Feeds:
Posts
Comments

diterjemahkan dari buku karya Sheng-Yen Lu, bagian biografi Sang Penulis

Translation :Meilinda Xu 莲花许月珊

=Melalui kehidupan manusia dengan senyum, menulis untuk menyeberangkan makhluk yang berjodoh=

Buddha hidup Liansheng sejak bersekolah di tingkat SMA tahun 1963 sudah mulai menulis karya sastra, hasil karyanya tersebar di Koran dan majalah. Saat menjalani masa wajib militer, beliau pernah meraih penghargaan Unta Emas, penghargaan Unta Perak, piala emas Kesusastraan Militer Negara, dan berbagai medali lainnya. Karya awalnya berupa prosa, puisi, pengulasan, merupakan pemuda yang luar biasa dan aktif berkarya dalam kesusastraan.

-=Salah satu buku hasil karya Grand Master Sheng-Yen Lu yang sedang dalam proyek penerjemahan untuk diterbitkan dalam Bahasa Indonesia=-

Sejak meninggalkan keduniawian pada tahun 1986 hingga sekarang, beliau lebih giat lagi bersadhana setiap hari, tidak putus dalam menulis karya. Hingga sekarang, beliau sudah menghasilkan 200 lebih karya buku dengan nama pena “Sheng-Yen Lu”, yang mana keseluruhan hasil karyanya merupakan catatan perjalanan sejak memulai bersadhana hingga setelah mencapai penerangan sempurna. Hasil karya beliau telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, antara lain bahasa Inggris, Perancis, Jepang, Portugis, Vietnam, Spanyol, India, Indonesia, dan Thailand. Karya beliau diterbitkan dan tersebar di berbagai negara, malahan semuanya dikoleksi di Perpustakaan Negara di Amerika, sehingga dapat disebut sebagai pembabar karya tulis bermuatan Dharma nomor satu di masa kini.

=Melalui Gambar, Menuangkan Isi Hati, Menuangkan Pikiran, Menuangkan Kondisi, sebagai Seorang Seniman=

Sampul buku terbitan PT. Budaya Daden Indonesia yang merupakan hasil lukisan Grand Master Sheng-Yen Lu

Sifat dari Buddha Hidup Liansheng sangatlah rendah hati, suka menyelami alam bebas. Pada tahun 1993 di usia 50 tahun, beliau mulai mempelajari melukis menggunakan cat air, dengan pengarahan teknik oleh seorang ahli seni lukis bernama Zhu Mulan dari aliran Lingnan yang merupakan murid dari master Zhao Shaoang. Pada tahap permulaan, beliau mempelajari gaya lukisan China, melatih teknik menggunakan kuas dan tinta. Setelah itu mempelajari melukis makhluk hidup, dilanjutkan dengan menimba ilmu melukis mata air yang mengalir di alam bebas, menikmati hati yang menyatu dengan alam bebas, kemudian menuangkan intisari dari kesadaran sebagai seseorang yang telah tercerahkan ke hadapan mata manusia di dunia melalui goresan kuas dan cat.

Lukisan hasil karya beliau bernuansa lembut dan menyegarkan, luwes dan cermat, menyampaikan dengan lancar maksud yang ingin dituangkan pelukis dalam lukisannya, kegairahan hidup terpancar di dalamnya. Gatha dan sajak di dalamnya menyimpan makna yang dalam, dituangkan melalui goresan kuas, memiliki ciri khas tersendiri. Hingga sekarang, beliau telah membukukan sepuluh jilid karya lukisnya, dan telah pernah diikutsertakan ke dalam pameran lukisan akbar maupun kecil-kecilan lebih dari sepuluh kali, dan hasil karya beliau pernah diterbitkan dalam majalah seni lukis Zhongguo Meishu (Seni Lukisan China).

=Mahasiddhi Pelangi, Tantrika yang Telah Tercerahkan=

Buddha hidup Liansheng pernah hidup menyepi selama tiga tahun di sebuah rumah tinggal (yang disebut dengan Paviliun Lingxian) di kota Ballard di Amerika Serikat, berlatih secara rahasia seluruh sadhana Tantra, mulai dari sadhana eksoterik, sadhana esoterik, sadhana Yoga Tantra, dan sadhana Anuttarayoga Tantra. Rumus penting dari keempat tahap ini, seluruhnya telah berhasil dihayati secara utuh. Memasuki dan membaur di dalam samudra cahaya Vairocana, mencapai keberhasilan dari “delapan keberhasilan sadhana luar”, “delapan keberhasilan sadhana dalam”, membuktikan keberhasilan yang tiada tara.

Sebelum mulai tekun bersadhana, Buddha hidup Liansheng pernah menekuni agama Kristen, aliran Tao, agama Buddha aliran Mahayana, hingga akhirnya bersarana pada aliran Tantrayana dan mencapai keberhasilan. Oleh sebab itu, di dalam tatacara aliran Tantrayana Satyabuddha, terdapat banyak ilmu sadhana Taoisme, ilmu jimat (fu), ilmu ramalan dewata, ilmu fengshui, dan pintu dharma lainnya, untuk membantu meringankan kesulitan makhluk luas, demi tujuan menyeberangkan makhluk luas dengan “terlebih dahulu membuat tertarik, kemudian setelah itu membimbing memasuki kebijaksanaan Buddha”.

Dharma yang dibabarkan oleh Buddha hidup Liansheng, perkataannya dapat dipercaya dan mampu menenangkan batin, dan sarat muatan logis. Dalam menjelaskan isi sutra, kata-kata yang digunakan beliau tidak berupa kata-kata yang umum terdapat dalam teks penjelasan isi sutra, melainkan kata-kata yang mengandung makna yang melebur ke dalam pemahaman akan kebenaran sesuai dengan yang dicari oleh setiap para pembaca maupun pendengar. Pemahamannya mendalam namun diucapkan dengan kata-kata yang sederhana, lincah, dan lain daripada yang lain. Dharma-dharma yang telah dibabarkan yang saling berkaitan dikemas dalam satu buku atau disusun dalam video tape, dan DVD. Setiap kata maupun kalimat kebijaksanaan yang merupakan harta yang diucapkan oleh beliau, sungguh merupakan pedoman yang tidak boleh kurang maupun tidak dimiliki oleh orang yang mencari kebenaran sejati di jalan kehidupan manusia ini.

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**



Sumber:
http://www.snowlionpub.com/pages/N64_4.html (Diakses tanggal 7 Mei 2010)

Publikasi ulang artikel ini adalah dengan seizin penulis asli dan Redaksi The SNOW LION Newsletter. Artikel asli berbahasa Inggris oleh Polly Turner (mantan editor Sangha Journal), penerjemah ke dalam bahasa Indonesia dan editor ahli oleh Mei Linda (FT UI ‘06), editor kebahasaan oleh Willy Dozan Wijaya (FIB UI ’08)

Menjapa satu mantra;

gerakkan jempol dan telunjukmu

sepanjang butiran mala berikutnya

dari untaian tersebut; kemudian ulangi.

Mala Budhisme Tibetan, atau yang sering juga disebut sebagai japamala atau niànzhū dalam bahasa Mandarin, merupakan alat untuk membantu praktisi dalam menghitung jumlah penjapaan mantra sekaligus membantu seseorang untuk dapat menjaga konsentrasi dan kesadaran agar tetap fokus. Ketika seseorang menggerakkan butiran mala dengan jarinya pada saat menjapa mantra dan memvisualisasikan sosok suci, maka orang tersebut sedang menjapa mantra dengan melibatkan tubuh, ucapan, dan pikiran sekaligus.

Instruksi dasar untuk menggunakan mala cukup sederhana. Bagaimanapun juga, meskipun terdapat banyak kemiripan antara ritual dalam tradisi Budhisme Tibetan dan Bön, terdapat juga banyak perbedaan pada satu tradisi dengan tradisi lainnya, bahkan pada sekolah Budhis itu sendiri. Adalah lebih baik jika anda mengonsultasikan mengenai serangkaian tatacara ritual dengan orang yang berpengetahuan di dalam tradisi anda.

Beberapa Dasar mengenai Mala



Mala dipegang dengan kelembutan dan penghormatan, umumnya di tangan kiri. Satu butiran melambangkan satu kali penjapaan mantra, dimulai dengan butiran pertama yang tersusun di dalam lingkaran untaian setelah butiran “Guru” – butiran yang paling besar dan lebih terdekoratif pada akhir untaian mala, dan butiran sunyata, yang terletak setelah butiran “Guru”. Butiran pertama pada lingkaran untaian dipegang di antara jempol dan jari tengah. Setiap satu kali penjapaan, jempol menarik butiran yang lainnya menggantikan posisi butiran sebelumnya pada posisi di antara jari tengah dan jempol.

Setelah menyelesaikan satu untaian penuh dari mala, praktisi memutar mala 180 derajat (hal ini memerlukan latihan) dan memulai kembali penjapaan seperti sebelumnya, dalam arah penarikan butiran yang berlawanan dengan yang sebelumnya. Jika penjapaan putaran pertama menggunakan jempol tangan kiri untuk menarik butiran, maka penjapaan putaran kedua menggunakan jempol tangan kanan untuk menarik butiran, dan demikian untuk putaran berikutnya secara bergantian. Hal ini dilakukan sebagai simbol untuk menghindari melangkahi butiran “Guru”, sama halnya seperti seorang praktisi tidak boleh melangkahi (catatan penerjemah: “melangkahi” dalam konteks ini memiliki arti meremehkan atau tidak menghormati) Gurunya sendiri.

=dalam gambar ini, butiran Guru adalah butiran yang bermotif, butiran sunyata adalah butiran setelah butiran Guru (yang lebih pipih)=

Menurut the Office of Tibet, kantor perwakilan Yang Mulia Dalai Lama di London, butiran Guru melambangkan kebijaksanaan dari sunyata. Butiran sunyata yang mengikuti butiran Guru dan terletak sebelum butiran pertama penjapaan adalah butiran yang melambangkan sunyata itu sendiri; bersama, kedua butiran ini melambangkan telah menundukkan semua lawan/rintangan.

=Japamala Tibetan (lengkap dengan Vajra Dorje, Vajra Gantha, Butiran Caturmaharajakayika, Butiran Guru, Butiran Sunyata, dan Rumbai benang Tangan Teratai=

Untuk membantu penghitungan penjapaan mantra, kebanyakan mala Tibetan dilengkapi dengan butiran pembatas dengan warna yang berbeda, yang membatasi lingkaran untaian dalam empat bagian yang sama. Pemakai juga dapat menambahkan sepasang ikatan penghitung pada mala sebagai alat tambahan untuk membantu penghitungan. Masing-masing ikatan tersebut terdiri dari benang ganda yang dikaitkan dengan sepuluh lempengan cincin kecil, yang biasanya terbuat dari perak, emas, atau perunggu, di mana ikatan ini biasanya digunakan untuk menghitung butiran ke sepuluh dan keseratus dari lingkaran untaian mala.

Alat penghitung ketiga juga dapat ditambahkan pada mala untuk mengawasi jumlah lingkaran penjapaan yang telah dilakukan. Seringkali menggunakan simbol roda atau batu permata, penghitung ini ditempelkan pada benang di antara dua butiran, yang kemudian dapat direlokasikan dari butiran yang satu ke butiran yang lainnya untuk menandai jumlah lingkaran penjapaan yang telah dilakukan.

=salah satu contoh pembatas jumlah lingkaran penjapaan pada japamala=

Pemilihan Mala

Sebuah mala yang dilengkapi 108 butiran dalam satu untaian lingkarannya digunakan untuk tujuan umum oleh kebanyakan praktisi Budhisme Tibetan. Butiran dari biji bodhi secara umum dipertimbangkan baik untuk digunakan dalam pencapaian berbagai tujuan dari latihan maupun penjapaan mantra, dan kayu cendana merah atau biji teratai juga direkomendasikan secara luas untuk pemakaian universal.

Umumnya, mala terdiri dari 108 butiran untuk satu lingkaran untaian, yang dibagi dalam empat bagian yang sama, di mana setiap bagiannya terdiri dari 27 butiran. Jadi, setiap satu lingkaran penuh untaian mala melambangkan 108 kali penjapaan mantra. Angka 108 ini melambangkan banyak makna yang penting, menurut Robert Beer*, sebagai berikut:

“Oleh zaman sebelum berkembangnya Budhisme, angka keramat 108 merupakan angka klasik yang melambangkan jumlah makhluk suci atau dewata dalam agama Hindu. Sebagai hasil kali dari 12 dengan 9, angka ini melambangkan sembilan planet yang berada dalam ruang cakupan 12 zodiak. Sebagai hasil kali 27 dengan 4, angka ini juga melambangkan empat bagian bulan pada setiap 27 mansion atau konstelasi bulan. Sembilan juga merupakan angka ajaib, di mana setiap angka yang dikalikan dengan sembilan akan menghasilkan serangkaian angka yang jika dijumlahkan akan menghasilkan angka sembilan juga. Dalam Pranayana Yoga, terhitung bahwa seseorang melakukan pernafasan sebanyak 21.600 kali dalam siklus 24 jam, yang terdiri dari 60 periode dari 360 kali pernafasan; maka dari itu, siklus 12 jam pada siang hari sama dengan 10.800 pernafasan. Jumlah 108 butiran juga memastikan bahwa sedikitnya seratus kali penjapaan mantra telah dilakukan dalam satu lingkaran penuh untaian mala.”

Di samping kegunaan mala yang telah dideskripsikan di atas, ada beberapa jenis mala yang dianggap cocok digunakan untuk berbagai tujuan.

Mantra dapat dijapa untuk empat tujuan yang berbeda: untuk menenangkan, untuk meningkatkan, untuk mengatasi, atau untuk menjinakkan sesuatu secara paksa, menurut the Office of Tibet di London, yang mana juga menawarkan pedoman tambahan dalam memilih mala yang tepat untuk tujuan-tujuan tersebut:

Mala yang digunakan menjapa mantra untuk menenangkan harus terbuat dari butiran-butiran kristal, mutiara atau induk mutiara, dan setidaknya harus berwarna putih atau bening. Mala yang digunakan untuk tujuan ini harus memiliki setidaknya 100 butiran seperti itu. Mantra yang dihitung pada butiran-butiran ini bermanfaat untuk menghapus rintangan, seperti penyakit dan bencana lainnya, dan memurnikan seseorang dari ketidaksehatan.

Mala yang digunakan menjapa mantra untuk tujuan peningkatan harus terbuat dari emas, perak, tembaga, atau biji teratai, dan seluruh 108 butiran mala harus terbuat dari bahan-bahan tersebut. Mantra yang dihitung pada butiran ini bermanfaat untuk meningkatkan rentang hidup (memperpanjang umur), pengetahuan, dan status sosial (jabatan/kehormatan).

Mala yang digunakan menjapa mantra untuk tujuan mengatasi dibuat dari kayu cendana, kunyit, dan bahan-bahan alami lainnya yang memiliki keharuman. Mala ini terdiri atas 25 butiran. Mantra yang dihitung pada butiran ini bertujuan untuk menjinakkan yang lain, namun motivasi melakukannya haruslah merupakan keinginan yang murni untuk membantu makhluk hidup lainnya dan tidak dengan maksud untuk keuntungan pribadi.

Mala yang digunakan untuk menjapa mantra untuk tujuan menundukkan makhluk dengan paksa harus terbuat dari biji raksha atau tulang manusia dengan jumlah 60 butiran dalam satu untaian lingkaran mala. Lagi-lagi, tujuan melakukan ini haruslah dengan dasar kepentingan orang lain, dan satu-satunya orang yang mampu melakukannya hanyalah Bodhisatva yang termotivasi oleh rasa welas asih yang besar untuk makhluk yang tidak dapat dijinakkan dengan cara lain, sebagai contohnya adalah arwah yang rasa dendamnya sangat besar, atau malapetaka universal, yang divisualisasikan sebagai bola hitam yang padat.

Butiran yang terbuat dari biji atau kayu Bodhi dapat digunakan menghitung segala jenis mantra untuk berbagai tujuan, seperti mendoakan, mengatasi stress, mengharapkan kelancaran dalam suatu proses kondisi yang berulang, dan sebagainya**.

Tradisi spiritual Tibetan yang berbeda dapat juga memberikan pedoman yang berbeda dari yang telah diberikan di atas. Sebagai contoh, dalam tradisi Bön, mala dari biji Bodhi dianjurkan untuk keempat tujuan di atas; dan untuk aktivitas penentraman, direkomendasikan untuk menggunakan mala dengan 100 butiran kristal, kulit kerang, atau lapis lazuli. Untuk aktivitas peningkatan, disarankan menggunakan mala yang terdiri dari 108 butiran emas atau perak; untuk aktivitas kekuatan mengatasi, sebaiknya menggunakan mala dengan 50 butiran batu karang, tembaga, atau kayu cendana merah; dan untuk aktivitas penaklukan, mala dengan sepuluh butiran dari biji rudraksha direkomendasikan***. Biji rudraksha adalah buah kering dari pohon rudraksha yang tumbuh di Indonesia, Nepal, dan India; bentuknya bulat dan berbintik-bintik, dengan tonjolan berbutiran kecil-kecil, dan berukuran diameternya antara seperempat inci hingga lebih dari satu inci.

=Dua contoh japamala dari biji rudraksha=

=biji rudraksha=

Sering dianjurkan bahwa mala yang terbuat dari tulang – baik tulang manusia maupun hewan –hanya boleh digunakan oleh yogi yang telah mencapai pencerahan, karena objek ritual yang terbuat dari tulang dipercayai digunakan untuk menampung efek karma.

Beberapa Kata Mengenai Mantra

Siapa yang menjapa mantra, bagaimana mantra tersebut dijapa, niat seseorang ketika menjapanya – kesemuanya merupakan pertimbangan yang sangat penting. Dalam beberapa kasus, juga perlu dipertimbangkan siapa saja yang berada dalam jarak pendengaran saat seseorang sedang menjapa mantra. Bardor Tulku Rinpoche mencatat bahwa dalam tradisi Kagyu, adalah dapat diterima dalam berbagai kondisi untuk menjapa mantra dengan lantang, bahkan ketika orang lain yang tidak mengerti atau menghormati kekeramatan dari mantra tersebut dapat mendengarnya. Bagaimanapun juga, sejumlah tradisi lainnya menetapkan bahwa penjapaan mantra tertentu yang sangat berkekuatan haruslah dirahasiakan sama sekali.

Beberapa praktik memerlukan praktisi untuk menjapa mantra tertentu sebanyak 100.000 kali, atau bahkan sejuta kali. Karena sebuah mantra merupakan kumpulan dari intisari kekuatan pengajaran spiritual yang luar biasa, yang diringkas menjadi beberapa suku kata, sehingga lebih mudah untuk menduga seberapa besar kekuatan dari menjapa hanya sebuah mantra berulang kali hingga sebanyak itu. Orang yang melakukan penjapaan dengan penuh kesungguhan hati, dengan tetap menjaga samadhi di dalam pikiran mereka saat menjapa, dan menyandarkan diri pada kekuatan pemberkahan/adhistana (blessing), kekuatan abhiseka (empowerments), dan instruksi dari Guru yang berkualitas, akan memiliki kesempatan untuk membuktikan kekuatan dari pemberkahan dan mantra dengan lebih cepat.

Catatan kaki:

*     Dari The Encyclopedia of Tibetan Symbols and Motifs, oleh Robert Beer, Boston: Shambala, 1999.

**  Dicetak ulang dengan izin dari www.tibet.com, website dari the Office of Tibet, kantor perwakilan Yang Mulia Dalai Lama di London.

*** Detil mengenai aliran Bön dalam artikel ini bersumber dari Yang Mulia Lungtok Tenpai Nyima, kepala spiritual dari tradisi Bön Tibetan; dipublikasikan dengan seizin Sherab Palden dan Judy Marz.

Penerjemahan artikel ini didedikasikan untuk semua makhluk, semoga jasa kebajikan yang diperoleh dari artikel ini dapat menjadi karma baik penyebab tercapainya penerangan sempurna bagi semua makhluk. Sadhu, sadhu, sadhu.


ceramah Mahaguru Lian Sheng Lu Sheng-Yen di vihara Fa Sheng ,Taiwan

diposting ulang dari Notes Dony Zhou 蓮花周经俊 via Facebook pada hari Kamis, November 25, 2010 pukul 12:51pm

Sembah sujud pada Bhiksu Liaoming, sembah sujud Guru Sakya Zhengkong, sembah sujud pada Gyalwa Karmapa XVI, sembah sujud pada Guru Thubten Dhargye! Sembah sujud pada Triratna Mandala! Gurudhara, Para Acarya, Dharmacarya, Lama, Pandita Dharmaduta, Pandita Lokapalasraya, ketua vihara, para umat se-Dharma, ada lagi Lama Lianti dari Vihara Fasheng, selamat siang semuanya!

Nanti saya akan memberikan kalian Abhiseka Vajra Mahacakra. Agama Tantra punya sebuah kitab sadhana berjudul “Cara Meraih Ketenangan dan Kebahagiaan”, “Cara Meraih Ketenangan dan Kebahagiaan” yang saya peroleh adalah versi tulisan tangan, diberikan oleh mantan guru saya. Sekarang banyak buku cetakan “Cara Meraih Ketenangan dan Kebahagiaan”, di dalam bahkan ada pelafalan mandarin, salah satunya adalah Vajra Mahacakra. Vajra Mahacakra memiliki semacam kekuatan, supaya orang yang tidak menerima abhiseka, boleh belajar Sadhana Tantra. Sadhana Tantra biasa perlu abhiseka baru boleh tekuni, jika tidak abhiseka, maka disebut “Dosa Melangkahi Sadhana”, atau “Dosa Mencuri Sadhana”; Anda hanya baca kitab sadhana saja tanpa menerima abhiseka, ini disebut “Dosa Mencuri Sadhana”. Namun, jika Anda di tempat yang sangat jauh dan terpencil, atau desa yang sangat terpencil, tidak ada Vajracarya, Anda tidak mungkin keluar menerima abhiseka, Vajracarya juga tidak mungkin pergi ke tempat Anda, tetapi Anda ingin menekuni sadhana ini. Asalkan Anda japa mantra Vajra Mahacakra, Anda pun boleh menekuni sadhana ini dan tidak dianggap dosa mencuri sadhana. Yidam yang satu ini adalah yidam terpenting di dalam “Cara Meraih Ketenangan dan Kebahagiaan”. Dengan menjapa mantra Vajra Mahacakra, Anda pun boleh menekuni sadhana ini. Menunggu Vajracarya, jika berjodoh bertemu, Anda mohon lagi abhiseka langsung, ini boleh, ini adalah toleransi khusus.

asalkan Anda ingin bersadhana, Ia pun memancarkan cahaya. (Hadirin tepuk tangan) Mantra yidam yang satu ini memang jarang dijapa orang, namun, sangat penting. Tempat terpencil, tidak ada orang yang datang, Vajracarya tidak datang, seperti kutub utara, seperti kutub selatan, seperti Afrika, di bumi ini masih banyak tempat yang sangat terpencil, namun, yidam Vajra Mahacakra bisa tiba, cahaya-Nya bisa tiba, menjapa mantra-Nya sama dengan abhiseka. (Hadirin tepuk tangan) Nanti, saya akan memberikan abhiseka Vajra Mahacakra kepada Anda semua, welas asih-Nya ibarat Dharmacakra yang besar, berputar seperti ini.

Sang Buddha juga memutar Dharmacakra, pemutaran Dharmacakra pertama adalah bersabda tentang Dukha (penderitaan), Nirodha (sebab-sebab penderitaan), Samudaya (lenyapnya penderitaan), dan Marga (jalan menuju lenyapnya penderitaan), menyeberangkan 5 bhiksu, intinya menerangkan duka (penderitaan), sunya (kekosongan), anicca (ketidakkekalan), anatman (tiada aku); pemutaran Dharmacakra kedua, Beliau memutar Dharmacakra “prajna”, merupakan Dharmacakra kebijaksanaan. Bagi kita sadhaka, prajna sangat penting, karena kita berlandaskan pada kebijaksanaan baru bisa terbebaskan. Pertama memutar Dharmacakra, menyeberangkan Hinayana, Dwiyana, Pratyeka, karena menekuni 12 nidana sehingga mencapai pencerahan, Hinayana, Dwiyana, ada lagi Mahayana yang membangkitkan Maha-Bodhicitta; pemutaran Dharmacakra ketiga adalah bersabda tentang “Madhyamika dan Vijnana” (pandangan tengah dan kesadaran), tidak peduli Buddha Sakyamuni memutar Dharmacakra apapun, semua karena Bodhicitta, karena bakat yang berbeda-beda, sehingga Beliau baru memutar Dharmacakra yang berbeda-beda. Karena siapa tergolong bakat apa, bakat Hinayana memutar Dharmacakra Hinayana, bakat Dwiyana Beliau pun memutar Dharmacakra Dwiyana, bakat Mahayana memutar Dharmacakra Mahayana, semua beda. Welas asih dan cinta Sang Buddha, sangat langka.

Bicara tentang cinta, ada sebuah cerita kecil, kita sering mengatakan ikan dan air, air tidak bisa terlepas dari air, air tidak terlepas dari ikan, ikan pun berkata pada air, “Saya cinta sekali padamu, mata saya terbuka, setiap hari melihatmu, tidak pernah terpejam.” Pernahkah Anda melihat ikan memejamkan mata? Ia tidur pun mata tetap terbuka, ikan meninggalkan air, ikan tidak bisa hidup lagi, selalu mencintai air. Air pun sangat mencintai ikan, lalu berkata pada ikan, “Saya juga tidak bisa terlepas darimu, karena, Anda lihat, saya memelukmu erat-erat. Bagian kulit mana yang tidak saya peluk?” Jadi, keduanya sangat mencintai, ikan dan air tidak terpisahkan. Saat ini, panci bicara, “Sudah hampir matang, masih omong kosong!” Ternyata sedang masak ikan, ikan bicara dengan air di dalam panci, panci pun berkata, sudah hampir mendidih masih omong kosong.

Vajra Mahacakra ibarat air, kita semua ibarat ikan, cahaya-Nya selalu sempurna di sekitar kita, asalkan Anda menjapa mantra-Nya, arus cahaya-Nya bergolak di tubuh kita, sama dengan abhiseka. Jadi, Anda merenungkan yidam yang satu ini, sadhana apapun boleh ditekuni, sadhana mana yang ingin kita tekuni, kita boleh tekuni. Vihara Fasheng juga sangat aneh, tidak pilih yidam yang lain, malah pilih yidam ini. (Hadirin tepuk tangan) Nyatalah bahwa, Lama Lianti, Lama Lianxiang, mereka setiap saat peduli pada insan. Semoga kita semua memperoleh abhiseka yidam yang satu ini, arus Dharma pun selamanya tinggal pada diri kita, (hadirin tepuk tangan) Ini adalah semacam wujud welas asih dan cinta, memberikan welas asih dan cinta kepada seluruh insan. Dulu, ia pernah membuat sebuah majalah “Dunia Zhenfo”, sebenarnya berjalan dengan baik, walaupun terputus di tengah jalan, namun, Mahaguru masih sangat merindukan majalah ini, (hadirin tepuk tangan) banyak data di dalamnya, jika masih ada satu majalah, alangkah bagusnya.

Buddha Sakyamuni sangat menyayangi dan menghargai insan, Mahaguru juga sangat menyayangi dan menghargai insan, sehingga baru disebut “tidak mengabaikan seorang insan pun”. Hanya murid yang meninggalkan Mahaguru, Mahaguru tidak pernah meninggalkan murid. (Hadirin tepuk tangan) Kadang-kadang, Mahaguru juga bisa merindukan murid-murid yang meninggalkan Zhenfo Zong, setiap saat peduli pada mereka, sekarang apakah mereka baik-baik saja? Apakah sekarang masih melatih diri? Ikut acarya atau bhiksu lain, atau guru dari aliran lain, bisakah memahami intisari Dharma dari guru tersebut? Apakah mencapai keberhasilan yang lebih baik? Saya selalu peduli pada mereka. Tentu saja, bisa kembali juga sangat baik, saya juga sambut dengan baik mereka yang kembali. Hati Mahaguru sangat lapang, di tempat guru lain, Anda juga harus belajar jadi murid yang patuh, jangan tinggalkan lagi, di tempat guru lain, juga harus melatih diri sungguh-sungguh, mencapai keberhasilan dengan sebaik-baiknya. Jika Anda tidak belajar sama sekali, Anda telah merdeka, Anda juga harus punya kemampuan untuk merdeka, kalau tidak akan kedinginan! Kelaparan! Seperti tadi malam turun hujan deras, angin ribut, Mahaguru juga bisa teringat, apakah mereka kedinginan! Pakailah baju yang lebih tebal! Terlalu panas, apakah mereka akan kepanasan; terlalu dingin, apakah mereka akan kedinginan, setiap saat peduli pada Anda semua, siapapun Anda. Buddha Sakyamuni juga demikian, Buddha mana pun sama, Buddha mana pun, seperti Buddha Sakyamuni tidak akan berkata pada murid, kalian tidak boleh pergi ke Dunia Lazuardi di Timur, tidak boleh ke tempat Buddha Bhaisajyaguru; Buddha Amitabha juga tidak akan berkata pada murid, kalian tidak boleh menemui Buddha Sakyamuni, menemui Buddha Sakyamuni sama artinya mencampakkan Buddha Amitabha. Tidak akan, Buddha dan Buddha adalah sama, semua welas asih, membangkitkan Bodhicitta, hati sangat lapang; jika Ia sendiri mengaku telah mencapai keberhasilan, sudah mencapai pencerahan, telah berhasil, kalian yang di sini adalah milik saya, tidak boleh pergi ke tempat lain, itu tidak benar, Buddha seperti itu bukanlah Buddha.

Buddha sejati, hati-Nya sangat lapang, Anda boleh pergi ke Buddhaloka mana pun. Namun, Buddha akan kuatir, kalian bukan pergi ke Buddhaloka, tetapi turun ke 3 alam samsara, bertumimbal lahir di 6 alam kehidupan, ini baru menakutkan. Jadi, kalian harus mengenal siapa yang berhati lapang, hati semakin lapang, keberhasilannya semakin luar biasa; (hadirin tepuk tangan) Asura, Neraka, Setan Kelaparan, Hewan, semua berhati sempit. Jadi, melatih diri itu Anda cukup melihat hati, orang ini berhati lapang, apapun tidak merintanginya, keberhasilan orang ini sangat luar biasa, ini sangat penting.

Om Mani Padme Hum.

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Reposting is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Posting ulang Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**


Oleh: Grand Master Sheng-Yen Lu, diterjemahkan oleh Lianhua Shian, dipublikasikan ulang dari Notes-nya Padma Nanda Buddhist arts (di facebook)

dari buku ke-054 “Mizongjiemofa – 密宗羯摩法”

Note : Sadhana ini cocok untuk yang memiliki kandungan lemah atau sering keguguran.
Di Thailand ada sesosok dewa yang sangat terkenal, berada di tengah kota, yaitu Dewa Empat Mukha (Simianshen – 四面神). Sedangkan Dewa Empat Mukha atau <ket> Buddha Empat Mukha (SimianFo – 四面佛) sebenarnya adalah Dewa Mahabrahmaraja 「Da Fan Tian Wang – 大梵天王」。

Mahabrahma artinya adalah suci, di agama Brahmana merupakan Dewa Pencipta, dalam agama Buddha adalah Raja Dewa di rupadhatu jhana pertama. Dewa Empat Mukha di Thailand sangat terkenal di seluruh dunia, sebenarnya adalah Mahabrahma yang memang terkenal di seluruh dunia.

Sedangkan Mahabrahma ini adalah yang dibawa dari Thailand oleh siswaku yang bernama (Upasaka Lin Zhong Bei – 林忠杯) dan dipersemayamkan di mandala tantra saya. Maha Brahma adalah tuan di alam surga, bisa dikatakan merupakan ayah dari para insan, saat dewa ini senang maka dunia manusia akan tenteram, namun saat dewa ini murka, maka dunia akan terjadi kekacauan yang menyebabkan para insan menjadi tidak tenteram. Menurut apa yang saya dengar, gembira atau murkanya Mahabrahma mempengaruhi perubahan besar dan malapetaka besar dalam hidup manusia. <ket>

Dalam Sutra Mahavairocana ada dijelaskan wujud Nya :
「Mahabrahma, memakai mahkota jalinan rambut, duduk di kereta, empat mukha, empat lengan. Tangan kanan pertama membawa padma, ke 2 membawa japamala ; Tangan kiri pertama membawa tongkat (bisa juga gada), ke 2 membentuk mudra AUM / manggala. 」Namun wujud Buddha Catur Mukha di Thailand adalah empat mukha dan delapan lengan, singasana Nya juga tidak sama. Yang disemayamkan di rumahku adalah yang duduk di panggung Dharma, satu kaki terjulur ke bawah, sedangkan singasana Buddha Empat Mukha juga ada yang berupa gajah, beraneka ragam.

Dari sadhana karman yang berbahasa Pali, saya membaca sebuah rahaysa, yaitu : 「Para insan sebenarnya terlahir dariu satu pikiran dan satu energi dari Mahabrahma, maka adalah Bapa para insan, oleh karena itu , barang siapa memohon putera maupun puteri, hendaknya menekuni Sadhana Maha Brahma, menjapa mantra Maha Brahma, bervisualisasi Maha Brahma, membentuk mudra Maha Brahma, maka akan memperolehnya 」

Menurut sepengetahuan saya, Mahabrahma memiliki 15 Raja Setan yang khusus melindungi sadhana ini, namanya adalah :

1. 彌酬迦鬼
Michoujia gui

2. 彌伽王鬼
Miqiewang gui

3. 騫陀鬼
Qiantuo gui

4. 阿波悉摩羅鬼
Aboximoluo gui

5. 摩至迦鬼
Mozhijia gui

6. 摩知迦鬼
MOzhijia gui

7. 閻迷迦鬼
Yanmijia gui

8. 迦迷尼鬼
Jiamini gui

9. 離婆地鬼
Lipodi gui

10. 富多那鬼
Fuduona gui

11. 曼多難提鬼
Manduonanti gui

12. 舍九尼鬼
shejiuni gui

13. 建次波尼鬼
Jianciboni gui

14. 目佉曼荼鬼
Muqumantu gui

15. 藍波鬼。
Lanbo gui

Menekuni sadhana ini harus mempersemayamkan Mahabrahma dan menulis nama 15 Raja Setan ini untuk disemayamkan di kiri – kanan Mahabrahma, persembahkan makanan yang lezat, bunga wangi yang indah, dupa berkualitas, pelita dan susu.

Bagi yang memohon anak harus mempersembahkan bijih wijen.

Demikian sadhananya :

Melakukan sadhana ini paling baik saat , bulan 8 tanggal 15 kalender lunar atau tiap tanggal 15 bulan lainnya (kalender lunar), sang istri mandi dan mengenakan pakaian bersih, persembahkan semua pujana, sujud pada Mahabrahma, melafal nama 15 Raja Setan pengiring Mahabrahma masing masing 3 kali.

Sadhaka memasuki mandala , tangan membentuk mudra Mahabrahma.

Mudra Mahabrahma adalah,ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri membentuk lingkaran dan bersentuhan ujungnya, ketiga jari yang lain tegak lurus menghadap angkasa, mudra dibentuk di deposisi lebih tinggi dari bahu kita.

Tangan kanan mengambil beberapa butir wijen, diletakkan di atas kepala.

Saat itu bervisualisasi, wujud Mahabrahma agung bagaikan Buddha, tangan kiri dan kanan masing-masing membawa Dharmayudham, sebagai simbol bahwa dengan Sadhana ini dapat memperoleh keberhasilan yang sempurna, sesuai kehendak.

Kemudian bervisualisasi ulu hati Mahabrahma Devaraja, memancarkan cahaya biru terang ke arah bijih wijen di atas kepala sadhaka, bijih wijen berubah menjadi bayi yang diinginkan (putera atau puteri). Kemudian bayi tersebut berubah menjadi cahaya biru, memasuki tubuh sadhaka melalui puncak kepala , visualisasi ini sangat penting.

Setelah selesai bervisualisasi, meleraikan mudra , japa mantra :

「旦姪他。阿伽羅。伽寧那。伽伽寧。婆漏隸祇隸。伽婆隸。婆隸婆隸。不隸不隸。羅釵禰。修羅俾。遮羅俾。波 陀尼。沙尼。婆羅呵。那易。蘇波賀。」此咒唸四十九遍。

Danzhita. Aqieluo . Qie ning na. Qie qie ning. Po lou li zhi li. Qie Po Li. Po Li Po Li. Bu Li Bu Li. Luo Chai Ni. Xiu Luo Bi. Zhe Luo Bi. Bo Tuo ni. Sha Ni. Po Luo He. Na Yi . Su Bo He (49 kali)

menekuni sadhana ini bagi yang memohon anak, maupun ingin melahirkan putera atau puteri, semua akan terkabul sesuai dengan kehendak.

Sebenarnya Mahabrahma juga merupakan dewa Rejeki dan Dewa Pengabul kehendak. Bila seseorang bisa disukai oleh Mahabrahma pasti akan memperoleh pemberkahan dari Mahabrahma, berkah yang demikian adalah bagaikan naik ke alam surga.

mahabrahma Buddha Empat Mukha di Taiwan, sangat terkenal di seluruh penjuru dunia karena kemanjurannya, seperti saat ini di kota judi Las Vegas Amerika, ada sebuah satu tempat perjudian memesan satu rupang Mahabrahma muka empat untuk disemayamkan di pintu masuk utama perjudian, mengira supaya Mahabrahma bisa memberkati mereka dengan keberuntungan.

Namun itu adalah ketidak tahuan orang awam, kota judi mempersemayamkan Mahabrahma, begitu Mahabrahma Devaraja marah maka Las Vegas akan habis, orang awam sulit memahami misi dari Dewa Raja jhana pertama ini.

Biarlah saya menulis satu gatha untuk Mahabrahma Devaraja :

泰國梵王四面看,
Taiguo Fanwang Simian kan

Mahabrahma Thailand melihat dengan keempat mukha

初禪天主法成團;
chuchan Tianzhu Fa Chengtuan

Dharma Devaraja Jhana Pertama menjadi pasamuan

仙境美景令人爽;
Xianjin Meijing ling ren shuang

Pemandangan Indah Alam Mahadewa membuat takjub

求子有法不用煩。
Qiuzi you fa bu yong fan

Ada cara memohon anak, tak perlu lagi khawatir

– – –
Taisho Tripitaka No.1230, Sakyamuni Buddha mengatakan :
“Bagi yang mendengar mantra dan tata cara, bila menekuninya tanpa tata aturan yang sah (arus abhiseka Gurumula), semua mantra tak akan berfungsi, tingkah lakumu menyimpang dan merupakan pencurian Dharma, setelah meninggal dunia akan terjatuh dalam neraka, kemudian terlahir kembali di alam hewan. Inilah akibat pelanggaran dari penyimpangan itu !”

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Reposting is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Posting ulang Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**