By : Grand Master Sheng-Yen Lu
Translation : Meilinda Xu 莲花许月珊
Source : B171 – 玻璃缸裡的金魚
Akhir-akhir ini saya membaca buku Zen. Ada sebuah kisah sebagai berikut :
Di zaman Dinasti Song, ada seorang Guru Zen. Di masa mudanya sebelum ia meninggalkan keduniawian, ia pernah minum arak bersama seorang teman. Setelah minum-minum, mereka pun bertengkar untuk memperebutkan harta benda, dan pertengkaran berkembang menjadi perkelahian. Begitu lepas kendali, ia memukul temannya. Tak disangka, temannya tewas seketika.
Takut dihukum, ia segera berkemas seadanya dan kabur ke tempat yang sangat jauh.
Belakangan, ia memasuki sebuah vihara, mengangkat guru dan belajar Buddha Dharma, dan menjadi biksu. Ia bertobat dengan cara menjalankan kehidupan bhavana yang penuh penderitaan. Akhirnya, Guru Zen memahami hatinya sendiri, menyaksikan Buddhata, mencapai maha pencerahan, dan menjadi seorang Guru Besar Zen. Ia pun mulai membabarkan Dharma dan menyeberangkan insan. Muridnya berjumlah ratusan ribu.
Saat Guru Zen memasuki usia 70 tahun, di suatu pagi yang tak terduga, setelah mandi ia pun duduk di dharmasana. Pada hari itu, ia tidak membabarkan Dharma, malah memberitahu para umat, “Kalian jangan bergerak, jangan berbicara. Harap tenang mendengarkan suatu kasus yang telah dilakukan oleh Biksu Tua ini 40 tahun silam.”
Guru Zen duduk tak bergeming.
Para umat yang datang mendengarkan Dharma menjadi kebingungan, semuanya duduk dengan tertib dan siap mendengarkan.
Setelah duduk beberapa lama, seorang prajurit tiba-tiba mendatangi vihara Zen tersebut, memasang busur dan panah ingin membunuh Guru Zen tua.
Guru Zen beranjali pada prajurit tersebut dan berkata, “Biksu tua menunggu anda di sini!”
Prajurit tersebut sangat kebingungan, “Saya dan anda tidak saling mengenal. Namun, begitu bertemu dengan anda, saya ingin sekali segera melesatkan panah membunuh anda. Ada apa gerangan?”
Guru Zen tua berkata, “Berhutang maka harus membayar, melakukan pertukaran dengan adil, terdapat karma sebab-akibat di dalamnya. Silahkan anda turun tangan!”
Guru Zen tua berkata pada muridnya, “Setelah kematian saya, kalian tidak boleh menyalahkan dirinya, malahan harus mentraktirnya makan dan mengantarnya pulang ke rumah. Jika kalian menyalahkannya, berarti kalian tidak mematuhi Guru dan melawan Langit, bukan murid saya!”
Para murid kebingungan.
Prajurit itu juga menjadi tidak yakin, ia pun meminta Guru Zen tua memberikan penjelasan.
Guru Zen tua menjelaskan kejadian lampau di saat masih muda. Setelah menjelaskan semuanya, Guru Zen tua pun berkata, “Anda lupa karena telah terlahirkan di kehidupan yang berbeda. Saya masih berada di kehidupan yang sama, sehingga saya masih ingat.”
Prajurit ini mendadak memahami sesuatu setelah selesai mendengarkan. Ia berkata, “Kapankah akan berakhir jika terus-menerus saling membalas dendam, berkalpa-kalpa saling mengganggu dalam setiap kesempatan.” Prajurit tercerahkan, dan seketika itu ia meninggal dalam posisi berdiri. Guru Zen turun dari dharmasana, mencukurkan rambut prajurit tersebut, memberikan nama Dharma baginya, dan menguburkannya.
Guru Zen tua itu sendiri juga kemudian duduk bersila, berpamitan pada khalayak, dan parinirvana dalam posisi duduk bersila.
Setelah membaca artikel ini, hati saya sangat tersentuh. Saya menghimbau para insan :
Lepaskan kebencian dan jangan mendendam.
Akhirilah seluruh jodoh buruk!
********
Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/ daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber
*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!
Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*
**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching
Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**
——————————————————–
蓮生活佛/文
近期讀禪書,有一則如下:
宋朝有一位禪師,年輕未出家前,曾經與友人飲酒,酒後與友人爭奪財物,便由吵架演成打鬥,一失手,竟然把友人打死了,當場斃命死亡。
禪師畏罪,便簡單收拾,逃到了很遠的地方去了。
後來他進入寺院,拜師學佛,懺悔而出家勤苦修持,終於禪師明了自心,見了佛性,大澈大悟,成為一名大禪師,開始弘法度眾,徒眾有百千萬。
禪師七十歲的時候,忽然有一天早晨,他沐浴之後就陞座,那天他沒有說法,卻告訴大眾說:「你們不要動,不要說話,靜看老僧了卻四十年前的一椿公案。」
禪師坐著不動。
大眾聽法的,卻茫茫然,安靜的坐著。
坐了一陣子,有一位士兵突然來到禪寺,扳起弓箭,就想射殺老禪師。
老禪師向士兵合掌,說:「老僧在此等候您呢!」
士兵很驚奇:「我與你和尚素不相識,但,一見你和尚,就想一箭把你射死,這是何故?」
老禪師說:「欠債還錢,公平交易,有因果在,你就下手吧!」
老禪師對弟子又說:「我死之後,你們不得責怪他,甚至請他吃飯,送他回家。如果責怪,便是逆師違天,不是我的弟子!」
弟子茫然。
士兵也疑惑,士兵請老禪師說個明白。
老禪師說明,昔日年輕時的事,一一說了,老禪師又說:「你因隔世投胎,你才會忘記,我尚在世,所以記得。」
這位士兵,聽了,略有所悟,說:「怨怨相報何時了,劫劫相纏豈偶然。」士兵一悟,立即站立往生。禪師下座,為士兵落髮,取法名,放入龕中。
老禪師自己也跏趺而坐,向大家告別,坐化。
我看了此文,心頗感動,我奉勸人:
解冤勿怨。
化掉一切惡緣吧!
恭錄自蓮生活佛盧勝彥文集171_玻璃缸裡的金魚
「讀禪書心得」159
【蓮生活佛著作】
http://www.tbsn.org/chinese2/booklist.php
【真佛資訊網路】
http://www.tbsn.org/
【真佛世界网 】
http://tbworld.org/


Leave a comment