Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Guru’


By : Grand Master Liansheng Sheng-Yen Lu

Translation :Meilinda Xu 莲花许月珊

Source : B231 –法王的大傳說

Image

Di masa lampau, Y.A. Atisa tiba di Jambi di Pulau Sumatra (Indonesia), dengan harapan dapat berbincang dengan Mahaguru Jinzhou.

Kedua telah tidak bersua selama dua belas tahun (atas alasan yang hanya dapat saling dipahami oleh keduanya).

Belakangan, mereka bertemu di sebuah acara perjamuan Sangha.

Y.A. Atisa segera melakukan mahanamaskara hingga lima bagian tubuh menyentuh tanah menghadap Mahaguru Jinzhou.

Mahaguru Jinzhou menggunakan tangan kanan menyentuh ubun-ubun Y.A. Atisa dan melantunkan ‘Syair Paripurna’.

Mahaguru Jinzhou bertanya, “Berhasilkah mempelajari bodhicitta maitri-karuna? Bisakah bertahan dalam dua belas tahun ini?”

Y.A. Atisa menjawab, “Bisa.”

Mahaguru Jinzhou menghadiahi pratima Sakyamuni Buddha yang paling lama dipujanya kepada Y.A. Atisa dan berkata, “Saya memberikan vyakarana padamu, kelak kamu akan menjadi pemimpin sebuah aliran.”

Di kemudian hari, Y.A. Atisa mendirikan sekte ‘Kadampa’.

Setelah kejadian itu, Y.A. Atisa benar-benar berguru kepada pengalaman selama dua belas tahun.

Mahaguru Jinzhou mengajarkan Y.A. Atisa :

  1. Abhisamayālamkāra nāma prajnāpāramitopadeśa śāstra
  2. Siksasamucaya
  3. Bodhisattvacharyavatara
  4. Melatih sadhana bertukar raga
  5. Tujuh bodhicitta

……

Demikianlah total dua belas tahun, menuntaskan mempelajari seluruh ajaran, terutama tiga kebijaksanaan, empat perbuatan, dan satu hasil dalam Abhisamayālamkāra nāma prajnāpāramitopadeśa śāstra, kesemuanya ditransmisikan tanpa ada yang dirahasiakan kepada Y.A. Atisa.

Y.A. Atisa berguru kepada pengalaman selama dua belas tahun, menuntaskan seluruh pembelajarannya, dan oleh sebab itu menghormati Mahaguru Jinzhou dengan penghormatan yang tiada bandingannya.

Saat Y.A. Atisa meninggalkan Mahaguru Jinzhou, beliau berkata, “Selama hidup ini, telah menerima ajaran yang begitu besar dari Mahaguru Jinzhou, merupakan budi terunggul, selamanya akan dijunjung di ubun-ubun.”

Tidak perduli apakah Y.A. Atisa sedang berada di India maupun di Tibet, asalkan mendengar ada orang yang menyebut nama Mahaguru Jinzhou, beliau pasti beranjali di ubun-ubunnya sendiri, mengumandangkan gatha pujian empat kata mengagungkan Guru luhurnya, setelah itu barulah berani mengucapkan nama Mahaguru Jinzhou.

Orang yang menyaksikannya bertanya, “Y.A. Atisa, anda pernah bersujud pada sangat banyak guru, mengapa anda sangat menghormati Mahaguru Jinzhou hingga se-spesial itu? Bagaimana dengan guru yang lain? Apakah ada perbedaan?”

Y.A. Atisa menjawab, “Guru Silsilah saya sangatlah banyak, kebanyakan di antaranya merupakan mahasiddha, jalan kebenaran mereka tidaklah ada perbedaan. Akan tetapi, di tempat Mahaguru Jinzhou, saya mendapatkan bodhicitta langka yang sangat mendalam, ini hanya dapat diperoleh melalui lautan pahala kebajikan dari Mahaguru Jinzhou, perbedaannya ada di dalam budi silsilah!”

Y.A. Atisa menyarankan para sadhaka :

“Jadilah orang yang tahu budi dan tahu membalas budi, jangan pernah mempelajari menggunakan benda tajam! Setelah belajar sedikit, sudah merasa dirinya sangat hebat, budi Guru luhurnya dilupakan secara tuntas tak bersisa. Lebih lanjut, malah mulai memarahi gurunya sendiri, memfitnah dan menjelek-jelekkan gurunya sendiri, orang seperti ini lebih rendah dibandingkan dengan orang awam, lebih rendah daripada hewan, bersiaplah turun ke Neraka Vajra!”

Y.A. Atisa berkata, “Tantrayana menitikberatkan di pemberian Silsilah dari Guru Silsilah, jika tidak mendapatkan silsilah resmi dan pengajaran dari Gurunya, belajar sendiri dari buku, rasanya seperti menggerogoti lilin.”

Sajak :

Semua orang mengetahui “Lima puluh Syair Abdi Guru”

Sungguh disayangkan, manusia zaman sekarang tidak begitu menghormatinya

Meremehkannya

Lantas bagaimana Guru bisa membabarkan apa yang dibutuhkan oleh hati

Tidak mencapai keberhasilan bersadhana

Hanya sesumbar

Karena pada dasarnya tidak paham menghormati Guru Luhur

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/   daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

——————————————————————————————————————-

阿底峽事師十二年 文 / 聖尊蓮生活佛

若干世前,阿底峽尊者到了蘇門答臘島的占碑,欲參訪金洲大師。
兩人十二個月未見面。(互審其器之故)
後來,在一次供養會中,見到了。
阿底峽尊者,馬上趨前向金洲大師行五體投地的大禮拜。
金洲大師用右手置尊者頂,誦:
〈吉祥頌〉 。
金洲大師問:
「能學慈悲菩提心耶?能住此十二年耶?」
阿底峽答:
「能。」
金洲大師將自己供奉最久的釋迦牟尼像,賜贈尊者,說:「我授記你,將來必成一教之主。」
阿底峽尊者後來創「噶當派」。

接著阿底峽尊者真的事師十二年之久。
金洲大師教阿底峽尊者:
一、《現觀莊嚴論》。
二、《集菩薩學論》。
三、《入菩薩行論》。
四、修自他互換法。
五、七菩提心。
……。

如此共十二年,盡學一切的教授,尤其《現觀莊嚴論》的「三智」 、 「四行」、「一果」,全部毫無保留的傳給阿底峽尊者。
阿底峽事師十二年,盡其所學,而且事奉金洲大師,無比的恭敬。
當阿底峽尊者離開金洲大師時,說:
「這一生,承金洲大師教誨至大,是第一具恩,永為自己的頂飾。」

阿底峽尊者不管在天竺或西藏,只要聽到有人提到金洲大師,他必合掌於自己頭頂,以四句頌讚揚自己的恩師,隨後才敢稱金洲大師之名。
見者問:
「阿底峽尊者,你禮拜過很多的師父,為何你對金洲大師如此的恭敬,而其他的師父呢?難道有差別嗎?」
尊者回答:
「我的傳承師父甚多,多是大成就者,道行是毫無差別的。但是我在金洲大師處,得了甚深稀有的菩提心,這是由金洲大師之恩澤才獲得的,這是承恩有別啊!」
阿底峽尊者曾勸修行人:
「做人要知恩報恩,千萬不要學劣法器,學了點滴,自己以為了不起,把自己師恩忘得一乾二淨。接著,反而罵起自己的師父,毀謗自己師父,這些人比俗人還不如,比禽獸還不如,只好下金剛地獄了!」
阿底峽尊者說:
「密教重在師承的教授,若無師承口授,白己看書,味同齧蠟。」
詩:
人人均知《事師法五十頌》
可惜今人沒有這麼尊重
輕忽了

師父又如何能傳心要

修法修不成
只有叮叮
因為根本不懂得師恩

蓮生活佛著作 盧勝彥文集 第231冊「法王的大傳說」

Read Full Post »



Sumber:
http://www.snowlionpub.com/pages/N64_4.html (Diakses tanggal 7 Mei 2010)

Publikasi ulang artikel ini adalah dengan seizin penulis asli dan Redaksi The SNOW LION Newsletter. Artikel asli berbahasa Inggris oleh Polly Turner (mantan editor Sangha Journal), penerjemah ke dalam bahasa Indonesia dan editor ahli oleh Mei Linda (FT UI ‘06), editor kebahasaan oleh Willy Dozan Wijaya (FIB UI ’08)

Menjapa satu mantra;

gerakkan jempol dan telunjukmu

sepanjang butiran mala berikutnya

dari untaian tersebut; kemudian ulangi.

Mala Budhisme Tibetan, atau yang sering juga disebut sebagai japamala atau niànzhū dalam bahasa Mandarin, merupakan alat untuk membantu praktisi dalam menghitung jumlah penjapaan mantra sekaligus membantu seseorang untuk dapat menjaga konsentrasi dan kesadaran agar tetap fokus. Ketika seseorang menggerakkan butiran mala dengan jarinya pada saat menjapa mantra dan memvisualisasikan sosok suci, maka orang tersebut sedang menjapa mantra dengan melibatkan tubuh, ucapan, dan pikiran sekaligus.

Instruksi dasar untuk menggunakan mala cukup sederhana. Bagaimanapun juga, meskipun terdapat banyak kemiripan antara ritual dalam tradisi Budhisme Tibetan dan Bön, terdapat juga banyak perbedaan pada satu tradisi dengan tradisi lainnya, bahkan pada sekolah Budhis itu sendiri. Adalah lebih baik jika anda mengonsultasikan mengenai serangkaian tatacara ritual dengan orang yang berpengetahuan di dalam tradisi anda.

Beberapa Dasar mengenai Mala



Mala dipegang dengan kelembutan dan penghormatan, umumnya di tangan kiri. Satu butiran melambangkan satu kali penjapaan mantra, dimulai dengan butiran pertama yang tersusun di dalam lingkaran untaian setelah butiran “Guru” – butiran yang paling besar dan lebih terdekoratif pada akhir untaian mala, dan butiran sunyata, yang terletak setelah butiran “Guru”. Butiran pertama pada lingkaran untaian dipegang di antara jempol dan jari tengah. Setiap satu kali penjapaan, jempol menarik butiran yang lainnya menggantikan posisi butiran sebelumnya pada posisi di antara jari tengah dan jempol.

Setelah menyelesaikan satu untaian penuh dari mala, praktisi memutar mala 180 derajat (hal ini memerlukan latihan) dan memulai kembali penjapaan seperti sebelumnya, dalam arah penarikan butiran yang berlawanan dengan yang sebelumnya. Jika penjapaan putaran pertama menggunakan jempol tangan kiri untuk menarik butiran, maka penjapaan putaran kedua menggunakan jempol tangan kanan untuk menarik butiran, dan demikian untuk putaran berikutnya secara bergantian. Hal ini dilakukan sebagai simbol untuk menghindari melangkahi butiran “Guru”, sama halnya seperti seorang praktisi tidak boleh melangkahi (catatan penerjemah: “melangkahi” dalam konteks ini memiliki arti meremehkan atau tidak menghormati) Gurunya sendiri.

=dalam gambar ini, butiran Guru adalah butiran yang bermotif, butiran sunyata adalah butiran setelah butiran Guru (yang lebih pipih)=

Menurut the Office of Tibet, kantor perwakilan Yang Mulia Dalai Lama di London, butiran Guru melambangkan kebijaksanaan dari sunyata. Butiran sunyata yang mengikuti butiran Guru dan terletak sebelum butiran pertama penjapaan adalah butiran yang melambangkan sunyata itu sendiri; bersama, kedua butiran ini melambangkan telah menundukkan semua lawan/rintangan.

=Japamala Tibetan (lengkap dengan Vajra Dorje, Vajra Gantha, Butiran Caturmaharajakayika, Butiran Guru, Butiran Sunyata, dan Rumbai benang Tangan Teratai=

Untuk membantu penghitungan penjapaan mantra, kebanyakan mala Tibetan dilengkapi dengan butiran pembatas dengan warna yang berbeda, yang membatasi lingkaran untaian dalam empat bagian yang sama. Pemakai juga dapat menambahkan sepasang ikatan penghitung pada mala sebagai alat tambahan untuk membantu penghitungan. Masing-masing ikatan tersebut terdiri dari benang ganda yang dikaitkan dengan sepuluh lempengan cincin kecil, yang biasanya terbuat dari perak, emas, atau perunggu, di mana ikatan ini biasanya digunakan untuk menghitung butiran ke sepuluh dan keseratus dari lingkaran untaian mala.

Alat penghitung ketiga juga dapat ditambahkan pada mala untuk mengawasi jumlah lingkaran penjapaan yang telah dilakukan. Seringkali menggunakan simbol roda atau batu permata, penghitung ini ditempelkan pada benang di antara dua butiran, yang kemudian dapat direlokasikan dari butiran yang satu ke butiran yang lainnya untuk menandai jumlah lingkaran penjapaan yang telah dilakukan.

=salah satu contoh pembatas jumlah lingkaran penjapaan pada japamala=

Pemilihan Mala

Sebuah mala yang dilengkapi 108 butiran dalam satu untaian lingkarannya digunakan untuk tujuan umum oleh kebanyakan praktisi Budhisme Tibetan. Butiran dari biji bodhi secara umum dipertimbangkan baik untuk digunakan dalam pencapaian berbagai tujuan dari latihan maupun penjapaan mantra, dan kayu cendana merah atau biji teratai juga direkomendasikan secara luas untuk pemakaian universal.

Umumnya, mala terdiri dari 108 butiran untuk satu lingkaran untaian, yang dibagi dalam empat bagian yang sama, di mana setiap bagiannya terdiri dari 27 butiran. Jadi, setiap satu lingkaran penuh untaian mala melambangkan 108 kali penjapaan mantra. Angka 108 ini melambangkan banyak makna yang penting, menurut Robert Beer*, sebagai berikut:

“Oleh zaman sebelum berkembangnya Budhisme, angka keramat 108 merupakan angka klasik yang melambangkan jumlah makhluk suci atau dewata dalam agama Hindu. Sebagai hasil kali dari 12 dengan 9, angka ini melambangkan sembilan planet yang berada dalam ruang cakupan 12 zodiak. Sebagai hasil kali 27 dengan 4, angka ini juga melambangkan empat bagian bulan pada setiap 27 mansion atau konstelasi bulan. Sembilan juga merupakan angka ajaib, di mana setiap angka yang dikalikan dengan sembilan akan menghasilkan serangkaian angka yang jika dijumlahkan akan menghasilkan angka sembilan juga. Dalam Pranayana Yoga, terhitung bahwa seseorang melakukan pernafasan sebanyak 21.600 kali dalam siklus 24 jam, yang terdiri dari 60 periode dari 360 kali pernafasan; maka dari itu, siklus 12 jam pada siang hari sama dengan 10.800 pernafasan. Jumlah 108 butiran juga memastikan bahwa sedikitnya seratus kali penjapaan mantra telah dilakukan dalam satu lingkaran penuh untaian mala.”

Di samping kegunaan mala yang telah dideskripsikan di atas, ada beberapa jenis mala yang dianggap cocok digunakan untuk berbagai tujuan.

Mantra dapat dijapa untuk empat tujuan yang berbeda: untuk menenangkan, untuk meningkatkan, untuk mengatasi, atau untuk menjinakkan sesuatu secara paksa, menurut the Office of Tibet di London, yang mana juga menawarkan pedoman tambahan dalam memilih mala yang tepat untuk tujuan-tujuan tersebut:

Mala yang digunakan menjapa mantra untuk menenangkan harus terbuat dari butiran-butiran kristal, mutiara atau induk mutiara, dan setidaknya harus berwarna putih atau bening. Mala yang digunakan untuk tujuan ini harus memiliki setidaknya 100 butiran seperti itu. Mantra yang dihitung pada butiran-butiran ini bermanfaat untuk menghapus rintangan, seperti penyakit dan bencana lainnya, dan memurnikan seseorang dari ketidaksehatan.

Mala yang digunakan menjapa mantra untuk tujuan peningkatan harus terbuat dari emas, perak, tembaga, atau biji teratai, dan seluruh 108 butiran mala harus terbuat dari bahan-bahan tersebut. Mantra yang dihitung pada butiran ini bermanfaat untuk meningkatkan rentang hidup (memperpanjang umur), pengetahuan, dan status sosial (jabatan/kehormatan).

Mala yang digunakan menjapa mantra untuk tujuan mengatasi dibuat dari kayu cendana, kunyit, dan bahan-bahan alami lainnya yang memiliki keharuman. Mala ini terdiri atas 25 butiran. Mantra yang dihitung pada butiran ini bertujuan untuk menjinakkan yang lain, namun motivasi melakukannya haruslah merupakan keinginan yang murni untuk membantu makhluk hidup lainnya dan tidak dengan maksud untuk keuntungan pribadi.

Mala yang digunakan untuk menjapa mantra untuk tujuan menundukkan makhluk dengan paksa harus terbuat dari biji raksha atau tulang manusia dengan jumlah 60 butiran dalam satu untaian lingkaran mala. Lagi-lagi, tujuan melakukan ini haruslah dengan dasar kepentingan orang lain, dan satu-satunya orang yang mampu melakukannya hanyalah Bodhisatva yang termotivasi oleh rasa welas asih yang besar untuk makhluk yang tidak dapat dijinakkan dengan cara lain, sebagai contohnya adalah arwah yang rasa dendamnya sangat besar, atau malapetaka universal, yang divisualisasikan sebagai bola hitam yang padat.

Butiran yang terbuat dari biji atau kayu Bodhi dapat digunakan menghitung segala jenis mantra untuk berbagai tujuan, seperti mendoakan, mengatasi stress, mengharapkan kelancaran dalam suatu proses kondisi yang berulang, dan sebagainya**.

Tradisi spiritual Tibetan yang berbeda dapat juga memberikan pedoman yang berbeda dari yang telah diberikan di atas. Sebagai contoh, dalam tradisi Bön, mala dari biji Bodhi dianjurkan untuk keempat tujuan di atas; dan untuk aktivitas penentraman, direkomendasikan untuk menggunakan mala dengan 100 butiran kristal, kulit kerang, atau lapis lazuli. Untuk aktivitas peningkatan, disarankan menggunakan mala yang terdiri dari 108 butiran emas atau perak; untuk aktivitas kekuatan mengatasi, sebaiknya menggunakan mala dengan 50 butiran batu karang, tembaga, atau kayu cendana merah; dan untuk aktivitas penaklukan, mala dengan sepuluh butiran dari biji rudraksha direkomendasikan***. Biji rudraksha adalah buah kering dari pohon rudraksha yang tumbuh di Indonesia, Nepal, dan India; bentuknya bulat dan berbintik-bintik, dengan tonjolan berbutiran kecil-kecil, dan berukuran diameternya antara seperempat inci hingga lebih dari satu inci.

=Dua contoh japamala dari biji rudraksha=

=biji rudraksha=

Sering dianjurkan bahwa mala yang terbuat dari tulang – baik tulang manusia maupun hewan –hanya boleh digunakan oleh yogi yang telah mencapai pencerahan, karena objek ritual yang terbuat dari tulang dipercayai digunakan untuk menampung efek karma.

Beberapa Kata Mengenai Mantra

Siapa yang menjapa mantra, bagaimana mantra tersebut dijapa, niat seseorang ketika menjapanya – kesemuanya merupakan pertimbangan yang sangat penting. Dalam beberapa kasus, juga perlu dipertimbangkan siapa saja yang berada dalam jarak pendengaran saat seseorang sedang menjapa mantra. Bardor Tulku Rinpoche mencatat bahwa dalam tradisi Kagyu, adalah dapat diterima dalam berbagai kondisi untuk menjapa mantra dengan lantang, bahkan ketika orang lain yang tidak mengerti atau menghormati kekeramatan dari mantra tersebut dapat mendengarnya. Bagaimanapun juga, sejumlah tradisi lainnya menetapkan bahwa penjapaan mantra tertentu yang sangat berkekuatan haruslah dirahasiakan sama sekali.

Beberapa praktik memerlukan praktisi untuk menjapa mantra tertentu sebanyak 100.000 kali, atau bahkan sejuta kali. Karena sebuah mantra merupakan kumpulan dari intisari kekuatan pengajaran spiritual yang luar biasa, yang diringkas menjadi beberapa suku kata, sehingga lebih mudah untuk menduga seberapa besar kekuatan dari menjapa hanya sebuah mantra berulang kali hingga sebanyak itu. Orang yang melakukan penjapaan dengan penuh kesungguhan hati, dengan tetap menjaga samadhi di dalam pikiran mereka saat menjapa, dan menyandarkan diri pada kekuatan pemberkahan/adhistana (blessing), kekuatan abhiseka (empowerments), dan instruksi dari Guru yang berkualitas, akan memiliki kesempatan untuk membuktikan kekuatan dari pemberkahan dan mantra dengan lebih cepat.

Catatan kaki:

*     Dari The Encyclopedia of Tibetan Symbols and Motifs, oleh Robert Beer, Boston: Shambala, 1999.

**  Dicetak ulang dengan izin dari www.tibet.com, website dari the Office of Tibet, kantor perwakilan Yang Mulia Dalai Lama di London.

*** Detil mengenai aliran Bön dalam artikel ini bersumber dari Yang Mulia Lungtok Tenpai Nyima, kepala spiritual dari tradisi Bön Tibetan; dipublikasikan dengan seizin Sherab Palden dan Judy Marz.

Penerjemahan artikel ini didedikasikan untuk semua makhluk, semoga jasa kebajikan yang diperoleh dari artikel ini dapat menjadi karma baik penyebab tercapainya penerangan sempurna bagi semua makhluk. Sadhu, sadhu, sadhu.

Read Full Post »