by Grand Master Sheng Yen Lu
Translation : Meilinda Xu 莲花许月珊
source : B216 – Q&A from the Contemporary Dharma King
Ada yang bertanya, “Di dalam buku ‘Arsip Rahasia Sheng-Yen Lu”, Mahaguru Lu telah membeberkan banyak rahasia yang belum diketahui orang banyak, meliputi apakah anda merupakan anak yang lahir prematur hingga apakah sering dipukuli saat masih kecil. Sebenarnya, banyak orang juga memiliki ingatan masa kecil yang tidak bahagia, malahan menjadi bayang-bayang gelap. Apakah Buddha Dharma memiliki cara untuk mengatasi masalah psikologis seperti ini?” Saya menjawab, “Asalkan dapat menyelami Buddha Dharma, memahami hati dan menyaksikan Buddhata, maka tidak hanya bayang-bayang gelap penderitaan masa kecil, bahkan siksaan penderitaan seumur hidup, dapat diatasi.” Saya mengatakan: Di dalam kehidupan manusia, penderitaan lebih banyak dari kebahagiaan. Di dalam Sutra Buddha, sering dikatakan: Kelahiran merupakan dukkha. Masa kanak-kanak merupakan dukkha. Masa muda dan masa tua, kehilangan pasangan hidup, harta, kebahagiaan, dipenuhi kedukaan. Beban pikiran merupakan dukkha. Sakit merupakan dukkha berkali lipat. Penuaan lebih merupakan dukkha. Meskipun telah memiliki “harta”, saat kehilangan semakin menderita. Meskipun telah memiliki “nama besar”, banyak menuai keiri-hatian dan kabar simpang-siur, juga menderita. Meskipun telah memiliki “wajah rupawan”, begitu mengedipkan mata sudah berlalu, ini juga dukkha. Dan juga, “harta”, “nama”, “rupa” hanya dapat dimiliki dalam waktu singkat saja, saat kehilangan, penderitaannya berkali lipat. Keseluruhan delapan dukkha adalah: Dukkha kelahiran, dukkha penuaan, dukkha penyakit, dukkha kematian, dukkha cinta jangan meninggalkan kita, dukkha dendam kebencian, dukkha karena tidak mendapatkan yang diinginkan, dukkha akibat pancaskandha. Jika sudah mendapatkan yang diinginkan? Bukankah itu sudah tidak menderita lagi? Sebenarnya belum tentu demikian, karena setelah mendapatkan yang diinginkan, takut kehilangan lebih merupakan penderitaan. Gatha pujian kepada Samantabhadra Bodhisattva berbunyi demikian: Waktu akan segera berlalu. Nyawa akan segera berakhir. Bagaikan ikan kekurangan air. Adakah kebahagiaan? * Setelah mendiskusikan begitu banyak dukkha, kemudian, bagaimanakah Buddha Dharma dapat mengatasinya? Sutra Vajrachedika berkata: Segala Dharma yang terkondisi. Bagaikan gelembung bayangan ilusi. Bagaikan embun dan kilat. Seharusnya berpandangan demikian. Maksudnya adalah, melihat dukkha sebagai mimpi, ilusi, gelembung, bayangan, bukan merupakan sesuatu yang kekal. Melihat dukkha bagaikan embun, kilat, cahaya, batu dan api, dengan segera akan lenyap. Juga berarti: Sama halnya dengan ilusi, dengan cepat akan segera berlalu! Masih ada cara mengatasi yang lebih baik. Sutra Vajrachedika menyebutkan: Tiada yang namanya aku, tiada yang namanya orang, tiada yang namanya insan, tiada yang namanya jiwa. Ini merupakan “kesunyataan mulia yang terutama”. Segala penderitaan, dimulai dari “adanya aku”, jika berlatih hingga “tiada yang namanya aku”, maka dukkha telah teratasi. Segala penderitaan, dimulai dari adanya “orang lain dan aku”, jika berlatih hingga “tiada yang namanya orang”, maka dukkha telah teratasi. “Tiada yang namanya insan” (tiada semesta). “Tiada yang namanya jiwa” (tiada waktu). Dalam pandangan sadhaka bermutu tinggi, dukkha dan kebahagiaan merupakan dua sisi yang berbeda, sebenarnya juga merupakan satu sisi yang sama. Kita memahami logika dari “kesunyataan mulia yang terutama”, dukkha dan kebahagiaan pada dasarnya tidak pernah ada, tidak ada dukkha, juga tidak ada kebahagiaan, pada dasarnya merupakan “tiada, bagaimana bisa menjadi ada”. Saat sadhana telah mencapai tahap “tiada, bagaimana bisa menjadi ada”, maka bayang-bayang gelap penderitaan sudah tidak ada sejak awal, tidak ada lagi yang dilekati oleh hati, bagaimana bisa ada bayang-bayang gelap? Di dalam Buddha Dharma, sifat Buddhata yang terunggul (sifat sunyata) adalah kesunyataan mulia yang terutama. Jika dapat benar-benar tercerahkan, mengatasi bayang-bayang gelap penderitaan merupakan hal yang mudah diselesaikan. Saya balik bertanya, “Adakah dukkha?”
********
Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/ daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber
*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!
Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*
**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching
Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Leave a comment