Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2010


Oleh Grand Master Sheng-Yen Lu, dari Buku ke-101 <<蝴蝶的風采>> (Kemegahan Kupu-Kupu – The Elegance of Butterfly)

Translation : Meilinda Xu 莲花许月珊

=Grand Master Sheng-yen Lu=

“Upeksa itu apa?”

“Sama seperti lilin.”

“Oh, saya paham, membakar diri sendiri demi menerangi orang lain.”

“Kalau begitu, siapakah yang mampu memahami upeksa (kerelaan)?”

“Buddha Hidup Lian Sheng Lu Sheng Yen.” “Apa yang dia relakan?”

“Raga dan tulang hancur berkeping-keping demi menyeberangkan makhluk luas.”

***

Hakikat “upeksa” – –

Satu, tidak membeda-bedakan, tidak pilih-kasih, menyama-ratakan semua makhluk.

Dua, mampu menanggung kesedihan dan derita perpisahan dengan kerabat dan seluruh orang yang dikasihi demi makhluk luas.

Tiga, mampu melepaskan dari semua keserakahan, kebencian, dan kebodohan.

Empat, mampu melepaskan dari bhava tanpa menyimpan rasa enggan/kekecewaan maupun kesedihan.

Lima, meninggalkan impian, mengosongkan harapan – harapan pribadi (tidak berharap apa-apa demi diri sendiri).

Enam, merelakan kebahagiaan diri sendiri demi kebahagiaan makhluk lain.

Tujuh, menguntungkan/membawa manfaat bagi makhluk luas, tidak berharap (tidak memiliki permohonan) bagi diri sendiri.

***

Catur Brahma Vihara dari aliran Vajrayana, adalah “maitri (metta/cinta kasih) tak terhingga”, “karuna (welas asih) tak terhingga”, “mudita (kebahagiaan)  tak terhingga”, “upeksa (upekkha/ kerelaan) tak terhingga”. Dan Buddha Hidup Lian Sheng telah merelakan, merelakan raganya, menggunakan raganya demi tugas menyeberangkan para insan. Juga merelakan nyawanya, hingga raga dan tulang hancur berkeping-keping. Juga merelakan hatinya, rela kehilangan segalanya hingga tidak memiliki apapun.

Dapat merelakan semuanya, maka akan dapat memasuki “bhumi penekunan upeksa yang damai nan bersih”, berada di urutan kelima dari sembilan bhumi di ketiga alam, juga merupakan surga Catur Dhyana.

Kata “upeksa (kerelaan)” ini, sisi yang paling agung, adalah “tidak membeda-bedakan makhluk luas”, juga merupakan “posisi yang sama rata di dalam hati”. Posisi yang sama rata di dalam hati ini, mengandung makna “penyepian ego”.

Rela “tidak berharap”, adalah makna yang terutama.

“Rela” namun melupakan “kerelaan”, adalah makna yang terutama.

Merelakan “kebahagiaan”, adalah makna yang terutama.

Rela yang “tanpa sesal”, adalah makna yang terutama.

***

Pada tanggal 7 Mei 1992, saya pergi ke XinZhu, mengunjungi Vihara NanShen, Vihara TongHui, Vihara MiaoHua, dan menginap semalam di XinZhu.

Di tengah malam, ada sebuah suara yang memberitahu saya:

“Pergilah ke Vihara NeiMing.”

Pergi ke “Vihara NeiMing”?

Vihara NeiMing dapat dikatakan merupakan vihara terbesar di wilayah geografis XinZhu, juga merupakan vihara pertama yang dibangun di sana. Secara logis, seyogyanya pergi ke Vihara NeiMing, namun kunjungan pembabaran Dharma kali ini hanya dilakukan di vihara-vihara yang baru. Vihara yang telah pernah didatangi dalam kunjungan pembabaran Dharma yang lalu tidak diikutkan lagi dalam kunjungan kali ini, jika tidak, jangka waktu satu bulan yang telah diatur tidak akan cukup.

Oleh karena itu, pembabaran Dharma kali ini tidak melibatkan Vihara NeiMing.

Lalu, di tengah malam, siapa yang bersuara, meminta saya pergi ke “Vihara NeiMing”?

Hari kedua, saya mengajukan usulan dadakan untuk pergi ke Vihara NeiMing, saya berkata: “Pergi ke Vihara NeiMing, hanya sepuluh menit saja.”

Sambutan kegembiraan para pengurus dan umat “Vihara NeiMing” bagaikan gemuruh petir, sepuluh menit saja sudah sangat memuaskan dan berharga.

***

Sesampainya di Vihara NeiMing, saya pergi terlebih dahulu ke rumah di sisi timur Vihara NeiMing. Vihara Neiming merupakan bangunan sewaan, disewa dari Tuan Zeng JinFu sebagai tuan rumah di mana Vihara NeiMing berlokasi di lantai paling atas dari rumah tinggalnya. Tuan dan Nyonya Zeng Jinfu menyambut kedatangan saya seperti permata yang berharga.

Saya berkata:

“Siswa Satya Buddha telah merepotkan!”

Zeng Jinfu menjawab:

“Ada Buddha berkunjung kemari, tidak ada lagi yang lebih agung, mana merepotkan.”

Saya berkata: “Tuan Zeng terlihat sangat berwelas asih.”

Zeng Jinfu menjawab: “Melatih diri sebetulnya adalah tekun melatih hati yang sesungguhnya agar benar.”

Kami mengobrol dengan sangat menyenangkan.

Sebelum pergi, Tuan Zeng Jinfu berkata: “Buddha Hidup kali ini datang ke Vihara NeiMing, sampai ke rumah saya, saya tidak menyiapkan hadiah apa-apa. Begini saja, mulai dari sekarang hingga seterusnya, Vihara NeiMing di loteng rumah saya, uang sewanya gratis, juga berarti tidak akan menerima uang sewanya sepeserpun.”

Saya sangat terharu mendengarnya.

Para pengurus dan umat Vihara NeiMing, sekali lagi bersorak gembira bak suara guruh.

Di dunia ini, orang yang kaya tidaklah sedikit, namun orang kaya yang benar-benar mampu merelakan tidaklah banyak. Malahan, orang yang dapat memahami inti dari “kerelaan” mungkin cuma segelintir saja. Mampu rela tanpa mengharapkan imbalan, mampu rela dengan bahagia, mampu rela tanpa sesal, juga sangat jarang.

Saya percaya, orang yang dapat merelakan, pintu berkah secara alami akan membuka, berkah yang diterima dari kerelaan tanpa mengharapkan balas jasa, akan muncul dengan sendirinya bagaikan mata air yang mengalir deras.

Link artikel asli (berbahasa Mandarin):http://www.tbsn.org/chinese2/article.php?id=728&keyword=&backpage=&page=20

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


Sumber: Dikutip secara langsung tanpa perubahan dari buku “Cahaya Kebijaksanaan: Filosofi Tathagata”, penulis: Grand Master Sheng-yen Lu.

Grand Master Sheng-Yen Lu

Banyak umat Buddha yang bersikukuh dengan pendapat mereka bahwa untuk mencapai ke-Buddha-an dalam Aliran Eksoterik dibutuhkan waktu tiga asankhya kalpa. Satu kalpa kecil adalah 16.798.000 tahun, 20 kalpa kecil sama dengan satu kalpa menengah, 4 kalpa menengah sama dengan satu mahakalpa, dan satu mahakalpa sama dengan 1.343.840.000 tahun. Sehingga, tiga asankhya kalpa sungguh suatu jangka tahun yang tak terkira banyaknya dan sulit terbayangkan.

Oleh karena itu, banyak umat Buddha yang tidak sependapat dengan ‘mencapai ke-Buddha-an dalam kehidupan sekarang’ yang ada dalam ajaran Tantra. Mari kita simak tanya-jawab yang dikutip dari Sastra Pemecah Wujud.

Tanya, “Seperti yang dikatakan oleh Sang Buddha bahwa setelah melalui kesulitan yang tak terkira banyaknya selama tiga asankhya kalpa, Ia baru mencapai Jalan Ke-Buddha-an. Mengapa Anda sekarang mengatakan bahwa hanya dengan mengamati batin untuk mengendalikan tiga akar kejahatan saja sudah bisa memperoleh pembebasan?”

Jawab, “Apa yang telah dikatakan oleh Sang Buddha tidak salah. Asankhya kalpa yang dimaksud berkaitan dengan tiga akar kejahatan. Asankhya kalpa dalam Sangkrit berarti tidak terhitung. Dalam tiga akar kejahatan terdapat pikiran jahat yang tidak terhitung, dan setiap pikiran dianggap satu kalpa. Jadi, tiga asankhya kalpa bagaikan pasir Sungai Gangga yang tak terhingga jumlahnya. Selama tiga akar kejahatan menutupi sifat Tathata yang murni, bagaimana mungkin dapat disebut pembebasan sebelum pikiran-pikiran jahat yang tak terhingga itu teratasi? Kalau saja mampu mengubah tiga akar kejahatan, yakni keserakahan, kebencian, dan kebodohan, menjadi tiga pembebasan, berarti telah mampu melalui tiga asankhya kalpa. Namun, di penghujung zaman ini, makhluk yang bodoh tidak memahami apa sebenarnya yang dimaksud oleh Tathagatha tentang tiga asankhya kalpa. Mereka mengatakan bahwa pencerahan hanya dapat dicapai setelah berkalpa-kalpa yang tak terhingga, bukankah hal ini akan menyesatkan dan melemahkan keyakinan orang yang menapaki jalan Bodhisattva?”

Jadi, tiga asankhya kalpa sebenarnya adalah pikiran jahat yang jumlahnya tak terhitung yang dihasilkan oleh tiga akar kejahatan. Setiap pikiran dianggap satu kalpa, maka jumlahnya tak terhingga bagaikan pasir di Sungai Gangga.

Untuk mencapai Ke-Buddha-an dalam tubuh sekarang, cukup dengan mengendalikan tiga akar kejahatan dan segera melampaui tiga asankhya kalpa. Dengan demikian akan mencapai ke-Buddha-an dalam seketika.

Mengapa ajaran Tantra mampu ‘mencapai ke-Buddha-an dalam tubuh sekarang’? Pendapat saya adalah:

  1. Buddha dan saya telah menjadi satu. (Nirmanakaya)
  2. Pemberkatan melalui transformasi gaib. (Sambhogakaya)
  3. Sifat Kesunyataan dari Alam Dharma. (Dharmakaya)

Perwujudan senantiasa seimbang dengan upaya bersadhana. Dan Tantrayana mengajarkan pelatihan untuk mencapai Nirmanakaya, Sambhogakaya, dan Dharmakaya secara bersamaan, sehingga mampu mencapai ke-Buddha-an dalam tubuh sekarang.

Penulisan ulang artikel ini didedikasikan untuk semua makhluk, semoga jasa kebajikan yang diperoleh dari artikel ini dapat menjadi karma baik penyebab tercapainya penerangan sempurna bagi semua makhluk. Sadhu, sadhu, sadhu.

Referensi:

Lu, Sheng-yen. Juli 2008. “Cahaya Kebijaksanaan; Filosofi Tathagata”. Medan: Budaya Daden Indonesia.

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Reposting is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Postingan ulang Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »

« Newer Posts