Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Experience-sharing’ Category


by Grand Master Sheng-Yen Lu, source : B216 – Q&A of Contemporary Dharma King

Translation:Meilinda Xu 莲花许月珊

Image

= Grand Master Sheng-Yen Lu =

Ada yang bertanya, “Bagaimana mengetahui arti mimpi?”

Saya menjawab :

Mahaguru Lu pernah berkata, mimpi juga merupakan manifestasi suatu alam. Alam manusia adalah suatu alam. Manusia saat sedang bermimpi juga sedang berada di suatu alam tertentu. Selain itu, alam Yin tempat seseorang berada setelah meninggal juga merupakan suatu alam tersendiri.

Mari kita pikirkan dengan saksama :

Alam manusia.

Mimpi.

Alam Yin (alam roh).

Adakah keterkaitan satu sama lainnya?

Saya menggunakan “rembulan di dalam air” sebagai analogi: rembulan di dalam air dapat diamati dengan mata kita. Bulannya ada, namun jika tangan kita masuk ke dalam air dan hendak menggapainya, selamanya bulan ini tidak akan dapat ditemukan.

Adakah “rembulan di dalam air”?

Tidak adakah “rembulan di dalam air”?

“Rembulan di dalam air” pada dasarnya hanyalah sebuah mimpi. Tidakkah anda merasa demikian? Kehidupan manusia adalah mimpi besar ratusan tahun. ‘Mimpi’ adalah sebuah mimpi di alam Yang (alam fisik). Alam bardo adalah sebuah mimpi 49 hari pasca meninggal. Semuanya adalah mimpi!

Tubuh jasmaniah kita ini, merupakan suatu eksistensi yang ada dengan meminjam “panca-skandha” rupa, perasaan, pikiran, perbuatan, dan pencerapan. Begitu terurai maka sudah tidak ada lagi, bagaikan mimpi.

Kita melakukan praktek Buddha Dharma adalah agar rupa, perasaan, pikiran, dan perbuatan tidak jatuh ke tiga alam samsara.

Terus begitu, hingga “Buddhata” selamanya menghentikan tumimbal lahir.

***

Tantrayana adalah melatih mimpi.

Di dalam mimpi, kita harus terus berlatih, hingga :

Menyadari mimpi ––– menyadari bahwa semuanya hanyalah mimpi.

Memahami mimpi ––– mimpi haruslah sangat jelas.

Mengendalikan mimpi ––– mengendalikan mimpi ini.

Melatih mimpi ––– di dalam mimpi juga bisa melatih diri.

Sebenarnya, keempat poin ini sangatlah penting. Sebagian sadhaka di pagi hari mampu bersadhana, namun di malam hari ia malah hilang kontrol dan pikirannya melayang ke hal yang tidak baik. Pelatihan diri yang seperti ini adalah belum mencapai nilai yang bagus.

Menyadari mimpi, memahami mimpi, mengendalikan mimpi, melatih mimpi. Bagaimanakah melatihnya?

Kuncinya berada di :

Memohon adhistana Mulaguru!

Memohon adhistana Muladinata!

Memohon perlindungan Dharmapala!

Di malam hari melatih Sadhana Tidur Bercahaya, memasuki samadhi mimpi, cahaya suci melindungi, dengan sendirinya dapat menyadari mimpi, memahami mimpi, mengendalikan mimpi, dan melatih mimpi.

Jika tidak demikian, alam mimpi dari sadhaka, dalam beberapa hembusan nafas saja sudah menjadi alam pikiran yang amburadul. Seorang sadhaka yang melatih mimpi mampu memahami petunjuk mimpi. Mimpinya sangat jelas, di dalam mimpi bertemu dengan Mulacarya, di dalam mimpi bertemu dengan Muladinata. Semua yang diketahui dan diberitahukan dalam mimpi merupakan sebuah petunjuk.

(Umumnya mimpi yang terjadi sekitar jam enam pagi merupakan petunjuk mimpi).

Di dalam mimpi juga harus waspada. Saat menerima petunjuk, jika petunjuk yang diterima adalah yang asli, sadhaka menjapa mantra hati Mulaguru, cahaya yang lebih terang dapat muncul.

Jika petunjuknya palsu, saat sadhaka menjapa mantra hati Mulaguru, alam mimpi tersebut dengan sendirinya akan menghilang.

Saya berikan sebuah contoh :

Dulu ketika saya masih mengenyam pendidikan di Sekolah Zheliang, di malam hari saya mimpi bertemu dengan Presiden Jiang Jinguo, sangat jelas, namun saya tidak berani langsung percaya.

Kemudian, Presiden Jiang Jinguo mampir meninjau sekolah Zheliang.

Kepsek Mayjend Jun Zhongqi menghadiahkan buku karya saya yang berjudul Danyanji (淡煙集) kepada Presiden Jiang.

Presiden Jiang lantas mengundang saya untuk bertemu dan berbincang-bincang.

Sudah dialami dalam mimpi!

Contoh kasus telah mengalami terlebih dahulu dalam mimpi sebelum terjadi di dunia nyata tidak habis dihitung, sungguh tidak dapat diremehkan!

Image

Heart Mantra of Grand Master Sheng-Yen Lu (also the Heart Mantra of White Mahapadmakumara Bodhisattva) : Om Guru LianSheng Siddhi Hum

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


diterjemahkan dari buku karya Sheng-Yen Lu ke-006 “Tenang dan Pikirkan dengan Seksama”

Translation :Meilinda Xu 莲花许月珊

ShiZun (Mahaguru)

Pernah ada yang menanyai saya, “Master Lu, tolong katakan sejujurnya pada kami, pernahkah Anda terpikirkan untuk bunuh diri?”

Saya menjawab, “Ada.” Saya berkata, “Saya mengatakan yang sejujur-jujurnya kepada kalian, saat saya kelas enam SD, saya pernah melakukan usaha bunuh diri satu kali.”

“Hah!” Semuanya sangat kaget.

Saya juga memberitahukan yang sebenarnya kepada mereka, “Adik kandung saya, Lu Zhaorong, adalah karena bunuh diri dengan meminum kalium sianida, sehingga meninggal.”

Begitu para hadirin mendengarnya, semuanya termangu-mangu dan terdiam.

Saya berkata:

Menurut seorang pakar psikologi ternama, di antara manusia terdapat orang yang cenderung melakukan bunuh diri, contoh nyatanya tidaklah sedikit. Orang yang memiliki kecenderungan pikiran ingin bunuh diri, itu terlebih lagi tidak sedikit.

Masih untung, begitu pikiran ingin bunuh diri muncul, segeralah padamkan dalam sekejap melalui pengertian. Jika tidak padam dan kembali lagi, manusia sebentar saja sudah mati bunuh diri semua.

Akhir-akhir ini saya menulis banyak artikel, menghimbau masyarakat, jangan ada pikiran menyepelekan nyawa, tidak boleh bunuh diri.

Saya adalah orang yang telah terbangun rohnya, saya tahu bahwa arwah yang meninggal karena bunuh diri, penderitaannya berkali lipat dibandingkan arwah lainnya, setelah meninggal bunuh diri, sangat susah mendapatkan kesempatan terlahir kembali, karma buruknya lebih berat. Itu merupakan karma berat karena membunuh makhluk hidup, menempati nomor satu dari lima sila pantangan.

Meskipun karma arwah bunuh diri telah berkurang, saat terlahir kembali menjadi manusia, juga akan terlahir sebagai orang cacat yang bisu, tuli, dan buta, atau cacat otak, kaki, tangan. Hidup di dunia, penderitaannya juga berlipat!

Orang yang meninggal karena bunuh diri, sejujurnya tidak akan mampu memperoleh rasa iba dari manusia di dunia!

Jangan-jangan malah membuat orang yang ingin menyingkirkan anda tersebut berjabat tangan erat dan lebih bergembira. Kerabat menderita, musuh bergembira, apa untungnya? Meninggalnya anda hanyalah sebuah kesia-siaan.

“Sudah menemui jalan buntu, harus bagaimana?”

Saya berkata, “Carilah kebahagiaan ‘di saat sekarang’! Jalan hidup manusia harus dilalui dengan bahagia hingga akhir.” “Dipermalukan, tekanan besar, sangat menderita, harus bagaimana?” Saya berkata, “Buddha mengajari kita ksanti-paramita, setelah lulus ujian kesabaran, maka akan bisa mencapai daratan seberang.”

Sekarang saya berpikir, asalkan tidak meninggal, kegembiraan dan kebahagiaan masih bisa datang. Namun jika telah mati, bahkan harapan pun sudah tidak ada lagi. Oleh karena itu, janganlah membuang nyawa, itu baru benar.

~ Tulisan ini diambil dari buku karya Sheng-Yen Lu ke-158 “Pemikiran di bawah lentera yang sepi”


********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


(kutipan Sharing Dhamma Talk KMBUI pada 18 September 2010 di Kampus UI Depok, Indonesia)
Oleh: Bhante Nyanadasa, di-resume dan diedit oleh: Mei Linda
Dasar ajaran Buddha yang dapat diterapkan dalam kehidupan mahasiswa tak lain tak bukan adalah Empat Kebenaran Mulia, karena Empat Kebenaran Mulia dapat menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan. Empat Kebenaran Mulia terdiri dari:
  1. Mengenali adanya dukkha
Di dalam hidup, kita mengenali adanya dukkha (penderitaan akibat kemelekatan). Ada delapan macam dukkha, yaitu dukkha akibat lahir, sakit, penuaan, mati, tidak mendapatkan keuntungan, berpisah dengan yang disukai, bertemu dengan yang dibenci, dan dukkha akibat kemelekatan terhadap lima gugus (elemen) penyusun kehidupan dan pancaskandha. Kesemua hal tersebut mengakibatkan penderitaan, itulah sebabnya Sang Buddha mengatakan “kelahiran merupakan penderitaan”. Namun, Sang Buddha juga berkata bahwa “kelahiran sebagai manusia merupakan suatu keberuntungan”, karena manusia memiliki tingkat kesadaran yang cukup untuk menelaah Dharma, dan berbekal kesadaran yang cukup tersebut-lah, serta terdapatnya berbagai macam dukkha di dunia manusia, maka Dharma lebih dapat dipahami di dunia manusia (dibandingkan dengan 4 tingkat alam yang lebih rendah dari manusia –asura, hewan, preta, neraka – yang kesadarannya kurang tinggi namun mengalami dukkha, dan alam dewa yang kesadarannya tinggi namun tidak mengalami dukkha). Agar dapat terhindar dari dukkha, terlebih dahulu dibutuhkan untuk mengetahui apa yang menyebabkan dukkha.
2.  Mengetahui penyebab utama dukkha
Perlu diketahui, bahwa “kelahiran” yang dimaksud Sang Buddha adalah eksistensi “diri (ego)”, di mana makhluk hidup melekat pada 5 elemen penyusun kehidupan, baik berupa kemelekatan pada tubuhnya maupun segala benda yang dianggap ada sehingga menjadi penyebab utama munculnya segala hal yang berkaitan dengan “ego” dan “pemenuhan ego”, yang mana juga melahirkan ketujuh jenis dukkha lainnya. Kemelekatan diakibatkan oleh adanya berbagai macam tanha (nafsu keinginan) agar diakui sebagai “suatu sosok” yang eksis (“ego”) dan untuk pemenuhan keegoan, yang terbagi atas bhava tanha (nafsu keinginan akan pembentukan/keberadaan) yang sumbernya/akarnya adalah lobha (keserakahan), vibhava tanha (nafsu keinginan akan pemusnahan) yang akarnya adalah dosa (kebencian), dan kama tanha (nafsu keinginan akan kesenangan) yang akarnya adalah moha (kebodohan).
3.  Pelenyapan dukkha
Materi dapat membantu mengurangi dukkha akibat kemelekatan dalam aspek duniawi, di mana semakin banyak materi akan mengakibatkan semakin berkurangnya dukkha akibat hal yang bersifat keduniawian. Namun, ada juga kasus di mana materi yang semakin banyak akan meningkatkan dukkha. Dalam hal ini, ada aspek ketiga yang berperan, yaitu tanha. Bhante Nyanadasa menampilkan rumus “B = M/T”, di mana kebahagiaan (B) akan bertambah jika dilandasi dengan penambahan materi (M) maupun pengurangan tanha (T). Karena, jika tanha bertambah, maka kebahagiaan akan semakin kecil. Jadi, kuncinya adalah mengurangi tanha meskipun materi tidak bertambah, bukan menambah materi dengan landasan peningkatan tanha, karena pada dasarnya, materi bersifat netral. Tentu saja, dengan tanha yang kecil, makhluk yang memiliki materi yang banyak akan dapat membahagiakan lebih banyak makhluk lainnya dibandingkan dengan yang materinya sedikit. Namun, dengan cara yang bagaimanakah tanha dapat dikurangi?
4.  Jalan untuk melenyapkan dukkha
Delapan Jalan Kebenaran (Ariya Atthangika Magga /Hasta Arya Magga ) merupakan solusi untuk melenyapkan tanha yang merupakan akar dari dukkha (penderitaan akibat kemelekatan). Delapan Jalan Kebenaran tersebut terdiri atas Samma Ditthi (Pandangan Benar), Samma Sankappa (Pemikiran Benar), Samma Vacca (Pengucapan Benar), Samma Kammanta (Perbuatan Benar), Samma Ajiva (Pencaharian Benar), Samma Vayama (Pengupayaan Benar), Samma Sati (Perhatian Benar), dan Samma Samadhi (Pemusatan Benar). Untuk dapat melenyapkan dukkha melalui Delapan Jalan Kebenaran, kuncinya adalah menekan nafsu keinginan (tanha) indria (yang berhubungan dengan panca indera), mengembangkan tekad untuk melenyapkan dukkha, dan melakukan usaha dalam melenyapkan dukkha.
Sebagai mahasiswa, kita diharapkan untuk dapat mengimplementasikan Empat Kebenaran Mulia di dalam kehidupan kemahasiswaan, yaitu dengan mempelajari hal yang diajarkan di perkuliahan dengan berbekal Delapan Jalan Kebenaran dalam proses pembelajaran tersebut (kuliah dengan benar), dan dengan mengesampingkan (bila perlu, mewaspadai dan mengurangi) nafsu keinginan untuk diri sendiri, karena terjerat oleh nafsu keinginan akan membuat pembelajaran dan pencapaian menjadi tidak maksimal (seperti malas, lebih memilih pacaran dibandingkan belajar, dan tidak ingin mengajari/berbagi ilmu sehingga alhasil semakin banyak kesempatan yang hilang untuk memahami/merekam ilmu tersebut di otak melalui pengulangan). Selain itu, nafsu keinginan juga dapat membuat mahasiswa melakukan penyimpangan dalam proses belajar, seperti menyontek atau menghalalkan segala cara demi mencapai predikat/nilai yang tinggi. Asalkan dilandasi dengan motivasi yang benar, berkonsentrasi, dan bersungguh-sungguh belajar untuk membanggakan orangtua, mencerdaskan diri, dan mengamalkan ilmu yang diperoleh demi kepentingan non-egosentris, hasil yang dicapai pasti akan lebih maksimal. Tentu saja manajemen waktu yang baik juga dapat membantu mahasiswa untuk dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, karena “waktu” juga merupakan materi yang tidak ternilai.

Read Full Post »

« Newer Posts