Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘mempertanggungjawabkan kepada Bodhisattva’


diterjemahkan dari buku karya Grand Master Sheng-Yen Lu ke-006 “Tenang dan Pikirkan dengan Seksama”
Translation : Meilinda Xu 莲花许月珊

Mahaguru Buddha Hidup LianSheng Sheng-Yen Lu

Hari ini kita membahas mengenai yang hal yang ditemui dan didengar oleh Biksulama Lianjin di Hongkong.

Saya ingat dulu saya pernah mengunjungi rumah Acarya Changren di Hongkong, rumahnya di Gunung Cheyun, ruang pribadinya sama seperti yang diceritakan oleh Biksulama Lianjin yaitu hanya satu ruangan dengan satu beranda, bahkan tempat untuk menjemur pakaian pun tidak ada; oleh karena itu mereka menjulurkan keluar bambu jemuran dari ruangannya dan menggantungkan pakaiannya hingga penuh, dilihat dari jalanan seperti lautan bendera. Ow! Ini adalah bendera jutaan negara di Hongkong.

Orang-orang ini sangatlah miskin, namun juga ada yang kaya. Kesenjangan sosial antara yang kaya dan miskin cukup besar. Di antara para siswa Tantrayana Satya Buddha juga ada yang sangat kaya, orang yang sangat kaya datang mengendarai mobil Rolls Royce, luas tempat tinggalnya meliputi setengah gunung, rumah bergaya Barat yang sangat besar, di dalamnya masih ada lift, gonta-ganti supir, rumahnya mempekerjakan pelayan, ruang tamunya juga sangat mewah, kesenjangan yang kaya dan miskin terlalu besar, sebagian orang sudah sangat bersyukur memiliki tempat tinggal!

Vihara Vajragarbha Hongkong pernah memiliki “Yayasan Welas Asih Sheng-Yen Lu”. Pada musim dingin, mereka pernah meletakkan sangat banyak kasur dan selimut kapas di lantai dasar gedung berkuda. Anda dapat melihat para fakir miskin segera mencari tempat yang nyaman, di malam harinya mereka menggelar selimut kapas dan tidur di atasnya, tidak punya rumah untuk pulang. Begitu para pekerja Vihara Vajragarbha Hongkong berkunjung, di setiap tempat, setiap pekerja vihara menggelar kasur selimut kapas untuk mereka, ini adalah melakukan perbuatan welas asih.

Biksulama Lianjin masih belum pernah melihat bahwa di Hongkong ada hal seperti ini. Ia menyewa sebuah lokasi tidur, di samping lokasi tidur tersebut, semuanya adalah jaring besi, mendirikan sebuah ranjang. Jaring besi ini juga mempunyai pintu jaring besi, ada kait penguncinya. Barang bawaannya diletakkan di atas kasurnya. Saat ingin tidur di malam hari, maka pulang membuka kunci pintu dan masuk untuk tidur. Pintunya dikunci saat pergi bekerja pada pagi hari, hanya ada sebuah lokasi tidur saja! Ada yang tidak memiliki tempat tinggal, juga ada yang hanya memiliki sebuah lokasi tidur. Sudah sangat bagus jika kita menemukan sekeluarga tidur bersama dalam hanya sebuah ruangan dengan satu beranda.

Sebenarnya tidak perlu pergi ke Hongkong untuk melihatnya. Anda pergi ke New York juga dapat melihatnya. Ada sangat banyak gelandangan yang tidak memiliki rumah, sangat banyak pelajar yang keluarganya tidak punya banyak uang, namun saat belajar, seperti temannya Foqing (anak perempuan Mahaguru), menyewa sebuah tempat seharga 600 sen – USD 0.600. Tempat yang disewa seharga USD 0.600 di New York adalah tempat yang seperti apa? Adalah sebesar kamar mandi anda saja! Tempat yang sebesar kamar mandi itu punya satu pintu masuk, adalah tempat yang hanya sebesar itu! Satu setengah tatami, lebih kurang hanya satu setengah tatami saja. Tinggal di sana, mandi dan buang air di toilet umum. Di New York juga ada.

Oleh karena itu, pada saat ini, lihatlah kehidupan-kehidupan yang seperti ini. Masih ada yang lebih menderita daripada ini! Walaupun demikian, di Hongkong dan New York masih terdapat bahan makanan. Anda pergilah ke Afrika dan lihatlah penduduk yang menderita kelaparan. Pergilah ke tempat pengungsian. Mereka mendirikan tenda, semuanya tinggal di dalam, di dalam tenda tersebut.

Tadi Biksulama Lianjin juga melihat orang Hongkong yang seperti itu, sebenarnya dulu saat saya ke Hongkong juga sering berkata seperti ini,  “Bagaimana bisa seperti ini? Di jalanan Hongkong,di dalam kota, bagaimana bisa setiap hari ada begitu banyak orang berjalan ke sana kemari, tidak satu detik pun pernah berhenti? Orang-orang berlalu lalang di jalanan, berjalan ke sana kemari, berjalan ke sana kemari, orang yang itu-itu juga, mengapa bisa ada begitu banyak orang yang kurang kerjaan, melintas di jalanan?”

Saya juga memiliki perasaan seperti ini, untuk apa mereka berlalu lalang di jalanan (Mahaguru tertawa)? Setiap orang memiliki tujuan yang berbeda, tidak semua orang demi memiliki tempat tinggal (Mahaguru tertawa): tadi Biksulama Lianjin mengatakan bahwa ia melihat setiap orang berusaha demi mampu memiliki sebuah tempat tinggal, sebenarnya itu benar bagi sebagian dari mereka, sebagian lagi malah untuk sandang pangan – berpakaian, makan, bekerja.

Saya sering tidak habis pikir kenapa mereka berlalu lalang di jalanan. Suatu hari saat saya berada di Villa Pelangi di dekat sebuah sarang semut, saya melihat banyak semut berlalu lalang di sana, akhirnya saya mengerti mengapa mereka berlalu lalang (Mahaguru tertawa), karena semut juga setiap hari berlalu lalang di sana! Lantas, apa bedanya manusia dan semut?

Mengapa mereka melintas di sana? Cuaca begitu dingin, mengapa tidak bersembunyi di rumah sendiri, di luar berlalu lalang untuk apa? Melihat segerombolan besar semut berlalu lalang di sana, maka anda akan mengerti mengapa manusia berlalu lalang di jalanan, adalah karena alasan yang sama.

Segala makhluk hidup adalah demi mempertahankan hidup, yang disampaikan dalam dharmadesana tadi juga bagus, kita hidup di sini lebih tidak khawatir. Pangan, sandang, papan, sadhana – punya tempat tinggal, setiap orang di sini memiliki tempat yang dapat ditinggali. Di sisi makanan tidak ada yang perlu anda khawatirkan. Sisi pakaian juga tidak perlu dikhawatirkan. Sisi sadhana juga sama.

Bhaktisala Altar Utama Caodun Leizangsi di Kota Caodun, Taiwan

Oleh karena itu, kadang kala perlu memahami, bagaimana orang lain melewati hidupnya? Lalu, bagaimana kita melewati hidup kita? Kita melewati hidup seperti ini, adakah maknanya? Di manakah maknanya? Tujuan anda sendiri di mana? Maknanya di mana? Di dalam kehidupan yang sekarang ini, apa yang ingin anda lakukan? Lalu, apakah tugas dan tanggung jawab setiap hari telah diselesaikan? Kegunaan hidup anda setiap hari apakah telah dimanfaatkan sebaik-baiknya? Kegunaan kehidupan anda yang sekarang ini apakah telah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya? Setiap hari hendaknya berpikir seperti ini, sehingga tidak terlalu menyia-nyiakan waktu, tidak akan dapat membiarkan waktu dilewatkan begitu saja dengan sia-sia.

Sangat cepat! Anda berpikir sekarang anda masih sangat muda, tidak terpikirkan masa depan. Pada saat saya baru datang dari Taiwan ke Amerika – usia 38 tahun, saya juga tidak pernah memikirkan masa depan. Saat itu saya tidak pernah memikirkan masa depan saya akan seperti apa, tidak pernah mencoba memikirkannya, namun dengan cepat waktu telah terlewatkan! Saya merasa saya sangat muda saat saya berusia 38 tahun, beginilah kehidupan manusia.

Oleh karena itu, anda mampu dari usia 38 tahun, menempuh hidup hingga 50 tahun. Begitu mengedipkan mata, sudah 70-an tahun. Pada saat usia 80-an, anda mampu mengeluarkan sesuatu barang untuk diperlihatkan kepada orang-orang, katakanlah anda benar-benar memiliki sesuatu barang, poin ini sangatlah penting! Tidak boleh saat anda telah berusia 70 atau 80 tahun, yang anda hasilkan masih tetap sama seperti ketika anda berusia 20 tahun.

Oleh karena itu, kita mempelajari Buddha Dharma juga tetap harus menyerahkan rapor, bersadhana juga harus menyerahkan rapor; pada saat tiba usia senja, nilai rapor yang diperlihatkan berwarna hijau, lulus, bukan setiap mata pelajaran mendapat nilai merah, tidak lulus.

Dapat juara satu sangatlah baik! Namun juga tidak boleh juara satu dari belakang. Dapat juara satu sangatlah baik, setelah dihitung-hitung, cuma ada anda seorang, tentu saja dapat juara satu! (Mahaguru tertawa) Namun tidak boleh dapat juara satu dari belakang. Kehidupan kita sebagai manusia juga harus menyerahkan rapor, namanya rapor kehidupan manusia.

Tidak menyia-nyiakan kehidupan ini mesti bagaimana? Adalah pada saat rapor kehidupan manusia diperlihatkan, nilai setiap mata pelajaran adalah lulus. Dengan demikian anda dapat mempertanggungjawabkannya kepada para Buddha dan Bodhisattva di Vihara Vajragarbha ini, karena anda tinggal di sini, hidup di sini. Yang anda makan adalah milik Bodhisattva, yang anda tinggali adalah rumahnya Bodhisattva, yang anda pakai adalah milik Bodhisattva, bepergian menggunakan kendaraan milik Bodhisattva! (Mahaguru tertawa) Anda hidup dengan memandang wajah Bodhisattva, rapor anda nanti, harus anda serahkan kepada Bodhisattva!

Om Mani Padme Hum.

~ Tulisan ini diambil dari bagian pendahuluan buku karya Sheng-Yen Lu “Lagu Buddha hidup (1)”

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »