berujar tanpa henti, “Bagaimana ini? Bagaimana ini? Bagaimana ini? Kenapa bisa jadi begini.”
Saya terlebih dahulu menenangkan mereka bertiga, sambil menjelaskan bahwa ini adalah gejala “ditempeli arwah”. Jangan panik, biarkan saya yang menanyainya. Mengenai menyelesaikan permasalahan yang seperti ini, saya adalah orang yang berpengalaman.
“Nona Ou Xiuluan, kenapa Anda bisa meninggal?”
“Meminum racun membunuh diri.”
“Mengapa anda bunuh diri dengan meminum racun?”
“Terbelenggu oleh masalah asmara.”
“Sekarang Anda datang mencari saya, ada tujuan apa? Harusnya Anda mengerti tata krama, mana bisa suka-suka menempeli tubuh teman saya. Jika ia menjadi sakit pikiran karena hal ini, dosa Anda tidaklah ringan.”
“Maafkan saya, Tuan Lu, saat saya masih hidup, saya pernah membaca buku Anda. Setelahnya saya dicampakkan oleh pacar saya, sakitnya tak tertahankan hingga saya meminum racun membunuh diri agar dapat terlepaskan dari penderitaan tersebut. Setelah meninggal, arwah saya tidak ada sandaran dan pegangan. Derita akibat meminum racun selamanya muncul di depan mata saya. Saya menyesal, saya tidak seharusnya membunuh diri. Karena, bunuh diri tidak hanya tidak dapat menyelesaikan penderitaan, malah deritanya menjadi berlipat ganda, karena sensasi sakit yang timbul saat menelan racun tersebut harus dirasakan kembali, setiap hari diulangi sekali. Karena inilah, saya terlunta-lunta datang dari nun jauh hingga kemari, bergentayangan di depan pintu rumah Tuan, tertahan di luar pintu. Kesempatan hari ini sungguh langka, saya terpaksa menerobos bahaya. Hari ini saya berharap Tuan dapat berbelaskasihan menolong menyeberangkan saya, agar saya dapat meninggalkan alam penderitaan ini.”
“Apakah penderitaan setelah meninggal karena bunuh diri lebih berat daripada penderitaan saat masih hidup?”
“Lebih berat dari penderitaan semasa hidup sebanyak ratusan kali lipat, ribuan kali lipat, jutaan kali lipat. Di saat yang bersamaan, arwah yang mati bunuh diri akan dihina di kota arwah mana pun ia berada. Tuan Lu, mohon Anda mengabulkan permohonan saya, tolong seberangkan saya,” ia hampir meneteskan air mata.
“Baiklah! Saya berjanji pada Anda, saya akan melakukan semampu saya. Sekarang, mohon agar Anda segera meninggalkan tubuh Zhuli, untuk mencegah akibat Anda ‘merasuki’ dirinya terlalu lama, ia menjadi tidak mampu menahan beban ini. Segeralah pergi, segeralah pergi.”
Setelah beberapa saat, sepasang mata Zhuli kembali tertutup, badannya lunglai dan jatuh ke sofa, sekujur tubuhnya sama sekali tidak ada energi, kepalanya berat dan pusing. Kira-kira setengah jam kemudian, setelah meminum teh, ia pun berangsur-angsur kembali normal; kami menanyai dia kejadian yang tadi, ia mengatakan bahwa ia hanya merasakan kepalanya sangat sakit dan sangat pusing, kemudian ia tertidur, dan tidak tahu apa-apa lagi.
Melalui kejadian ini, terbuktilah satu kalimat di dalam Kitab Catatan Pengadilan Akhirat Menasihati Dunia sebagai berikut: “Jika ada manusia di bumi, melupakan bahwa Langit dan Bumi melahirkan manusia, dan juga budi besar orang tua yang membesarkan manusia, hidup di dunia namun belum membalaskan empat budi besar, tanggal kematiannya belum tiba, namun oleh karena ganjalan sepele hingga membunuh diri, menyayat diri sendiri atau menggantung diri, meminum racun atau menenggelamkan diri, dan yang sejenisnya, yang selain karena kesetiaan dan pengabdian diri demi kebaikan sehingga membunuh diri, dan yang selain mengorbankan nyawanya dalam kondisi krisis, manusia tidak boleh membunuh diri karena kebencian akibat masalah kecil, atau karena ingin melarikan diri dari hukuman pidana, atau pura-pura bunuh diri namun benar-benar meninggal, atau terpaksa bunuh diri karena dirundung kemiskinan dan penyakit yang menemui jalan buntu. Orang-orang yang demikian, setelah meninggal, arwahnya akan masuk ke neraka setan kelaparan dan kehausan, setiap hari pukul 19.00-23.00 akan dihukum mengulangi adegan kematiannya beserta penderitaan kematiannya satu kali, dan arwahnya akan menempel di tempat ia membunuh diri, sulit untuk terseberangkan.”
“Bunuh diri sama sekali bukanlah jalan pembebasan”, inilah artikel pertama yang saya tulis di dalam buku karya saya yang satu ini. Penulis dapat merasakan penderitaan hidup di dunia manusia, namun penderitaan hidup manusia tidak dapat diatasi dengan bunuh diri. Orang awam mengira bahwa segalanya tuntas setelah meninggal, kematian merupakan salah satu wujud pembebasan. Sebenarnya, pandangan seperti ini tidaklah benar. Bunuh diri tidak melahirkan pembebasan, dunia manusia memiliki syarat dan kondisi, tidaklah mudah melarikan diri darinya. Kita sebagai manusia yang hidup di dunia ini harus menghadapi kenyataan, jadilah seorang ksatria yang tidak menyerah walaupun diterjang cobaan bertubi-tubi.
Saya merasa bahwa saya memiliki tanggung jawab untuk menuliskan sebuah buku yang seperti ini, yang menjelaskan tentang ‘wajah asli dari tumimbal lahir’. Tujuan saya adalah menasihati umat manusia agar ‘hindari segala kejahatan, lakukan segala kebajikan’. Jika semua umat manusia di muka bumi ini dapat mengenali ‘tumimbal lahir’, maka di dalam hati seluruh umat manusia secara otomatis akan ada kesadaran akan kewaspadaan, setiap orang akan menjadi orang baik, sehingga tidak ada lagi orang jahat. Dengan demikian, ke atas akan selaras dengan niat Langit, ke bawah akan mengabulkan kehendak manusia. Bukankah dunia manusia akan berubah menjadi Sukhavatiloka?
Oleh karena ‘indera roh’ saya yang istimewa, saya memastikan bahwa selain tubuh jasmani, saya masih punya satu lagi yaitu ‘nyawa roh’ yang sejati. Nyawa saya yang sejati didasarkan pada ‘Dia’ sebagai pusatnya, untuk mengembangkan untaian tulisan yang bermakna di dalam kehidupan manusia. Oh, semoga! Semoga manusia di muka bumi ini dapat memahami jerih payah saya dan ketulusan hati saya. Dengan demikian, saya sudah puas! Biarlah kuas gundul saya ini mengupas habis asal muasal kehidupan, memasuki rintangan hidup dan mati, alam tumimbal lahir, untuk menguak satu demi satu rahasia yang tersembunyi ini!
Ada seorang siswa Malaysia bernama Lianhua Minglou yang tinggal di pedesaan. Ia bersama-sama dengan rombongan umat datang ke Vihara Vajragarbha Taiwan untuk pertama kalinya.
Ia juga pertama kalinya bertemu dengan Mahaguru Lu, ia baru bersarana di upacara akbar yang diselenggarakan di Malaysia National Stadium di Malaysia.
Saat berada di Vihara Vajragarbha Taiwan, setelah ia selesai menghadiri upacara apihoma.
Ada orang yang menyuruhnya agar tetap tinggal untuk menerima pemberkahan jamah kepala.
Ia bertanya,
“Apa gunanya pemberkahan jamah kepala?”
Orang tersebut menjawab,
“Dapat mengikis penyakit! Dapat mengikis karmawarana (rintangan karma)!”
Oleh sebab itu, ia pun tetap tinggal di sana, karena ia sudah lebih dari sepuluh tahun menderita “sakit pinggang”.
Sudah berkeliling mencari dokter, namun masih belum sembuh juga.
Saat tiba giliran saya untuk menjamah kepalanya, ia berkata,
Kemudian, saya melihat sesosok wujud hitam melompat keluar dari pinggangnya. Belum sempat saya mengamati wujud apa itu, wujud itu sudah hilang.
Saya juga tidak berkata apa-apa, dan melanjutkan pemberkahan jamah kepala ke umat selanjutnya.
Di siang hari kedua.
Kebetulan, grup merekalah yang mendapatkan giliran mentraktir saya makan siang.
Lianhua Minglou menyampaikan di meja makan,
“Kemarin malam saya memimpikan kedatangan Mahaguru Lu, Mahaguru memberikan pemberkahan jamah pinggang untuk pinggang saya yang sudah sakit selama sepuluh tahun lebih.”
“Setelah mengeluarkan tenaga yang sangat banyak, pada akhirnya Mahaguru berhasil menarik sebuah ekor hitam, kemudian keluarlah sesosok wujud hitam sebesar keranjang, kemudian keluar lagi sebuah kepala. Gigi-gigi milik kepala itu terlepas dan masih tertancap di pinggang saya.”
“Terakhir, Mahaguru Lu mencabut gigi tersebut satu persatu, terutama kedua gigi taring yang sangat panjang, menghujam jauh ke dalam daging, Mahaguru Lu menarik gigi tersebut keluar dari dalam daging.”
“Saat saya melihat seluruh barisan gigi seputih gading tersebut, saya sangat ketakutan.”
“Kemudian, Mahaguru Lu melemparkan hewan aneh itu keluar dari jendela.”
“Setelah itu saya kemudian terbangun. Mimpi ini sangatlah jelas dan terasa nyata, juga sangat menakjubkan.”
Ia berkata,
“Pagi ini saat saya bangun, pinggang saya yang telah sakit sepuluh tahun lebih ternyata telah sembuh total, sekujur tubuh saya sangat ringan, belum pernah saya merasa senyaman ini.”
“Terima kasih, Mahaguru Lu!”
Lianhua Minglou mengatakan:
Ia ingat saat dirinya berusia dua puluh tahun, ia naik gunung untuk mencari pekerjaan, dan ia membawa serta sebilah pisau sabit.
Saat melalui sebuah jalan setapak kecil di pegunungan yang dipenuhi semak belukar, secara mendadak ia diterjang oleh sebuah sosok hitam.
Ia memfokuskan pandangannya, ternyata itu adalah seekor kucing hitam yang agak besar berwarna hitam legam, kedua matanya bersinar kehijauan, ia memamerkan taring seputih gading, kemudian mengeluarkan cakarnya yang kokoh dan menerjang dengan sekuat tenaga.
Lianhua Minglou tidak sempat bereaksi, secara refleks ia menebaskan sabitnya, mengenai perut kucing aneh tersebut.
“Miauw!!!”
Kucing tersebut bersuara aneh, kemudian lanjut menyerang dan menggigit.
Lianhua Minglou lanjut menebaskan sabitnya beberapa kali, hingga kepala kucing aneh tersebut terpenggal.
Lianhua Minglou berkata,
“Apakah arwah kucing aneh ini menggentayangi dan menempel di tubuh saya, dan mengakibatkan saya menderita sakit pinggang selama sepuluh tahun lebih?”
Saya mengatakan:
Semua hal ada hukum karmanya.
Namun seekor kucing aneh menyerangmu, adalah normal jika kamu bereaksi seperti ini.
Harus menyalahkan siapa?
Saya tidak tahu bagaimana menghitung jodoh sebab akibat karma ini.
Namun:
Bersarana kepada Tantrayana Satya Buddha.
Pihak penagih utang terbebaskan, juga merupakan sebuah maha keberuntungan.
——Disadur dari Buku Living Buddha Liansheng Rinpoche ke-242 “Collection of Unbelievable Tales”
Cara membeli buku cetak karya Living Buddha Rinpoche Liansheng Shengyen-Lu:
dan berbagai toko buku online dan toko buku besar.
Pembaca di Singapura dapat menghubungi新加坡地區讀者可電洽【Toko Aksesoris Tantra Tibet Lianqun翔群藏密佛具用品】, Saluran telepon:6254-2213;Alamat: 149 Rochor Road #02-01 Singapore 188425
atau mampir di Vihara Vajragarbha Singapore 新加坡雷藏寺untuk membeli.
Pembaca di negara lainnya dapat membeli di Toko Buku Bokelai博客來, Vihara Tantrayana Satya Buddha di masing-masing tempat, atau langsung menghubungi publisher@tbboyeh.org untuk memesan.
Versi Simplified Mandarin dan Traditional Mandarin:
Kami menyambut kedatangan Anda di website perpustakaan online Tbboyeh「真佛般若藏」dan mendaftar menjadi member, baca gratis buku karya Living Buddha Liansheng Rinpoche: https://www.tbboyeh.org
Ketika saya tinggal di Zhen Fo Mi Yuan, sering pergi ke Danau Sammamish, danau ini merupakan danau kedua terbesar di Washington D.C..
Saya pernah menulis sebuah buku, The Inner World of the Lake, yang menceritakan pelbagai kisah tentang danau tersebut.
Suatu ketika.
Saya berjalan sampai dermaga dari sebuah taman kecil, ada kayu yang mengapung di dermaga, bertebaran di atas danau.
Setelah dekat, terlihat rumput di dasar danau, di atas rumput ada ikan yang berenang kesana kemari. Selama ini saya suka melihat ikan berenang, ikan selamanya gembira, hatiku juga ikut gembira.
Tiba-tiba, seakan terlihat dari dasar danau pelan-pelan muncul sepasang mata yang menatap saya.
Di atas mata ada alis, ada hidung, ada bibir tebal, seluruh wajah brewokan.
Saya terkejut, sebelumnya saya sangka hanya khayalan.
Saya mengarahkan pandangan ke pepohonan di taman, berpindah ke pegunungan di seberang sana, kemudian pandangan kembali kuarahkan ke dasar danau.
Oh my God! Selembar wajah itu masih ada, sepasang matanya masih melotot ke saya, menatap kesana kemari.
Di bawah air ada selembar wajah, tidakkah aneh! Akhirnya, saya bermeditasi di bawah pohon besar tepi danau.
Ada seseorang menghampiri, si tamu aneh berjenggot lebat tadi, dia bertanya, “Anda bisa melihat saya?”
“Bisa.” Jawabku.
Dia berkata, “Saya melihat pandangan mata anda berbeda dengan orang lain, di matamu ada sinar terang yang memancar, apakah mata bardo? “Bukan, ini adalah Mata Langit”, jawabku.
Dia jelas sangat gembira, karena ada orang yang sanggup melihat dia, perilakunya sopan, kamipun berbincang –bincang. Katanya, pada suatu tahun dimana turun salju yang sangat lebat, jalan menurun dan sewaktu mengerem mobilnya tergelincir masuk ke dasar danau. Jadilah dia hantu air.
Dia bertanya kepada saya, “Takutkah kepada hantu air?”
“Saya orang yang melatih diri, tidak takut.” Jawabku.
Dia tertawa lebar!
Lanjutnya, setelah meninggal barusan tahu ternyata ada banyak hantu air di danau Sammamish. Para hantu melihat perawakannya gagah, mendorong dia untuk menjadi raja hantu. Tak lama kemudian dia lantas menjadi pemimpin dari para hantu air di danau Sammamish. Ada suatu tahun, sama seperti dulu turun salju lebat, juga ada sebuah mobil yang terjun ke dalam danau. Para hantu bersukacita ada hantu baru yang bergabung. Tiba-tiba Raja Hantu timbul belas kasihannya yang besar.
Raja Hantu memerintahkan para hantu memegang mobil yang sedang tenggelam, lantas membuka pintu mobil, sehingga orang yang di dalam bisa keluar, dan membantunya berenang ke tepian, orang itu secara ajaib berhasil selamat.
“Rupanya anda juga mempunyai hati welas asih!” Kataku.
“Hantu juga ada yang tidak mencelakai orang lain.” Katanya, kemudian lanjutnya, “Saya rasa sangat bagus berbuat demikian, berturut-turut menolong orang dalam jumlah yang tidak sedikit. Kemudian langit pun mengetahuinya, dari Raja Hantu saya berubah menjadi Dewa Air.”
Saya mengucapkan selamat kepadanya.
Kataya, dia juga mempunyai sinar, bisa terbang, walaupun hanya Dewa Air, juga bisa berkelana dalam dunia manusia.
Saya bertanya, “ Masih adakah keinginan anda menjadi manusia?”
Jawabnya, “Manusia! Yang penolong, kurang, yang suka mencelakai orang, banyak, tidak ingin menjadi manusia.”
Setelah mendengar jawabannya, “Mau tak mau menghela nafas juga!”
Tulisan ini dikutip dari karya tulis Sheng-yen Lu ke 226, “Mengetuk Pintu Hatimu.” 敲開你的心扉