Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘jangan bunuh diri’


(Disadur dari Buku Karya Shengyen-Lu ke-34 — “Rahasia Tumimbal Lahir”)

Judul asli: 自杀绝非解脱 (节录自莲生活佛卢胜彦文集第34册 “轮回的秘密”)

Diterjemahkan oleh: Meilinda Xu

Pada suatu hari, ada tiga teman baik dari Taipei yang datang berkunjung. Salah satu di antaranya membawa serta seorang rekan kerja wanita. Hubungan mereka berdua bagaikan api yang membara, sekental teh yang kaya rasa. Rekan wanita tersebut masih sangat belia, kira-kira dua puluh lima tahun. Saat sesi perkenalan, ternyata ia bermarga Zhu, bernama Li. Marga dan namanya hanya dua kata, sangat mudah diingat. Perawakan Zhuli sangatlah anggun, rambutnya halus dan panjang, tutur katanya sopan dan kalem, memiliki aura kawula muda, memancarkan pesona gadis muda yang spesial dan menawan. Dari tingkah laku dan ucapannya, saya berpendapat bahwa teman baik saya ini sangat pandai dalam menjatuhkan pilihannya, karena Zhuli adalah seorang wanita yang memiliki keanggunan dan aura elegan yang mendalam.

Kami semua duduk mengobrol santai di ruang tamu saya. Suasananya sangat menyenangkan dan membaur. Setelah beberapa lama, saya menyadari bahwa ada yang aneh dengan Zhuli, karena jarinya menekan kepalanya, dan wajahnya dari merah merona berubah menjadi pucat pasi. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia sedikit kesakitan dan kesadarannya menurun. Ia bahkan tidak mengikuti topik obrolan kami. Ia mendadak jadi pendiam sehingga kami semua melihat ke arahnya. Kelihatannya ia sudah tidak mampu menahan rasa sakitnya, sekujur badannya mulai gemetar.

“Zhuli, ada apa?” teman baik saya bertanya dengan cemas.

Ia menggelengkan kepalanya, tidak mampu berbicara. Kami menyadari bahwa kondisinya tidaklah baik. Kami bersiap-siap untuk mengangkatnya ke dalam kamar dan memberikan pertolongan darurat. Saya ingin menelepon teman saya yang berprofesi sebagai seorang dokter untuk datang memeriksanya. Di saat inilah, tiba-tiba kondisi Zhuli membaik, ia meluruskan pakaiannya dan duduk dengan tegak, tangannya tidak lagi menekan kepalanya. Sepasang matanya memancarkan sejenis cahaya yang aneh. Cahaya ini sangat unik, warnanya kebiru-biruan, dan bergemerlapan.

“Lu Shengyen, apakah kamu masih mengenali saya?” mendadak kata-kata ini keluar dari mulut Zhuli, membuat kami semua merasa tercengang.

“Ada apa, Zhuli?” teman baik saya menjadi lebih panik.

“Saya bukan Zhuli, nama saya adalah Ou Xiuluan. Tuan Lu, saya adalah Ou Xiuluan! Saya pernah membaca banyak buku karya Anda tentang roh. Oleh karena itu, saya mondar-mandir dua puluh empat jam di depan pintu rumah Anda, tidak dapat masuk ke dalam rumah Anda. Hari ini akhirnya saya menemukan satu kesempatan, gelombang arwah nona Zhuli ini dekat dengan gelombang arwah saya, sehingga saya dapat menempeli dirinya dan masuk melewati pintu rumah Anda. Tuan Lu, Anda adalah orang yang bermaitri karuna, mohon jangan diambil hati.”

Saat mendengar kata-kata ini, kami berempat kaget setengah mati hingga hampir kabur keluar rumah. Teman baik saya terus-menerus menggosok-gosokkan kedua tangannya dan berujar tanpa henti, “Bagaimana ini? Bagaimana ini? Bagaimana ini? Kenapa bisa jadi begini.”

Saya terlebih dahulu menenangkan mereka bertiga, sambil menjelaskan bahwa ini adalah gejala “ditempeli arwah”. Jangan panik, biarkan saya yang menanyainya. Mengenai menyelesaikan permasalahan yang seperti ini, saya adalah orang yang berpengalaman.

“Nona Ou Xiuluan, kenapa Anda bisa meninggal?”

“Meminum racun membunuh diri.”

“Mengapa anda bunuh diri dengan meminum racun?”

“Terbelenggu oleh masalah asmara.”

“Sekarang Anda datang mencari saya, ada tujuan apa? Harusnya Anda mengerti tata krama, mana bisa suka-suka menempeli tubuh teman saya. Jika ia menjadi sakit pikiran karena hal ini, dosa Anda tidaklah ringan.”

“Maafkan saya, Tuan Lu, saat saya masih hidup, saya pernah membaca buku Anda. Setelahnya saya dicampakkan oleh pacar saya, sakitnya tak tertahankan hingga saya meminum racun membunuh diri agar dapat terlepaskan dari penderitaan tersebut. Setelah meninggal, arwah saya tidak ada sandaran dan pegangan. Derita akibat meminum racun selamanya muncul di depan mata saya. Saya menyesal, saya tidak seharusnya membunuh diri. Karena, bunuh diri tidak hanya tidak dapat menyelesaikan penderitaan, malah deritanya menjadi berlipat ganda, karena sensasi sakit yang timbul saat menelan racun tersebut harus dirasakan kembali, setiap hari diulangi sekali. Karena inilah, saya terlunta-lunta datang dari nun jauh hingga kemari, bergentayangan di depan pintu rumah Tuan, tertahan di luar pintu. Kesempatan hari ini sungguh langka, saya terpaksa menerobos bahaya. Hari ini saya berharap Tuan dapat berbelaskasihan menolong menyeberangkan saya, agar saya dapat meninggalkan alam penderitaan ini.”

“Apakah penderitaan setelah meninggal karena bunuh diri lebih berat daripada penderitaan saat masih hidup?”

“Lebih berat dari penderitaan semasa hidup sebanyak ratusan kali lipat, ribuan kali lipat, jutaan kali lipat. Di saat yang bersamaan, arwah yang mati bunuh diri akan dihina di kota arwah mana pun ia berada. Tuan Lu, mohon Anda mengabulkan permohonan saya, tolong seberangkan saya,” ia hampir meneteskan air mata.

“Baiklah! Saya berjanji pada Anda, saya akan melakukan semampu saya. Sekarang, mohon agar Anda segera meninggalkan tubuh Zhuli, untuk mencegah akibat Anda ‘merasuki’ dirinya terlalu lama, ia menjadi tidak mampu menahan beban ini. Segeralah pergi, segeralah pergi.”

Setelah beberapa saat, sepasang mata Zhuli kembali tertutup, badannya lunglai dan jatuh ke sofa, sekujur tubuhnya sama sekali tidak ada energi, kepalanya berat dan pusing. Kira-kira setengah jam kemudian, setelah meminum teh, ia pun berangsur-angsur kembali normal; kami menanyai dia kejadian yang tadi, ia mengatakan bahwa ia hanya merasakan kepalanya sangat sakit dan sangat pusing, kemudian ia tertidur, dan tidak tahu apa-apa lagi.

Melalui kejadian ini, terbuktilah satu kalimat di dalam Kitab Catatan Pengadilan Akhirat Menasihati Dunia sebagai berikut: “Jika ada manusia di bumi, melupakan bahwa Langit dan Bumi melahirkan manusia, dan juga budi besar orang tua yang membesarkan manusia, hidup di dunia namun belum membalaskan empat budi besar, tanggal kematiannya belum tiba, namun oleh karena ganjalan sepele hingga membunuh diri, menyayat diri sendiri atau menggantung diri, meminum racun atau menenggelamkan diri, dan yang sejenisnya, yang selain karena kesetiaan dan pengabdian diri demi kebaikan sehingga membunuh diri, dan yang selain mengorbankan nyawanya dalam kondisi krisis, manusia tidak boleh membunuh diri karena kebencian akibat masalah kecil, atau karena ingin melarikan diri dari hukuman pidana, atau pura-pura bunuh diri namun benar-benar meninggal, atau terpaksa bunuh diri karena dirundung kemiskinan dan penyakit yang menemui jalan buntu. Orang-orang yang demikian, setelah meninggal, arwahnya akan masuk ke neraka setan kelaparan dan kehausan, setiap hari pukul 19.00-23.00 akan dihukum mengulangi adegan kematiannya beserta penderitaan kematiannya satu kali, dan arwahnya akan menempel di tempat ia membunuh diri, sulit untuk terseberangkan.”

“Bunuh diri sama sekali bukanlah jalan pembebasan”, inilah artikel pertama yang saya tulis di dalam buku karya saya yang satu ini. Penulis dapat merasakan penderitaan hidup di dunia manusia, namun penderitaan hidup manusia tidak dapat diatasi dengan bunuh diri. Orang awam mengira bahwa segalanya tuntas setelah meninggal, kematian merupakan salah satu wujud pembebasan. Sebenarnya, pandangan seperti ini tidaklah benar. Bunuh diri tidak melahirkan pembebasan, dunia manusia memiliki syarat dan kondisi, tidaklah mudah melarikan diri darinya. Kita sebagai manusia yang hidup di dunia ini harus menghadapi kenyataan, jadilah seorang ksatria yang tidak menyerah walaupun diterjang cobaan bertubi-tubi.

Saya merasa bahwa saya memiliki tanggung jawab untuk menuliskan sebuah buku yang seperti ini, yang menjelaskan tentang ‘wajah asli dari tumimbal lahir’. Tujuan saya adalah menasihati umat manusia agar ‘hindari segala kejahatan, lakukan segala kebajikan’. Jika semua umat manusia di muka bumi ini dapat mengenali ‘tumimbal lahir’, maka di dalam hati seluruh umat manusia secara otomatis akan ada kesadaran akan kewaspadaan, setiap orang akan menjadi orang baik, sehingga tidak ada lagi orang jahat. Dengan demikian, ke atas akan selaras dengan niat Langit, ke bawah akan mengabulkan kehendak manusia. Bukankah dunia manusia akan berubah menjadi Sukhavatiloka?

Oleh karena ‘indera roh’ saya yang istimewa, saya memastikan bahwa selain tubuh jasmani, saya masih punya satu lagi yaitu ‘nyawa roh’ yang sejati. Nyawa saya yang sejati didasarkan pada ‘Dia’ sebagai pusatnya, untuk mengembangkan untaian tulisan yang bermakna di dalam kehidupan manusia. Oh, semoga! Semoga manusia di muka bumi ini dapat memahami jerih payah saya dan ketulusan hati saya. Dengan demikian, saya sudah puas! Biarlah kuas gundul saya ini mengupas habis asal muasal kehidupan, memasuki rintangan hidup dan mati, alam tumimbal lahir, untuk menguak satu demi satu rahasia yang tersembunyi ini!

Read Full Post »


diterjemahkan dari buku karya Sheng-Yen Lu ke-006 “Tenang dan Pikirkan dengan Seksama”

Translation :Meilinda Xu 莲花许月珊

ShiZun (Mahaguru)

Pernah ada yang menanyai saya, “Master Lu, tolong katakan sejujurnya pada kami, pernahkah Anda terpikirkan untuk bunuh diri?”

Saya menjawab, “Ada.” Saya berkata, “Saya mengatakan yang sejujur-jujurnya kepada kalian, saat saya kelas enam SD, saya pernah melakukan usaha bunuh diri satu kali.”

“Hah!” Semuanya sangat kaget.

Saya juga memberitahukan yang sebenarnya kepada mereka, “Adik kandung saya, Lu Zhaorong, adalah karena bunuh diri dengan meminum kalium sianida, sehingga meninggal.”

Begitu para hadirin mendengarnya, semuanya termangu-mangu dan terdiam.

Saya berkata:

Menurut seorang pakar psikologi ternama, di antara manusia terdapat orang yang cenderung melakukan bunuh diri, contoh nyatanya tidaklah sedikit. Orang yang memiliki kecenderungan pikiran ingin bunuh diri, itu terlebih lagi tidak sedikit.

Masih untung, begitu pikiran ingin bunuh diri muncul, segeralah padamkan dalam sekejap melalui pengertian. Jika tidak padam dan kembali lagi, manusia sebentar saja sudah mati bunuh diri semua.

Akhir-akhir ini saya menulis banyak artikel, menghimbau masyarakat, jangan ada pikiran menyepelekan nyawa, tidak boleh bunuh diri.

Saya adalah orang yang telah terbangun rohnya, saya tahu bahwa arwah yang meninggal karena bunuh diri, penderitaannya berkali lipat dibandingkan arwah lainnya, setelah meninggal bunuh diri, sangat susah mendapatkan kesempatan terlahir kembali, karma buruknya lebih berat. Itu merupakan karma berat karena membunuh makhluk hidup, menempati nomor satu dari lima sila pantangan.

Meskipun karma arwah bunuh diri telah berkurang, saat terlahir kembali menjadi manusia, juga akan terlahir sebagai orang cacat yang bisu, tuli, dan buta, atau cacat otak, kaki, tangan. Hidup di dunia, penderitaannya juga berlipat!

Orang yang meninggal karena bunuh diri, sejujurnya tidak akan mampu memperoleh rasa iba dari manusia di dunia!

Jangan-jangan malah membuat orang yang ingin menyingkirkan anda tersebut berjabat tangan erat dan lebih bergembira. Kerabat menderita, musuh bergembira, apa untungnya? Meninggalnya anda hanyalah sebuah kesia-siaan.

“Sudah menemui jalan buntu, harus bagaimana?”

Saya berkata, “Carilah kebahagiaan ‘di saat sekarang’! Jalan hidup manusia harus dilalui dengan bahagia hingga akhir.” “Dipermalukan, tekanan besar, sangat menderita, harus bagaimana?” Saya berkata, “Buddha mengajari kita ksanti-paramita, setelah lulus ujian kesabaran, maka akan bisa mencapai daratan seberang.”

Sekarang saya berpikir, asalkan tidak meninggal, kegembiraan dan kebahagiaan masih bisa datang. Namun jika telah mati, bahkan harapan pun sudah tidak ada lagi. Oleh karena itu, janganlah membuang nyawa, itu baru benar.

~ Tulisan ini diambil dari buku karya Sheng-Yen Lu ke-158 “Pemikiran di bawah lentera yang sepi”


********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »