Feeds:
Posts
Comments

Hakikat “Upeksa”


Oleh Grand Master Sheng-Yen Lu, dari Buku ke-101 <<蝴蝶的風采>> (Kemegahan Kupu-Kupu – The Elegance of Butterfly)

Translation : Meilinda Xu 莲花许月珊

—

=Grand Master Sheng-yen Lu=

“Upeksa itu apa?”

“Sama seperti lilin.”

“Oh, saya paham, membakar diri sendiri demi menerangi orang lain.”

“Kalau begitu, siapakah yang mampu memahami upeksa (kerelaan)?”

“Buddha Hidup Lian Sheng Lu Sheng Yen.” “Apa yang dia relakan?”

“Raga dan tulang hancur berkeping-keping demi menyeberangkan makhluk luas.”

***

Hakikat “upeksa” – –

Satu, tidak membeda-bedakan, tidak pilih-kasih, menyama-ratakan semua makhluk.

Dua, mampu menanggung kesedihan dan derita perpisahan dengan kerabat dan seluruh orang yang dikasihi demi makhluk luas.

Tiga, mampu melepaskan dari semua keserakahan, kebencian, dan kebodohan.

Empat, mampu melepaskan dari bhava tanpa menyimpan rasa enggan/kekecewaan maupun kesedihan.

Lima, meninggalkan impian, mengosongkan harapan – harapan pribadi (tidak berharap apa-apa demi diri sendiri).

Enam, merelakan kebahagiaan diri sendiri demi kebahagiaan makhluk lain.

Tujuh, menguntungkan/membawa manfaat bagi makhluk luas, tidak berharap (tidak memiliki permohonan) bagi diri sendiri.

***

Catur Brahma Vihara dari aliran Vajrayana, adalah “maitri (metta/cinta kasih) tak terhingga”, “karuna (welas asih) tak terhingga”, “mudita (kebahagiaan)  tak terhingga”, “upeksa (upekkha/ kerelaan) tak terhingga”. Dan Buddha Hidup Lian Sheng telah merelakan, merelakan raganya, menggunakan raganya demi tugas menyeberangkan para insan. Juga merelakan nyawanya, hingga raga dan tulang hancur berkeping-keping. Juga merelakan hatinya, rela kehilangan segalanya hingga tidak memiliki apapun.

Dapat merelakan semuanya, maka akan dapat memasuki “bhumi penekunan upeksa yang damai nan bersih”, berada di urutan kelima dari sembilan bhumi di ketiga alam, juga merupakan surga Catur Dhyana.

Kata “upeksa (kerelaan)” ini, sisi yang paling agung, adalah “tidak membeda-bedakan makhluk luas”, juga merupakan “posisi yang sama rata di dalam hati”. Posisi yang sama rata di dalam hati ini, mengandung makna “penyepian ego”.

Rela “tidak berharap”, adalah makna yang terutama.

“Rela” namun melupakan “kerelaan”, adalah makna yang terutama.

Merelakan “kebahagiaan”, adalah makna yang terutama.

Rela yang “tanpa sesal”, adalah makna yang terutama.

***

Pada tanggal 7 Mei 1992, saya pergi ke XinZhu, mengunjungi Vihara NanShen, Vihara TongHui, Vihara MiaoHua, dan menginap semalam di XinZhu.

Di tengah malam, ada sebuah suara yang memberitahu saya:

“Pergilah ke Vihara NeiMing.”

Pergi ke “Vihara NeiMing”?

Vihara NeiMing dapat dikatakan merupakan vihara terbesar di wilayah geografis XinZhu, juga merupakan vihara pertama yang dibangun di sana. Secara logis, seyogyanya pergi ke Vihara NeiMing, namun kunjungan pembabaran Dharma kali ini hanya dilakukan di vihara-vihara yang baru. Vihara yang telah pernah didatangi dalam kunjungan pembabaran Dharma yang lalu tidak diikutkan lagi dalam kunjungan kali ini, jika tidak, jangka waktu satu bulan yang telah diatur tidak akan cukup.

Oleh karena itu, pembabaran Dharma kali ini tidak melibatkan Vihara NeiMing.

Lalu, di tengah malam, siapa yang bersuara, meminta saya pergi ke “Vihara NeiMing”?

Hari kedua, saya mengajukan usulan dadakan untuk pergi ke Vihara NeiMing, saya berkata: “Pergi ke Vihara NeiMing, hanya sepuluh menit saja.”

Sambutan kegembiraan para pengurus dan umat “Vihara NeiMing” bagaikan gemuruh petir, sepuluh menit saja sudah sangat memuaskan dan berharga.

***

Sesampainya di Vihara NeiMing, saya pergi terlebih dahulu ke rumah di sisi timur Vihara NeiMing. Vihara Neiming merupakan bangunan sewaan, disewa dari Tuan Zeng JinFu sebagai tuan rumah di mana Vihara NeiMing berlokasi di lantai paling atas dari rumah tinggalnya. Tuan dan Nyonya Zeng Jinfu menyambut kedatangan saya seperti permata yang berharga.

Saya berkata:

“Siswa Satya Buddha telah merepotkan!”

Zeng Jinfu menjawab:

“Ada Buddha berkunjung kemari, tidak ada lagi yang lebih agung, mana merepotkan.”

Saya berkata: “Tuan Zeng terlihat sangat berwelas asih.”

Zeng Jinfu menjawab: “Melatih diri sebetulnya adalah tekun melatih hati yang sesungguhnya agar benar.”

Kami mengobrol dengan sangat menyenangkan.

Sebelum pergi, Tuan Zeng Jinfu berkata: “Buddha Hidup kali ini datang ke Vihara NeiMing, sampai ke rumah saya, saya tidak menyiapkan hadiah apa-apa. Begini saja, mulai dari sekarang hingga seterusnya, Vihara NeiMing di loteng rumah saya, uang sewanya gratis, juga berarti tidak akan menerima uang sewanya sepeserpun.”

Saya sangat terharu mendengarnya.

Para pengurus dan umat Vihara NeiMing, sekali lagi bersorak gembira bak suara guruh.

Di dunia ini, orang yang kaya tidaklah sedikit, namun orang kaya yang benar-benar mampu merelakan tidaklah banyak. Malahan, orang yang dapat memahami inti dari “kerelaan” mungkin cuma segelintir saja. Mampu rela tanpa mengharapkan imbalan, mampu rela dengan bahagia, mampu rela tanpa sesal, juga sangat jarang.

Saya percaya, orang yang dapat merelakan, pintu berkah secara alami akan membuka, berkah yang diterima dari kerelaan tanpa mengharapkan balas jasa, akan muncul dengan sendirinya bagaikan mata air yang mengalir deras.

—

Link artikel asli (berbahasa Mandarin):http://www.tbsn.org/chinese2/article.php?id=728&keyword=&backpage=&page=20

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**


Sumber: Dikutip secara langsung tanpa perubahan dari buku “Cahaya Kebijaksanaan: Filosofi Tathagata”, penulis: Grand Master Sheng-yen Lu.

Grand Master Sheng-Yen Lu

Banyak umat Buddha yang bersikukuh dengan pendapat mereka bahwa untuk mencapai ke-Buddha-an dalam Aliran Eksoterik dibutuhkan waktu tiga asankhya kalpa. Satu kalpa kecil adalah 16.798.000 tahun, 20 kalpa kecil sama dengan satu kalpa menengah, 4 kalpa menengah sama dengan satu mahakalpa, dan satu mahakalpa sama dengan 1.343.840.000 tahun. Sehingga, tiga asankhya kalpa sungguh suatu jangka tahun yang tak terkira banyaknya dan sulit terbayangkan.

Oleh karena itu, banyak umat Buddha yang tidak sependapat dengan ‘mencapai ke-Buddha-an dalam kehidupan sekarang’ yang ada dalam ajaran Tantra. Mari kita simak tanya-jawab yang dikutip dari Sastra Pemecah Wujud.

Tanya, “Seperti yang dikatakan oleh Sang Buddha bahwa setelah melalui kesulitan yang tak terkira banyaknya selama tiga asankhya kalpa, Ia baru mencapai Jalan Ke-Buddha-an. Mengapa Anda sekarang mengatakan bahwa hanya dengan mengamati batin untuk mengendalikan tiga akar kejahatan saja sudah bisa memperoleh pembebasan?”

Jawab, “Apa yang telah dikatakan oleh Sang Buddha tidak salah. Asankhya kalpa yang dimaksud berkaitan dengan tiga akar kejahatan. Asankhya kalpa dalam Sangkrit berarti tidak terhitung. Dalam tiga akar kejahatan terdapat pikiran jahat yang tidak terhitung, dan setiap pikiran dianggap satu kalpa. Jadi, tiga asankhya kalpa bagaikan pasir Sungai Gangga yang tak terhingga jumlahnya. Selama tiga akar kejahatan menutupi sifat Tathata yang murni, bagaimana mungkin dapat disebut pembebasan sebelum pikiran-pikiran jahat yang tak terhingga itu teratasi? Kalau saja mampu mengubah tiga akar kejahatan, yakni keserakahan, kebencian, dan kebodohan, menjadi tiga pembebasan, berarti telah mampu melalui tiga asankhya kalpa. Namun, di penghujung zaman ini, makhluk yang bodoh tidak memahami apa sebenarnya yang dimaksud oleh Tathagatha tentang tiga asankhya kalpa. Mereka mengatakan bahwa pencerahan hanya dapat dicapai setelah berkalpa-kalpa yang tak terhingga, bukankah hal ini akan menyesatkan dan melemahkan keyakinan orang yang menapaki jalan Bodhisattva?”

Jadi, tiga asankhya kalpa sebenarnya adalah pikiran jahat yang jumlahnya tak terhitung yang dihasilkan oleh tiga akar kejahatan. Setiap pikiran dianggap satu kalpa, maka jumlahnya tak terhingga bagaikan pasir di Sungai Gangga.

Untuk mencapai Ke-Buddha-an dalam tubuh sekarang, cukup dengan mengendalikan tiga akar kejahatan dan segera melampaui tiga asankhya kalpa. Dengan demikian akan mencapai ke-Buddha-an dalam seketika.

Mengapa ajaran Tantra mampu ‘mencapai ke-Buddha-an dalam tubuh sekarang’? Pendapat saya adalah:

  1. Buddha dan saya telah menjadi satu. (Nirmanakaya)
  2. Pemberkatan melalui transformasi gaib. (Sambhogakaya)
  3. Sifat Kesunyataan dari Alam Dharma. (Dharmakaya)

Perwujudan senantiasa seimbang dengan upaya bersadhana. Dan Tantrayana mengajarkan pelatihan untuk mencapai Nirmanakaya, Sambhogakaya, dan Dharmakaya secara bersamaan, sehingga mampu mencapai ke-Buddha-an dalam tubuh sekarang.

Penulisan ulang artikel ini didedikasikan untuk semua makhluk, semoga jasa kebajikan yang diperoleh dari artikel ini dapat menjadi karma baik penyebab tercapainya penerangan sempurna bagi semua makhluk. Sadhu, sadhu, sadhu.

Referensi:

Lu, Sheng-yen. Juli 2008. “Cahaya Kebijaksanaan; Filosofi Tathagata”. Medan: Budaya Daden Indonesia.

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Reposting is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Postingan ulang Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**


Oleh Grand Master Sheng-Yen Lu

释莲支:  “成佛?成魔?全在於「一心」,「心能自主」便成了「佛道」,心不能「自主」,便成了魔道。成佛?成魔?一線而已!”

Menjadi Buddha? Menjadi Mara? Semua bergantung pada “Satu Hati”. “Hati dapat mengendalikan diri” akan berubah menjadi “Jalan keBuddhaan”. Hati yang tidak mampu “mengendalikan diri” akan berubah menjadi jalan Mara. Menjadi Buddha? Menjadi Mara? Perbedaannya sangatlah tipis!

(Shi LianZhi)

***

Selama hidup menyepi di Danau Daun, di bayang-bayang gunung, di tepian danau, hatiku terasa sepi dan sempit. Namun, dengan khusyuk, aku menulis buku, menuangkan pikiranku, lebar tanpa tepi.

Aku merasa bahwa hatiku semakin lama semakin lapang, memikirkan apa yang telah kulakukan di masa lampau, ada yang perlu disesali, maka akupun menyatakan penyesalan di depan para Buddha Bodhisattva, teratai pun langsung menebarkan keharuman.

Jika dipikirkan kembali, zaman sekarang, hati manusia tidak teguh, kebiadaban semakin tinggi, bertindak berdasarkan keegoisan tinggi dan kepicikan, sehingga saling berebut. Lebih lanjut, hal ini berkembang menjadi peperangan antar negara, antar suku, antar rumah tangga, antar personil…

Manusia zaman sekarang, sungguh individualis, jika ingin sungguh-sungguh berbaur, sungguh-sungguh saling membantu, sungguh-sungguh saling memedulikan, tidak berpura-pura, tidak sentimen, tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, kelihatannya sangatlah tidak mudah. Kenapa di lingkungan manusia begitu banyak perhitungan seperti itu? Tidak mampu mewujudkan dunia yang damai nan indah, aku pun merenungkan secara seksama dan mendalam, ini semua disebabkan oleh ketidakmampuan dalam melapangkan hati.

Sangatlah banyak orang yang egois, atau iri hati, atau sirik, hanya menginginkan kemegahan diri sendiri, menjatuhkan orang lain, ini adalah permulaan dari hukum “sebab-akibat”.

Mengapa bisa ada enam alam gati? (enam alam tumimbal lahir)

Serakah, maka masuk ke alam neraka.

Iri hati, maka masuk ke alam setan kelaparan.

Bodoh, maka masuk ke alam binatang.

Sedangkan, alam manusia adalah separuh baik separuh buruk. Alam asura adalah tidak berhenti dalam bersaing dan berebut, terlalu mementingkan diri sendiri.

Alam dewa, jika menjalankan sepuluh kebajikan, maka akan terlahir di alam ini.

Sebenarnya, siapapun yang memberikan hal yang indah untukmu, atau siapapun yang memberikan hal yang menyakitkan bagimu, tidaklah mengapa.

Asalkan hatimu lapang dan luas, hingga luas tak bertepi, sudah merupakan keberhasilan dalam melatih diri. Saya berdiam di Danau Daun, bahkan mengganti nama dan marga, melupakan keakuan, berterimakasih pada semua makhluk. Saya tidaklah penting, semua makhluk-lah yang penting. Hatiku tanpa kebencian, tidak mampu menyalahkan siapapun, hanya dapat menyalahkan diri sendiri. Menyesallah!

Kita sebagai sadhaka, hanya memiliki rasa terimakasih, yang dapat melihat luasnya hati, harus berusaha dan belajar. Yang dapat melihat kesempitan hatinya, hendaknya merefleksi diri. Jika menginginkan dunia menjadi tanah suci yang sebenarnya, ternyata dapat dicapai dengan melapang-luaskan hati. Hati yang sempit dan picik, barulah akan selamanya berseteru dan bersaing tiada henti, tiada akhir.

Di pagi hari yang cerah di Danau Daun, saya memanjat hingga puncak gunung, tiada burung yang berkicau. Memandang ke langit, melihat warna langit yang tak bertepi, tak berbatas. itu adalah warna yang ada di dunia manusia. Di bawah langit biru ada gunung, sungai, dan daratan luas. Di gunung, sungai, dan daratan luas, manusia dan makhluk hidup bersama dengan saling memangsa.

Saya ingin terbang ke langit biru.

Mendoakan: dalam dunia manusia tidak ada benar dan salah, makhluk hidup tidak ada saling membunuh dan memangsa.

Hatiku sangatlah kosong…

Menyanyikan sebuah gatha:

Langit langit langit biru tanpa dilap

Hanya dengan beberapa langkah angsa baru terbang melintas

Terbang tanpa menyisakan jejak

Tanpa jejak tanpa jalur

Panggilan terpendam melihat gunung sungai daratan luas

Asap tebal di empat penjuru

Berkekurangan kedamaian

Ternyata adalah bencana perang

Siapapun tidak mengalah

Dekat, namun juga jauh

Mulai sekarang dunia surga dan dunia manusia selalu terpisah

Hanya seperti gejolak ombak

melatih diri untuk apa

mengapa harus mengganggu kedamaian yang susah diperoleh di dunia manusia

namun dengan melatih melapang-luaskan hati

secara alami akan mengetahui

bagaimana dapat terlahir

hati Bodhisattva tiada berbatas

senantiasa luas dan lapang

—

—

Link artikel asli: http://tbsn.org/chinese2/article.php?id=8399&keyword=&backpage=&page=0

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**


USNISA VIJAYA DHARANI (佛顶尊胜陀罗尼)

NAMO BHAGAVATE TRAILOKYA PRATIVISISTAYA BUDDHAYA BHAGAVATE TADYATHA

OM,VISUDDHAYA VISUDDHAYA

ASAMA-SAMA SAMANTAVABHASA-SPHARANA

GATI GAHANA SVABHAVA VISUDDHE

ABHINSINCATU MAM

SUGATA VARA VACANA AMRTA ABHISEKAI MAHA MANTRA-PADAI AHARA AHARA AYUH SAM-DHARANI

SODHAYA SODHAYA GAGANA VISUDDHE

USNISA VIJAYA VISUDDHE SAHASRA-RASMI SAM-CODITE

SARVA TATHAGATA AVALOKANI SAT-PARAMITA-PARIPURANI

SARVA TATHAGATA MATI DASA-BHUMI PRATI-STHITE

SARVA TATHAGATA HRDAYA ADHISTHANADHISTHITA MAHA-MUDRE VAJRA KAYA SAM-HATANA VISUDDHE

SARVA VARANA APAYA-DURGATI PARI VISUDDHE

PRATI-NIVATAYA AYUH SUDDHE

SAMAYA ADHISTHITE

MANI MANI MAHA MANI

TATHATA BHUTA-KOTI PARISUDDHE

VISPHUTA BUDDHI SUDDHE

JAYA JAYA VIJAYA VIJAYA

SMARA SMARA SARVA BUDDHA ADHISTHITA SUDDHE

VAJRI VAJRAGARBHE VAJRAM BHAVATU MAMA SARIRAM

SARVA SATTVANAM CA KAYA PARI VISUDDHE

SARVA GATI PARISUDDHE

SARVA TATHAGATA SINCA ME SAMASVASAYANTU

SARVA TATHAGATA SAMASVASA ADHISTHITE

BUDDHYA BUDDHYA VIBUDDHYA VIBUDDHYA

BODHAYA BODHAYA VIBODHAYA VIBODHAYA SAMANTA PARISUDDHE

SARVA TATHAGATA HRDAYA ADHISTHANADHISTHITA MAHA-MUDRE SVAHA

——————————————————————————————————————————————————————————————————

“Raja Surga, terdapat Dharani yang dikenal sebagai “Usnisa Vijaya Dharani”. Dharani ini dapat menyucikan semua jalan sengsara, melenyapkan penderitaan atas kelahiran dan kematian secara menyeluruh. Dharani ini juga dapat membebaskan semua kesengsaraan dan penderitaan mahluk hidup di alam neraka, Raja Yama dan binatang, menghancurkan semua neraka, dan mengantarkan semua mahluk hidup ke jalan suci.”

“Raja Surga, jikalau seseorang mendengar Usnisa Vijaya Dharani sekali saja, semua karma buruk dari kehidupan sebelumnya yang seharusnya menyebabkan ia terlahir di neraka akan terhancurkan semuanya. Sebaliknya, ia akan memperoleh badan yang baik dan bersih. Di manapun ia dilahirkan kembali, dia akan mengingat Dharani ini secara jelas – dari satu kebuddhaan ke lainnya, dari satu alam surgawi ke alam surgawi lainnya. Sesungguhnya, melalui Surga Trayastrimsha, dimanapun ia terlahir kembali, dia tidak akan lupa.”

“Raja Surga, jikalau seseorang menjelang kematian mengingat Dharani suci ini, walaupun hanya sekejap, masa hidupnya akan diperpanjang dan ia akan memperoleh kesucian dalam raga, perkataan dan pikirannya. Tanpa penderitaan dan kesakitan badaniah dan sesuai dengan perbuatan baiknya, dia akan menikmati ketentraman di mana saja. Menerima berkah dari semua Tathagata, dan senantiasa dijaga dewa-dewa, dan dilindungi oleh Bodhisatva, ia akan dihormati dan dimuliakan masyarakat, dan semua rintangan kesengsaraan akan terhapuskan.”

“Raja Surga, jikalau seseorang dengan ikhlas membaca dan melafalkan Dharani ini, walaupun sekejap saja, semua hukuman karmanya yang akan menyebabkan ia menderita di alam neraka, binatang, Raja Yama, setan lapar, akan dihancurkan seluruhnya dan dihapuskan tanpa meninggalkan jejak. Ia akan bebas pergi ke tanah suci Buddha dan istana surga manapun, semua pintu gerbang ke kediaman Bodhisatva akan terbuka untuknya tanpa hambatan.”

Kemudian Buddha berkata kepada Raja Sakra, “Mantra ini dikenal sebagai ‘Yang Mensucikan Semua Jalan Sengsara Usnisa Vijaya Dharani’. Dharani ini dapat menghilangkan semua rintangan karma buruk dan menghapuskan penderitaan di semua jalan sengsara.”

“Raja Surga, Dharani termasyur ini dinyatakan serentak oleh Buddha-Buddha sebanyak delapan puluh delapan koti (ratusan juta) sejumlah butiran-butiran pasir di Sungai Gangga. Semua Buddha bergembira dan menjunjung tinggi Dharani ini yang dibuktikan dengan tanda bukti kebijaksanaan dari Maha VairocanaTathagata. Ini karena di dalam jalan sengsara, untuk membebaskan mereka dari hukuman menyakitkan dalam alam neraka, binatang dan Raja Yama; untuk melepaskan semua mahluk yang menghadapi bahaya keterperosokan ke dalam lautan lingkaran kelahiran dan kematian (samsara); untuk membimbing mahluk-mahluk lemah yang berusia pendek dan kurang beruntung dan untuk melepaskan mahluk-mahluk yang suka melakukan semua perbuatan jahat. Selain itu, karena ia berdiam dan dijunjung tinggi di dunia Jambudwipa, kekuatan yang ditunjukkan oleh Dharani ini akan mengakibatkan semua mahluk dalam neraka dan alam setan lainnya; orang yang kurang beruntung dan berpusar dalam lingkaran kelahiran dan kematian; orang yang tidak percaya adanya perbuatan baik dan jahat dan yang menyimpang dari jalan benar, untuk mencapai pelepasan.”

***

Usnisa Vijaya Dharani adalah sebuah sutra Mahayana. Sutra ini berisi khotbah Sang Buddha mengenai seorang putra dewa bernama Susthita yang seharusnya menjalani hukuman karmanya akibat buah perbuatannya di masa lalu, namun berkat “Usnisa Vijaya Dharani” menjadi terbebaskan.

Penjelasan berbahasa Indonesia dari isi sutra versi terjemahan Guru Buddhapala darii zaman Dinasti Tang dapat dilihat di http://id.wikipedia.org/wiki/Usnisa_Vijaya_Dharani

Sedangkan, lantunan Sutra Usnisa Vijaya Dharani dapat didengarkan di http://www.youtube.com/watch?v=SgoCnLGcS3k

e

aksara Sansekerta Usnisa Vijaya Dharani

= Referensi: =

Teks Sutra: http://www.gugalyrics.com/%E9%BB%84%E6%85%A7%E9%9F%B3-USNISA-VIJAYA-DHARANI-%E4%BD%9B%E9%A1%B6%E5%B0%8A%E8%83%9C%E9%99%80%E7%BD%97%E5%B0%BC-LYRICS/28698/

Kutipan artikel: http://id.wikipedia.org/wiki/Usnisa_Vijaya_Dharani

artikel yang lebih lengkap, kunjungi http://en.wikipedia.org/wiki/Usnisa_Vijaya_Dharani_Sutra