Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Grand Master Sheng-Yen Lu’


Intisari Ceramah Dharma Raja Buddha Lian Sheng Tanggal 3 Januari 2009 di Cetiya Taiping, Taiwan

Oleh Grand Master Sheng-Yen Lu, dipublikasikan ulang dari Notes-nya Lifin Ervika

Ini kedua kalinya saya datang ke Cetiya Taiping, semoga ketiga kalinya datang, di sini sudah Leizang Si. (Hadirin tepuk tangan dan bersorak)Seharusnya di sini sangat familiar bagi saya. Sebab, dulu saya menjalani pelatihan di Pusat 5, waktu itu di sini tidak begitu banyak rumah, Pusat 5 justru berada di depan saja, di Pinglin adalah pusat 3, di pusat pelatihan Pusat 5, sekarang adalah Chelongpu, paling dekat dengan Cetiya Taiping. Waktu itu, saya masih belum merintis Zhenfo Zong, belum ada Cetiya Taiping, jika ada, saya bisa sering kebaktian di sini.

Saya merasa hidup ini berubah dalam sekejap. Saat saya umur 20 tahun, saya menjalani pelatihan di Pusat 5. Waktu itu, saya menjalani pelatihan di Sekolah Kemiliteran 5, yakni Akademi Binggong, Akademi Teknik Angkatan Laut, Falkutas Geodesi, Falkutas Hukum Pidana Tentara, dan Falkutas Keuangan. Begitu saya mendaftarkan diri di Falkutas Geodesi, segera menjalani pelatihan di Pusat 5, 8 minggu di awal, 8 minggu di akhir, total 4 bulan. Empat puluh lima tahun yang lalu, umur 20 tahun, hingga sekarang, hidup ini berubah dalam sekejap. Dulu, asalkan libur, saya ke Taichung, waktu itu, orang lain akan berteriak, “Anak muda! Anak muda!” Sekarang tidak ada yang meneriaki saya, “Anak muda!”, berubah banyak! Inilah anicca. Berapa lama lagi saya di dunia Saha ini? Tidak berani diprediksi, tidak berani dibayangkan.

Kita melatih diri, yakni melatih ketenangan hati. Kali ini saya ke Singapura, menerangkan “Metode 9 Tahap Meditasi”, metode ini sama dengan metode menenangkan hati, dapat membuat hati tidak berpikiran yang bukan-bukan, tidak ada khayalan; Anda dapat menenangkan hati, menstabilkan hati, tidak memikirkan semua masalah lain. Ketika hati Anda sangat stabil, perenungan Anda, pemikiran Anda akan jernih. Ketika hati Anda fokus pada satu titik, sepenuhnya tidak bergerak, tidak goyah; Anda berlindung pada hati Anda sendiri, menyingkirkan seluruh kerisauan, tiba-tiba, hati Anda menghasilkan terang, seberkas cahaya yang Anda lihat, bukan muncul dari kesadaran Anda, bukan yang Anda pikirkan, Anda tidak punya pikiran lain. Namun, sinar yang Anda lihat itu, seperti langit cerah tanpa awan, Anda masuk ke dalam seberkas cahaya tersebut, Anda menemukan, seberkas cahaya tersebut mirip sepenuhnya dengan diri Anda sendiri. Malah, Anda dapat melihat seberkas cahaya tersebut setiap saat, ini disebut “menyaksikan Buddhata”.

Kadang-kadang dalam samadhi kita dapat melihat cahaya, namun, begitu Anda turun dari Dharmasana, Anda tidak dapat melihat cahaya lagi. Mengapa? Sebab, Anda dapat melihat cahaya dalam kondisi diam, namun, Anda tidak dapat melihat cahaya dalam kondisi bergerak. Dalam kondisi bergerak, hati Anda pun kabur. Jadi, seorang sadhaka yang benar-benar melatih sungguh-sungguh, di dalam kondisi diam bisa menyaksikan Buddhata, dalam kondisi bergerak pun bisa menyaksikan Buddhata, ini barulah “menyaksikan Buddhata” yang sesungguhnya.

“Metode 9 Tahap Meditasi” dapat mengekploitasi kebijaksanaan Anda di dalam samadhi. Setelah kebijaksanaan Anda tereksploitasi, Anda akan mengerti kebenaran di antara alam semesta. Jadi, mengapa kita sebagai umat Buddha, harus melatih meditasi, tujuan utamanya adalah untuk mengekploitasi kebijaksanaan Tathagata. Ketika Anda memiliki kebijaksanaan Tathagata, disebut “memahami hati”. Ketika Anda memahami hati, Anda pun bisa tahu, apa itu “tidak dapat apa-apa”, apa itu “tiada masalah”, apa itu “tiada kemelekatan”. Tujuan utama kita belajar Buddhisme adalah “memahami hati” dan “menyaksikan Buddhata”. Setelah Anda memahami hati dan menyaksikan Buddhata, Anda “menekuni Dao” atau “melatih diri” berdasarkan kebijaksanaan Tathagata, saat ini baru disebut “menekuni Dao”, barulah disebut “melatih diri”. Suatu hari nanti, Anda akan mencapai keberhasilan, mencapai kebuddhaan.Kita sebagai sadhaka, harus dapat memanggil kembali hati Anda, menempatkan kesadaran pikiran dan hati Anda bersama, terakhir bahkan kesadaran pun tidak ada lagi, hanya tinggal hati, ini baru disebut “memahami hati”. “Menyaksikan Buddhata” adalah, Anda telah buka kebijaksanaan Tathagata, Anda telah mengerti wujud sejati seluruh alam semesta, saat ini, disebut “menyaksikan buddhata”. Jadi, memahami hati dan menyaksikan Buddhata sulit sekali dijelaskan.

Namun, Anda harus menarik kembali hati Anda, lindungi hati Anda. Dulu, Guru Sesepuh Sekte Zen sering mengucapkan satu kalimat, “Lindungi diri baik-baik.” Ketika siswa hendak turun gunung, Sang Guru kerap menyampaikan satu kalimat padanya, “Lindungi diri baik-baik”. Anda harus lindungi baik-baik Buddhata Anda, jaga baik-baik Buddhata Anda, praktekkan baik-baik Buddhata Anda. Inilah tujuan utama Buddhadharma, justru di sinilah tujuan asasi Buddhadharma. Apakah kalian ada pertanyaan?(Siswa bertanya: Mahaguru, bagaimana kita mengalihkan “samadhi sukha” ke dalam “samadhi sunya”?)
“Mengalihkan sukha ke dalam sunya” adalah penerapan ganda antara sukha dan sunya.

(Siswa bertanya: Penggalan yang tadi Anda terangkan itu mulai menekuni “Dzog-rim”, sekarang yang kita tekuni adalah “Kye-rim”.)

Tataritual Zhenfo yang kita tekuni adalah “Kye-rim”, yang tadi diterangkan adalah awal dari “Dzog-rim”. Bukankah saya ada sebuah buku baru berjudul “Sunyata di dalam Mahasukha”? Bagaimana mengubah “Samadhi Sukha” menjadi “Samadhi Sunya”? Anda harus tahu satu kenyataan, semua kebahagiaan sangat singkat, hakikat dari kebahagiaan adalah sunya.
Anda selidiki saja kebahagiaan ini, Uh! Hari ini saya sangat bahagia, perlihatkan pada saya kebahagiaan itu! Tak bisa! Kebahagiaan itu tak berwujud, tak terlihat, kebahagiaan juga tak terdengar, itu perasaan Anda. Perasaan bahagia ini berlalu dalam sekejap. Jika besok Anda tersungkur, Anda pun tidak bahagia lagi. (Hadirin tertawa) Di dunia ini, kebahagiaan apapun adalah sementara, malah hakikatnya adalah sunya. Jadi, ketika Anda bahagia, Anda harus pikir, hakikatnya adalah sunya.

“Penerapan ganda antara sukha dan sunya” dalam Tantra adalah semacam kemudahan.
Ketika Anda sedang bahagia, Anda harus visualisasi kebahagiaan ini adalah sunya, Anda akan melepaskan kebahagiaan ini. Sebab, kebahagiaan ini sementara, tidak abadi. Ada orang yang bahagia pada pagi hari, siang ia mulai sedih, menderita; kadang-kadang, saat menderita, berubah menjadi bahagia lagi. Jadi, kita mengatakan “Tong-kuai! Tong-kuai!” (hadirin tertawa) yakni penderitaan dan kebahagiaan saling bertalian.

Mahaguru mengajarkan bahwa penderitaan dan kebahagiaan saling bertalian. Ada orang kadang-kadang sakit pinggang, kadang-kadang sakit pundak, itu sangat menderita, harus ubah menjadi kebahagiaan, Anda tempel selembar “Salonpas” (koyo pereda sakit), tiba-tiba, ia pun tidak sakit lagi, Anda pun pikir, inilah kebahagiaan. Seperti disuntik itu sangat menderita, pasien di rumah sakit itu sangat menderita. Mahaguru paling takut disuntik. Disuntik bisa sakit. Anda harus tahu sakit itu adalah sunyata, sakit juga sebentar saja! Sekali disuntik, sebentar saja, sakit itu hilang.
Misalnya, operasi di rumah sakit, ia membius Anda; atau Anda sakit, ketika ia meredakan sakit Anda dengan obat, Anda pun tidak sakit lagi. Sesungguhnya, penderitaan juga semacam sunyata. Jika Anda di rumah sakit sering berpikir demikian, Anda pun tidak akan menderita. Pasien di rumah sakit, merasa di rumah sakit sangat menderita, sungguh, di rumah sakit adalah satu hal yang paling menderita. Namun, ketika dibius, sakit pun hilang, ini membuktikan bahwa penderitaan itu sendiri adalah sementara, penderitaan itu sendiri juga sunya. Ketika menderita, harus dialihkan menjadi sementara, sunya, dan gejala yang singkat saja.

Mari kita perluas lagi, Anda mengira seluruh hidup ini adalah penderitaan, sesungguhnya, hidup ini sangat singkat. Umur 20 tahun lebih saya menjalani pelatihan di Chelongpu, sekarang saya kembali lagi ke Chelongpu, sudah umur 65 tahun, 45 tahun sudah berlalu. Apakah saya masih ada 45 tahun lagi? (Hadirin jawab: “Ada!”) Bagaimana pemikiran saya sekarang? Segala kebahagiaan adalah sementara, segala penderitaan juga sementara dan seketika, ubah seluruh penderitaan dan kebahagiaan di dunia ini menjadi sunyata.

Dalam menekuni Tantra, setelah kita mengerti teori ini, kita harus mulai menekuni sadhana dalam. Ketika Anda menekuni sadhana dalam, ketika prana Anda menembus nadi, ketika bindu menembus nadi, ketika api tummo menembus nadi, itu sangat bahagia, namun, kebahagiaan itu juga tidak abadi. Anda harus memanfaatkan api tummo Anda, membakar seluruh kerisauan materiil Anda, kemudian ubah tubuh Anda menjadi Buddhata, menjadi sunyata, inilah sadhana dalam dalam Tantrayana — metode “Dzog-rim”. Jadi, penjelmaan sinar pelangi Padmasambhava, Ia mengubah seluruh tubuh-Nya menjadi sinar pelangi, selamanya ada Tathata di dalam alam suci, inilah Buddhata sejati.

Secara teori, Anda harus mengubah sukha menjadi sunyata.
Dalam aspek sadhana dalam, Anda harus masuk tingkat sadhana yang lebih dalam lagi, dari penekunan “Kye-rim”, memasuki penekunan “Dzog-rim”, barulah dapat membuktikan kebahagiaan adalah sunyata.
Apakah masih ada pertanyaan?

(Siswa bertanya: mengenai pertanyaan yang Mahaguru ajukan di buku: agar nadi tengah sadhaka biasa terbuka, cakra hati harus terbuka, kebijaksanaan baru bisa terbuka, demikian baru bisa menyaksikan apa yang namanya “Buddhata”. Mohon Mahaguru berwelas asih mengabhiseka Bradha Kumbha Prana dan Samadhi Api Tummo, sehingga sadhaka baru bisa menjalankan sadhana) (Hadirin tepuk tangan dan bersorak)

Untuk buka nadi tengah, ketahuilah satu hal, harus melatih Bradha Kumbha Prana. Padmasambhava pernah bersabda, “Bradha Kumbha Prana adalah sumber pahala.” Segala pahala, berasal dari Bradha Kumbha Prana. Tantra mewajibkan kita melatih Bradha Kumbha Prana, mengapa? Supaya nadi tengah terbuka. Jadi, Bradha Kumbha Prana dan buka nadi tengah saling berhubungan. Dalam Tantra, Anda menekuni Bradha Kumbha Prana, Anda tarik napas, Anda harus visualisasi dengan pikiran, prana terus masuk dari nadi tengah, bukan di lambung, tapi 4 jari di bawah pinggang — Avadhuti, kemudian dari sana angkat anus.
Bagaimana dengan prana? Prana atas menekan ke bawah, prana bawah diangkat ke atas, di perut Anda berubah menjadi sebuah Bradha Kumbha. Berapa lama napas dapat disimpan? Anda simpan napas di sini hingga Anda tidak tahan lagi, perlahan-lahan Anda hembuskan napas dari lubang hidung, inilah Bradha Kumbha Prana dalam Tantra.

Demikianlah penekunan Taois, tarik napas, tiba di avadhuti, sama saja, tekan ke bawah dan angkat ke atas, seluruh napas disimpan di avadhuti, simpan sebentar, pakai pikiran, di bawah tulang belakang terus naik, tiba di nirvana, lalu turun dari sini (nirvana), tiba di sini (cakra kening), keluar dari posisi mata ketiga. Begitulah metode Taois, mengikuti tulang belakang, prana naik, keluar di sini (posisi mata ketiga), ketika Anda tidak tahan lagi, baru keluar dari lubang hidung, ini adalah penekunan Taois.

Tantrayana adalah, setelah tahan napas, tidak tahan lagi baru keluar dari nadi tengah hingga lubang hidung. Juga ada yang menggunakan “metode penyebaran”, napas keluar dari lubang pori-pori. Jika napas Anda dapat keluar dari lubang pori-pori, teknik yang sangat hebat; tarik napas dari lubang pori-pori, keluar dari lubang pori-pori, itu sangat hebat, itu sudah tingkat tinggi. Ketika kita baru mulai melatih, hanya melatih Bradha Kumbha Prana. “Tahan napas” pun harus dilatih bertahun-tahun.

(Siswa bertanya: kapan harus “mengunci tenggorokan”?)

Menekan jakun adalah menekan tenggorokan, agar napas di dalamnya tidak keluar; ketika mengeluarkan napas, jangan menekan jakun.

Jika Anda sering melatih (Bradha Kumbha Prana), dalam sehari jangan melebihi 21 kali. Sebab, ketika baru mulai latihan, panas dalam akan meningkat, bisa sakit kepala, sakit mata; ada yang bisa mimisan; ada yang bisa mengalami pembengkakan gusi. Anda harus atur pelan-pelan, atur hingga ia tidak panas dalam, amarah jangan begitu besar, juga jangan dingin, yang terpenting diatur pas-pasan. Kalau sudah lama dilatih, prana dengan sendirinya berjalan perlahan-lahan, memasuki nadi tengah, inilah prana kemudahan, prana yang memasuki nadi tengah, diubah menjadi prana kebijaksanaan. Ketika seluruh nadi tengah penuh dengan prana kebijaksanaan Anda, nadi tengah pun terbuka. Demikianlah nadi tengah terbuka.

Setelah buka nadi tengah, buka kelima cakra — cakra kening, cakra tenggorokan, cakra hati, cakra pusar, dan cakra reproduksi, semuanya dibuka, setelah semua terbuka, padukan dengan olahraga Anda, yakni Vajrasamdhi. Kita lebih dulu buka nadi tengah, memasukkan prana ke nadi tengah, lebih dulu melatih Bradha Kumbha Prana, setelah prana Anda dapat memasuki nadi tengah, perlahan-lahan, prana nadi tengah Anda pun penuh. Perlahan-lahan, satu demi satu cakra terbuka, sekali cakra terbuka, Anda pun bisa melihat sinar, ini adalah “membuka rintangan” dalam Tantra.

(Siswa bertanya: kapan menyalakan api tummo?)

Menyalakan api tummo, yakni setelah Bradha Kumbha Prana Anda sangat penuh, Anda visualisasi nadi tengah Anda dengan sangat jelas, prana ini mendesak api tummo di posisi empat jari di bawah pusar, yakni avadhuti bawah, posisi itu disebut “sumber api”. Anda harus visualisasikannya menjadi segitiga, segitiga melambangkan api, di tengah segitiga, ada sebuah benih aksara api, di dalam Tantra disebutkan separuh dari aksara “AH”, mirip sebuah ujung jari, ada sebuah percikan api di sana.
Ada yang mengatakan harus memanfaatkan Vajravahari berubah menjadi api merah, berdiri di tengah segitiga, ini mengandalkan visualisasi, saat visualisasi setitik api tersebut, tarik Bradha Kumbha Prana di kedua sisi Bradha Kumbha untuk mendesak api, agar api ini menyala, ini ibarat menghasilkan api dari menggosok kayu, anggap pikiran Anda sebagai dorje, anggap posisi avadhuti Anda sebagai kayu, gunakan kekuatan prana Anda untuk mendesak api tersebut, sekali api menyala, api tummo pun menyala.

(Siswa bertanya: visualisasi Vajrasattva atau visualisasi Vajravahari?)

Visualisasi Vajravahari, ini disebut “Samadhi Api Tummo Vajravahari.

(Siswa bertanya: saat abhiseka, harus visualisasi Vajravahari?)

Nanti, jika saya memberikan abhiseka Brabha Kumbha Prana dan buka nadi tengah, Anda harus visualisasi avadhuti atau sekujur tubuh Anda, berubah menjadi sebuah Bradha Kumbha, Bradha Kumbha ini berada di posisi empat jari di bawah cakra pusar Anda, ada percikan api sudah cukup. Menekuni sadhana ini, sama halnya berada di dalam lingkup abhiseka kedua.

Tantrayana memiliki 2 jenis penekunan, pertama lebih dulu menekuni “Kye-rim”, satu lagi adalah “Kye-rim” dan “Dzog-rim” ditekuni sekaligus. Mengerti? Saya hanya menjelaskan garis besarnya, di dalamnya banyak detil, saya sudah terangkan sangat jelas. Kita harus menekuni Bradha Kumbha Prana, sebab hanya saat Bradha Kumbha Prana berhasil, prana baru bisa bergetar, baru bisa bertenaga, sekujur tubuh baru bisa kokoh, baru bisa mengembangkan kekuatan Anda.
Kemudian, begitu nadi tengah terbuka, saat prana menelusuri tengah nadi tengah, sukha yang dihasilkan adalah mahasukha. Mengerti?

Sembilan tahap pernapasan Buddha adalah dasar dari Bradha Kumbha Prana. Kita atur pikiran kita lewat 9 tahap pernapasan Buddha, setelah menyelesaikan 9 tahap pernapasan Buddha, segera melakukan Bradha Kumbha Prana. Sembilan tahap pernapasan Buddha adalah memusatkan perhatian kita, saat prana bergerak, hati dan prana bisa terpusat, Kumbha Prana pun akan sukses, nadi tengah pasti terbuka. Di luar ada sebagian orang berkata, “Saya bisa membuat nadi tengah Anda terbuka dalam sekejap.” Itu jenius. Tantrayana kita saja tidak menyatakan secepat itu, harus bertahun-tahun. Melatih diri tidak secepat itu. Bila kita mau kontak yoga dengan Buddha dan Bodhisattva, Buddha dan Bodhisattva datang membantu kita, semua itu bertahun-tahun. Masih ada yang angkat tangan?

(Mahaguru, apakah menekuni “Bradha Kumbha Prana” dan “9 Tahap Meditasi” itu beda sistem sadhananya?)

“Sembilan Tahap Meditasi” adalah mengendalikan hati Anda; kita menekuni Bradha Kumbha Prana, juga menggunakan pikiran kita untuk menenangkan hati, walaupun beda sistemnya, Sembilan Tahap Pernapasan Buddha sama halnya dengan awal meditasi. Bradha Kumbha Prana juga harus memusatkan perhatian! Semua ini adalah Metode 9 Tahap Meditasi.

(Siswa bertanya: ada pertanyaan seputar gejala pergerakan roh.)

Pergerakan roh adalah pergerakan prana, merupakan teknik pengembangan diri, agar prana Anda mengalir di seluruh bagian tubuh Anda, bergerak ke mana-mana, sama halnya dengan suatu teknik penunjang, metode agar tubuh dan nadi Anda dapat terbuka. Umumnya adalah membiarkannya bergerak sendiri. Apabila Anda sedang ikut kebaktian, Anda juga bergerak seperti itu, bisa mempengaruhi orang lain.

Ada satu hal yang harus diingat, penting sekali, jika Anda anggap Anda memamerkan daya gaib dengan pergerakan roh, Anda akan mudah sekali kerasukan Mara, Anda mengira ini dewa apa yang datang, Anda pun menjadi medium. Kadang-kadang, api sedang menyala, Anda percaya begitu tangan Anda dimasukkan, tangan Anda tidak akan terbakar. Kalau begitu, Anda coba saja! Begitu tangan dimasukkan ke dalam api, tangan Anda pun hangus. Jangan percaya fenomena yang tidak masuk akal, sebab, setelah Anda kerasukan Mara, Mara itu akan menempel di badan Anda, Anda pun akan bergerak tanpa henti. Jadi, Anda harus kendalikan pergerakan roh Anda.

(Siswa bertanya: seorang umat berkata bahwa ia dulu kena herpes, namun, tidak bisa sembuh total, masih bisa sakit dan gatal.)

Berarti masih ada kuman di sana, berkembang biak di tubuh Anda, “kulit ular” sama dengan penyakit kulit, sembuh lalu kambuh lagi, itu adalah penyakit radang kulit yang sulit sembuh, Anda telah mengoleskan obat dari luar, setelah Anda bangun dari tidur, mulai gatal lagi.
Penyakit kulit sulit disembuhkan, kuman dibius oleh Anda dan tertidur, setelah bangun, mulai gatal lagi. (Mohon Mahaguru berkati nanti)

Amitabha! Begini saja!
Saya akan memberikan abhiseka Bradha Kumbha Prana dan Api Tummo pada Anda semua. Anda visualisasi diri sendiri adalah sebuah Bradha Kumbha, di tengah Bradha Kumbha, di posisi 4 jari dibawah pusar Anda adalah api tummo, keduanya diabhiseka sekaligus.

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Reposting is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Postingan ulang Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


Diketik ulang dari Buku ke-183 “Meninggalkan Keduniawian (Transcending Samsara)” dengan sedikit perubahan yang tidak mengubah arti, hanya menggaris-bawahi yang penting diperhatikan oleh pembaca.

Oleh: Grand Master Sheng-Yen Lu

Dulu, pernah ada seorang umat yang selalu berada di samping saya. Ia banyak mempelajari mustika sadhana aliran Tantra Tibet yang amat berharga.

Ia memang sangat serius dan tekun.

Dan saya pun mengajarkan beberapa kunci rahasia kepadanya. setelah menjalani latihan dalam jangka waktu tertentu, ia telah dapat menguasai tataritual Sadhana Tantra dengan sangat sempurna. Baik teori maupun praktek, tak satu pun yang terlewatkan olehnya.

Ia melaksanakan Sadhana Santika[1], Paustika[2], Vasikarana[3], dan Abhicaruka[4]. Semua kunci rahasianya sudah dilengkapi.

Ia juga telah menekuni Apihoma[4] sebanyak ratusan kali, Argampuja[5] sebanyak ratusan kail, Mahapuja sebanyak ratusan kali, Dewapuja sebanyak ratusan kali, Dharmapalapuja sebanyak ratusan kali, Gurupuja sebanyak ratusan kali, Adinatapuja sebanyak ratusan kali, berbagai persembahan sebanyak ratusan kali….

Suatu hari, ia datang ke tempat saya. Dengan wajah murung ia mengeluh, “Sama sekali tidak terjadi yukta[6].”

“Apakah kamu sudah mengundang para Mahasattva?”

“Sudah semua.”

“Apakah kamu sudah membaca Sutra Raja Agung Avalokitesvara[7] sebanyak seribu kali?”

“Sudah.”

“Apakah kamu sudah menjapa Mantra Mahaguru sebanyak delapan juta kali?”

“Sudah.”

“Apakah kamu sudah membaca Sutra Suvarnaprabhasottama sebanyak 49 kali?”

“Sudah juga.”

“Apakah kamu sudah melakukan berbagai ritual pertobatan?”

“Sudah.”

Ia telah menekuni hampir seluruh sadhana yang ada.

Ia telah berupaya dengan segala sadhana, akan tetapi sama sekali tidak memperoleh yukta. Laksana garam hanyut dalam laut, tiada bekas.

Ia bertanya, “Guru Lu, apakah masih ada sadhana yang lain?”

Saya menjawab, “Semua sadhana telah dilaksanakan, apa lagi yang harus saya katakan?”

“Bukankah dikatakan akan terjadi yukta? Terutama Sadhana Citta dalam hati?”

“Ya.”

“Mengapa tidak memperoleh yukta?”

” Saya sungguh tidak tahu.” Saya sangat menyesal.

Saat bersamadhi, diri saya masuk ke dalam kesadaran ketiadaan dan kekosongan. Itulah yang dikatakan “terlahir dalam kekosongan, berada dalam ketiadaan. Saya terlahir jadi Adinata, tetapi terhanyut oleh pikiran.”

Saat itu, saya muncul di alam “Buddha Ratna Wijaya”.

Saya bertanya pada Buddha Ratna Wijaya, “Mengapa setelah menekuni segala sadhana dengan penuh ketulusan, tetapi masih belum terjadi yukta?”

Buddha Ratna Wijaya menjawab, “Daripada menekuni segala macam sadhana, lebih baik berusaha mengosongkan pikiran. Yang ada menjadi tiada, yang tiada menjadi ada.”

“Mohon dijelaskan.”

Buddha Ratna Wijaya menjelaskan:

“Ada tiga macam manusia yang tidak mungkin memperoleh yukta dalam menekuni sadhana. Dengarkanlah dengan seksama. Jenis manusia pertama adalah mereka yang emosional dan mudah marah, jenis manusia kedua adalah mereka yang berhati culas dan kejam, jenis manusia ketiga adalah mereka yang amat serakah.”

Saya menjadi terdiam setelah mendengarkannya.

Buddha Ratna Wijaya melanjutkan, “Hati Buddha ber-yukta dengan hati langit, hati langit ber-yukta dengan hati manusia. Hati yang galau, keji, dan tamak, sadhana apapun yang ditekuninya tetap tidak akan memperoleh yukta.”

Oleh sebab itu, dengarkanlah sepatah kata yang cukup klise dari saya: “Utamakanlah menyucikan hati daripada menekuni sadhana! Apakah hati Anda suci adanya?”

– – –

Kosakata:

[1] Sadhana yang menitikberatkan pada efek Pemberkahan (peningkatan kemujuran/hoki dalam melakukan sesuatu)

[2] Sadhana yang menitikberatkan pada efek Peningkatan Berkah Harta Duniawi

[3] Sadhana yang menitikberatkan pada efek Pengikis karma buruk

[4] Sadhana yang menitikberatkan pada efek Tolakbala

[4] Sadhana pujana api (persembahan melalui media api)

[5] Sadhana pujana air (persembahan melalui media air)

[6] Kontak batin

[7] GaoWang Jing (baca: “Kau Wang Cin”), atau “Ko Ong Keng” dalam dialek Hokkian

– – –

Mohon Baca artikel yang berkaitan di bawah ini:

https://meilindaxu.wordpress.com/2010/10/02/mencapai-kebuddhaan-dalam-tubuh-sekarang/

Referensi:

Lu, Sheng-Yen. 2009. “Meninggalkan Keduniawian.” Medan: PT Budaya Daden Indonesia.

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Reposting is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Postingan ulang Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


Dari buku ke-151 “Obrolan Ringan Seorang Penyendiri”

Translation  :Meilinda Xu 莲花许月珊

Oleh Grand Master Sheng-Yen Lu

Seminggu sekali, saya pergi ke pasar di kota berbelanja sayur-mayur, orang-orang di pasar sedikit demi sedikit mulai penasaran akan kemunculan saya sebagai seorang yang asing.

Ada yang bertanya pada saya: “Kamu datang dari mana? Kamu berprofesi sebagai apa?”

Saya tidak pernah menjawab saya berasal dari mana, juga ketika orang-orang menanyakan saya berprofesi sebagai apa, saya selalu menjawab: “Saya sudah pensiun!”

Ada seorang penjual sayur berkata: “Saya lihat, kamu sering pakai topi, berpakaian seperti seorang pengurus di perusahaan besar, apakah kamu seorang pengurus di perusahaan besar?”

Ada seorang berkata: “Perawakanmu, seperti seorang tenaga kerja dari luar negri, kamu pastilah seorang buruh perbaikan jalan.”

Juga ada seorang penjual buah berkata: “Kemungkinan kamu adalah seorang juru masak di dapur, apakah kamu seorang koki?”

Mendengarnya, saya hanya bisa tertawa bego, asal-usul saya, dari mana, merupakan sebuah pertanyaan yang membingungkan. Mereka selamanya tidak akan mengetahui apa pekerjaan saya.

Hanya pemilik kedai kopi yang pernah saya sembuhkan penyakit matanya, dia mengatakan bahwa saya adalah “dukun”.

Pada suatu hari, pemilik kedai kopi mengejar saya: “Pak tua! Bolehkah membantu saya sekali lagi? Hanya kali ini saja, tidak akan memberitahu orang lain!”

“Siapa?”

“Ibu mertua saya!”

“Dia kenapa?” Tanya saya.

“Pencernaannya bermasalah, sudah beberapa tahun, badannya kurus lemah, lambung usus tidak pernah seharipun sehat, setelah makan langsung diare. Saya memberitahunya, anda telah menyembuhkan penyakit mata saya, beliau mengharapkan anda juga dapat menyembuhkan penyakit pencernaan menahunnya.”

Setelah berpikir sejenak, saya berkata: “Baiklah!”

Ibu mertua tersebut merupakan seorang ibu tua, saya menyuruhnya berdiri dengan kuda-kuda yang mantap, untuk mencegah beliau terbang keluar ketika sebelah telapak tangan saya memukulnya!

Saya menyuruhnya berdiri memunggungi saya.

Saya memohon agar Adinata saya memberkati lambung ususnya, telapak tangan kanan saya secara otomatis memukul punggungnya, terdengar suara “Phong, Phong.”

Saya melihat telapak tangan saya bersinar, mengeluarkan energi!

Saya melihat sinar di tubuh ibu tua, energi telah berpindah ke lambung ususnya.

Bersuara “Hum!”, cahaya agung terpancar.

Sejak hari saya memukul punggung ibu tua, keanehan terjadi, ibu tua sudah tidak diare lagi saat masuk kamar mandi.

Sejak saat itu sudah menjadi normal, selamanya lambung usus normal kembali, membuat pemilik kedai kopi dan ibu mertuanya sangat kaget dan keheranan.

Si pemilik kedai kopi dan ibu mertuanya, melihat saya selalu memanggil: “Pak dukun!”

Saya memberitahu mereka berdua: “Saya bukan dukun.”

“Saya harus memanggil anda dengan apa?”

Saya berkata: “Kalian berdua memanggil saya ‘Master’ saja! Tetapi, jangan beritahukan pada orang lain ya! Saya di sini sedang bertapa, tidak ingin terlalu dihebohkan!”

Tentu saja saya tahu, sepasang telapak tangan saya dapat terus membantu orang, karena sepasang telapak tangan saya bisa bercahaya, sama halnya juga dapat menyeberangkan insan seluas cakrawala di kolong langit, dapat memerahkan sebidang langit ini. Namun, jika dipikirkan lagi, lebih baik melewati masa tua dengan tenang! Buat apa mati karena kecapekan!

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


Dari buku ke-60, “Dunia Lain di Dalam Danau” (湖濱別有天 – The Inner World of the Lake)

Translation  :Meilinda Xu 莲花许月珊

Oleh: Grand Master Sheng-Yen Lu

Saat saya baru pertama kali menginjakkan kaki ke Amerika Serikat, sebetulnya saya mengalami kesulitan yang teramat sangat ketika memulai pekerjaan Dharmaduta. Karena, orang Amerika hidupnya susah. Dan, orang Amerika tidak mengerti, apakah yang dimaksud dengan “membangkitkan niat dan tekad”? Mereka bertanya pada saya, mengapa perlu belajar Buddha Dharma? mengapa perlu menjadi Buddha? Apa pula kegunaan dari menjadi Buddha? Mereka malah memberitahu saya, bahwa mereka sama sekali tidak ingin menjadi Buddha.

Mengembangkan Buddha Dharma ternyata memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, karena orang Amerika sebenarnya tidak mengerti “Buddha” itu apa, dan juga tidak ingin menjadi Buddha. Jika tidak ingin menjadi Buddha, bagaimana pula bisa rajin dan bersungguh-sungguh menekuni Buddha Dharma?

Saya tahu, mereka tidak ingin menjadi Buddha, namun di dalam hati, mereka menyimpan rasa kagum terhadap filsafat dan kebudayaan timur. Sedikit saja menyinggung dua patah kata mengenai istilah ketimuran, langsung muncul kegairahan yang tinggi. Terhadap filsafat pemikiran dari Laozi[1], Zhuangzi[2], dan kaum Taois yang lainnya, sangat berminat. Mereka juga pernah mendengar nama Sakyamuni Buddha.

Terhadap orang Amerika yang seperti ini, terlebih dahulu saya mengobrol sedikit mengenai filsafat pemikiran Laozi, filsafat pergaulan Zhuangzi, untuk mengundang minat mereka, lalu menyisipkan Empat Kebenaran Mulia[3] dari Sakyamuni Buddha. Kemudian, dilanjutkan dengan menjelaskan bahwa Sakyamuni Buddha pada saat itu meninggalkan keduniawian dan mencari jalan pembebasan dukkha dengan tekad demi menolong semua makhluk, dengan mencari pemahaman terhadap dukkha supaya dapat menemukan cara menghilangkan dukkha semua makhluk. Hidup manusia diliputi bermacam-macam dukkha. Dari sisi internal, “400 macam penyakit” merupakan dukkha di fisik, “kesedihan, kekhawatiran, iri hati, kemarahan” adalah dukkha di hati. Dari sisi eksternal, terdapat dukkha akibat bencana alam yang meliputi “angin, salju, dingin, panas”. Selain itu, ancaman rampok dan kemalingan, ancaman harimau dan serigala, semua ini merupakan bencana yang dapat diakibatkan oleh manusia dan hewan.

Selanjutnya, saya jelaskan mengenai delapan macam dukkha dalam Sutra Buddha – –

Dukkha karena kelahiran – – kelahiran merupakan dukkha bagi manusia: merepotkan ibunda hingga menderita kesakitan semasa mengandung; sementara itu, berada di dalam kandungan maupun keluar dari kandungan, semuanya membawa penderitaan (bisa ditelusuri dalam Sutra Sabda Buddha mengenai Sadhana Panjang Usia, Penghapus Dosa, dan Pelindung Kaum Kumara), merupakan dukkha.

Dukkha karena tua – – seorang yang lanjut usia akan memiliki dukkha akibat perasaan khawatir akan kelambanan pergerakannya, penuaan organ tubuh, penurunan kemampuan pendengaran dan penglihatan, dan pergerakan badan yang tidak leluasa.

Dukkha karena sakit – – saat manusia menderita penyakit, takut hawa dingin dan takut hawa panas, jiwa dan raga menjadi tidak fit/tidak produktif, mengalami penderitaan, tidak mampu mengutarakan penderitaan yang dialaminya.

Dukkha kematian – – penderitaan menghadapi perpisahan, penderitaan karena tidak adanya sandaran menjelang hilangnya kesadaran/kematian, semuanya merupakan derita yang dihadapi.

Dukkha kehilangan yang dicintai – – suatu hari nanti akan berpisah juga dengan semua yang disukai.

Dukkha berkumpul dengan musuh – – tidak dapat menghindari semua yang tidak disukai, bahkan sering merasa terganggu.

Dukkha tidak mendapatkan yang diinginkan – – merasakan penderitaan karena tidak mendapatkan yang diinginkan.

Dukkha akibat lima sisi gelap panca-skandha – – lima sisi gelap panca-skandha (rupa, perasaan, pikiran, perbuatan, kesadaran), kelahiran dan kematian dari segala sesuatu yang berkondisi, lebih merupakan penderitaan.

Secara ringkas, sepuluh macam dukkha dalam hidup manusia adalah: “dukkha akibat kelahiran, dukkha akibat penuaan, dukkha akibat penyakit, dukkha akibat kematian, dukkha akibat gelisah, dukkha akibat kebencian, dukkha yang dirasakan setelah mengalami dukkha, dukkha akibat kesedihan, dukkha akibat kemarahan, dukkha karena bertumimbal lahir.”

***

Saya sering menjelaskan kenyataan akan hal yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia, seperti dukkha akibat “segala sesuatu tidak ada yang dapat bertahan lama”, “kelahiran dan kematian yang silih berganti”, “tidak dapat beristirahat dengan tenang”, untuk membangkitkan perasaan mereka, membuat mereka sadar akan keberadaan kondisi-kondisi tersebut. Dengan adanya kesadaran tersebut, barulah dapat membangkitkan niat dan tekad untuk menekuni Buddha Dharma.

Manusia zaman sekarang, mau membangkitkan niat dan tekad mereka untuk belajar Buddha Dharma sangatlah susah, karena mereka tersesat pada “warna” dari wujud luar. Mengejar “nama”, “keuntungan”, bahkan “istri” dan “keturunan”, juga sangat mengejar “kenikmatan hidup”, karena melekatlah sehingga timbul bermacam-macam dukkha.

Saya memberitahu mereka agar membangkitkan niat dan tekad, sungguh-sungguh menekuni kebijaksanaan dari Buddha Dharma, mengatasi bermacam-macam dukkha dengan menggunakan kebijaksanaan dari Buddha Dharma, tekun mengubah “tidak bebas” menjadi “bebas”, berusaha menekuni cara “sucikan pikiran dalam kekinian, otomatis akan tenang”. Saya perlahan-lahan memandu dengan cara seperti ini, hingga pada akhirnya mereka semua ikut bersarana pada “Ling Xian Zhen Fo Zhong[4]”.

Namun, pada kenyataannya, ingin seorang siswa yang baru mulai membangkitkan niat dan tekad untuk mempertahankan semangat dan konsistensinya, juga sangatlah susah. Seorang siswa Tantrayana yang membangkitkan tekad mempelajari Buddha Dharma, tidak dipungkiri masih dapat terkena pengaruh dunia luar, sehingga mundur dari tekadnya mencapai ke-Buddha-an. Siswa yang terkena pengaruh dunia luar dan mundur sudah terlalu banyak, terlalu banyak…

“Sangha monastik melepas jubah” juga berarti mundur dari tekad mencapai ke-Buddha-an.

“Siswa yang telah bersarana tidak lagi bersadhana” juga berarti mundur dari tekad mencapai ke-Buddha-an.

“Meninggalkan lingkungan jalan menuju ke-Buddha-an, memasuki kembali lingkungan jalan keduniawian”, juga berarti mundur dari tekad mencapai ke-Buddha-an.

“Di dalam lingkungan jalan menuju ke-Buddha-an, berebut nama dan keuntungan”, juga berarti mundur dari tekad mencapai ke-Buddha-an.

***

Saya berharap, orang-orang yang telah mundur dari tekad mencapai ke-Buddha-an, mengamati secara mendalam, berpikir, apakah kebenaran hakiki itu, apakah “jatidiri sesungguhnya yang suci dan tenang”, mengapa setelah membangkitkan tekad, masih mau ditutupi (dikendalikan, dipengaruhi) oleh debu duniawi… Terhadap kebenaran dunia ini, mengapa tidak tercerahkan, mengapa diri sendiri masih tidak tenang dan suci… Jika begini, harus menekuni dengan sungguh-sungguh “jatidiri sesungguhnya yang suci nan tenang”, mengenali dengan jelas makna kehidupan manusia ini.

Setelah membangkitkan tekad, haruslah juga membangkitkan Bodhicitta[5].

Mantra pengembangan Bodhicitta:

「嗡。婆提支達。母打達牙。彌。」/Pinyin: Weng. Bodizhida. Mudadaya. Mi.

(Cara baca Indonesia: “Om. Poticeta. Mutataya. Mi.”)

Ini adalah mantra pengembangan Bodhicitta, yang memberkati dan mendukung orang yang mengembangkan Bodhicitta, bahkan hingga mencapai keBuddhaan, mengokohkan ketetapan hati untuk tidak memudarkan sradha[6]. Mantra ini mampu menjaga sradha para siswa Tantra. Seluruh Bodhisattva membaca mantra ini saat pertama kali membangkitkan Bodhicittanya, memasuki bhumi sradha yang kokoh.

Seluruh siswa yang bersarana pada aliran Tantrayana Satya Buddha, harus memahami “Gatha Bodhicitta”:

Saya dengan berdasarkan pada [alam] Dharma, tidak mengabaikan makhluk luas

Bersama-sama bersarana pada Guru[7] , Buddha, Dharma, Sangha

Demi menyeberangi lautan samsara, membangkitkan metta karuna mudita upeksa

Semoga (pelatihan) tubuh-ucapan-pikiran dapat seberhasil seperti Adinata[8]

Satu lagi mantra pembangkit Bodhicitta:

「嗡。婆提支打。別炸。沙媽呀。啞吽。」/Pinyin: Weng. Bodizhida. Biezha. Shamaya. Ahum.

(Cara baca Indonesia: “Om. Poticeta. Pieca. Samaya. Ahom.”)

Kedua buah mantra tersebut, dapat meningkatkan dan mendukung pengembangan Bodhicitta, kebajikannya sama besar.

Saya sendiri merasakan, susah membuat orang mempercayai Buddha. Dan, lebih susah lagi untuk membuat orang yang telah mempercayai Buddha dan orang yang telah belajar Buddha-Dharma untuk tetap menjaga motivasi dan keyakinan yang tidak akan pernah luntur/berubah, dan, terutama bagi orang yang telah mempelajari Buddha-Dharma, lebih susah lagi untuk tetap memiliki ketetapan hati dalam menekuni sadhana. Orang yang mundur di tengah jalan, terlalu banyak, terlalu banyak… Ini disebabkan oleh apa? Adalah karena Mara[9] kuat, Dharma lemah! Seorang siswa yang memiliki ketetapan hati yang bulat, susah didekati oleh Mara, jika didekati namun tidak mundur dari tekad awal, barulah dapat dikatakan seorang yang suci/Ariya.

Dengan sangat jujur mengatakan: “Vajra Acarya Bermahkota Merah Berpita Suci” telah melampaui ratusan ujian kematian dan ribuan ujian kehidupan. Seluruh penderitaan yang kualami, jika diceritakan pun orang-orang akan susah mempercayai. Saya adalah orang yang telah memasuki ambang kematian lembah hantu namun tidak mati, benar-benar bernasib mujur. Saya orang yang mengalami dikhianati dan ditinggalkan oleh kerabat, teman, dan siswa, namun tetap dapat merelakan sesuai dengan hukum alam, tidak merasa sedih/menderita. Saya adalah orang yang mengalami serangan hujatan dari para sadhaka di seluruh dunia, namun, mereka meludahi Langit, Langitpun tidak akan menyusut, ini adalah ratusan ribu orang menghujat saya sendirian. Tekanan yang sebesar ini, kemajuan yang besar (yang diperoleh dari upaya melatih diri), dengan tekad yang bulat melatih diri, tidak mundur dari jalan keBuddhaan, merupakan maha upaya pelatihan yang tidak akan berubah dalam kondisi seperti apapun.

Makna kehidupan manusia, tidaklah pada “popularitas”, juga tidak pada “keuntungan”, “istri, harta, anak, kebahagiaan”. Harus bisa melarikan diri dari lingkaran “keuntungan dan popularitas”, barulah benar. Makna kehidupan manusia adalah untuk melatih keBuddhaan, mengejar dan mencari kebenaran yang hakiki, mendalami dan menghayati mahakebijaksanaan yang hakiki, menggunakan badan fisik untuk menjalaninya, mencapai “manunggaling-kawula-gusti” dengan alam semesta, kemudian kembali pada lautan jati diri dari Vairocana, maha lautan cahaya Buddha yang agung, penerangan yang seperti itu, sangatlah agung, merupakan yang paling agung di dunia.

Makhluk luas hendaklah membangkitkan niat dan tekad mempelajari Buddha-Dharma, tekun mempelajari dan mempraktekkan Buddha-Dharma, harus terus menjaga Bodhicitta memasuki bhumi sradha yang kokoh. Mampu mencapai “tidak mundur”, barulah dapat memperoleh penerangan dan mencapai pencerahan.

Yang mundur, Mara Langit tertawa terbahak-bahak, dijadikan sarapan oleh Mara Langit, benar-benar kasihan dan sangat disesalkan!

Saya amat menghimbau makhluk luas, orang yang mempercayai Buddha, segeralah membangkitkan niat dan tekad mempercayai Buddha dan mendalami Dharma. Yang telah mempelajari Buddha-Dharma, harus memiliki kesungguhan dan ketekunan untuk menghayati dan berkembang, tidak menyerah dalam memperoleh penerangan dan mencapai pencerahan, segera mengamati dan menyelidiki akar dari kilesa, berusaha sekuat tenaga dalam memperoleh kebenaran yang terpercaya, menjaga agar Bodhicitta tidak mengalami kemunduran, ini barulah kebenaran yang hakiki.

Yang belum membangkitkan niat dan tekad, akan terus ditemani karma baik dan karma buruk, berada di dalam perputaran lingkaran enam alam samsara.

Yang telah membangkitkan niat namun berbalik mundur, akan memasuki Neraka Vajra.

Yang telah membangkitkan niat, tekun menjaga Bodhicitta, tidak mengalami kemunduran, pastilah akan mencapai keberhasilan tertinggi (penerangan sempurna).


—

Artikel yang berhubungan (disarankan untuk dibaca):

Persembahan Tertinggi: Persembahan Dharma

—

Link artikel asli (berbahasa Mandarin):

http://www.tbsn.org/chinese2/article.php?id=5853&keyword=&backpage=&page=0


[1] Filsuf kenamaan dari China, di Indonesia sendiri serng disebut sebagai “Lao-tsu” penulis Kitab Dao De Jing (道德經 – Sutra mengenai Jalan dan Kebajikan). Di agama Buddha, Laozi merupakan emanasi dari Tai Shang Lao Jun, yaitu suciwan yang merupakan dewa tertinggi di dalam ajaran Taoisme.

[2] Salah satu filsuf kenamaan dari China

[3] Empat Kebenaran Mulia terdiri dari: Dukkha (苦), Sebab-sebab Dukkha (集), Akhir dari Dukkha (滅), dan Jalan (道) untuk mengakhiri Dukkha yang lazim disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan

[4] Aliran Tantrayana Zhen Fo Zhong/Tantrayana Satya Buddha (靈仙真佛宗), merupakan salah satu dari aliran Tantra Cina (sadhana menggunakan bahasa Mandarin) yang merupakan penggabungan dari beberapa sekte Buddhisme Tibetan (yaitu Sekte Nyingmapa (Sekte Merah), Sekte Gelugpa (Sekte Kuning), Sekte Sakyapa (Sekte Kembang), dan Sekte Kargyupa (Sekte Putih)), sekte Sukhawati dari aliran Mahayana, dan Taoisme.

[5] Tekad mencapai keBuddhaan

[6] Tekad dan keyakinan dalam menapaki jalan ke-Buddha-an

[7] Guru spiritual

[8] Makhluk suci yang paling dijunjung (sesuai preferensi pribadi masing-masing), yang telah mencapai Arus Nibbana (Arus Nirvana). Dalam Tantrayana, sangatlah penting untuk memilih Guru Spiritual yang tepat dan Adinata yang paling dipuja/dijunjung dalam awal tahapan bersadhana, untuk memperkokoh fondasi paling dasar. Di dalam Tantrayana terdapat berbagai macam sadhana, yang mana setiap sadhananya memiliki Junjungan (Adinata) yang berbeda-beda. Ketekunan bersadhana dan sradha yang tinggi terhadap Guru Spiritual sangatlah penting dalam mencapai keberhasilan dalam sadhana Guruyoga, dan terhadap Adinata dalam sadhana Adinatayoga. Dalam setiap jenis sadhana Adinatayoga dalam Buddhisme, pencapaian tertinggi adalah mencapai yoga (kontak batin) dan manunggaling-kawula-gusti dengan Junjungan (melebur menjadi satu dengan Junjungan: Junjungan adalah saya, saya adalah Junjungan, tidak ada perbedaan lagi) pada masing-masing sadhana tersebut

[9] Godaan nafsu kemelekatan terhadap hal-hal duniawi, baik dari dalam diri sadhaka (internal) maupun dari pengaruh kondisi yang dialami sadhaka/lingkungan di sekitar sadhaka (eksternal)

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »