Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2010


Oleh Grand Master Sheng-Yen Lu

释莲支:  “成佛?成魔?全在於「一心」,「心能自主」便成了「佛道」,心不能「自主」,便成了魔道。成佛?成魔?一線而已!”

Menjadi Buddha? Menjadi Mara? Semua bergantung pada “Satu Hati”. “Hati dapat mengendalikan diri” akan berubah menjadi “Jalan keBuddhaan”. Hati yang tidak mampu “mengendalikan diri” akan berubah menjadi jalan Mara. Menjadi Buddha? Menjadi Mara? Perbedaannya sangatlah tipis!

(Shi LianZhi)

***

Selama hidup menyepi di Danau Daun, di bayang-bayang gunung, di tepian danau, hatiku terasa sepi dan sempit. Namun, dengan khusyuk, aku menulis buku, menuangkan pikiranku, lebar tanpa tepi.

Aku merasa bahwa hatiku semakin lama semakin lapang, memikirkan apa yang telah kulakukan di masa lampau, ada yang perlu disesali, maka akupun menyatakan penyesalan di depan para Buddha Bodhisattva, teratai pun langsung menebarkan keharuman.

Jika dipikirkan kembali, zaman sekarang, hati manusia tidak teguh, kebiadaban semakin tinggi, bertindak berdasarkan keegoisan tinggi dan kepicikan, sehingga saling berebut. Lebih lanjut, hal ini berkembang menjadi peperangan antar negara, antar suku, antar rumah tangga, antar personil…

Manusia zaman sekarang, sungguh individualis, jika ingin sungguh-sungguh berbaur, sungguh-sungguh saling membantu, sungguh-sungguh saling memedulikan, tidak berpura-pura, tidak sentimen, tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, kelihatannya sangatlah tidak mudah. Kenapa di lingkungan manusia begitu banyak perhitungan seperti itu? Tidak mampu mewujudkan dunia yang damai nan indah, aku pun merenungkan secara seksama dan mendalam, ini semua disebabkan oleh ketidakmampuan dalam melapangkan hati.

Sangatlah banyak orang yang egois, atau iri hati, atau sirik, hanya menginginkan kemegahan diri sendiri, menjatuhkan orang lain, ini adalah permulaan dari hukum “sebab-akibat”.

Mengapa bisa ada enam alam gati? (enam alam tumimbal lahir)

Serakah, maka masuk ke alam neraka.

Iri hati, maka masuk ke alam setan kelaparan.

Bodoh, maka masuk ke alam binatang.

Sedangkan, alam manusia adalah separuh baik separuh buruk. Alam asura adalah tidak berhenti dalam bersaing dan berebut, terlalu mementingkan diri sendiri.

Alam dewa, jika menjalankan sepuluh kebajikan, maka akan terlahir di alam ini.

Sebenarnya, siapapun yang memberikan hal yang indah untukmu, atau siapapun yang memberikan hal yang menyakitkan bagimu, tidaklah mengapa.

Asalkan hatimu lapang dan luas, hingga luas tak bertepi, sudah merupakan keberhasilan dalam melatih diri. Saya berdiam di Danau Daun, bahkan mengganti nama dan marga, melupakan keakuan, berterimakasih pada semua makhluk. Saya tidaklah penting, semua makhluk-lah yang penting. Hatiku tanpa kebencian, tidak mampu menyalahkan siapapun, hanya dapat menyalahkan diri sendiri. Menyesallah!

Kita sebagai sadhaka, hanya memiliki rasa terimakasih, yang dapat melihat luasnya hati, harus berusaha dan belajar. Yang dapat melihat kesempitan hatinya, hendaknya merefleksi diri. Jika menginginkan dunia menjadi tanah suci yang sebenarnya, ternyata dapat dicapai dengan melapang-luaskan hati. Hati yang sempit dan picik, barulah akan selamanya berseteru dan bersaing tiada henti, tiada akhir.

Di pagi hari yang cerah di Danau Daun, saya memanjat hingga puncak gunung, tiada burung yang berkicau. Memandang ke langit, melihat warna langit yang tak bertepi, tak berbatas. itu adalah warna yang ada di dunia manusia. Di bawah langit biru ada gunung, sungai, dan daratan luas. Di gunung, sungai, dan daratan luas, manusia dan makhluk hidup bersama dengan saling memangsa.

Saya ingin terbang ke langit biru.

Mendoakan: dalam dunia manusia tidak ada benar dan salah, makhluk hidup tidak ada saling membunuh dan memangsa.

Hatiku sangatlah kosong…

Menyanyikan sebuah gatha:

Langit langit langit biru tanpa dilap

Hanya dengan beberapa langkah angsa baru terbang melintas

Terbang tanpa menyisakan jejak

Tanpa jejak tanpa jalur

Panggilan terpendam melihat gunung sungai daratan luas

Asap tebal di empat penjuru

Berkekurangan kedamaian

Ternyata adalah bencana perang

Siapapun tidak mengalah

Dekat, namun juga jauh

Mulai sekarang dunia surga dan dunia manusia selalu terpisah

Hanya seperti gejolak ombak

melatih diri untuk apa

mengapa harus mengganggu kedamaian yang susah diperoleh di dunia manusia

namun dengan melatih melapang-luaskan hati

secara alami akan mengetahui

bagaimana dapat terlahir

hati Bodhisattva tiada berbatas

senantiasa luas dan lapang

Link artikel asli: http://tbsn.org/chinese2/article.php?id=8399&keyword=&backpage=&page=0

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


USNISA VIJAYA DHARANI (佛顶尊胜陀罗尼)

NAMO BHAGAVATE TRAILOKYA PRATIVISISTAYA BUDDHAYA BHAGAVATE TADYATHA

OM,VISUDDHAYA VISUDDHAYA

ASAMA-SAMA SAMANTAVABHASA-SPHARANA

GATI GAHANA SVABHAVA VISUDDHE

ABHINSINCATU MAM

SUGATA VARA VACANA AMRTA ABHISEKAI MAHA MANTRA-PADAI AHARA AHARA AYUH SAM-DHARANI

SODHAYA SODHAYA GAGANA VISUDDHE

USNISA VIJAYA VISUDDHE SAHASRA-RASMI SAM-CODITE

SARVA TATHAGATA AVALOKANI SAT-PARAMITA-PARIPURANI

SARVA TATHAGATA MATI DASA-BHUMI PRATI-STHITE

SARVA TATHAGATA HRDAYA ADHISTHANADHISTHITA MAHA-MUDRE VAJRA KAYA SAM-HATANA VISUDDHE

SARVA VARANA APAYA-DURGATI PARI VISUDDHE

PRATI-NIVATAYA AYUH SUDDHE

SAMAYA ADHISTHITE

MANI MANI MAHA MANI

TATHATA BHUTA-KOTI PARISUDDHE

VISPHUTA BUDDHI SUDDHE

JAYA JAYA VIJAYA VIJAYA

SMARA SMARA SARVA BUDDHA ADHISTHITA SUDDHE

VAJRI VAJRAGARBHE VAJRAM BHAVATU MAMA SARIRAM

SARVA SATTVANAM CA KAYA PARI VISUDDHE

SARVA GATI PARISUDDHE

SARVA TATHAGATA SINCA ME SAMASVASAYANTU

SARVA TATHAGATA SAMASVASA ADHISTHITE

BUDDHYA BUDDHYA VIBUDDHYA VIBUDDHYA

BODHAYA BODHAYA VIBODHAYA VIBODHAYA SAMANTA PARISUDDHE

SARVA TATHAGATA HRDAYA ADHISTHANADHISTHITA MAHA-MUDRE SVAHA

——————————————————————————————————————————————————————————————————

“Raja Surga, terdapat Dharani yang dikenal sebagai “Usnisa Vijaya Dharani”. Dharani ini dapat menyucikan semua jalan sengsara, melenyapkan penderitaan atas kelahiran dan kematian secara menyeluruh. Dharani ini juga dapat membebaskan semua kesengsaraan dan penderitaan mahluk hidup di alam neraka, Raja Yama dan binatang, menghancurkan semua neraka, dan mengantarkan semua mahluk hidup ke jalan suci.”

“Raja Surga, jikalau seseorang mendengar Usnisa Vijaya Dharani sekali saja, semua karma buruk dari kehidupan sebelumnya yang seharusnya menyebabkan ia terlahir di neraka akan terhancurkan semuanya. Sebaliknya, ia akan memperoleh badan yang baik dan bersih. Di manapun ia dilahirkan kembali, dia akan mengingat Dharani ini secara jelas – dari satu kebuddhaan ke lainnya, dari satu alam surgawi ke alam surgawi lainnya. Sesungguhnya, melalui Surga Trayastrimsha, dimanapun ia terlahir kembali, dia tidak akan lupa.”

“Raja Surga, jikalau seseorang menjelang kematian mengingat Dharani suci ini, walaupun hanya sekejap, masa hidupnya akan diperpanjang dan ia akan memperoleh kesucian dalam raga, perkataan dan pikirannya. Tanpa penderitaan dan kesakitan badaniah dan sesuai dengan perbuatan baiknya, dia akan menikmati ketentraman di mana saja. Menerima berkah dari semua Tathagata, dan senantiasa dijaga dewa-dewa, dan dilindungi oleh Bodhisatva, ia akan dihormati dan dimuliakan masyarakat, dan semua rintangan kesengsaraan akan terhapuskan.”

“Raja Surga, jikalau seseorang dengan ikhlas membaca dan melafalkan Dharani ini, walaupun sekejap saja, semua hukuman karmanya yang akan menyebabkan ia menderita di alam neraka, binatang, Raja Yama, setan lapar, akan dihancurkan seluruhnya dan dihapuskan tanpa meninggalkan jejak. Ia akan bebas pergi ke tanah suci Buddha dan istana surga manapun, semua pintu gerbang ke kediaman Bodhisatva akan terbuka untuknya tanpa hambatan.”

Kemudian Buddha berkata kepada Raja Sakra, “Mantra ini dikenal sebagai ‘Yang Mensucikan Semua Jalan Sengsara Usnisa Vijaya Dharani’. Dharani ini dapat menghilangkan semua rintangan karma buruk dan menghapuskan penderitaan di semua jalan sengsara.”

“Raja Surga, Dharani termasyur ini dinyatakan serentak oleh Buddha-Buddha sebanyak delapan puluh delapan koti (ratusan juta) sejumlah butiran-butiran pasir di Sungai Gangga. Semua Buddha bergembira dan menjunjung tinggi Dharani ini yang dibuktikan dengan tanda bukti kebijaksanaan dari Maha VairocanaTathagata. Ini karena di dalam jalan sengsara, untuk membebaskan mereka dari hukuman menyakitkan dalam alam neraka, binatang dan Raja Yama; untuk melepaskan semua mahluk yang menghadapi bahaya keterperosokan ke dalam lautan lingkaran kelahiran dan kematian (samsara); untuk membimbing mahluk-mahluk lemah yang berusia pendek dan kurang beruntung dan untuk melepaskan mahluk-mahluk yang suka melakukan semua perbuatan jahat. Selain itu, karena ia berdiam dan dijunjung tinggi di dunia Jambudwipa, kekuatan yang ditunjukkan oleh Dharani ini akan mengakibatkan semua mahluk dalam neraka dan alam setan lainnya; orang yang kurang beruntung dan berpusar dalam lingkaran kelahiran dan kematian; orang yang tidak percaya adanya perbuatan baik dan jahat dan yang menyimpang dari jalan benar, untuk mencapai pelepasan.”

***

Usnisa Vijaya Dharani adalah sebuah sutra Mahayana. Sutra ini berisi khotbah Sang Buddha mengenai seorang putra dewa bernama Susthita yang seharusnya menjalani hukuman karmanya akibat buah perbuatannya di masa lalu, namun berkat “Usnisa Vijaya Dharani” menjadi terbebaskan.

Penjelasan berbahasa Indonesia dari isi sutra versi terjemahan Guru Buddhapala darii zaman Dinasti Tang dapat dilihat di http://id.wikipedia.org/wiki/Usnisa_Vijaya_Dharani

Sedangkan, lantunan Sutra Usnisa Vijaya Dharani dapat didengarkan di http://www.youtube.com/watch?v=SgoCnLGcS3k

e

aksara Sansekerta Usnisa Vijaya Dharani

= Referensi: =

Teks Sutra: http://www.gugalyrics.com/%E9%BB%84%E6%85%A7%E9%9F%B3-USNISA-VIJAYA-DHARANI-%E4%BD%9B%E9%A1%B6%E5%B0%8A%E8%83%9C%E9%99%80%E7%BD%97%E5%B0%BC-LYRICS/28698/

Kutipan artikel: http://id.wikipedia.org/wiki/Usnisa_Vijaya_Dharani

artikel yang lebih lengkap, kunjungi http://en.wikipedia.org/wiki/Usnisa_Vijaya_Dharani_Sutra

Read Full Post »


Oleh: Grand Master Sheng-Yen Lu

Translation :Meilinda Xu 莲花许月珊

Biasanya, pada saat badan saya masih sehat, sebagai contoh, pada saat saya di Seattle, “Bala” (Wisma Lingxian), menjalani pertapaan selama tiga tahun. Pada saat itu baru menginjak usia tiga puluh delapan tahun, empat puluh tahun, masih pada usia produktif, bahkan flu kecil pun tidak pernah saya alami. Menjalani pertapaan pada saat itu sama sekali tidak merasakan butuh orang dekat, juga tidak merasakan kehangatan dari teman dekat, lagipula hidup bertapa memang harus menyendiri dan kesepian, jadi tidak masalah.

Saat ini, saya bertapa di Danau Daun, benar-benar telah jatuh sakit. Sakit di badan pada saat ini, telah membuat tangan dan kaki tidak berdaya, contohnya seperti sakit kaki:

Mencuci wajah dan menyikat gigi, semuanya bergantung pada “Ayam Emas Berdiri pada Kaki Tunggal” (shio Mahaguru Lu adalah ayam).

Berjalan dan hendak duduk beristirahat juga bergantung pada kedua tangan dan satu kaki untuk merangkak di atas lantai.

Kaki kiri saya bengkak sampai seperti roti.

Sakitnya sungguh tak tertahankan.

Kondisi yang seperti ini, bagaimana dapat bertapa dan melatih diri? Setelah jatuh sakit, ingin pergi mencari dokter ke rumah sakit, juga tidak sanggup, sehingga membutuhkan seseorang untuk membantu menjaga. Pada saat seperti ini, ingin menyendiri juga tidak bisa, kita sadhaka yang ingin berlindung pada Buddha Bodhisattva, juga harus bergantung pada hati welas asih orang yang bersedia merawat dan menjaga.

Pada saat ini, saya baru memahami, “merawat dan menjaga orang sakit”merupakan sebuah pekerjaan besar yang berat, jika bukan sebagai pekerja yang mengkhususkan diri menjaga dan merawat, dan harus menjaga orang sepanjang hari dalam jangka waktu yang lama, kerabat dan teman dekat tersebut harus memiliki perjuangan dan usaha yang lebih keras.

Orang yang sakit menderita.

Orang yang menjaga dan merawat juga menderita.

Sekarang saya mengerti, kerabat dan teman dekat dari orang yang sakit, seharusnya mampu memahami penderitaan dan kesengsaraan pesakit tersebut. Oleh karena itu, meskipun sibuk bekerja, menderita, stress (banyak beban pikiran), juga seharusnya pergi menemani pesakit tersebut. Saya mengerti, menjaga dan merawat orang sakit merupakan sebuah penderitaan, akan tetapi orang yang sakit lebih menderita!

Tidaklah mengherankan jika Hyang Buddha berkata: “ladang kebajikan besar ada delapan, menjaga orang sakit menempati posisi pertama.”

Sadhaka yang menghormati Budha, suciwan, para biksu, inilah “ladang kebajikan menghormati”.

Sadhaka yang memberikan persembahan kepada para biksu, orangtua, inilah “ladang kebajikan balas budi”.

Sadhaka yang memberikan persembahan kepada Acarya, ini juga “ladang kebajikan balas budi”.

Sadhaka yang menjaga dan merawat orang sakit, ini adalah “ladang kebajikan pengorbanan”.

(Budha, suciwan, biksu, Acarya, Sangha, ayah, ibu, orang sakit, adalah delapan ladang kebajikan).

Saya ingin memberitahukan pada para pembaca, “menjaga dan merawat orang sakit” benar-benar merupakan ladang kebajikan yang besar, merupakan latihan berbuat karma baik. Budha berkata, ladang kebajikan menjaga dan merawat orang sakit adalah nomor satu, paling sedikit, orang tersebut akan mendapatkan pahala berupa menjadi kaya raya, terlahir di alam Surga Caturmaharajakayika (kadang sering juga disebut Caturmaharajika), Surga Trayastrimsa, Surga Yama, Surga Tusita, Surga Nirmanarati, Surga Paranirmita Vasavartin, Surga Brahma.

Pada saat orang sakit membutuhkan perawatan, kita menjenguknya, pesakit tersebut akan merasakan perasaan kasih sayang yang berharga.

Link artikel asli (berbahasa Mandarin):

http://www.tbsn.org/chinese2/article.php?id=8179&keyword=&backpage=&page=20

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


(kutipan Sharing Dhamma Talk KMBUI pada 18 September 2010 di Kampus UI Depok, Indonesia)
Oleh: Bhante Nyanadasa, di-resume dan diedit oleh: Mei Linda
Dasar ajaran Buddha yang dapat diterapkan dalam kehidupan mahasiswa tak lain tak bukan adalah Empat Kebenaran Mulia, karena Empat Kebenaran Mulia dapat menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan. Empat Kebenaran Mulia terdiri dari:
  1. Mengenali adanya dukkha
Di dalam hidup, kita mengenali adanya dukkha (penderitaan akibat kemelekatan). Ada delapan macam dukkha, yaitu dukkha akibat lahir, sakit, penuaan, mati, tidak mendapatkan keuntungan, berpisah dengan yang disukai, bertemu dengan yang dibenci, dan dukkha akibat kemelekatan terhadap lima gugus (elemen) penyusun kehidupan dan pancaskandha. Kesemua hal tersebut mengakibatkan penderitaan, itulah sebabnya Sang Buddha mengatakan “kelahiran merupakan penderitaan”. Namun, Sang Buddha juga berkata bahwa “kelahiran sebagai manusia merupakan suatu keberuntungan”, karena manusia memiliki tingkat kesadaran yang cukup untuk menelaah Dharma, dan berbekal kesadaran yang cukup tersebut-lah, serta terdapatnya berbagai macam dukkha di dunia manusia, maka Dharma lebih dapat dipahami di dunia manusia (dibandingkan dengan 4 tingkat alam yang lebih rendah dari manusia –asura, hewan, preta, neraka – yang kesadarannya kurang tinggi namun mengalami dukkha, dan alam dewa yang kesadarannya tinggi namun tidak mengalami dukkha). Agar dapat terhindar dari dukkha, terlebih dahulu dibutuhkan untuk mengetahui apa yang menyebabkan dukkha.
2.  Mengetahui penyebab utama dukkha
Perlu diketahui, bahwa “kelahiran” yang dimaksud Sang Buddha adalah eksistensi “diri (ego)”, di mana makhluk hidup melekat pada 5 elemen penyusun kehidupan, baik berupa kemelekatan pada tubuhnya maupun segala benda yang dianggap ada sehingga menjadi penyebab utama munculnya segala hal yang berkaitan dengan “ego” dan “pemenuhan ego”, yang mana juga melahirkan ketujuh jenis dukkha lainnya. Kemelekatan diakibatkan oleh adanya berbagai macam tanha (nafsu keinginan) agar diakui sebagai “suatu sosok” yang eksis (“ego”) dan untuk pemenuhan keegoan, yang terbagi atas bhava tanha (nafsu keinginan akan pembentukan/keberadaan) yang sumbernya/akarnya adalah lobha (keserakahan), vibhava tanha (nafsu keinginan akan pemusnahan) yang akarnya adalah dosa (kebencian), dan kama tanha (nafsu keinginan akan kesenangan) yang akarnya adalah moha (kebodohan).
3.  Pelenyapan dukkha
Materi dapat membantu mengurangi dukkha akibat kemelekatan dalam aspek duniawi, di mana semakin banyak materi akan mengakibatkan semakin berkurangnya dukkha akibat hal yang bersifat keduniawian. Namun, ada juga kasus di mana materi yang semakin banyak akan meningkatkan dukkha. Dalam hal ini, ada aspek ketiga yang berperan, yaitu tanha. Bhante Nyanadasa menampilkan rumus “B = M/T”, di mana kebahagiaan (B) akan bertambah jika dilandasi dengan penambahan materi (M) maupun pengurangan tanha (T). Karena, jika tanha bertambah, maka kebahagiaan akan semakin kecil. Jadi, kuncinya adalah mengurangi tanha meskipun materi tidak bertambah, bukan menambah materi dengan landasan peningkatan tanha, karena pada dasarnya, materi bersifat netral. Tentu saja, dengan tanha yang kecil, makhluk yang memiliki materi yang banyak akan dapat membahagiakan lebih banyak makhluk lainnya dibandingkan dengan yang materinya sedikit. Namun, dengan cara yang bagaimanakah tanha dapat dikurangi?
4.  Jalan untuk melenyapkan dukkha
Delapan Jalan Kebenaran (Ariya Atthangika Magga /Hasta Arya Magga ) merupakan solusi untuk melenyapkan tanha yang merupakan akar dari dukkha (penderitaan akibat kemelekatan). Delapan Jalan Kebenaran tersebut terdiri atas Samma Ditthi (Pandangan Benar), Samma Sankappa (Pemikiran Benar), Samma Vacca (Pengucapan Benar), Samma Kammanta (Perbuatan Benar), Samma Ajiva (Pencaharian Benar), Samma Vayama (Pengupayaan Benar), Samma Sati (Perhatian Benar), dan Samma Samadhi (Pemusatan Benar). Untuk dapat melenyapkan dukkha melalui Delapan Jalan Kebenaran, kuncinya adalah menekan nafsu keinginan (tanha) indria (yang berhubungan dengan panca indera), mengembangkan tekad untuk melenyapkan dukkha, dan melakukan usaha dalam melenyapkan dukkha.
Sebagai mahasiswa, kita diharapkan untuk dapat mengimplementasikan Empat Kebenaran Mulia di dalam kehidupan kemahasiswaan, yaitu dengan mempelajari hal yang diajarkan di perkuliahan dengan berbekal Delapan Jalan Kebenaran dalam proses pembelajaran tersebut (kuliah dengan benar), dan dengan mengesampingkan (bila perlu, mewaspadai dan mengurangi) nafsu keinginan untuk diri sendiri, karena terjerat oleh nafsu keinginan akan membuat pembelajaran dan pencapaian menjadi tidak maksimal (seperti malas, lebih memilih pacaran dibandingkan belajar, dan tidak ingin mengajari/berbagi ilmu sehingga alhasil semakin banyak kesempatan yang hilang untuk memahami/merekam ilmu tersebut di otak melalui pengulangan). Selain itu, nafsu keinginan juga dapat membuat mahasiswa melakukan penyimpangan dalam proses belajar, seperti menyontek atau menghalalkan segala cara demi mencapai predikat/nilai yang tinggi. Asalkan dilandasi dengan motivasi yang benar, berkonsentrasi, dan bersungguh-sungguh belajar untuk membanggakan orangtua, mencerdaskan diri, dan mengamalkan ilmu yang diperoleh demi kepentingan non-egosentris, hasil yang dicapai pasti akan lebih maksimal. Tentu saja manajemen waktu yang baik juga dapat membantu mahasiswa untuk dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, karena “waktu” juga merupakan materi yang tidak ternilai.

Read Full Post »

Older Posts »