Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘balas jasa’


Feel free to download. Below is the preview of the document :

Melalui Dharmadesana Mahaguru Lu di LCS Seattle (di Sadhana Yidamyoga Ksitigarbha 3 Februari 2024 penanggalan lokal Seattle), ada topik tanya jawab yang menanyakan apakah saat membaca sutra harus sambil memikirkan artinya, dan sambil diresapi maknanya? Mahaguru menjawab, kalau saat membaca ya fokus di baca saja (mengacu ke saat sedang bersadhana atau di pembacaan sutra di vihara). Boleh mengatur waktu senggang lain yang dikhususkan untuk meresapi maknanya. Karena harus fokus, jadi jika sambil dipikirkan maksudnya apa, ujung-ujungnya jadi tidak fokus dalam pembacaan. Selain itu, tidak semua Sutra mudah dipahami. Jadi, membaca adalah membaca, merenungkan adalah merenungkan, itu adalah dua hal yang berbeda. Atur waktunya untuk fokus ke salah satu saja.

Sutra versi ini khusus disusun untuk membantu pembacaan agar dapat berlangsung lancar (setidaknya mengurangi beban dalam memikirkan “huruf ini harusnya dibaca sebagai apa, bagaimana bunyinya”)

Di bagian mandarin juga sudah ditambahkan mantra pembalas jasa orang tua, mantra penambal kekurangan, mantra paripurna, mantra Sukhavati Vyuha Dharani, mantra Tujuh Buddha masa lampau. Selain itu juga ada penjelasan di dalam Sutra tentang penerima penyaluran jasa kebajikan hanya mendapatkan 1/7 bagian, sedangkan pelaku kebajikan tetap akan mendapatkan 6/7 bagian (lebih jelasnya bisa dilihat di bagian terjemahan Indonesia, sudah digaris bawahi dan dicetak tebal di sana).

Read Full Post »


【 南摩。密栗多。哆婆曳。娑訶。】

Pinyin: “Nan mo. mi li do. Do bo yi. So ha.”

(cara baca Indonesia: “Namo milito topoyi soha.”)

~每逢農曆七月每日念誦此咒四十九遍﹐可報父母恩﹐現存父母延壽﹐過去世父母超荐﹐如一日未誦﹐次日可補誦。~

Terjemahan: ~ Setiap bulan 7, setiap hari melafalkan mantera ini 49 kali, dapat membalaskan jasa orang tua. Orang tua di masa sekarang yang masih hidup akan panjang umur. Orang tua di masa lampau akan terlahir di alam yang lebih baik/memiliki kehidupan yang lebih baik. Jika tidak melafalkan sehari, maka bisa ditambahkan ke hari lainnya. ~

*pendapat saya pribadi ^^:

Sebetulnya akan lebih baik lagi jika kita melafalkannya setiap hari, karena jasa orangtua tiada taranya.. 😀 Hanya saja, pelafalan pada bulan 7 lunar akan menghasilkan kebajikan yang lebih besar karena Bulan 7 lunar adalah “bulan bakti”, di mana pelimpahan jasa dari segala kebajikan (melalui persembahan) yang kita perbuat kepada para Sangha monastik (istilah bagi Sangha yang menjalani hidup kebhikkuan) akan menjadi lebih besar dibandingkan biasanya. Hal ini dikarenakan pada Agama Buddha, zaman dahulu di India, terdapat masa vassa selama tiga bulan, dihitung setelah Waisak (pada bulan keempat tanggal delapan, menurut penanggalan lunar), yang mana masa vassa tersebut berakhir pada bulan ketujuh lunar. Masa vassa merupakan masa di mana kondisi cuaca di India sangat buruk sehingga para Bhikku tidak dapat keluar dari Vihara dan akhirnya mengasingkan diri di dalam Vihara untuk fokus hidup bertapa, demi mencapai penerangan sempurna. Di akhir masa vassa (selesai pada bulan ketujuh penanggalan lunar), banyak anggota Sangha monastik yang berhasil mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi, dan beberapa di antaranya bahkan mencapai tingkat Arahat/Pratyekabuddha (Sanskrit)/Pacekkabuddha (Pali).

Agama Buddha mengajarkan kita untuk melakukan pelimpahan jasa kepada makhluk lainnya setiap melakukan kebajikan. Sebagaimana kita ketahui dalam Agama Buddha, bahwa jasa dari kebajikan yang kita perbuat dapat dilimpahkan kepada makhluk lain, dengan ukuran bahwa 1/8 dari karma baik yang kita perbuat akan diterima oleh makhluk-makhluk yang kita limpahkan jasa, dan 7/8 tetap kita terima sebagai buah karma kita. Semakin banyak makhluk yang kita limpahkan jasa, karma baik yang telah dihasilkan akan berkembang semakin besar pula. (Reff: dari ceramah Grand Master Sheng-Yen Lu dari aliran True Buddha Tantrayana, dan juga ceramah Master JingZen dari aliran Mahayana). Dengan berdana kepada makhluk yang  mungkin telah mencapai pencerahan (dalam konteks artikel ini adalah para Sangha monastik di akhir masa vassa), maka karma baik yang dihasilkan akan lebih besar, sehingga besarnya jasa yang dilimpahkan akan lebih besar pula. Oleh karena itu, bulan ketujuh lunar yang merupakan akhir dari masa vassa disebut sebagai “Bulan Bakti”, dan pada bulan ketujuh tersebut sering diadakan Pattidana (Pali)/ Ulambana (Sanskrit) kepada para Sangha monastik di Vihara, yang juga disebut sebagai Bulan Kathina/Bulan Berdana (selain karena alasan lainnya adalah telah menipisnya stok sandang pangan para Sangha monastik selama tiga bulan menjalani hidup bertapa).

Oleh karena itu, hendaknyalah kita selalu mengucapkan pelimpahan jasa kebajikan yang telah kita peroleh kepada makhluk luas (yang mungkin merupakan para orangtua kita di masa lampau, jika anda percaya reinkarnasi. Dan, jika anda tidak mempercayai reinkarnasi, limpahkanlah jasa kepada makhluk luas dengan motivasi membalas jasa mereka mencukupkan kebutuhan kita sehari-hari dan sebagai objek sehingga kita dapat melakukan kebajikan/karma baik ). Semoga dengan kebajikan yang kita peroleh dan kita limpahkan tersebut, semua makhluk dapat memperoleh kebahagiaan dan terlepas dari samsara.

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta (Semoga semua makhluk berbahagia)

Sadhu, Sadhu, Sadhu. (Semoga terjadi, semoga terjadi, semoga terjadi.)

*Notes: Sadhu (Pali) = Svaha (Sanskrit) = semoga terjadi.

link yang juga membicarakan mengenai Mantra Pembalas Budi Orang Tua:

http://tw.myblog.yahoo.com/smilefromheart-universe/article?mid=838&prev=894&l=f&fid=15&sc=1

http://www.tbsn.org/CHINESE2/article.php?id=5364&keyword=&backpage=&page=20

Read Full Post »