Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Bodhicitta’


553 Lima Jenis Bodhicitta (Bagian Ketiga)

Oleh : Grandmaster Shengyen-Lu

Sumber : Mahasiddhi Cahaya Pelangi, Dharmadesana tanggal 24 Oktober 1997

Translation : Meilinda Xu 莲花许月珊

——————————————————————————————————–

Kita membahas lima jenis bodhicitta.

Bodhicitta pertama, disebut sumpah bodhicitta, juga merupakan membangkitkan ikrar. Bodhicitta kedua, disebut menjalankan bodhicitta. Setelah membangkitkan ikrar, anda harus menjalankan, yaitu harus dipraktikkan, bersungguh-sungguh melatih diri. Bodhicitta yang ketiga disebut dengan bodhicitta paramattha, yang ini lebih rumit untuk dijelaskan.

Dari kelima jenis bodhicitta, bodhicitta yang ketiga disebut dengan bodhicitta paramattha. Di dalam Tantrayana, sering disebutkan mengenai “cahaya cemerlang kebajikan unggul (paramatthajotika)”. Ini maksudnya adalah anda telah membangkitkan ikrar, dan juga telah melaksanakannya. Namun di dalamnya terkandung makna yang lebih dalam, lebih mendalam, yaitu anda telah melaksanakannya, namun tidak berharap, tidak mengharapkan balasan apapun. Malahan setelah melakukannya, seluruhnya dileburkan ke dalam sifat sunya. Ini adalah poin yang lebih susah, inilah yang disebut dengan bodhicitta paramattha. Juga berarti berdana namun tidak mengharapkan balas jasa, secara total melaksanakan ikrar secara alamiah tanpa paksaan. Jenis bodhicitta ini dinamakan bodhicitta paramattha.

Ini merupakan poin yang agak rumit. Ada sebagian orang, setelah melakukan sesuatu, ia mengharapkan orang lain akan memujinya, jika tidak, dia tidak akan melakukannya. Setelah melakukan perbuatan bajik, tercantum di dalam koran, ia akan sangat gembira. Sebelum diterbitkan dalam koran, setiap hari ia menelepon kantor surat kabar menanyakan, “Kenapa masih belum diterbitkan?”

Mengharapkan mendapatkan penghargaan, melakukan kebajikan jenis apapun, ada hadiahnya, ataupun ada mendapatkan penghargaan. Oleh dikarenakan sudah mendapatkan sangat banyak perbuatan bajik, setiap jenis kebajikan yang saya perbuat, saya mencatatnya. Setelah dicatat, dikirimkan kepada acara penghargaan yang paling bergengsi, seperti Nobel, ataupun mendaftarkan untuk dapat menerima penghargaan di acara manapun, ataupun di acara pemberian penghargaan perdamaian.

Oleh karena anda telah membangkitkan ikrar, melakukan perbuatan bajik. Anda telah melakukan sangat banyak perbuatan bajik, semuanya dicatat, di saat sudah terakumulasi sangat banyak, kemudian dikirimkan ke acara penghargaan, sehingga mendapatkan titel penghargaan.

Sebagian orang, bodhicitta paramatthanya yang seperti apa? Adalah sudah melakukan, lantas mengembalikannya kepada tiada, di sinilah letak kerumitannya. Inilah yang dinamakan dengan “paramattha”, terkandung suatu makna yang sangat unggul di dalamnya. Juga berarti bahwa apa yang anda ikrarkan, apa yang anda lakukan, seluruhnya dikembalikan kepada angkasa, ini lebih tinggi tingkatannya.

Agama Buddha mengajarkan kepada kita, kehidupan manusia adalah ilusi, merupakan sebuah mimpi, merupakan sebuah sandiwara. Keseluruhan “kekosongan dari tiga wujud perputaran” yaitu tiada penderma, tiada objek yang menerima derma, tiada objek yang didermakan, dinamakan dengan “kekosongan dari tiga wujud perputaran”.

Segala yang anda lakukan, pada dasarnya semua akan kembali kepada angkasa, masih ada apa lagi? Oleh karena itu, janganlah anda melekati perbuatanmu, ikrarmu, asalkan anda melakukan dengan segenap hati dan segenap tenaga, itu sudah benar. Ini barulah yang disebut dengan “kebajikan yang tak terhingga”. Seluruh “kebajikan yang tak terhingga”, adalah anda melakukan, anda berikrar. Namun, segalanya kembali kepada angkasa, disebut dengan “kebajikan yang tak terhingga”. “Kebajikan yang tak terhingga” yang sesungguhnya adalah yang seperti ini.

Oleh karena itu, semua yang berwujud ini, setelah anda lakukan, lantas anda mencatatnya semua, hari ini saya telah melakukan perbuatan bajik seperti ini dan itu. Besok anda mencatatnya lagi, segala kebajikan yang telah anda perbuat. Kelak anda berkata, “Saya telah melakukan sebegitu banyak perbuatan bajik, mengapa masih belum mendapatkan pembalasan yang baik?” Ini tidaklah sesuai dengan bodhicitta paramattha.

Ada banyak orang bertanya kepada Mahaguru Lu, “Bagaimanakah Aliran Tantra Satya Buddha kelak?” Saya hanya menjawab delapan patah kata, “Berusaha melakukan segenap tenaga, biarkan berjalan secara alamiah”. Kita melakukan perbuatan bajik, juga sama. Berusaha melakukan segenap tenaga, biarkan berjalan secara alamiah, tidak mengharapkan balasan apapun, segalanya sangatlah alamiah.

Saya sering menuliskan “keberhasilan melakukan kebajikan bak sungai pasir mimpi”, inilah bodhicitta paramattha.

Juga ada yang bertanya pada saya, “Mahaguru Lu, anda menulis begitu banyak buku, berapa banyak buku yang ingin anda tulis?” Saya juga tidak tahu, I don’t know. Saya hanya berusaha melakukan segenap tenaga, biarkan berjalan secara alamiah.

“Anda melukis, ingin melukis sampai berapa lembar?” Lakukan dengan segenap tenaga, biarkan berjalan secara alamiah.  Hati saya kosong tiada beban, inilah wujud kemunculan bodhicitta paramattha, sehingga hatipun kosong tiada beban.

Anda ingin menjadi apa? Menjadi ketua pengurus Majelis Tantrayana Satya Buddha? Menjadi ketua umum Majelis Tantrayana Satya Buddha? Jika anda memiliki niat seperti ini, anda tidaklah memiliki bodhicitta paramattha.

Ketua pengurus Majelis Tantrayana Satya Buddha sektor RRC, ketua apa, ketua apa, semuanya saya inginkan, satu pun tidak boleh ada yang terlewatkan, karena saya yang paling banyak berbuat, tidak ada orang yang mengungguli saya, semuanya saya inginkan. Seluruh “nama” ini saya inginkan, seluruh “keuntungan” juga saya inginkan, semuanya saya raup, tidak ada bodhicitta paramattha.

Bodhicitta paramattha yang sesungguhnya adalah biarkan berjalan secara alamiah, segalanya kembali pada kebajikan bak sungai pasir mimpi, harus mampu memahami makna paramattha.

Anda memiliki bodhicitta paramattha, segala yang anda lakukan, berubah menjadi cahaya cemerlang, inilah cahaya cemerlang kebajikan unggul (paramatthajotika).

Semua yang sering saya katakan, “Segala kegiatan yayasan amal, bukanlah kebajikan. Oleh karena bukanlah kebajikan, barulah disebut dengan kebajikan.” Apakah maksud dari kalimat ini? Dua kata “para-mattha”.

Dalam Sutra Vajracheddika, dikatakan bahwa segala kebajikan bukanlah merupakan kebajikan. Oleh karena bukanlah kebajikan, barulah disebut dengan kebajikan. Dua patah kata – para-mattha.

Oleh karena itu, kita belajar Dharma, belajar Buddha, belajar Ajaran, setelah anda membangkitkan ikrar, membangkitkan sumpah bodhi, menjalankan jalan bodhi, namun anda tidak menganggapnya sebagai sebuah kebajikan. Oleh karena tidak menganggapnya sebagai sebuah kebajikan, ini barulah kebajikan. Oleh karena itulah, adalah tidak terhingga, tidak dapat terbayangkan, seluruhnya sedang menjelaskan dua kata “para-mattha” ini.

Jika anda memahaminya, maka anda akan mengetahui apa yang dimaksudkan “tidak ada kebajikan” yang dikatakan oleh Bodhidharma. “Tidak ada kebajikan”, adalah makna dari paramattha.

Kaisar Liang tidak memahami paramattha, ia hanya menjalankan ikrar, tidak memiliki paramattha.

Om Mani Padme Hum.

Link sumber artikel dalam bahasa mandarin :

http://tbsn.org/chinese3/news.php?cid=29&csid=34&id=585

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/ daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


Dari buku ke-60, “Dunia Lain di Dalam Danau” (湖濱別有天 – The Inner World of the Lake)

Translation  :Meilinda Xu 莲花许月珊

Oleh: Grand Master Sheng-Yen Lu

Saat saya baru pertama kali menginjakkan kaki ke Amerika Serikat, sebetulnya saya mengalami kesulitan yang teramat sangat ketika memulai pekerjaan Dharmaduta. Karena, orang Amerika hidupnya susah. Dan, orang Amerika tidak mengerti, apakah yang dimaksud dengan “membangkitkan niat dan tekad”? Mereka bertanya pada saya, mengapa perlu belajar Buddha Dharma? mengapa perlu menjadi Buddha? Apa pula kegunaan dari menjadi Buddha? Mereka malah memberitahu saya, bahwa mereka sama sekali tidak ingin menjadi Buddha.

Mengembangkan Buddha Dharma ternyata memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, karena orang Amerika sebenarnya tidak mengerti “Buddha” itu apa, dan juga tidak ingin menjadi Buddha. Jika tidak ingin menjadi Buddha, bagaimana pula bisa rajin dan bersungguh-sungguh menekuni Buddha Dharma?

Saya tahu, mereka tidak ingin menjadi Buddha, namun di dalam hati, mereka menyimpan rasa kagum terhadap filsafat dan kebudayaan timur. Sedikit saja menyinggung dua patah kata mengenai istilah ketimuran, langsung muncul kegairahan yang tinggi. Terhadap filsafat pemikiran dari Laozi[1], Zhuangzi[2], dan kaum Taois yang lainnya, sangat berminat. Mereka juga pernah mendengar nama Sakyamuni Buddha.

Terhadap orang Amerika yang seperti ini, terlebih dahulu saya mengobrol sedikit mengenai filsafat pemikiran Laozi, filsafat pergaulan Zhuangzi, untuk mengundang minat mereka, lalu menyisipkan Empat Kebenaran Mulia[3] dari Sakyamuni Buddha. Kemudian, dilanjutkan dengan menjelaskan bahwa Sakyamuni Buddha pada saat itu meninggalkan keduniawian dan mencari jalan pembebasan dukkha dengan tekad demi menolong semua makhluk, dengan mencari pemahaman terhadap dukkha supaya dapat menemukan cara menghilangkan dukkha semua makhluk. Hidup manusia diliputi bermacam-macam dukkha. Dari sisi internal, “400 macam penyakit” merupakan dukkha di fisik, “kesedihan, kekhawatiran, iri hati, kemarahan” adalah dukkha di hati. Dari sisi eksternal, terdapat dukkha akibat bencana alam yang meliputi “angin, salju, dingin, panas”. Selain itu, ancaman rampok dan kemalingan, ancaman harimau dan serigala, semua ini merupakan bencana yang dapat diakibatkan oleh manusia dan hewan.

Selanjutnya, saya jelaskan mengenai delapan macam dukkha dalam Sutra Buddha – –

Dukkha karena kelahiran – – kelahiran merupakan dukkha bagi manusia: merepotkan ibunda hingga menderita kesakitan semasa mengandung; sementara itu, berada di dalam kandungan maupun keluar dari kandungan, semuanya membawa penderitaan (bisa ditelusuri dalam Sutra Sabda Buddha mengenai Sadhana Panjang Usia, Penghapus Dosa, dan Pelindung Kaum Kumara), merupakan dukkha.

Dukkha karena tua – – seorang yang lanjut usia akan memiliki dukkha akibat perasaan khawatir akan kelambanan pergerakannya, penuaan organ tubuh, penurunan kemampuan pendengaran dan penglihatan, dan pergerakan badan yang tidak leluasa.

Dukkha karena sakit – – saat manusia menderita penyakit, takut hawa dingin dan takut hawa panas, jiwa dan raga menjadi tidak fit/tidak produktif, mengalami penderitaan, tidak mampu mengutarakan penderitaan yang dialaminya.

Dukkha kematian – – penderitaan menghadapi perpisahan, penderitaan karena tidak adanya sandaran menjelang hilangnya kesadaran/kematian, semuanya merupakan derita yang dihadapi.

Dukkha kehilangan yang dicintai – – suatu hari nanti akan berpisah juga dengan semua yang disukai.

Dukkha berkumpul dengan musuh – – tidak dapat menghindari semua yang tidak disukai, bahkan sering merasa terganggu.

Dukkha tidak mendapatkan yang diinginkan – – merasakan penderitaan karena tidak mendapatkan yang diinginkan.

Dukkha akibat lima sisi gelap panca-skandha – – lima sisi gelap panca-skandha (rupa, perasaan, pikiran, perbuatan, kesadaran), kelahiran dan kematian dari segala sesuatu yang berkondisi, lebih merupakan penderitaan.

Secara ringkas, sepuluh macam dukkha dalam hidup manusia adalah: “dukkha akibat kelahiran, dukkha akibat penuaan, dukkha akibat penyakit, dukkha akibat kematian, dukkha akibat gelisah, dukkha akibat kebencian, dukkha yang dirasakan setelah mengalami dukkha, dukkha akibat kesedihan, dukkha akibat kemarahan, dukkha karena bertumimbal lahir.”

***

Saya sering menjelaskan kenyataan akan hal yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia, seperti dukkha akibat “segala sesuatu tidak ada yang dapat bertahan lama”, “kelahiran dan kematian yang silih berganti”, “tidak dapat beristirahat dengan tenang”, untuk membangkitkan perasaan mereka, membuat mereka sadar akan keberadaan kondisi-kondisi tersebut. Dengan adanya kesadaran tersebut, barulah dapat membangkitkan niat dan tekad untuk menekuni Buddha Dharma.

Manusia zaman sekarang, mau membangkitkan niat dan tekad mereka untuk belajar Buddha Dharma sangatlah susah, karena mereka tersesat pada “warna” dari wujud luar. Mengejar “nama”, “keuntungan”, bahkan “istri” dan “keturunan”, juga sangat mengejar “kenikmatan hidup”, karena melekatlah sehingga timbul bermacam-macam dukkha.

Saya memberitahu mereka agar membangkitkan niat dan tekad, sungguh-sungguh menekuni kebijaksanaan dari Buddha Dharma, mengatasi bermacam-macam dukkha dengan menggunakan kebijaksanaan dari Buddha Dharma, tekun mengubah “tidak bebas” menjadi “bebas”, berusaha menekuni cara “sucikan pikiran dalam kekinian, otomatis akan tenang”. Saya perlahan-lahan memandu dengan cara seperti ini, hingga pada akhirnya mereka semua ikut bersarana pada “Ling Xian Zhen Fo Zhong[4]”.

Namun, pada kenyataannya, ingin seorang siswa yang baru mulai membangkitkan niat dan tekad untuk mempertahankan semangat dan konsistensinya, juga sangatlah susah. Seorang siswa Tantrayana yang membangkitkan tekad mempelajari Buddha Dharma, tidak dipungkiri masih dapat terkena pengaruh dunia luar, sehingga mundur dari tekadnya mencapai ke-Buddha-an. Siswa yang terkena pengaruh dunia luar dan mundur sudah terlalu banyak, terlalu banyak…

“Sangha monastik melepas jubah” juga berarti mundur dari tekad mencapai ke-Buddha-an.

“Siswa yang telah bersarana tidak lagi bersadhana” juga berarti mundur dari tekad mencapai ke-Buddha-an.

“Meninggalkan lingkungan jalan menuju ke-Buddha-an, memasuki kembali lingkungan jalan keduniawian”, juga berarti mundur dari tekad mencapai ke-Buddha-an.

“Di dalam lingkungan jalan menuju ke-Buddha-an, berebut nama dan keuntungan”, juga berarti mundur dari tekad mencapai ke-Buddha-an.

***

Saya berharap, orang-orang yang telah mundur dari tekad mencapai ke-Buddha-an, mengamati secara mendalam, berpikir, apakah kebenaran hakiki itu, apakah “jatidiri sesungguhnya yang suci dan tenang”, mengapa setelah membangkitkan tekad, masih mau ditutupi (dikendalikan, dipengaruhi) oleh debu duniawi… Terhadap kebenaran dunia ini, mengapa tidak tercerahkan, mengapa diri sendiri masih tidak tenang dan suci… Jika begini, harus menekuni dengan sungguh-sungguh “jatidiri sesungguhnya yang suci nan tenang”, mengenali dengan jelas makna kehidupan manusia ini.

Setelah membangkitkan tekad, haruslah juga membangkitkan Bodhicitta[5].

Mantra pengembangan Bodhicitta:

「嗡。婆提支達。母打達牙。彌。」/Pinyin: Weng. Bodizhida. Mudadaya. Mi.

(Cara baca Indonesia: “Om. Poticeta. Mutataya. Mi.”)

Ini adalah mantra pengembangan Bodhicitta, yang memberkati dan mendukung orang yang mengembangkan Bodhicitta, bahkan hingga mencapai keBuddhaan, mengokohkan ketetapan hati untuk tidak memudarkan sradha[6]. Mantra ini mampu menjaga sradha para siswa Tantra. Seluruh Bodhisattva membaca mantra ini saat pertama kali membangkitkan Bodhicittanya, memasuki bhumi sradha yang kokoh.

Seluruh siswa yang bersarana pada aliran Tantrayana Satya Buddha, harus memahami “Gatha Bodhicitta”:

Saya dengan berdasarkan pada [alam] Dharma, tidak mengabaikan makhluk luas

Bersama-sama bersarana pada Guru[7] , Buddha, Dharma, Sangha

Demi menyeberangi lautan samsara, membangkitkan metta karuna mudita upeksa

Semoga (pelatihan) tubuh-ucapan-pikiran dapat seberhasil seperti Adinata[8]

Satu lagi mantra pembangkit Bodhicitta:

「嗡。婆提支打。別炸。沙媽呀。啞吽。」/Pinyin: Weng. Bodizhida. Biezha. Shamaya. Ahum.

(Cara baca Indonesia: “Om. Poticeta. Pieca. Samaya. Ahom.”)

Kedua buah mantra tersebut, dapat meningkatkan dan mendukung pengembangan Bodhicitta, kebajikannya sama besar.

Saya sendiri merasakan, susah membuat orang mempercayai Buddha. Dan, lebih susah lagi untuk membuat orang yang telah mempercayai Buddha dan orang yang telah belajar Buddha-Dharma untuk tetap menjaga motivasi dan keyakinan yang tidak akan pernah luntur/berubah, dan, terutama bagi orang yang telah mempelajari Buddha-Dharma, lebih susah lagi untuk tetap memiliki ketetapan hati dalam menekuni sadhana. Orang yang mundur di tengah jalan, terlalu banyak, terlalu banyak… Ini disebabkan oleh apa? Adalah karena Mara[9] kuat, Dharma lemah! Seorang siswa yang memiliki ketetapan hati yang bulat, susah didekati oleh Mara, jika didekati namun tidak mundur dari tekad awal, barulah dapat dikatakan seorang yang suci/Ariya.

Dengan sangat jujur mengatakan: “Vajra Acarya Bermahkota Merah Berpita Suci” telah melampaui ratusan ujian kematian dan ribuan ujian kehidupan. Seluruh penderitaan yang kualami, jika diceritakan pun orang-orang akan susah mempercayai. Saya adalah orang yang telah memasuki ambang kematian lembah hantu namun tidak mati, benar-benar bernasib mujur. Saya orang yang mengalami dikhianati dan ditinggalkan oleh kerabat, teman, dan siswa, namun tetap dapat merelakan sesuai dengan hukum alam, tidak merasa sedih/menderita. Saya adalah orang yang mengalami serangan hujatan dari para sadhaka di seluruh dunia, namun, mereka meludahi Langit, Langitpun tidak akan menyusut, ini adalah ratusan ribu orang menghujat saya sendirian. Tekanan yang sebesar ini, kemajuan yang besar (yang diperoleh dari upaya melatih diri), dengan tekad yang bulat melatih diri, tidak mundur dari jalan keBuddhaan, merupakan maha upaya pelatihan yang tidak akan berubah dalam kondisi seperti apapun.

Makna kehidupan manusia, tidaklah pada “popularitas”, juga tidak pada “keuntungan”, “istri, harta, anak, kebahagiaan”. Harus bisa melarikan diri dari lingkaran “keuntungan dan popularitas”, barulah benar. Makna kehidupan manusia adalah untuk melatih keBuddhaan, mengejar dan mencari kebenaran yang hakiki, mendalami dan menghayati mahakebijaksanaan yang hakiki, menggunakan badan fisik untuk menjalaninya, mencapai “manunggaling-kawula-gusti” dengan alam semesta, kemudian kembali pada lautan jati diri dari Vairocana, maha lautan cahaya Buddha yang agung, penerangan yang seperti itu, sangatlah agung, merupakan yang paling agung di dunia.

Makhluk luas hendaklah membangkitkan niat dan tekad mempelajari Buddha-Dharma, tekun mempelajari dan mempraktekkan Buddha-Dharma, harus terus menjaga Bodhicitta memasuki bhumi sradha yang kokoh. Mampu mencapai “tidak mundur”, barulah dapat memperoleh penerangan dan mencapai pencerahan.

Yang mundur, Mara Langit tertawa terbahak-bahak, dijadikan sarapan oleh Mara Langit, benar-benar kasihan dan sangat disesalkan!

Saya amat menghimbau makhluk luas, orang yang mempercayai Buddha, segeralah membangkitkan niat dan tekad mempercayai Buddha dan mendalami Dharma. Yang telah mempelajari Buddha-Dharma, harus memiliki kesungguhan dan ketekunan untuk menghayati dan berkembang, tidak menyerah dalam memperoleh penerangan dan mencapai pencerahan, segera mengamati dan menyelidiki akar dari kilesa, berusaha sekuat tenaga dalam memperoleh kebenaran yang terpercaya, menjaga agar Bodhicitta tidak mengalami kemunduran, ini barulah kebenaran yang hakiki.

Yang belum membangkitkan niat dan tekad, akan terus ditemani karma baik dan karma buruk, berada di dalam perputaran lingkaran enam alam samsara.

Yang telah membangkitkan niat namun berbalik mundur, akan memasuki Neraka Vajra.

Yang telah membangkitkan niat, tekun menjaga Bodhicitta, tidak mengalami kemunduran, pastilah akan mencapai keberhasilan tertinggi (penerangan sempurna).


Artikel yang berhubungan (disarankan untuk dibaca):

Persembahan Tertinggi: Persembahan Dharma

Link artikel asli (berbahasa Mandarin):

http://www.tbsn.org/chinese2/article.php?id=5853&keyword=&backpage=&page=0


[1] Filsuf kenamaan dari China, di Indonesia sendiri serng disebut sebagai “Lao-tsu” penulis Kitab Dao De Jing (道德經 – Sutra mengenai Jalan dan Kebajikan). Di agama Buddha, Laozi merupakan emanasi dari Tai Shang Lao Jun, yaitu suciwan yang merupakan dewa tertinggi di dalam ajaran Taoisme.

[2] Salah satu filsuf kenamaan dari China

[3] Empat Kebenaran Mulia terdiri dari: Dukkha ()Sebab-sebab Dukkha ()Akhir dari Dukkha (), dan Jalan (道) untuk mengakhiri Dukkha yang lazim disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan

[4] Aliran Tantrayana Zhen Fo Zhong/Tantrayana Satya Buddha (靈仙真佛宗), merupakan salah satu dari aliran Tantra Cina (sadhana menggunakan bahasa Mandarin) yang merupakan penggabungan dari beberapa sekte Buddhisme Tibetan (yaitu Sekte Nyingmapa (Sekte Merah), Sekte Gelugpa (Sekte Kuning), Sekte Sakyapa (Sekte Kembang), dan Sekte Kargyupa (Sekte Putih)), sekte Sukhawati dari aliran Mahayana, dan Taoisme.

[5] Tekad mencapai keBuddhaan

[6] Tekad dan keyakinan dalam menapaki jalan ke-Buddha-an

[7] Guru spiritual

[8] Makhluk suci yang paling dijunjung (sesuai preferensi pribadi masing-masing), yang telah mencapai Arus Nibbana (Arus Nirvana). Dalam Tantrayana, sangatlah penting untuk memilih Guru Spiritual yang tepat dan Adinata yang paling dipuja/dijunjung dalam awal tahapan bersadhana, untuk memperkokoh fondasi paling dasar. Di dalam Tantrayana terdapat berbagai macam sadhana, yang mana setiap sadhananya memiliki Junjungan (Adinata) yang berbeda-beda. Ketekunan bersadhana dan sradha yang tinggi terhadap Guru Spiritual sangatlah penting dalam mencapai keberhasilan dalam sadhana Guruyoga, dan terhadap Adinata dalam sadhana Adinatayoga. Dalam setiap jenis sadhana Adinatayoga dalam Buddhisme, pencapaian tertinggi adalah mencapai yoga (kontak batin) dan manunggaling-kawula-gusti dengan Junjungan (melebur menjadi satu dengan Junjungan: Junjungan adalah saya, saya adalah Junjungan, tidak ada perbedaan lagi) pada masing-masing sadhana tersebut

[9] Godaan nafsu kemelekatan terhadap hal-hal duniawi, baik dari dalam diri sadhaka (internal) maupun dari pengaruh kondisi yang dialami sadhaka/lingkungan di sekitar sadhaka (eksternal)

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »