Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2010


Diketik ulang dari Buku ke-183 “Meninggalkan Keduniawian (Transcending Samsara)” dengan sedikit perubahan yang tidak mengubah arti, hanya menggaris-bawahi yang penting diperhatikan oleh pembaca.

Oleh: Grand Master Sheng-Yen Lu

Dulu, pernah ada seorang umat yang selalu berada di samping saya. Ia banyak mempelajari mustika sadhana aliran Tantra Tibet yang amat berharga.

Ia memang sangat serius dan tekun.

Dan saya pun mengajarkan beberapa kunci rahasia kepadanya. setelah menjalani latihan dalam jangka waktu tertentu, ia telah dapat menguasai tataritual Sadhana Tantra dengan sangat sempurna. Baik teori maupun praktek, tak satu pun yang terlewatkan olehnya.

Ia melaksanakan Sadhana Santika[1], Paustika[2], Vasikarana[3], dan Abhicaruka[4]. Semua kunci rahasianya sudah dilengkapi.

Ia juga telah menekuni Apihoma[4] sebanyak ratusan kali, Argampuja[5] sebanyak ratusan kail, Mahapuja sebanyak ratusan kali, Dewapuja sebanyak ratusan kali, Dharmapalapuja sebanyak ratusan kali, Gurupuja sebanyak ratusan kali, Adinatapuja sebanyak ratusan kali, berbagai persembahan sebanyak ratusan kali….

Suatu hari, ia datang ke tempat saya. Dengan wajah murung ia mengeluh, “Sama sekali tidak terjadi yukta[6].”

“Apakah kamu sudah mengundang para Mahasattva?”

“Sudah semua.”

“Apakah kamu sudah membaca Sutra Raja Agung Avalokitesvara[7] sebanyak seribu kali?”

“Sudah.”

“Apakah kamu sudah menjapa Mantra Mahaguru sebanyak delapan juta kali?”

“Sudah.”

“Apakah kamu sudah membaca Sutra Suvarnaprabhasottama sebanyak 49 kali?”

“Sudah juga.”

“Apakah kamu sudah melakukan berbagai ritual pertobatan?”

“Sudah.”

Ia telah menekuni hampir seluruh sadhana yang ada.

Ia telah berupaya dengan segala sadhana, akan tetapi sama sekali tidak memperoleh yukta. Laksana garam hanyut dalam laut, tiada bekas.

Ia bertanya, “Guru Lu, apakah masih ada sadhana yang lain?”

Saya menjawab, “Semua sadhana telah dilaksanakan, apa lagi yang harus saya katakan?”

“Bukankah dikatakan akan terjadi yukta? Terutama Sadhana Citta dalam hati?”

“Ya.”

“Mengapa tidak memperoleh yukta?”

” Saya sungguh tidak tahu.” Saya sangat menyesal.

Saat bersamadhi, diri saya masuk ke dalam kesadaran ketiadaan dan kekosongan. Itulah yang dikatakan “terlahir dalam kekosongan, berada dalam ketiadaan. Saya terlahir jadi Adinata, tetapi terhanyut oleh pikiran.”

Saat itu, saya muncul di alam “Buddha Ratna Wijaya”.

Saya bertanya pada Buddha Ratna Wijaya, “Mengapa setelah menekuni segala sadhana dengan penuh ketulusan, tetapi masih belum terjadi yukta?”

Buddha Ratna Wijaya menjawab, “Daripada menekuni segala macam sadhana, lebih baik berusaha mengosongkan pikiran. Yang ada menjadi tiada, yang tiada menjadi ada.”

“Mohon dijelaskan.”

Buddha Ratna Wijaya menjelaskan:

“Ada tiga macam manusia yang tidak mungkin memperoleh yukta dalam menekuni sadhana. Dengarkanlah dengan seksama. Jenis manusia pertama adalah mereka yang emosional dan mudah marah, jenis manusia kedua adalah mereka yang berhati culas dan kejam, jenis manusia ketiga adalah mereka yang amat serakah.”

Saya menjadi terdiam setelah mendengarkannya.

Buddha Ratna Wijaya melanjutkan, “Hati Buddha ber-yukta dengan hati langit, hati langit ber-yukta dengan hati manusia. Hati yang galau, keji, dan tamak, sadhana apapun yang ditekuninya tetap tidak akan memperoleh yukta.”

Oleh sebab itu, dengarkanlah sepatah kata yang cukup klise dari saya: “Utamakanlah menyucikan hati daripada menekuni sadhana! Apakah hati Anda suci adanya?”

– – –

Kosakata:

[1] Sadhana yang menitikberatkan pada efek Pemberkahan (peningkatan kemujuran/hoki dalam melakukan sesuatu)

[2] Sadhana yang menitikberatkan pada efek Peningkatan Berkah Harta Duniawi

[3] Sadhana yang menitikberatkan pada efek Pengikis karma buruk

[4] Sadhana yang menitikberatkan pada efek Tolakbala

[4] Sadhana pujana api (persembahan melalui media api)

[5] Sadhana pujana air (persembahan melalui media air)

[6] Kontak batin

[7] GaoWang Jing (baca: “Kau Wang Cin”), atau “Ko Ong Keng” dalam dialek Hokkian

– – –

Mohon Baca artikel yang berkaitan di bawah ini:

https://meilindaxu.wordpress.com/2010/10/02/mencapai-kebuddhaan-dalam-tubuh-sekarang/

Referensi:

Lu, Sheng-Yen. 2009. “Meninggalkan Keduniawian.” Medan: PT Budaya Daden Indonesia.

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Reposting is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Postingan ulang Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


Dari buku ke-151 “Obrolan Ringan Seorang Penyendiri”

Translation  :Meilinda Xu 莲花许月珊

Oleh Grand Master Sheng-Yen Lu

Seminggu sekali, saya pergi ke pasar di kota berbelanja sayur-mayur, orang-orang di pasar sedikit demi sedikit mulai penasaran akan kemunculan saya sebagai seorang yang asing.

Ada yang bertanya pada saya: “Kamu datang dari mana? Kamu berprofesi sebagai apa?”

Saya tidak pernah menjawab saya berasal dari mana, juga ketika orang-orang menanyakan saya berprofesi sebagai apa, saya selalu menjawab: “Saya sudah pensiun!”

Ada seorang penjual sayur berkata: “Saya lihat, kamu sering pakai topi, berpakaian seperti seorang pengurus di perusahaan besar, apakah kamu seorang pengurus di perusahaan besar?”

Ada seorang berkata: “Perawakanmu, seperti seorang tenaga kerja dari luar negri, kamu pastilah seorang buruh perbaikan jalan.”

Juga ada seorang penjual buah berkata: “Kemungkinan kamu adalah seorang juru masak di dapur, apakah kamu seorang koki?”

Mendengarnya, saya hanya bisa tertawa bego, asal-usul saya, dari mana, merupakan sebuah pertanyaan yang membingungkan. Mereka selamanya tidak akan mengetahui apa pekerjaan saya.

Hanya pemilik kedai kopi yang pernah saya sembuhkan penyakit matanya, dia mengatakan bahwa saya adalah “dukun”.

Pada suatu hari, pemilik kedai kopi mengejar saya: “Pak tua! Bolehkah membantu saya sekali lagi? Hanya kali ini saja, tidak akan memberitahu orang lain!”

“Siapa?”

“Ibu mertua saya!”

“Dia kenapa?” Tanya saya.

“Pencernaannya bermasalah, sudah beberapa tahun, badannya kurus lemah, lambung usus tidak pernah seharipun sehat, setelah makan langsung diare. Saya memberitahunya, anda telah menyembuhkan penyakit mata saya, beliau mengharapkan anda juga dapat menyembuhkan penyakit pencernaan menahunnya.”

Setelah berpikir sejenak, saya berkata: “Baiklah!”

Ibu mertua tersebut merupakan seorang ibu tua, saya menyuruhnya berdiri dengan kuda-kuda yang mantap, untuk mencegah beliau terbang keluar ketika sebelah telapak tangan saya memukulnya!

Saya menyuruhnya berdiri memunggungi saya.

Saya memohon agar Adinata saya memberkati lambung ususnya, telapak tangan kanan saya secara otomatis memukul punggungnya, terdengar suara “Phong, Phong.”

Saya melihat telapak tangan saya bersinar, mengeluarkan energi!

Saya melihat sinar di tubuh ibu tua, energi telah berpindah ke lambung ususnya.

Bersuara “Hum!”, cahaya agung terpancar.

Sejak hari saya memukul punggung ibu tua, keanehan terjadi, ibu tua sudah tidak diare lagi saat masuk kamar mandi.

Sejak saat itu sudah menjadi normal, selamanya lambung usus normal kembali, membuat pemilik kedai kopi dan ibu mertuanya sangat kaget dan keheranan.

Si pemilik kedai kopi dan ibu mertuanya, melihat saya selalu memanggil: “Pak dukun!”

Saya memberitahu mereka berdua: “Saya bukan dukun.”

“Saya harus memanggil anda dengan apa?”

Saya berkata: “Kalian berdua memanggil saya ‘Master’ saja! Tetapi, jangan beritahukan pada orang lain ya! Saya di sini sedang bertapa, tidak ingin terlalu dihebohkan!”

Tentu saja saya tahu, sepasang telapak tangan saya dapat terus membantu orang, karena sepasang telapak tangan saya bisa bercahaya, sama halnya juga dapat menyeberangkan insan seluas cakrawala di kolong langit, dapat memerahkan sebidang langit ini. Namun, jika dipikirkan lagi, lebih baik melewati masa tua dengan tenang! Buat apa mati karena kecapekan!

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


Dari buku ke-60, “Dunia Lain di Dalam Danau” (湖濱別有天 – The Inner World of the Lake)

Translation  :Meilinda Xu 莲花许月珊

Oleh: Grand Master Sheng-Yen Lu

Saat saya baru pertama kali menginjakkan kaki ke Amerika Serikat, sebetulnya saya mengalami kesulitan yang teramat sangat ketika memulai pekerjaan Dharmaduta. Karena, orang Amerika hidupnya susah. Dan, orang Amerika tidak mengerti, apakah yang dimaksud dengan “membangkitkan niat dan tekad”? Mereka bertanya pada saya, mengapa perlu belajar Buddha Dharma? mengapa perlu menjadi Buddha? Apa pula kegunaan dari menjadi Buddha? Mereka malah memberitahu saya, bahwa mereka sama sekali tidak ingin menjadi Buddha.

Mengembangkan Buddha Dharma ternyata memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, karena orang Amerika sebenarnya tidak mengerti “Buddha” itu apa, dan juga tidak ingin menjadi Buddha. Jika tidak ingin menjadi Buddha, bagaimana pula bisa rajin dan bersungguh-sungguh menekuni Buddha Dharma?

Saya tahu, mereka tidak ingin menjadi Buddha, namun di dalam hati, mereka menyimpan rasa kagum terhadap filsafat dan kebudayaan timur. Sedikit saja menyinggung dua patah kata mengenai istilah ketimuran, langsung muncul kegairahan yang tinggi. Terhadap filsafat pemikiran dari Laozi[1], Zhuangzi[2], dan kaum Taois yang lainnya, sangat berminat. Mereka juga pernah mendengar nama Sakyamuni Buddha.

Terhadap orang Amerika yang seperti ini, terlebih dahulu saya mengobrol sedikit mengenai filsafat pemikiran Laozi, filsafat pergaulan Zhuangzi, untuk mengundang minat mereka, lalu menyisipkan Empat Kebenaran Mulia[3] dari Sakyamuni Buddha. Kemudian, dilanjutkan dengan menjelaskan bahwa Sakyamuni Buddha pada saat itu meninggalkan keduniawian dan mencari jalan pembebasan dukkha dengan tekad demi menolong semua makhluk, dengan mencari pemahaman terhadap dukkha supaya dapat menemukan cara menghilangkan dukkha semua makhluk. Hidup manusia diliputi bermacam-macam dukkha. Dari sisi internal, “400 macam penyakit” merupakan dukkha di fisik, “kesedihan, kekhawatiran, iri hati, kemarahan” adalah dukkha di hati. Dari sisi eksternal, terdapat dukkha akibat bencana alam yang meliputi “angin, salju, dingin, panas”. Selain itu, ancaman rampok dan kemalingan, ancaman harimau dan serigala, semua ini merupakan bencana yang dapat diakibatkan oleh manusia dan hewan.

Selanjutnya, saya jelaskan mengenai delapan macam dukkha dalam Sutra Buddha – –

Dukkha karena kelahiran – – kelahiran merupakan dukkha bagi manusia: merepotkan ibunda hingga menderita kesakitan semasa mengandung; sementara itu, berada di dalam kandungan maupun keluar dari kandungan, semuanya membawa penderitaan (bisa ditelusuri dalam Sutra Sabda Buddha mengenai Sadhana Panjang Usia, Penghapus Dosa, dan Pelindung Kaum Kumara), merupakan dukkha.

Dukkha karena tua – – seorang yang lanjut usia akan memiliki dukkha akibat perasaan khawatir akan kelambanan pergerakannya, penuaan organ tubuh, penurunan kemampuan pendengaran dan penglihatan, dan pergerakan badan yang tidak leluasa.

Dukkha karena sakit – – saat manusia menderita penyakit, takut hawa dingin dan takut hawa panas, jiwa dan raga menjadi tidak fit/tidak produktif, mengalami penderitaan, tidak mampu mengutarakan penderitaan yang dialaminya.

Dukkha kematian – – penderitaan menghadapi perpisahan, penderitaan karena tidak adanya sandaran menjelang hilangnya kesadaran/kematian, semuanya merupakan derita yang dihadapi.

Dukkha kehilangan yang dicintai – – suatu hari nanti akan berpisah juga dengan semua yang disukai.

Dukkha berkumpul dengan musuh – – tidak dapat menghindari semua yang tidak disukai, bahkan sering merasa terganggu.

Dukkha tidak mendapatkan yang diinginkan – – merasakan penderitaan karena tidak mendapatkan yang diinginkan.

Dukkha akibat lima sisi gelap panca-skandha – – lima sisi gelap panca-skandha (rupa, perasaan, pikiran, perbuatan, kesadaran), kelahiran dan kematian dari segala sesuatu yang berkondisi, lebih merupakan penderitaan.

Secara ringkas, sepuluh macam dukkha dalam hidup manusia adalah: “dukkha akibat kelahiran, dukkha akibat penuaan, dukkha akibat penyakit, dukkha akibat kematian, dukkha akibat gelisah, dukkha akibat kebencian, dukkha yang dirasakan setelah mengalami dukkha, dukkha akibat kesedihan, dukkha akibat kemarahan, dukkha karena bertumimbal lahir.”

***

Saya sering menjelaskan kenyataan akan hal yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia, seperti dukkha akibat “segala sesuatu tidak ada yang dapat bertahan lama”, “kelahiran dan kematian yang silih berganti”, “tidak dapat beristirahat dengan tenang”, untuk membangkitkan perasaan mereka, membuat mereka sadar akan keberadaan kondisi-kondisi tersebut. Dengan adanya kesadaran tersebut, barulah dapat membangkitkan niat dan tekad untuk menekuni Buddha Dharma.

Manusia zaman sekarang, mau membangkitkan niat dan tekad mereka untuk belajar Buddha Dharma sangatlah susah, karena mereka tersesat pada “warna” dari wujud luar. Mengejar “nama”, “keuntungan”, bahkan “istri” dan “keturunan”, juga sangat mengejar “kenikmatan hidup”, karena melekatlah sehingga timbul bermacam-macam dukkha.

Saya memberitahu mereka agar membangkitkan niat dan tekad, sungguh-sungguh menekuni kebijaksanaan dari Buddha Dharma, mengatasi bermacam-macam dukkha dengan menggunakan kebijaksanaan dari Buddha Dharma, tekun mengubah “tidak bebas” menjadi “bebas”, berusaha menekuni cara “sucikan pikiran dalam kekinian, otomatis akan tenang”. Saya perlahan-lahan memandu dengan cara seperti ini, hingga pada akhirnya mereka semua ikut bersarana pada “Ling Xian Zhen Fo Zhong[4]”.

Namun, pada kenyataannya, ingin seorang siswa yang baru mulai membangkitkan niat dan tekad untuk mempertahankan semangat dan konsistensinya, juga sangatlah susah. Seorang siswa Tantrayana yang membangkitkan tekad mempelajari Buddha Dharma, tidak dipungkiri masih dapat terkena pengaruh dunia luar, sehingga mundur dari tekadnya mencapai ke-Buddha-an. Siswa yang terkena pengaruh dunia luar dan mundur sudah terlalu banyak, terlalu banyak…

“Sangha monastik melepas jubah” juga berarti mundur dari tekad mencapai ke-Buddha-an.

“Siswa yang telah bersarana tidak lagi bersadhana” juga berarti mundur dari tekad mencapai ke-Buddha-an.

“Meninggalkan lingkungan jalan menuju ke-Buddha-an, memasuki kembali lingkungan jalan keduniawian”, juga berarti mundur dari tekad mencapai ke-Buddha-an.

“Di dalam lingkungan jalan menuju ke-Buddha-an, berebut nama dan keuntungan”, juga berarti mundur dari tekad mencapai ke-Buddha-an.

***

Saya berharap, orang-orang yang telah mundur dari tekad mencapai ke-Buddha-an, mengamati secara mendalam, berpikir, apakah kebenaran hakiki itu, apakah “jatidiri sesungguhnya yang suci dan tenang”, mengapa setelah membangkitkan tekad, masih mau ditutupi (dikendalikan, dipengaruhi) oleh debu duniawi… Terhadap kebenaran dunia ini, mengapa tidak tercerahkan, mengapa diri sendiri masih tidak tenang dan suci… Jika begini, harus menekuni dengan sungguh-sungguh “jatidiri sesungguhnya yang suci nan tenang”, mengenali dengan jelas makna kehidupan manusia ini.

Setelah membangkitkan tekad, haruslah juga membangkitkan Bodhicitta[5].

Mantra pengembangan Bodhicitta:

「嗡。婆提支達。母打達牙。彌。」/Pinyin: Weng. Bodizhida. Mudadaya. Mi.

(Cara baca Indonesia: “Om. Poticeta. Mutataya. Mi.”)

Ini adalah mantra pengembangan Bodhicitta, yang memberkati dan mendukung orang yang mengembangkan Bodhicitta, bahkan hingga mencapai keBuddhaan, mengokohkan ketetapan hati untuk tidak memudarkan sradha[6]. Mantra ini mampu menjaga sradha para siswa Tantra. Seluruh Bodhisattva membaca mantra ini saat pertama kali membangkitkan Bodhicittanya, memasuki bhumi sradha yang kokoh.

Seluruh siswa yang bersarana pada aliran Tantrayana Satya Buddha, harus memahami “Gatha Bodhicitta”:

Saya dengan berdasarkan pada [alam] Dharma, tidak mengabaikan makhluk luas

Bersama-sama bersarana pada Guru[7] , Buddha, Dharma, Sangha

Demi menyeberangi lautan samsara, membangkitkan metta karuna mudita upeksa

Semoga (pelatihan) tubuh-ucapan-pikiran dapat seberhasil seperti Adinata[8]

Satu lagi mantra pembangkit Bodhicitta:

「嗡。婆提支打。別炸。沙媽呀。啞吽。」/Pinyin: Weng. Bodizhida. Biezha. Shamaya. Ahum.

(Cara baca Indonesia: “Om. Poticeta. Pieca. Samaya. Ahom.”)

Kedua buah mantra tersebut, dapat meningkatkan dan mendukung pengembangan Bodhicitta, kebajikannya sama besar.

Saya sendiri merasakan, susah membuat orang mempercayai Buddha. Dan, lebih susah lagi untuk membuat orang yang telah mempercayai Buddha dan orang yang telah belajar Buddha-Dharma untuk tetap menjaga motivasi dan keyakinan yang tidak akan pernah luntur/berubah, dan, terutama bagi orang yang telah mempelajari Buddha-Dharma, lebih susah lagi untuk tetap memiliki ketetapan hati dalam menekuni sadhana. Orang yang mundur di tengah jalan, terlalu banyak, terlalu banyak… Ini disebabkan oleh apa? Adalah karena Mara[9] kuat, Dharma lemah! Seorang siswa yang memiliki ketetapan hati yang bulat, susah didekati oleh Mara, jika didekati namun tidak mundur dari tekad awal, barulah dapat dikatakan seorang yang suci/Ariya.

Dengan sangat jujur mengatakan: “Vajra Acarya Bermahkota Merah Berpita Suci” telah melampaui ratusan ujian kematian dan ribuan ujian kehidupan. Seluruh penderitaan yang kualami, jika diceritakan pun orang-orang akan susah mempercayai. Saya adalah orang yang telah memasuki ambang kematian lembah hantu namun tidak mati, benar-benar bernasib mujur. Saya orang yang mengalami dikhianati dan ditinggalkan oleh kerabat, teman, dan siswa, namun tetap dapat merelakan sesuai dengan hukum alam, tidak merasa sedih/menderita. Saya adalah orang yang mengalami serangan hujatan dari para sadhaka di seluruh dunia, namun, mereka meludahi Langit, Langitpun tidak akan menyusut, ini adalah ratusan ribu orang menghujat saya sendirian. Tekanan yang sebesar ini, kemajuan yang besar (yang diperoleh dari upaya melatih diri), dengan tekad yang bulat melatih diri, tidak mundur dari jalan keBuddhaan, merupakan maha upaya pelatihan yang tidak akan berubah dalam kondisi seperti apapun.

Makna kehidupan manusia, tidaklah pada “popularitas”, juga tidak pada “keuntungan”, “istri, harta, anak, kebahagiaan”. Harus bisa melarikan diri dari lingkaran “keuntungan dan popularitas”, barulah benar. Makna kehidupan manusia adalah untuk melatih keBuddhaan, mengejar dan mencari kebenaran yang hakiki, mendalami dan menghayati mahakebijaksanaan yang hakiki, menggunakan badan fisik untuk menjalaninya, mencapai “manunggaling-kawula-gusti” dengan alam semesta, kemudian kembali pada lautan jati diri dari Vairocana, maha lautan cahaya Buddha yang agung, penerangan yang seperti itu, sangatlah agung, merupakan yang paling agung di dunia.

Makhluk luas hendaklah membangkitkan niat dan tekad mempelajari Buddha-Dharma, tekun mempelajari dan mempraktekkan Buddha-Dharma, harus terus menjaga Bodhicitta memasuki bhumi sradha yang kokoh. Mampu mencapai “tidak mundur”, barulah dapat memperoleh penerangan dan mencapai pencerahan.

Yang mundur, Mara Langit tertawa terbahak-bahak, dijadikan sarapan oleh Mara Langit, benar-benar kasihan dan sangat disesalkan!

Saya amat menghimbau makhluk luas, orang yang mempercayai Buddha, segeralah membangkitkan niat dan tekad mempercayai Buddha dan mendalami Dharma. Yang telah mempelajari Buddha-Dharma, harus memiliki kesungguhan dan ketekunan untuk menghayati dan berkembang, tidak menyerah dalam memperoleh penerangan dan mencapai pencerahan, segera mengamati dan menyelidiki akar dari kilesa, berusaha sekuat tenaga dalam memperoleh kebenaran yang terpercaya, menjaga agar Bodhicitta tidak mengalami kemunduran, ini barulah kebenaran yang hakiki.

Yang belum membangkitkan niat dan tekad, akan terus ditemani karma baik dan karma buruk, berada di dalam perputaran lingkaran enam alam samsara.

Yang telah membangkitkan niat namun berbalik mundur, akan memasuki Neraka Vajra.

Yang telah membangkitkan niat, tekun menjaga Bodhicitta, tidak mengalami kemunduran, pastilah akan mencapai keberhasilan tertinggi (penerangan sempurna).


Artikel yang berhubungan (disarankan untuk dibaca):

Persembahan Tertinggi: Persembahan Dharma

Link artikel asli (berbahasa Mandarin):

http://www.tbsn.org/chinese2/article.php?id=5853&keyword=&backpage=&page=0


[1] Filsuf kenamaan dari China, di Indonesia sendiri serng disebut sebagai “Lao-tsu” penulis Kitab Dao De Jing (道德經 – Sutra mengenai Jalan dan Kebajikan). Di agama Buddha, Laozi merupakan emanasi dari Tai Shang Lao Jun, yaitu suciwan yang merupakan dewa tertinggi di dalam ajaran Taoisme.

[2] Salah satu filsuf kenamaan dari China

[3] Empat Kebenaran Mulia terdiri dari: Dukkha ()Sebab-sebab Dukkha ()Akhir dari Dukkha (), dan Jalan (道) untuk mengakhiri Dukkha yang lazim disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan

[4] Aliran Tantrayana Zhen Fo Zhong/Tantrayana Satya Buddha (靈仙真佛宗), merupakan salah satu dari aliran Tantra Cina (sadhana menggunakan bahasa Mandarin) yang merupakan penggabungan dari beberapa sekte Buddhisme Tibetan (yaitu Sekte Nyingmapa (Sekte Merah), Sekte Gelugpa (Sekte Kuning), Sekte Sakyapa (Sekte Kembang), dan Sekte Kargyupa (Sekte Putih)), sekte Sukhawati dari aliran Mahayana, dan Taoisme.

[5] Tekad mencapai keBuddhaan

[6] Tekad dan keyakinan dalam menapaki jalan ke-Buddha-an

[7] Guru spiritual

[8] Makhluk suci yang paling dijunjung (sesuai preferensi pribadi masing-masing), yang telah mencapai Arus Nibbana (Arus Nirvana). Dalam Tantrayana, sangatlah penting untuk memilih Guru Spiritual yang tepat dan Adinata yang paling dipuja/dijunjung dalam awal tahapan bersadhana, untuk memperkokoh fondasi paling dasar. Di dalam Tantrayana terdapat berbagai macam sadhana, yang mana setiap sadhananya memiliki Junjungan (Adinata) yang berbeda-beda. Ketekunan bersadhana dan sradha yang tinggi terhadap Guru Spiritual sangatlah penting dalam mencapai keberhasilan dalam sadhana Guruyoga, dan terhadap Adinata dalam sadhana Adinatayoga. Dalam setiap jenis sadhana Adinatayoga dalam Buddhisme, pencapaian tertinggi adalah mencapai yoga (kontak batin) dan manunggaling-kawula-gusti dengan Junjungan (melebur menjadi satu dengan Junjungan: Junjungan adalah saya, saya adalah Junjungan, tidak ada perbedaan lagi) pada masing-masing sadhana tersebut

[9] Godaan nafsu kemelekatan terhadap hal-hal duniawi, baik dari dalam diri sadhaka (internal) maupun dari pengaruh kondisi yang dialami sadhaka/lingkungan di sekitar sadhaka (eksternal)

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


Oleh: Grand Master Sheng-Yen Lu

Translation :Meilinda Xu 莲花许月珊

Dari buku ke-174 <<一道彩虹>> (A Rainbow Arc – Seutas Pelangi)

Dalam hidup ini, saya mempelajari Buddha Dharma dan melatih diri, dari badan jasmaniah sendiri selalu mempersembahkan “jasmani bersih”[1], “ucapan bersih”[2], “pikiran bersih”[3].

Kemudian, merasa bahwa karma buruk diri ini banyak dan berat, besar-kecilnya tidak terhingga, sehingga beberapa tahun terakhir ini saya menitikberatkan mencoba mengubah karma melalui mempraktekkan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Saya juga mengembangkan Bodhicitta yang besar, mencontoh Avalokitesvara Bodhisatva, Ksitigarbha Bodhisatva yang menggunakan seluruh raganya dalam menyeberangkan arwah di enam alam samsara.

Sepanjang hidup ini, saya diberi persembahan yang tak terhingga jumlahnya dari murid-murid saya. Jika tidak bersadhana[4] dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati, atau ada sedikit ketidak-seriusan, atau tidak memuaskan, maka sungguh telah mengecewakan murid saya sendiri.

Kembali ke permasalahan awal, di dalam Vimalakīrtinirdeśasūtra《維摩結經》ada disebutkan bahwa, dalam seluruh jenis persembahan, yang nomor wahid adalah persembahan Dharma.

Makna persembahan sangatlah dalam; ada persembahan barang yang berkualitas, atau yang juga mengandung makna tertentu, yang tentunya memiliki bentuk dan bernilai tinggi. Sadhaka[5] memberikan persembahan pada Buddha, Dharma, dan Sangha dengan persembahan barang bermutu, atau dengan persembahan puji-pujian, atau persembahan empat perbuatan, atau sepuluh macam persembahan, termasuk di dalamnya bersadhana, atau hanya satu kali saja melakukan pujabakti[6] di depan altar, pada saat tubuh-ucapan-pikiran disucikan, maka itulah yang disebut dengan “persembahan Dharma”.

Ternyata, hanya dengan melakukan pujabakti dengan khidmat, tenang, dan sungguh-sungguh mengerahkan jasmani dan jiwa di depan altar, sudah merupakan “mempersembahkan Dharma”!

Ini adalah persembahan tubuh-ucapan-pikiran yang sesungguhnya kepada Guru[7] dan seluruh Buddha Bodhisattva-Mahasattva.

Menuliskan sebuah gatha:

Melihat bebek kecil berenang di kolam

Melihat bunga yangliu[8]bergoyang dalam tiupan angin

Kamu haruslah memiliki mata Dharma

Persembahan apakah yang tertinggi

Pintu hati haruslah lapang dan luas

Harus sering menjalankan seluruh ajaran Buddha

Jangan sampai menyia-nyiakan usia muda

Persembahan seperti ini, bisakah kamu melakukannya

Artikel yang berkaitan (disarankan untuk dibaca):

https://meilindaxu.wordpress.com/2010/10/21/membangkitkan-tekad-dan-bodhicitta/

Link artikel asli berbahasa Mandarin:

http://www.tbsn.org/chinese2/article.php?id=8358&keyword=&backpage=&page=0


[1] Melambangkan “mensucikan perbuatan yang dilakukan oleh tubuh/fisik”, yaitu perbuatan yang berkaitan dengan membatasi diri memuaskan hawa nafsu yang dapat dicapai oleh fisik, melalui panca indera

[2] Melambangkan “mensucikan ucapan”, sesuai dengan sila yang berkaitan dengan ucapan dalam Atthasila untuk mencegah berbuat karma buruk melalui ucapan, yaitu tidak berkata yang tidak benar, tidak berkata yang tidak penting, tidak mengucapkan kata yang dapat menyakiti hati makhluk lain, dan tidak berbicara pada waktu yang tidak tepat

[3] Melambangkan “mensucikan pikiran”, yaitu tidak sedang memikirkan hal-hal yang dapat mengganggu ketenangan batin, termasuk di antaranya hal-hal yang berkaitan dengan kilesa/kekotoran batin (keserakahan/pemuasan hawa nafsu, kebodohan, emosi negatif seperti kesedihan, kebencian, dan kemarahan)

[4] Melatih diri (melakukan chanting, meditasi, menaati sila, berbuat kebajikan, pelimpahan jasa, dan segala tindakan/cara yang dapat meningkatkan kualitas Buddhata makhluk hidup untuk mencapai ke-Buddha-an)

[5] Orang yang melatih diri

[6] Sadhana yang sifatnya lebih fokus pada chanting dan meditasi

[7] Guru spiritual dan para Guru silsilah dalam Agama Buddha.

[8] Sejenis pohon, tumbuh dengan subur di daratan China

 

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »