Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Sadhana’ Category


by Grand Master Sheng-Yen Lu, B216 Contemporary Dharma King

Translation :Meilinda Xu 莲花许月珊

Ada yang bertanya, “Haruskah kita bersadhana setiap hari? Haruskah kita setiap hari mengerjakan tugas harian? Haruskah kita bersamadhi dan bersadhana setiap hari?”

Saya menjawab, “Harus.”

Mengapa?

Logikanya sangat simpel: kita menjunjung tinggi Buddha Dharma, bersandar pada Buddha Dharma. Kita mempraktekkan Buddha Dharma, menyelami Buddha Dharma, untuk memperoleh penyelamatan.

Saya rasa, “Ini merupakan yang paling berharga di dalam kehidupan manusia.”

Yang dikejar oleh manusia zaman sekarang, semuanya merupakan penampilan luar:

“Harta”.

“Rupa”.

“Nama”.

Saya berkata, “Kekayaan hanya dimiliki sementara waktu saja di dunia manusia, rupa hanya dimiliki di masa muda saja, nama dan kedudukan juga hanya dimiliki sementara waktu saja. Saya mengatakan dengan sangat jujur, saya memandang rendah ‘harta’, ‘rupa’, ‘nama’.”

Ada yang menjadi konglomerat, menganggap diri sendiri sudah sangat menakjubkan!

Ada yang sangat rupawan di masa muda, menganggap diri sendiri sudah sangat menakjubkan!

Ada yang menjadi pejabat, menganggap diri sendiri sudah sangat menakjubkan!

Saya tertawa terbahak-bahak, tidak pantas!

Sudah menjadi seorang konglomerat, terus kenapa? Ketika tiba saatnya meninggalkan dunia ini, satu pun tidak ada yang dapat dibawa serta. Rupawan dan muda, terus kenapa? Hanya sekejap waktu saja, sudah menjadi si tua bangka. Menjadi pejabat tinggi, terus kenapa? Lewat beberapa tahun, sudah berubah menjadi ubanan dan lamban.

Semua itu hanya sesaat.

Yang benar-benar paling berharga adalah, terbebas dari kelahiran dan kematian, menentukan sendiri kelahiran dan kematian diri sendiri, memahami hati dan menyaksikan Buddhata, mencapai keBuddhaan dalam tubuh sekarang, tiada dilahirkan dan tiada musnah, menyaksikan Buddhata diri sendiri, Buddhata yang abadi.

Saya menghormati dan berdecak kagum pada sadhaka yang berhasil mencapai pencerahan.

Di dunia ini, satu-satunya yang paling memiliki harga adalah:

“Buddhata”.

*

Kutipan kata bajik zaman dahulu berkata, “Buddhata tidak diperoleh melalui pelatihan diri, Buddhata sesungguhnya telah ada.”

Saya berkata, “Jika tidak melalui samadhi dan proses sadhana yang lama, anda tidak akan dapat memahami bahwa Buddhata tidak diperoleh melalui pelatihan diri.”

Ini kelihatannya bertentangan.

Kemudian, anda mesti mengamati dengan saksama. Sadhaka yang mempraktekkan jalan ini sejak lama, jika tidak mengalami “ombak pasang”, bagaimana bisa memahami “tidak ada yang diperoleh”?

Buddhata tidak diperoleh dari pelatihan diri.

Namun, samadhi dan bersadhana merupakan keharusan.

*

Tantrayana menganggap:

Tahap halus dari bersadhana dan samadhi untuk mengenali hati, di saat tubuh menjadi tenang dan bersih, ucapan menjadi tenang dan bersih, pikiran menjadi tenang dan bersih, dapat memahami sunyata dari tubuh kasar diri. Sunyata tubuh kasar ini, dapat membebaskan dari tumimbal lahir kelahiran dan kematian, dan dapat melepaskan beban pikiran dan penderitaan.

Prajna dari hawa.

Pembebasan dari nadi.

Titik cahaya terang yang suci.

Pengalaman bersadhana yang demikian dapat memperlihatkan dengan jelas bahwa harapan duniawi sebetulnya biasa-biasa saja, memahami makna hidup yang sesungguhnya, bahkan dengan prajna dari kesunyataan dapat mengakhiri penderitaan, harapan, avidya.

Kita sepatutnya:

Menghormati Buddhata yang ada dalam diri kita.

Buddhata bagaikan penari yang bersahaja.

Pakaian duniawi yang bergemerlapan seluruhnya ditinggalkan.

Menembusi lautan ilusi.

Hanya Arya yang melakukan samadhi dan bersadhana, barulah dapat mengenali anda.

Saya berkata, “Samadhi dan bersadhana merupakan keharusan, sama seperti Buddha Dharma, hanyalah merupakan sebuah alat. Saya telah mendalami selama 40 tahun, akhirnya menyaksikan Buddhata yang amat langka dan amat berharga. Tak dapat disangkal, samadhi, sadhana, dan Buddha Dharma hanya merupakan alat. Namun, tanpa alat, tidak akan dapat menyaksikan Buddhata!”

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »



Sumber:
http://www.snowlionpub.com/pages/N64_4.html (Diakses tanggal 7 Mei 2010)

Publikasi ulang artikel ini adalah dengan seizin penulis asli dan Redaksi The SNOW LION Newsletter. Artikel asli berbahasa Inggris oleh Polly Turner (mantan editor Sangha Journal), penerjemah ke dalam bahasa Indonesia dan editor ahli oleh Mei Linda (FT UI ‘06), editor kebahasaan oleh Willy Dozan Wijaya (FIB UI ’08)

Menjapa satu mantra;

gerakkan jempol dan telunjukmu

sepanjang butiran mala berikutnya

dari untaian tersebut; kemudian ulangi.

Mala Budhisme Tibetan, atau yang sering juga disebut sebagai japamala atau niànzhū dalam bahasa Mandarin, merupakan alat untuk membantu praktisi dalam menghitung jumlah penjapaan mantra sekaligus membantu seseorang untuk dapat menjaga konsentrasi dan kesadaran agar tetap fokus. Ketika seseorang menggerakkan butiran mala dengan jarinya pada saat menjapa mantra dan memvisualisasikan sosok suci, maka orang tersebut sedang menjapa mantra dengan melibatkan tubuh, ucapan, dan pikiran sekaligus.

Instruksi dasar untuk menggunakan mala cukup sederhana. Bagaimanapun juga, meskipun terdapat banyak kemiripan antara ritual dalam tradisi Budhisme Tibetan dan Bön, terdapat juga banyak perbedaan pada satu tradisi dengan tradisi lainnya, bahkan pada sekolah Budhis itu sendiri. Adalah lebih baik jika anda mengonsultasikan mengenai serangkaian tatacara ritual dengan orang yang berpengetahuan di dalam tradisi anda.

Beberapa Dasar mengenai Mala



Mala dipegang dengan kelembutan dan penghormatan, umumnya di tangan kiri. Satu butiran melambangkan satu kali penjapaan mantra, dimulai dengan butiran pertama yang tersusun di dalam lingkaran untaian setelah butiran “Guru” – butiran yang paling besar dan lebih terdekoratif pada akhir untaian mala, dan butiran sunyata, yang terletak setelah butiran “Guru”. Butiran pertama pada lingkaran untaian dipegang di antara jempol dan jari tengah. Setiap satu kali penjapaan, jempol menarik butiran yang lainnya menggantikan posisi butiran sebelumnya pada posisi di antara jari tengah dan jempol.

Setelah menyelesaikan satu untaian penuh dari mala, praktisi memutar mala 180 derajat (hal ini memerlukan latihan) dan memulai kembali penjapaan seperti sebelumnya, dalam arah penarikan butiran yang berlawanan dengan yang sebelumnya. Jika penjapaan putaran pertama menggunakan jempol tangan kiri untuk menarik butiran, maka penjapaan putaran kedua menggunakan jempol tangan kanan untuk menarik butiran, dan demikian untuk putaran berikutnya secara bergantian. Hal ini dilakukan sebagai simbol untuk menghindari melangkahi butiran “Guru”, sama halnya seperti seorang praktisi tidak boleh melangkahi (catatan penerjemah: “melangkahi” dalam konteks ini memiliki arti meremehkan atau tidak menghormati) Gurunya sendiri.

=dalam gambar ini, butiran Guru adalah butiran yang bermotif, butiran sunyata adalah butiran setelah butiran Guru (yang lebih pipih)=

Menurut the Office of Tibet, kantor perwakilan Yang Mulia Dalai Lama di London, butiran Guru melambangkan kebijaksanaan dari sunyata. Butiran sunyata yang mengikuti butiran Guru dan terletak sebelum butiran pertama penjapaan adalah butiran yang melambangkan sunyata itu sendiri; bersama, kedua butiran ini melambangkan telah menundukkan semua lawan/rintangan.

=Japamala Tibetan (lengkap dengan Vajra Dorje, Vajra Gantha, Butiran Caturmaharajakayika, Butiran Guru, Butiran Sunyata, dan Rumbai benang Tangan Teratai=

Untuk membantu penghitungan penjapaan mantra, kebanyakan mala Tibetan dilengkapi dengan butiran pembatas dengan warna yang berbeda, yang membatasi lingkaran untaian dalam empat bagian yang sama. Pemakai juga dapat menambahkan sepasang ikatan penghitung pada mala sebagai alat tambahan untuk membantu penghitungan. Masing-masing ikatan tersebut terdiri dari benang ganda yang dikaitkan dengan sepuluh lempengan cincin kecil, yang biasanya terbuat dari perak, emas, atau perunggu, di mana ikatan ini biasanya digunakan untuk menghitung butiran ke sepuluh dan keseratus dari lingkaran untaian mala.

Alat penghitung ketiga juga dapat ditambahkan pada mala untuk mengawasi jumlah lingkaran penjapaan yang telah dilakukan. Seringkali menggunakan simbol roda atau batu permata, penghitung ini ditempelkan pada benang di antara dua butiran, yang kemudian dapat direlokasikan dari butiran yang satu ke butiran yang lainnya untuk menandai jumlah lingkaran penjapaan yang telah dilakukan.

=salah satu contoh pembatas jumlah lingkaran penjapaan pada japamala=

Pemilihan Mala

Sebuah mala yang dilengkapi 108 butiran dalam satu untaian lingkarannya digunakan untuk tujuan umum oleh kebanyakan praktisi Budhisme Tibetan. Butiran dari biji bodhi secara umum dipertimbangkan baik untuk digunakan dalam pencapaian berbagai tujuan dari latihan maupun penjapaan mantra, dan kayu cendana merah atau biji teratai juga direkomendasikan secara luas untuk pemakaian universal.

Umumnya, mala terdiri dari 108 butiran untuk satu lingkaran untaian, yang dibagi dalam empat bagian yang sama, di mana setiap bagiannya terdiri dari 27 butiran. Jadi, setiap satu lingkaran penuh untaian mala melambangkan 108 kali penjapaan mantra. Angka 108 ini melambangkan banyak makna yang penting, menurut Robert Beer*, sebagai berikut:

“Oleh zaman sebelum berkembangnya Budhisme, angka keramat 108 merupakan angka klasik yang melambangkan jumlah makhluk suci atau dewata dalam agama Hindu. Sebagai hasil kali dari 12 dengan 9, angka ini melambangkan sembilan planet yang berada dalam ruang cakupan 12 zodiak. Sebagai hasil kali 27 dengan 4, angka ini juga melambangkan empat bagian bulan pada setiap 27 mansion atau konstelasi bulan. Sembilan juga merupakan angka ajaib, di mana setiap angka yang dikalikan dengan sembilan akan menghasilkan serangkaian angka yang jika dijumlahkan akan menghasilkan angka sembilan juga. Dalam Pranayana Yoga, terhitung bahwa seseorang melakukan pernafasan sebanyak 21.600 kali dalam siklus 24 jam, yang terdiri dari 60 periode dari 360 kali pernafasan; maka dari itu, siklus 12 jam pada siang hari sama dengan 10.800 pernafasan. Jumlah 108 butiran juga memastikan bahwa sedikitnya seratus kali penjapaan mantra telah dilakukan dalam satu lingkaran penuh untaian mala.”

Di samping kegunaan mala yang telah dideskripsikan di atas, ada beberapa jenis mala yang dianggap cocok digunakan untuk berbagai tujuan.

Mantra dapat dijapa untuk empat tujuan yang berbeda: untuk menenangkan, untuk meningkatkan, untuk mengatasi, atau untuk menjinakkan sesuatu secara paksa, menurut the Office of Tibet di London, yang mana juga menawarkan pedoman tambahan dalam memilih mala yang tepat untuk tujuan-tujuan tersebut:

Mala yang digunakan menjapa mantra untuk menenangkan harus terbuat dari butiran-butiran kristal, mutiara atau induk mutiara, dan setidaknya harus berwarna putih atau bening. Mala yang digunakan untuk tujuan ini harus memiliki setidaknya 100 butiran seperti itu. Mantra yang dihitung pada butiran-butiran ini bermanfaat untuk menghapus rintangan, seperti penyakit dan bencana lainnya, dan memurnikan seseorang dari ketidaksehatan.

Mala yang digunakan menjapa mantra untuk tujuan peningkatan harus terbuat dari emas, perak, tembaga, atau biji teratai, dan seluruh 108 butiran mala harus terbuat dari bahan-bahan tersebut. Mantra yang dihitung pada butiran ini bermanfaat untuk meningkatkan rentang hidup (memperpanjang umur), pengetahuan, dan status sosial (jabatan/kehormatan).

Mala yang digunakan menjapa mantra untuk tujuan mengatasi dibuat dari kayu cendana, kunyit, dan bahan-bahan alami lainnya yang memiliki keharuman. Mala ini terdiri atas 25 butiran. Mantra yang dihitung pada butiran ini bertujuan untuk menjinakkan yang lain, namun motivasi melakukannya haruslah merupakan keinginan yang murni untuk membantu makhluk hidup lainnya dan tidak dengan maksud untuk keuntungan pribadi.

Mala yang digunakan untuk menjapa mantra untuk tujuan menundukkan makhluk dengan paksa harus terbuat dari biji raksha atau tulang manusia dengan jumlah 60 butiran dalam satu untaian lingkaran mala. Lagi-lagi, tujuan melakukan ini haruslah dengan dasar kepentingan orang lain, dan satu-satunya orang yang mampu melakukannya hanyalah Bodhisatva yang termotivasi oleh rasa welas asih yang besar untuk makhluk yang tidak dapat dijinakkan dengan cara lain, sebagai contohnya adalah arwah yang rasa dendamnya sangat besar, atau malapetaka universal, yang divisualisasikan sebagai bola hitam yang padat.

Butiran yang terbuat dari biji atau kayu Bodhi dapat digunakan menghitung segala jenis mantra untuk berbagai tujuan, seperti mendoakan, mengatasi stress, mengharapkan kelancaran dalam suatu proses kondisi yang berulang, dan sebagainya**.

Tradisi spiritual Tibetan yang berbeda dapat juga memberikan pedoman yang berbeda dari yang telah diberikan di atas. Sebagai contoh, dalam tradisi Bön, mala dari biji Bodhi dianjurkan untuk keempat tujuan di atas; dan untuk aktivitas penentraman, direkomendasikan untuk menggunakan mala dengan 100 butiran kristal, kulit kerang, atau lapis lazuli. Untuk aktivitas peningkatan, disarankan menggunakan mala yang terdiri dari 108 butiran emas atau perak; untuk aktivitas kekuatan mengatasi, sebaiknya menggunakan mala dengan 50 butiran batu karang, tembaga, atau kayu cendana merah; dan untuk aktivitas penaklukan, mala dengan sepuluh butiran dari biji rudraksha direkomendasikan***. Biji rudraksha adalah buah kering dari pohon rudraksha yang tumbuh di Indonesia, Nepal, dan India; bentuknya bulat dan berbintik-bintik, dengan tonjolan berbutiran kecil-kecil, dan berukuran diameternya antara seperempat inci hingga lebih dari satu inci.

=Dua contoh japamala dari biji rudraksha=

=biji rudraksha=

Sering dianjurkan bahwa mala yang terbuat dari tulang – baik tulang manusia maupun hewan –hanya boleh digunakan oleh yogi yang telah mencapai pencerahan, karena objek ritual yang terbuat dari tulang dipercayai digunakan untuk menampung efek karma.

Beberapa Kata Mengenai Mantra

Siapa yang menjapa mantra, bagaimana mantra tersebut dijapa, niat seseorang ketika menjapanya – kesemuanya merupakan pertimbangan yang sangat penting. Dalam beberapa kasus, juga perlu dipertimbangkan siapa saja yang berada dalam jarak pendengaran saat seseorang sedang menjapa mantra. Bardor Tulku Rinpoche mencatat bahwa dalam tradisi Kagyu, adalah dapat diterima dalam berbagai kondisi untuk menjapa mantra dengan lantang, bahkan ketika orang lain yang tidak mengerti atau menghormati kekeramatan dari mantra tersebut dapat mendengarnya. Bagaimanapun juga, sejumlah tradisi lainnya menetapkan bahwa penjapaan mantra tertentu yang sangat berkekuatan haruslah dirahasiakan sama sekali.

Beberapa praktik memerlukan praktisi untuk menjapa mantra tertentu sebanyak 100.000 kali, atau bahkan sejuta kali. Karena sebuah mantra merupakan kumpulan dari intisari kekuatan pengajaran spiritual yang luar biasa, yang diringkas menjadi beberapa suku kata, sehingga lebih mudah untuk menduga seberapa besar kekuatan dari menjapa hanya sebuah mantra berulang kali hingga sebanyak itu. Orang yang melakukan penjapaan dengan penuh kesungguhan hati, dengan tetap menjaga samadhi di dalam pikiran mereka saat menjapa, dan menyandarkan diri pada kekuatan pemberkahan/adhistana (blessing), kekuatan abhiseka (empowerments), dan instruksi dari Guru yang berkualitas, akan memiliki kesempatan untuk membuktikan kekuatan dari pemberkahan dan mantra dengan lebih cepat.

Catatan kaki:

*     Dari The Encyclopedia of Tibetan Symbols and Motifs, oleh Robert Beer, Boston: Shambala, 1999.

**  Dicetak ulang dengan izin dari www.tibet.com, website dari the Office of Tibet, kantor perwakilan Yang Mulia Dalai Lama di London.

*** Detil mengenai aliran Bön dalam artikel ini bersumber dari Yang Mulia Lungtok Tenpai Nyima, kepala spiritual dari tradisi Bön Tibetan; dipublikasikan dengan seizin Sherab Palden dan Judy Marz.

Penerjemahan artikel ini didedikasikan untuk semua makhluk, semoga jasa kebajikan yang diperoleh dari artikel ini dapat menjadi karma baik penyebab tercapainya penerangan sempurna bagi semua makhluk. Sadhu, sadhu, sadhu.

Read Full Post »


Oleh: Grand Master Sheng-Yen Lu, diterjemahkan oleh Lianhua Shian, dipublikasikan ulang dari Notes-nya Padma Nanda Buddhist arts (di facebook)

dari buku ke-054 “Mizongjiemofa – 密宗羯摩法”

Note : Sadhana ini cocok untuk yang memiliki kandungan lemah atau sering keguguran.
Di Thailand ada sesosok dewa yang sangat terkenal, berada di tengah kota, yaitu Dewa Empat Mukha (Simianshen – 四面神). Sedangkan Dewa Empat Mukha atau <ket> Buddha Empat Mukha (SimianFo – 四面佛) sebenarnya adalah Dewa Mahabrahmaraja 「Da Fan Tian Wang – 大梵天王」。

Mahabrahma artinya adalah suci, di agama Brahmana merupakan Dewa Pencipta, dalam agama Buddha adalah Raja Dewa di rupadhatu jhana pertama. Dewa Empat Mukha di Thailand sangat terkenal di seluruh dunia, sebenarnya adalah Mahabrahma yang memang terkenal di seluruh dunia.

Sedangkan Mahabrahma ini adalah yang dibawa dari Thailand oleh siswaku yang bernama (Upasaka Lin Zhong Bei – 林忠杯) dan dipersemayamkan di mandala tantra saya. Maha Brahma adalah tuan di alam surga, bisa dikatakan merupakan ayah dari para insan, saat dewa ini senang maka dunia manusia akan tenteram, namun saat dewa ini murka, maka dunia akan terjadi kekacauan yang menyebabkan para insan menjadi tidak tenteram. Menurut apa yang saya dengar, gembira atau murkanya Mahabrahma mempengaruhi perubahan besar dan malapetaka besar dalam hidup manusia. <ket>

Dalam Sutra Mahavairocana ada dijelaskan wujud Nya :
「Mahabrahma, memakai mahkota jalinan rambut, duduk di kereta, empat mukha, empat lengan. Tangan kanan pertama membawa padma, ke 2 membawa japamala ; Tangan kiri pertama membawa tongkat (bisa juga gada), ke 2 membentuk mudra AUM / manggala. 」Namun wujud Buddha Catur Mukha di Thailand adalah empat mukha dan delapan lengan, singasana Nya juga tidak sama. Yang disemayamkan di rumahku adalah yang duduk di panggung Dharma, satu kaki terjulur ke bawah, sedangkan singasana Buddha Empat Mukha juga ada yang berupa gajah, beraneka ragam.

Dari sadhana karman yang berbahasa Pali, saya membaca sebuah rahaysa, yaitu : 「Para insan sebenarnya terlahir dariu satu pikiran dan satu energi dari Mahabrahma, maka adalah Bapa para insan, oleh karena itu , barang siapa memohon putera maupun puteri, hendaknya menekuni Sadhana Maha Brahma, menjapa mantra Maha Brahma, bervisualisasi Maha Brahma, membentuk mudra Maha Brahma, maka akan memperolehnya 」

Menurut sepengetahuan saya, Mahabrahma memiliki 15 Raja Setan yang khusus melindungi sadhana ini, namanya adalah :

1. 彌酬迦鬼
Michoujia gui

2. 彌伽王鬼
Miqiewang gui

3. 騫陀鬼
Qiantuo gui

4. 阿波悉摩羅鬼
Aboximoluo gui

5. 摩至迦鬼
Mozhijia gui

6. 摩知迦鬼
MOzhijia gui

7. 閻迷迦鬼
Yanmijia gui

8. 迦迷尼鬼
Jiamini gui

9. 離婆地鬼
Lipodi gui

10. 富多那鬼
Fuduona gui

11. 曼多難提鬼
Manduonanti gui

12. 舍九尼鬼
shejiuni gui

13. 建次波尼鬼
Jianciboni gui

14. 目佉曼荼鬼
Muqumantu gui

15. 藍波鬼。
Lanbo gui

Menekuni sadhana ini harus mempersemayamkan Mahabrahma dan menulis nama 15 Raja Setan ini untuk disemayamkan di kiri – kanan Mahabrahma, persembahkan makanan yang lezat, bunga wangi yang indah, dupa berkualitas, pelita dan susu.

Bagi yang memohon anak harus mempersembahkan bijih wijen.

Demikian sadhananya :

Melakukan sadhana ini paling baik saat , bulan 8 tanggal 15 kalender lunar atau tiap tanggal 15 bulan lainnya (kalender lunar), sang istri mandi dan mengenakan pakaian bersih, persembahkan semua pujana, sujud pada Mahabrahma, melafal nama 15 Raja Setan pengiring Mahabrahma masing masing 3 kali.

Sadhaka memasuki mandala , tangan membentuk mudra Mahabrahma.

Mudra Mahabrahma adalah,ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri membentuk lingkaran dan bersentuhan ujungnya, ketiga jari yang lain tegak lurus menghadap angkasa, mudra dibentuk di deposisi lebih tinggi dari bahu kita.

Tangan kanan mengambil beberapa butir wijen, diletakkan di atas kepala.

Saat itu bervisualisasi, wujud Mahabrahma agung bagaikan Buddha, tangan kiri dan kanan masing-masing membawa Dharmayudham, sebagai simbol bahwa dengan Sadhana ini dapat memperoleh keberhasilan yang sempurna, sesuai kehendak.

Kemudian bervisualisasi ulu hati Mahabrahma Devaraja, memancarkan cahaya biru terang ke arah bijih wijen di atas kepala sadhaka, bijih wijen berubah menjadi bayi yang diinginkan (putera atau puteri). Kemudian bayi tersebut berubah menjadi cahaya biru, memasuki tubuh sadhaka melalui puncak kepala , visualisasi ini sangat penting.

Setelah selesai bervisualisasi, meleraikan mudra , japa mantra :

「旦姪他。阿伽羅。伽寧那。伽伽寧。婆漏隸祇隸。伽婆隸。婆隸婆隸。不隸不隸。羅釵禰。修羅俾。遮羅俾。波 陀尼。沙尼。婆羅呵。那易。蘇波賀。」此咒唸四十九遍。

Danzhita. Aqieluo . Qie ning na. Qie qie ning. Po lou li zhi li. Qie Po Li. Po Li Po Li. Bu Li Bu Li. Luo Chai Ni. Xiu Luo Bi. Zhe Luo Bi. Bo Tuo ni. Sha Ni. Po Luo He. Na Yi . Su Bo He (49 kali)

menekuni sadhana ini bagi yang memohon anak, maupun ingin melahirkan putera atau puteri, semua akan terkabul sesuai dengan kehendak.

Sebenarnya Mahabrahma juga merupakan dewa Rejeki dan Dewa Pengabul kehendak. Bila seseorang bisa disukai oleh Mahabrahma pasti akan memperoleh pemberkahan dari Mahabrahma, berkah yang demikian adalah bagaikan naik ke alam surga.

mahabrahma Buddha Empat Mukha di Taiwan, sangat terkenal di seluruh penjuru dunia karena kemanjurannya, seperti saat ini di kota judi Las Vegas Amerika, ada sebuah satu tempat perjudian memesan satu rupang Mahabrahma muka empat untuk disemayamkan di pintu masuk utama perjudian, mengira supaya Mahabrahma bisa memberkati mereka dengan keberuntungan.

Namun itu adalah ketidak tahuan orang awam, kota judi mempersemayamkan Mahabrahma, begitu Mahabrahma Devaraja marah maka Las Vegas akan habis, orang awam sulit memahami misi dari Dewa Raja jhana pertama ini.

Biarlah saya menulis satu gatha untuk Mahabrahma Devaraja :

泰國梵王四面看,
Taiguo Fanwang Simian kan

Mahabrahma Thailand melihat dengan keempat mukha

初禪天主法成團;
chuchan Tianzhu Fa Chengtuan

Dharma Devaraja Jhana Pertama menjadi pasamuan

仙境美景令人爽;
Xianjin Meijing ling ren shuang

Pemandangan Indah Alam Mahadewa membuat takjub

求子有法不用煩。
Qiuzi you fa bu yong fan

Ada cara memohon anak, tak perlu lagi khawatir

– – –
Taisho Tripitaka No.1230, Sakyamuni Buddha mengatakan :
“Bagi yang mendengar mantra dan tata cara, bila menekuninya tanpa tata aturan yang sah (arus abhiseka Gurumula), semua mantra tak akan berfungsi, tingkah lakumu menyimpang dan merupakan pencurian Dharma, setelah meninggal dunia akan terjatuh dalam neraka, kemudian terlahir kembali di alam hewan. Inilah akibat pelanggaran dari penyimpangan itu !”

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Reposting is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Posting ulang Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


Intisari Ceramah Dharma Raja Buddha Lian Sheng Tanggal 3 Januari 2009 di Cetiya Taiping, Taiwan

Oleh Grand Master Sheng-Yen Lu, dipublikasikan ulang dari Notes-nya Lifin Ervika

Ini kedua kalinya saya datang ke Cetiya Taiping, semoga ketiga kalinya datang, di sini sudah Leizang Si. (Hadirin tepuk tangan dan bersorak)Seharusnya di sini sangat familiar bagi saya. Sebab, dulu saya menjalani pelatihan di Pusat 5, waktu itu di sini tidak begitu banyak rumah, Pusat 5 justru berada di depan saja, di Pinglin adalah pusat 3, di pusat pelatihan Pusat 5, sekarang adalah Chelongpu, paling dekat dengan Cetiya Taiping. Waktu itu, saya masih belum merintis Zhenfo Zong, belum ada Cetiya Taiping, jika ada, saya bisa sering kebaktian di sini.

Saya merasa hidup ini berubah dalam sekejap. Saat saya umur 20 tahun, saya menjalani pelatihan di Pusat 5. Waktu itu, saya menjalani pelatihan di Sekolah Kemiliteran 5, yakni Akademi Binggong, Akademi Teknik Angkatan Laut, Falkutas Geodesi, Falkutas Hukum Pidana Tentara, dan Falkutas Keuangan. Begitu saya mendaftarkan diri di Falkutas Geodesi, segera menjalani pelatihan di Pusat 5, 8 minggu di awal, 8 minggu di akhir, total 4 bulan. Empat puluh lima tahun yang lalu, umur 20 tahun, hingga sekarang, hidup ini berubah dalam sekejap. Dulu, asalkan libur, saya ke Taichung, waktu itu, orang lain akan berteriak, “Anak muda! Anak muda!” Sekarang tidak ada yang meneriaki saya, “Anak muda!”, berubah banyak! Inilah anicca. Berapa lama lagi saya di dunia Saha ini? Tidak berani diprediksi, tidak berani dibayangkan.

Kita melatih diri, yakni melatih ketenangan hati. Kali ini saya ke Singapura, menerangkan “Metode 9 Tahap Meditasi”, metode ini sama dengan metode menenangkan hati, dapat membuat hati tidak berpikiran yang bukan-bukan, tidak ada khayalan; Anda dapat menenangkan hati, menstabilkan hati, tidak memikirkan semua masalah lain. Ketika hati Anda sangat stabil, perenungan Anda, pemikiran Anda akan jernih. Ketika hati Anda fokus pada satu titik, sepenuhnya tidak bergerak, tidak goyah; Anda berlindung pada hati Anda sendiri, menyingkirkan seluruh kerisauan, tiba-tiba, hati Anda menghasilkan terang, seberkas cahaya yang Anda lihat, bukan muncul dari kesadaran Anda, bukan yang Anda pikirkan, Anda tidak punya pikiran lain. Namun, sinar yang Anda lihat itu, seperti langit cerah tanpa awan, Anda masuk ke dalam seberkas cahaya tersebut, Anda menemukan, seberkas cahaya tersebut mirip sepenuhnya dengan diri Anda sendiri. Malah, Anda dapat melihat seberkas cahaya tersebut setiap saat, ini disebut “menyaksikan Buddhata”.

Kadang-kadang dalam samadhi kita dapat melihat cahaya, namun, begitu Anda turun dari Dharmasana, Anda tidak dapat melihat cahaya lagi. Mengapa? Sebab, Anda dapat melihat cahaya dalam kondisi diam, namun, Anda tidak dapat melihat cahaya dalam kondisi bergerak. Dalam kondisi bergerak, hati Anda pun kabur. Jadi, seorang sadhaka yang benar-benar melatih sungguh-sungguh, di dalam kondisi diam bisa menyaksikan Buddhata, dalam kondisi bergerak pun bisa menyaksikan Buddhata, ini barulah “menyaksikan Buddhata” yang sesungguhnya.

“Metode 9 Tahap Meditasi” dapat mengekploitasi kebijaksanaan Anda di dalam samadhi. Setelah kebijaksanaan Anda tereksploitasi, Anda akan mengerti kebenaran di antara alam semesta. Jadi, mengapa kita sebagai umat Buddha, harus melatih meditasi, tujuan utamanya adalah untuk mengekploitasi kebijaksanaan Tathagata. Ketika Anda memiliki kebijaksanaan Tathagata, disebut “memahami hati”. Ketika Anda memahami hati, Anda pun bisa tahu, apa itu “tidak dapat apa-apa”, apa itu “tiada masalah”, apa itu “tiada kemelekatan”. Tujuan utama kita belajar Buddhisme adalah “memahami hati” dan “menyaksikan Buddhata”. Setelah Anda memahami hati dan menyaksikan Buddhata, Anda “menekuni Dao” atau “melatih diri” berdasarkan kebijaksanaan Tathagata, saat ini baru disebut “menekuni Dao”, barulah disebut “melatih diri”. Suatu hari nanti, Anda akan mencapai keberhasilan, mencapai kebuddhaan.Kita sebagai sadhaka, harus dapat memanggil kembali hati Anda, menempatkan kesadaran pikiran dan hati Anda bersama, terakhir bahkan kesadaran pun tidak ada lagi, hanya tinggal hati, ini baru disebut “memahami hati”. “Menyaksikan Buddhata” adalah, Anda telah buka kebijaksanaan Tathagata, Anda telah mengerti wujud sejati seluruh alam semesta, saat ini, disebut “menyaksikan buddhata”. Jadi, memahami hati dan menyaksikan Buddhata sulit sekali dijelaskan.

Namun, Anda harus menarik kembali hati Anda, lindungi hati Anda. Dulu, Guru Sesepuh Sekte Zen sering mengucapkan satu kalimat, “Lindungi diri baik-baik.” Ketika siswa hendak turun gunung, Sang Guru kerap menyampaikan satu kalimat padanya, “Lindungi diri baik-baik”. Anda harus lindungi baik-baik Buddhata Anda, jaga baik-baik Buddhata Anda, praktekkan baik-baik Buddhata Anda. Inilah tujuan utama Buddhadharma, justru di sinilah tujuan asasi Buddhadharma. Apakah kalian ada pertanyaan?(Siswa bertanya: Mahaguru, bagaimana kita mengalihkan “samadhi sukha” ke dalam “samadhi sunya”?)
“Mengalihkan sukha ke dalam sunya” adalah penerapan ganda antara sukha dan sunya.

(Siswa bertanya: Penggalan yang tadi Anda terangkan itu mulai menekuni “Dzog-rim”, sekarang yang kita tekuni adalah “Kye-rim”.)

Tataritual Zhenfo yang kita tekuni adalah “Kye-rim”, yang tadi diterangkan adalah awal dari “Dzog-rim”. Bukankah saya ada sebuah buku baru berjudul “Sunyata di dalam Mahasukha”? Bagaimana mengubah “Samadhi Sukha” menjadi “Samadhi Sunya”? Anda harus tahu satu kenyataan, semua kebahagiaan sangat singkat, hakikat dari kebahagiaan adalah sunya.
Anda selidiki saja kebahagiaan ini, Uh! Hari ini saya sangat bahagia, perlihatkan pada saya kebahagiaan itu! Tak bisa! Kebahagiaan itu tak berwujud, tak terlihat, kebahagiaan juga tak terdengar, itu perasaan Anda. Perasaan bahagia ini berlalu dalam sekejap. Jika besok Anda tersungkur, Anda pun tidak bahagia lagi. (Hadirin tertawa) Di dunia ini, kebahagiaan apapun adalah sementara, malah hakikatnya adalah sunya. Jadi, ketika Anda bahagia, Anda harus pikir, hakikatnya adalah sunya.

“Penerapan ganda antara sukha dan sunya” dalam Tantra adalah semacam kemudahan.
Ketika Anda sedang bahagia, Anda harus visualisasi kebahagiaan ini adalah sunya, Anda akan melepaskan kebahagiaan ini. Sebab, kebahagiaan ini sementara, tidak abadi. Ada orang yang bahagia pada pagi hari, siang ia mulai sedih, menderita; kadang-kadang, saat menderita, berubah menjadi bahagia lagi. Jadi, kita mengatakan “Tong-kuai! Tong-kuai!” (hadirin tertawa) yakni penderitaan dan kebahagiaan saling bertalian.

Mahaguru mengajarkan bahwa penderitaan dan kebahagiaan saling bertalian. Ada orang kadang-kadang sakit pinggang, kadang-kadang sakit pundak, itu sangat menderita, harus ubah menjadi kebahagiaan, Anda tempel selembar “Salonpas” (koyo pereda sakit), tiba-tiba, ia pun tidak sakit lagi, Anda pun pikir, inilah kebahagiaan. Seperti disuntik itu sangat menderita, pasien di rumah sakit itu sangat menderita. Mahaguru paling takut disuntik. Disuntik bisa sakit. Anda harus tahu sakit itu adalah sunyata, sakit juga sebentar saja! Sekali disuntik, sebentar saja, sakit itu hilang.
Misalnya, operasi di rumah sakit, ia membius Anda; atau Anda sakit, ketika ia meredakan sakit Anda dengan obat, Anda pun tidak sakit lagi. Sesungguhnya, penderitaan juga semacam sunyata. Jika Anda di rumah sakit sering berpikir demikian, Anda pun tidak akan menderita. Pasien di rumah sakit, merasa di rumah sakit sangat menderita, sungguh, di rumah sakit adalah satu hal yang paling menderita. Namun, ketika dibius, sakit pun hilang, ini membuktikan bahwa penderitaan itu sendiri adalah sementara, penderitaan itu sendiri juga sunya. Ketika menderita, harus dialihkan menjadi sementara, sunya, dan gejala yang singkat saja.

Mari kita perluas lagi, Anda mengira seluruh hidup ini adalah penderitaan, sesungguhnya, hidup ini sangat singkat. Umur 20 tahun lebih saya menjalani pelatihan di Chelongpu, sekarang saya kembali lagi ke Chelongpu, sudah umur 65 tahun, 45 tahun sudah berlalu. Apakah saya masih ada 45 tahun lagi? (Hadirin jawab: “Ada!”) Bagaimana pemikiran saya sekarang? Segala kebahagiaan adalah sementara, segala penderitaan juga sementara dan seketika, ubah seluruh penderitaan dan kebahagiaan di dunia ini menjadi sunyata.

Dalam menekuni Tantra, setelah kita mengerti teori ini, kita harus mulai menekuni sadhana dalam. Ketika Anda menekuni sadhana dalam, ketika prana Anda menembus nadi, ketika bindu menembus nadi, ketika api tummo menembus nadi, itu sangat bahagia, namun, kebahagiaan itu juga tidak abadi. Anda harus memanfaatkan api tummo Anda, membakar seluruh kerisauan materiil Anda, kemudian ubah tubuh Anda menjadi Buddhata, menjadi sunyata, inilah sadhana dalam dalam Tantrayana — metode “Dzog-rim”. Jadi, penjelmaan sinar pelangi Padmasambhava, Ia mengubah seluruh tubuh-Nya menjadi sinar pelangi, selamanya ada Tathata di dalam alam suci, inilah Buddhata sejati.

Secara teori, Anda harus mengubah sukha menjadi sunyata.
Dalam aspek sadhana dalam, Anda harus masuk tingkat sadhana yang lebih dalam lagi, dari penekunan “Kye-rim”, memasuki penekunan “Dzog-rim”, barulah dapat membuktikan kebahagiaan adalah sunyata.
Apakah masih ada pertanyaan?

(Siswa bertanya: mengenai pertanyaan yang Mahaguru ajukan di buku: agar nadi tengah sadhaka biasa terbuka, cakra hati harus terbuka, kebijaksanaan baru bisa terbuka, demikian baru bisa menyaksikan apa yang namanya “Buddhata”. Mohon Mahaguru berwelas asih mengabhiseka Bradha Kumbha Prana dan Samadhi Api Tummo, sehingga sadhaka baru bisa menjalankan sadhana) (Hadirin tepuk tangan dan bersorak)

Untuk buka nadi tengah, ketahuilah satu hal, harus melatih Bradha Kumbha Prana. Padmasambhava pernah bersabda, “Bradha Kumbha Prana adalah sumber pahala.” Segala pahala, berasal dari Bradha Kumbha Prana. Tantra mewajibkan kita melatih Bradha Kumbha Prana, mengapa? Supaya nadi tengah terbuka. Jadi, Bradha Kumbha Prana dan buka nadi tengah saling berhubungan. Dalam Tantra, Anda menekuni Bradha Kumbha Prana, Anda tarik napas, Anda harus visualisasi dengan pikiran, prana terus masuk dari nadi tengah, bukan di lambung, tapi 4 jari di bawah pinggang — Avadhuti, kemudian dari sana angkat anus.
Bagaimana dengan prana? Prana atas menekan ke bawah, prana bawah diangkat ke atas, di perut Anda berubah menjadi sebuah Bradha Kumbha. Berapa lama napas dapat disimpan? Anda simpan napas di sini hingga Anda tidak tahan lagi, perlahan-lahan Anda hembuskan napas dari lubang hidung, inilah Bradha Kumbha Prana dalam Tantra.

Demikianlah penekunan Taois, tarik napas, tiba di avadhuti, sama saja, tekan ke bawah dan angkat ke atas, seluruh napas disimpan di avadhuti, simpan sebentar, pakai pikiran, di bawah tulang belakang terus naik, tiba di nirvana, lalu turun dari sini (nirvana), tiba di sini (cakra kening), keluar dari posisi mata ketiga. Begitulah metode Taois, mengikuti tulang belakang, prana naik, keluar di sini (posisi mata ketiga), ketika Anda tidak tahan lagi, baru keluar dari lubang hidung, ini adalah penekunan Taois.

Tantrayana adalah, setelah tahan napas, tidak tahan lagi baru keluar dari nadi tengah hingga lubang hidung. Juga ada yang menggunakan “metode penyebaran”, napas keluar dari lubang pori-pori. Jika napas Anda dapat keluar dari lubang pori-pori, teknik yang sangat hebat; tarik napas dari lubang pori-pori, keluar dari lubang pori-pori, itu sangat hebat, itu sudah tingkat tinggi. Ketika kita baru mulai melatih, hanya melatih Bradha Kumbha Prana. “Tahan napas” pun harus dilatih bertahun-tahun.

(Siswa bertanya: kapan harus “mengunci tenggorokan”?)

Menekan jakun adalah menekan tenggorokan, agar napas di dalamnya tidak keluar; ketika mengeluarkan napas, jangan menekan jakun.

Jika Anda sering melatih (Bradha Kumbha Prana), dalam sehari jangan melebihi 21 kali. Sebab, ketika baru mulai latihan, panas dalam akan meningkat, bisa sakit kepala, sakit mata; ada yang bisa mimisan; ada yang bisa mengalami pembengkakan gusi. Anda harus atur pelan-pelan, atur hingga ia tidak panas dalam, amarah jangan begitu besar, juga jangan dingin, yang terpenting diatur pas-pasan. Kalau sudah lama dilatih, prana dengan sendirinya berjalan perlahan-lahan, memasuki nadi tengah, inilah prana kemudahan, prana yang memasuki nadi tengah, diubah menjadi prana kebijaksanaan. Ketika seluruh nadi tengah penuh dengan prana kebijaksanaan Anda, nadi tengah pun terbuka. Demikianlah nadi tengah terbuka.

Setelah buka nadi tengah, buka kelima cakra — cakra kening, cakra tenggorokan, cakra hati, cakra pusar, dan cakra reproduksi, semuanya dibuka, setelah semua terbuka, padukan dengan olahraga Anda, yakni Vajrasamdhi. Kita lebih dulu buka nadi tengah, memasukkan prana ke nadi tengah, lebih dulu melatih Bradha Kumbha Prana, setelah prana Anda dapat memasuki nadi tengah, perlahan-lahan, prana nadi tengah Anda pun penuh. Perlahan-lahan, satu demi satu cakra terbuka, sekali cakra terbuka, Anda pun bisa melihat sinar, ini adalah “membuka rintangan” dalam Tantra.

(Siswa bertanya: kapan menyalakan api tummo?)

Menyalakan api tummo, yakni setelah Bradha Kumbha Prana Anda sangat penuh, Anda visualisasi nadi tengah Anda dengan sangat jelas, prana ini mendesak api tummo di posisi empat jari di bawah pusar, yakni avadhuti bawah, posisi itu disebut “sumber api”. Anda harus visualisasikannya menjadi segitiga, segitiga melambangkan api, di tengah segitiga, ada sebuah benih aksara api, di dalam Tantra disebutkan separuh dari aksara “AH”, mirip sebuah ujung jari, ada sebuah percikan api di sana.
Ada yang mengatakan harus memanfaatkan Vajravahari berubah menjadi api merah, berdiri di tengah segitiga, ini mengandalkan visualisasi, saat visualisasi setitik api tersebut, tarik Bradha Kumbha Prana di kedua sisi Bradha Kumbha untuk mendesak api, agar api ini menyala, ini ibarat menghasilkan api dari menggosok kayu, anggap pikiran Anda sebagai dorje, anggap posisi avadhuti Anda sebagai kayu, gunakan kekuatan prana Anda untuk mendesak api tersebut, sekali api menyala, api tummo pun menyala.

(Siswa bertanya: visualisasi Vajrasattva atau visualisasi Vajravahari?)

Visualisasi Vajravahari, ini disebut “Samadhi Api Tummo Vajravahari.

(Siswa bertanya: saat abhiseka, harus visualisasi Vajravahari?)

Nanti, jika saya memberikan abhiseka Brabha Kumbha Prana dan buka nadi tengah, Anda harus visualisasi avadhuti atau sekujur tubuh Anda, berubah menjadi sebuah Bradha Kumbha, Bradha Kumbha ini berada di posisi empat jari di bawah cakra pusar Anda, ada percikan api sudah cukup. Menekuni sadhana ini, sama halnya berada di dalam lingkup abhiseka kedua.

Tantrayana memiliki 2 jenis penekunan, pertama lebih dulu menekuni “Kye-rim”, satu lagi adalah “Kye-rim” dan “Dzog-rim” ditekuni sekaligus. Mengerti? Saya hanya menjelaskan garis besarnya, di dalamnya banyak detil, saya sudah terangkan sangat jelas. Kita harus menekuni Bradha Kumbha Prana, sebab hanya saat Bradha Kumbha Prana berhasil, prana baru bisa bergetar, baru bisa bertenaga, sekujur tubuh baru bisa kokoh, baru bisa mengembangkan kekuatan Anda.
Kemudian, begitu nadi tengah terbuka, saat prana menelusuri tengah nadi tengah, sukha yang dihasilkan adalah mahasukha. Mengerti?

Sembilan tahap pernapasan Buddha adalah dasar dari Bradha Kumbha Prana. Kita atur pikiran kita lewat 9 tahap pernapasan Buddha, setelah menyelesaikan 9 tahap pernapasan Buddha, segera melakukan Bradha Kumbha Prana. Sembilan tahap pernapasan Buddha adalah memusatkan perhatian kita, saat prana bergerak, hati dan prana bisa terpusat, Kumbha Prana pun akan sukses, nadi tengah pasti terbuka. Di luar ada sebagian orang berkata, “Saya bisa membuat nadi tengah Anda terbuka dalam sekejap.” Itu jenius. Tantrayana kita saja tidak menyatakan secepat itu, harus bertahun-tahun. Melatih diri tidak secepat itu. Bila kita mau kontak yoga dengan Buddha dan Bodhisattva, Buddha dan Bodhisattva datang membantu kita, semua itu bertahun-tahun. Masih ada yang angkat tangan?

(Mahaguru, apakah menekuni “Bradha Kumbha Prana” dan “9 Tahap Meditasi” itu beda sistem sadhananya?)

“Sembilan Tahap Meditasi” adalah mengendalikan hati Anda; kita menekuni Bradha Kumbha Prana, juga menggunakan pikiran kita untuk menenangkan hati, walaupun beda sistemnya, Sembilan Tahap Pernapasan Buddha sama halnya dengan awal meditasi. Bradha Kumbha Prana juga harus memusatkan perhatian! Semua ini adalah Metode 9 Tahap Meditasi.

(Siswa bertanya: ada pertanyaan seputar gejala pergerakan roh.)

Pergerakan roh adalah pergerakan prana, merupakan teknik pengembangan diri, agar prana Anda mengalir di seluruh bagian tubuh Anda, bergerak ke mana-mana, sama halnya dengan suatu teknik penunjang, metode agar tubuh dan nadi Anda dapat terbuka. Umumnya adalah membiarkannya bergerak sendiri. Apabila Anda sedang ikut kebaktian, Anda juga bergerak seperti itu, bisa mempengaruhi orang lain.

Ada satu hal yang harus diingat, penting sekali, jika Anda anggap Anda memamerkan daya gaib dengan pergerakan roh, Anda akan mudah sekali kerasukan Mara, Anda mengira ini dewa apa yang datang, Anda pun menjadi medium. Kadang-kadang, api sedang menyala, Anda percaya begitu tangan Anda dimasukkan, tangan Anda tidak akan terbakar. Kalau begitu, Anda coba saja! Begitu tangan dimasukkan ke dalam api, tangan Anda pun hangus. Jangan percaya fenomena yang tidak masuk akal, sebab, setelah Anda kerasukan Mara, Mara itu akan menempel di badan Anda, Anda pun akan bergerak tanpa henti. Jadi, Anda harus kendalikan pergerakan roh Anda.

(Siswa bertanya: seorang umat berkata bahwa ia dulu kena herpes, namun, tidak bisa sembuh total, masih bisa sakit dan gatal.)

Berarti masih ada kuman di sana, berkembang biak di tubuh Anda, “kulit ular” sama dengan penyakit kulit, sembuh lalu kambuh lagi, itu adalah penyakit radang kulit yang sulit sembuh, Anda telah mengoleskan obat dari luar, setelah Anda bangun dari tidur, mulai gatal lagi.
Penyakit kulit sulit disembuhkan, kuman dibius oleh Anda dan tertidur, setelah bangun, mulai gatal lagi. (Mohon Mahaguru berkati nanti)

Amitabha! Begini saja!
Saya akan memberikan abhiseka Bradha Kumbha Prana dan Api Tummo pada Anda semua. Anda visualisasi diri sendiri adalah sebuah Bradha Kumbha, di tengah Bradha Kumbha, di posisi 4 jari dibawah pusar Anda adalah api tummo, keduanya diabhiseka sekaligus.

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Reposting is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Postingan ulang Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »