Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Dharma Article’ Category


Sumber: Dikutip secara langsung tanpa perubahan dari buku “Cahaya Kebijaksanaan: Filosofi Tathagata”, penulis: Grand Master Sheng-yen Lu.

Grand Master Sheng-Yen Lu

Banyak umat Buddha yang bersikukuh dengan pendapat mereka bahwa untuk mencapai ke-Buddha-an dalam Aliran Eksoterik dibutuhkan waktu tiga asankhya kalpa. Satu kalpa kecil adalah 16.798.000 tahun, 20 kalpa kecil sama dengan satu kalpa menengah, 4 kalpa menengah sama dengan satu mahakalpa, dan satu mahakalpa sama dengan 1.343.840.000 tahun. Sehingga, tiga asankhya kalpa sungguh suatu jangka tahun yang tak terkira banyaknya dan sulit terbayangkan.

Oleh karena itu, banyak umat Buddha yang tidak sependapat dengan ‘mencapai ke-Buddha-an dalam kehidupan sekarang’ yang ada dalam ajaran Tantra. Mari kita simak tanya-jawab yang dikutip dari Sastra Pemecah Wujud.

Tanya, “Seperti yang dikatakan oleh Sang Buddha bahwa setelah melalui kesulitan yang tak terkira banyaknya selama tiga asankhya kalpa, Ia baru mencapai Jalan Ke-Buddha-an. Mengapa Anda sekarang mengatakan bahwa hanya dengan mengamati batin untuk mengendalikan tiga akar kejahatan saja sudah bisa memperoleh pembebasan?”

Jawab, “Apa yang telah dikatakan oleh Sang Buddha tidak salah. Asankhya kalpa yang dimaksud berkaitan dengan tiga akar kejahatan. Asankhya kalpa dalam Sangkrit berarti tidak terhitung. Dalam tiga akar kejahatan terdapat pikiran jahat yang tidak terhitung, dan setiap pikiran dianggap satu kalpa. Jadi, tiga asankhya kalpa bagaikan pasir Sungai Gangga yang tak terhingga jumlahnya. Selama tiga akar kejahatan menutupi sifat Tathata yang murni, bagaimana mungkin dapat disebut pembebasan sebelum pikiran-pikiran jahat yang tak terhingga itu teratasi? Kalau saja mampu mengubah tiga akar kejahatan, yakni keserakahan, kebencian, dan kebodohan, menjadi tiga pembebasan, berarti telah mampu melalui tiga asankhya kalpa. Namun, di penghujung zaman ini, makhluk yang bodoh tidak memahami apa sebenarnya yang dimaksud oleh Tathagatha tentang tiga asankhya kalpa. Mereka mengatakan bahwa pencerahan hanya dapat dicapai setelah berkalpa-kalpa yang tak terhingga, bukankah hal ini akan menyesatkan dan melemahkan keyakinan orang yang menapaki jalan Bodhisattva?”

Jadi, tiga asankhya kalpa sebenarnya adalah pikiran jahat yang jumlahnya tak terhitung yang dihasilkan oleh tiga akar kejahatan. Setiap pikiran dianggap satu kalpa, maka jumlahnya tak terhingga bagaikan pasir di Sungai Gangga.

Untuk mencapai Ke-Buddha-an dalam tubuh sekarang, cukup dengan mengendalikan tiga akar kejahatan dan segera melampaui tiga asankhya kalpa. Dengan demikian akan mencapai ke-Buddha-an dalam seketika.

Mengapa ajaran Tantra mampu ‘mencapai ke-Buddha-an dalam tubuh sekarang’? Pendapat saya adalah:

  1. Buddha dan saya telah menjadi satu. (Nirmanakaya)
  2. Pemberkatan melalui transformasi gaib. (Sambhogakaya)
  3. Sifat Kesunyataan dari Alam Dharma. (Dharmakaya)

Perwujudan senantiasa seimbang dengan upaya bersadhana. Dan Tantrayana mengajarkan pelatihan untuk mencapai Nirmanakaya, Sambhogakaya, dan Dharmakaya secara bersamaan, sehingga mampu mencapai ke-Buddha-an dalam tubuh sekarang.

Penulisan ulang artikel ini didedikasikan untuk semua makhluk, semoga jasa kebajikan yang diperoleh dari artikel ini dapat menjadi karma baik penyebab tercapainya penerangan sempurna bagi semua makhluk. Sadhu, sadhu, sadhu.

Referensi:

Lu, Sheng-yen. Juli 2008. “Cahaya Kebijaksanaan; Filosofi Tathagata”. Medan: Budaya Daden Indonesia.

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Reposting is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Postingan ulang Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


Oleh Grand Master Sheng-Yen Lu

释莲支:  “成佛?成魔?全在於「一心」,「心能自主」便成了「佛道」,心不能「自主」,便成了魔道。成佛?成魔?一線而已!”

Menjadi Buddha? Menjadi Mara? Semua bergantung pada “Satu Hati”. “Hati dapat mengendalikan diri” akan berubah menjadi “Jalan keBuddhaan”. Hati yang tidak mampu “mengendalikan diri” akan berubah menjadi jalan Mara. Menjadi Buddha? Menjadi Mara? Perbedaannya sangatlah tipis!

(Shi LianZhi)

***

Selama hidup menyepi di Danau Daun, di bayang-bayang gunung, di tepian danau, hatiku terasa sepi dan sempit. Namun, dengan khusyuk, aku menulis buku, menuangkan pikiranku, lebar tanpa tepi.

Aku merasa bahwa hatiku semakin lama semakin lapang, memikirkan apa yang telah kulakukan di masa lampau, ada yang perlu disesali, maka akupun menyatakan penyesalan di depan para Buddha Bodhisattva, teratai pun langsung menebarkan keharuman.

Jika dipikirkan kembali, zaman sekarang, hati manusia tidak teguh, kebiadaban semakin tinggi, bertindak berdasarkan keegoisan tinggi dan kepicikan, sehingga saling berebut. Lebih lanjut, hal ini berkembang menjadi peperangan antar negara, antar suku, antar rumah tangga, antar personil…

Manusia zaman sekarang, sungguh individualis, jika ingin sungguh-sungguh berbaur, sungguh-sungguh saling membantu, sungguh-sungguh saling memedulikan, tidak berpura-pura, tidak sentimen, tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, kelihatannya sangatlah tidak mudah. Kenapa di lingkungan manusia begitu banyak perhitungan seperti itu? Tidak mampu mewujudkan dunia yang damai nan indah, aku pun merenungkan secara seksama dan mendalam, ini semua disebabkan oleh ketidakmampuan dalam melapangkan hati.

Sangatlah banyak orang yang egois, atau iri hati, atau sirik, hanya menginginkan kemegahan diri sendiri, menjatuhkan orang lain, ini adalah permulaan dari hukum “sebab-akibat”.

Mengapa bisa ada enam alam gati? (enam alam tumimbal lahir)

Serakah, maka masuk ke alam neraka.

Iri hati, maka masuk ke alam setan kelaparan.

Bodoh, maka masuk ke alam binatang.

Sedangkan, alam manusia adalah separuh baik separuh buruk. Alam asura adalah tidak berhenti dalam bersaing dan berebut, terlalu mementingkan diri sendiri.

Alam dewa, jika menjalankan sepuluh kebajikan, maka akan terlahir di alam ini.

Sebenarnya, siapapun yang memberikan hal yang indah untukmu, atau siapapun yang memberikan hal yang menyakitkan bagimu, tidaklah mengapa.

Asalkan hatimu lapang dan luas, hingga luas tak bertepi, sudah merupakan keberhasilan dalam melatih diri. Saya berdiam di Danau Daun, bahkan mengganti nama dan marga, melupakan keakuan, berterimakasih pada semua makhluk. Saya tidaklah penting, semua makhluk-lah yang penting. Hatiku tanpa kebencian, tidak mampu menyalahkan siapapun, hanya dapat menyalahkan diri sendiri. Menyesallah!

Kita sebagai sadhaka, hanya memiliki rasa terimakasih, yang dapat melihat luasnya hati, harus berusaha dan belajar. Yang dapat melihat kesempitan hatinya, hendaknya merefleksi diri. Jika menginginkan dunia menjadi tanah suci yang sebenarnya, ternyata dapat dicapai dengan melapang-luaskan hati. Hati yang sempit dan picik, barulah akan selamanya berseteru dan bersaing tiada henti, tiada akhir.

Di pagi hari yang cerah di Danau Daun, saya memanjat hingga puncak gunung, tiada burung yang berkicau. Memandang ke langit, melihat warna langit yang tak bertepi, tak berbatas. itu adalah warna yang ada di dunia manusia. Di bawah langit biru ada gunung, sungai, dan daratan luas. Di gunung, sungai, dan daratan luas, manusia dan makhluk hidup bersama dengan saling memangsa.

Saya ingin terbang ke langit biru.

Mendoakan: dalam dunia manusia tidak ada benar dan salah, makhluk hidup tidak ada saling membunuh dan memangsa.

Hatiku sangatlah kosong…

Menyanyikan sebuah gatha:

Langit langit langit biru tanpa dilap

Hanya dengan beberapa langkah angsa baru terbang melintas

Terbang tanpa menyisakan jejak

Tanpa jejak tanpa jalur

Panggilan terpendam melihat gunung sungai daratan luas

Asap tebal di empat penjuru

Berkekurangan kedamaian

Ternyata adalah bencana perang

Siapapun tidak mengalah

Dekat, namun juga jauh

Mulai sekarang dunia surga dan dunia manusia selalu terpisah

Hanya seperti gejolak ombak

melatih diri untuk apa

mengapa harus mengganggu kedamaian yang susah diperoleh di dunia manusia

namun dengan melatih melapang-luaskan hati

secara alami akan mengetahui

bagaimana dapat terlahir

hati Bodhisattva tiada berbatas

senantiasa luas dan lapang

—

—

Link artikel asli: http://tbsn.org/chinese2/article.php?id=8399&keyword=&backpage=&page=0

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


Oleh: Grand Master Sheng-Yen Lu

Translation :Meilinda Xu 莲花许月珊

Biasanya, pada saat badan saya masih sehat, sebagai contoh, pada saat saya di Seattle, “Bala” (Wisma Lingxian), menjalani pertapaan selama tiga tahun. Pada saat itu baru menginjak usia tiga puluh delapan tahun, empat puluh tahun, masih pada usia produktif, bahkan flu kecil pun tidak pernah saya alami. Menjalani pertapaan pada saat itu sama sekali tidak merasakan butuh orang dekat, juga tidak merasakan kehangatan dari teman dekat, lagipula hidup bertapa memang harus menyendiri dan kesepian, jadi tidak masalah.

Saat ini, saya bertapa di Danau Daun, benar-benar telah jatuh sakit. Sakit di badan pada saat ini, telah membuat tangan dan kaki tidak berdaya, contohnya seperti sakit kaki:

Mencuci wajah dan menyikat gigi, semuanya bergantung pada “Ayam Emas Berdiri pada Kaki Tunggal” (shio Mahaguru Lu adalah ayam).

Berjalan dan hendak duduk beristirahat juga bergantung pada kedua tangan dan satu kaki untuk merangkak di atas lantai.

Kaki kiri saya bengkak sampai seperti roti.

Sakitnya sungguh tak tertahankan.

Kondisi yang seperti ini, bagaimana dapat bertapa dan melatih diri? Setelah jatuh sakit, ingin pergi mencari dokter ke rumah sakit, juga tidak sanggup, sehingga membutuhkan seseorang untuk membantu menjaga. Pada saat seperti ini, ingin menyendiri juga tidak bisa, kita sadhaka yang ingin berlindung pada Buddha Bodhisattva, juga harus bergantung pada hati welas asih orang yang bersedia merawat dan menjaga.

Pada saat ini, saya baru memahami, “merawat dan menjaga orang sakit”merupakan sebuah pekerjaan besar yang berat, jika bukan sebagai pekerja yang mengkhususkan diri menjaga dan merawat, dan harus menjaga orang sepanjang hari dalam jangka waktu yang lama, kerabat dan teman dekat tersebut harus memiliki perjuangan dan usaha yang lebih keras.

Orang yang sakit menderita.

Orang yang menjaga dan merawat juga menderita.

Sekarang saya mengerti, kerabat dan teman dekat dari orang yang sakit, seharusnya mampu memahami penderitaan dan kesengsaraan pesakit tersebut. Oleh karena itu, meskipun sibuk bekerja, menderita, stress (banyak beban pikiran), juga seharusnya pergi menemani pesakit tersebut. Saya mengerti, menjaga dan merawat orang sakit merupakan sebuah penderitaan, akan tetapi orang yang sakit lebih menderita!

Tidaklah mengherankan jika Hyang Buddha berkata: “ladang kebajikan besar ada delapan, menjaga orang sakit menempati posisi pertama.”

Sadhaka yang menghormati Budha, suciwan, para biksu, inilah “ladang kebajikan menghormati”.

Sadhaka yang memberikan persembahan kepada para biksu, orangtua, inilah “ladang kebajikan balas budi”.

Sadhaka yang memberikan persembahan kepada Acarya, ini juga “ladang kebajikan balas budi”.

Sadhaka yang menjaga dan merawat orang sakit, ini adalah “ladang kebajikan pengorbanan”.

(Budha, suciwan, biksu, Acarya, Sangha, ayah, ibu, orang sakit, adalah delapan ladang kebajikan).

Saya ingin memberitahukan pada para pembaca, “menjaga dan merawat orang sakit” benar-benar merupakan ladang kebajikan yang besar, merupakan latihan berbuat karma baik. Budha berkata, ladang kebajikan menjaga dan merawat orang sakit adalah nomor satu, paling sedikit, orang tersebut akan mendapatkan pahala berupa menjadi kaya raya, terlahir di alam Surga Caturmaharajakayika (kadang sering juga disebut Caturmaharajika), Surga Trayastrimsa, Surga Yama, Surga Tusita, Surga Nirmanarati, Surga Paranirmita Vasavartin, Surga Brahma.

Pada saat orang sakit membutuhkan perawatan, kita menjenguknya, pesakit tersebut akan merasakan perasaan kasih sayang yang berharga.

Link artikel asli (berbahasa Mandarin):

http://www.tbsn.org/chinese2/article.php?id=8179&keyword=&backpage=&page=20

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


Artikel bersumber dari Buku ke-171: “Ikan Mas di dalam Akuarium Kaca (the Goldfish Inside Glass Aquarium — 玻璃缸裡的金魚)”

Translation :Meilinda Xu 莲花许月珊

Oleh: Grand Master Sheng-Yen Lu

Dalam perjalanan astral – –

Saya melihat sesosok paman yang sangat welas asih yang dulu saya kenal, sedang menderita di dalam neraka. Batinku sangat gelisah, sedih, kaget, sekaligus takut.

Paman ini sangat saya hormati. Sepengetahuan saya, orang ini sangat dielu-elukan masyarakat karena selama hidupnya tidak berani melakukan kejahatan, senang berbuat kebajikan. Begitu mengetahui ada kesempatan berbuat kebajikan, pasti bergembira. Mencetak sutra, membuat rupang Budha, berdana pada fakir miskin, membantu korban bencana alam, menyumbangkan tenaga dan materi, telah melakukan tidak sedikit kebajikan terhadap orang banyak, dapat dikategorikan sebagai seorang yang sangat berwelas asih.

Paman yang seperti ini, bagaimana bisa masuk ke dalam neraka? Karena pernah ada suatu kejadian yang sangat terpuji, di mana paman ini pernah menduduki jabatan yang tinggi di perusahaan yang besar. beberapa pengusaha besar sering berusaha menyogoknya di tengah malam. Paman ini tidak hanya menolak, tapi juga segera mengantarkan tamunya pergi dengan mobil, sedikitpun tidak  tergoda.

Orang ini memiliki kualitas sejati (tulen), kenapa bisa terlahir di alam neraka?

Kemudian, saya bertanya padanya:”Kenapa bisa?”

Beliau menjawab: ”Sesaat”

“Apanya yang sesaat?”

“Tidak bisa menahan amarah sesaat.”

Setau saya, paman ini pernah dicelakai rekan sekerja, sehingga akhrinya melepaskan jabatannya. Semakin dipikirkan semakin tidak rela, paman ini akhirnya menyalakan api dan membakar pondokan khusus karyawan di perusahaan tersebut. Dan, kejadian ini telah menyebabkan tidak sedikit nyawa yang melayang maupun korban luka-luka.

Ketika saya mengetahui hal tersebut, saya sangat muram.

Kutipan dari Kitab ”Memasuki Inti” 《入中論》 : “Timbulnya iri dan benci yang hanya sesaat, sudah cukup untuk memusnahkan ratusan kebajikan yang telah dilakukan.”

Dalam Kitab “Bodhisattvacaryavatara” (《入菩薩行》- Memasuki Jalan Bodhisatva) dari Shantideva Bodhisattva* tertulis: “Tidak peduli berapa banyak kebajikan yang telah diperbuat, seperti memberikan persembahan kepada Buddha atau berdana kepada makhluk luas, karma baik yang telah diperoleh dari beribu-ribu perbuatan bajik ini, dapat dimusnahkan hanya oleh rasa iri dan benci yang kecil.”

Ibarat api memusnahkan hutan kebajikan.

Saya menyadari, di dunia ini, perbuatan yang kelihatannya mustahil terjadi, sangat mungkin terjadi hanya karena kalap/ketidakwaspadaan sesaat.

Karena amarah sesaat, tidak sengaja telah membunuh orang.

Karena amarah sesaat, petir menyambar kepala, mengobarkan api kebencian.

Karena amarah sesaat, kejahatan timbul di hati, tamatlah sudah.

Bahaya yang ditimbulkan oleh ini tidaklah kecil.

Harus bisa bersabar, bersabar, bersabar, bersabar… Hanya dengan bersabar, barulah bisa mencapai “tiada masalah”.

Link sumber Artikel Asli (berbahasa Mandarin):

http://www.tbsn.org/chinese2/article.php?id=8282&keyword=&backpage=&page=0

Catatan:

*Shantideva Bodhisattva (terkadang dikenal juga dengan Śantideva Bodhisattva) merupakan Bodhisattva yang terkenal dengan kebijaksanaannya, yang pertama kali membabarkan Kitab Bodhisattvacaryavatara (dikenal juga dengan Kitab Bodhicaryavatara, atau dalam bahasa Inggris sering disebut dengan nama “A Guide to the Bodhisattva’s Way Of Life” atau “Entering the Path of Enlightenment”). Riwayat hidup Shantideva Bodhisattva dan sekilas informasi mengenai Kitab Bodhisattvacaryavatara (sangat direkomendasikan untuk diketahui) dapat dilihat dalam http://bodhicharyavatara.wordpress.com/2007/03/19/santideva/

= Shantideva Bodhisatva =

Sementara itu, isi Kitab Bodhisattvacaryavatara yang secara keseluruhannya terdiri atas 10 bab dapat diakses di bagian lain dari alamat blog Bodhicaryavatara yang baru saja disebutkan di atas maupun diakses secara online di http://www.shantideva.net/

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »