Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Sadhana’ Category


Intisari Ceramah Dharma Raja Buddha Lian Sheng Tanggal 3 Januari 2009 di Cetiya Taiping, Taiwan

Oleh Grand Master Sheng-Yen Lu, dipublikasikan ulang dari Notes-nya Lifin Ervika

Ini kedua kalinya saya datang ke Cetiya Taiping, semoga ketiga kalinya datang, di sini sudah Leizang Si. (Hadirin tepuk tangan dan bersorak)Seharusnya di sini sangat familiar bagi saya. Sebab, dulu saya menjalani pelatihan di Pusat 5, waktu itu di sini tidak begitu banyak rumah, Pusat 5 justru berada di depan saja, di Pinglin adalah pusat 3, di pusat pelatihan Pusat 5, sekarang adalah Chelongpu, paling dekat dengan Cetiya Taiping. Waktu itu, saya masih belum merintis Zhenfo Zong, belum ada Cetiya Taiping, jika ada, saya bisa sering kebaktian di sini.

Saya merasa hidup ini berubah dalam sekejap. Saat saya umur 20 tahun, saya menjalani pelatihan di Pusat 5. Waktu itu, saya menjalani pelatihan di Sekolah Kemiliteran 5, yakni Akademi Binggong, Akademi Teknik Angkatan Laut, Falkutas Geodesi, Falkutas Hukum Pidana Tentara, dan Falkutas Keuangan. Begitu saya mendaftarkan diri di Falkutas Geodesi, segera menjalani pelatihan di Pusat 5, 8 minggu di awal, 8 minggu di akhir, total 4 bulan. Empat puluh lima tahun yang lalu, umur 20 tahun, hingga sekarang, hidup ini berubah dalam sekejap. Dulu, asalkan libur, saya ke Taichung, waktu itu, orang lain akan berteriak, “Anak muda! Anak muda!” Sekarang tidak ada yang meneriaki saya, “Anak muda!”, berubah banyak! Inilah anicca. Berapa lama lagi saya di dunia Saha ini? Tidak berani diprediksi, tidak berani dibayangkan.

Kita melatih diri, yakni melatih ketenangan hati. Kali ini saya ke Singapura, menerangkan “Metode 9 Tahap Meditasi”, metode ini sama dengan metode menenangkan hati, dapat membuat hati tidak berpikiran yang bukan-bukan, tidak ada khayalan; Anda dapat menenangkan hati, menstabilkan hati, tidak memikirkan semua masalah lain. Ketika hati Anda sangat stabil, perenungan Anda, pemikiran Anda akan jernih. Ketika hati Anda fokus pada satu titik, sepenuhnya tidak bergerak, tidak goyah; Anda berlindung pada hati Anda sendiri, menyingkirkan seluruh kerisauan, tiba-tiba, hati Anda menghasilkan terang, seberkas cahaya yang Anda lihat, bukan muncul dari kesadaran Anda, bukan yang Anda pikirkan, Anda tidak punya pikiran lain. Namun, sinar yang Anda lihat itu, seperti langit cerah tanpa awan, Anda masuk ke dalam seberkas cahaya tersebut, Anda menemukan, seberkas cahaya tersebut mirip sepenuhnya dengan diri Anda sendiri. Malah, Anda dapat melihat seberkas cahaya tersebut setiap saat, ini disebut “menyaksikan Buddhata”.

Kadang-kadang dalam samadhi kita dapat melihat cahaya, namun, begitu Anda turun dari Dharmasana, Anda tidak dapat melihat cahaya lagi. Mengapa? Sebab, Anda dapat melihat cahaya dalam kondisi diam, namun, Anda tidak dapat melihat cahaya dalam kondisi bergerak. Dalam kondisi bergerak, hati Anda pun kabur. Jadi, seorang sadhaka yang benar-benar melatih sungguh-sungguh, di dalam kondisi diam bisa menyaksikan Buddhata, dalam kondisi bergerak pun bisa menyaksikan Buddhata, ini barulah “menyaksikan Buddhata” yang sesungguhnya.

“Metode 9 Tahap Meditasi” dapat mengekploitasi kebijaksanaan Anda di dalam samadhi. Setelah kebijaksanaan Anda tereksploitasi, Anda akan mengerti kebenaran di antara alam semesta. Jadi, mengapa kita sebagai umat Buddha, harus melatih meditasi, tujuan utamanya adalah untuk mengekploitasi kebijaksanaan Tathagata. Ketika Anda memiliki kebijaksanaan Tathagata, disebut “memahami hati”. Ketika Anda memahami hati, Anda pun bisa tahu, apa itu “tidak dapat apa-apa”, apa itu “tiada masalah”, apa itu “tiada kemelekatan”. Tujuan utama kita belajar Buddhisme adalah “memahami hati” dan “menyaksikan Buddhata”. Setelah Anda memahami hati dan menyaksikan Buddhata, Anda “menekuni Dao” atau “melatih diri” berdasarkan kebijaksanaan Tathagata, saat ini baru disebut “menekuni Dao”, barulah disebut “melatih diri”. Suatu hari nanti, Anda akan mencapai keberhasilan, mencapai kebuddhaan.Kita sebagai sadhaka, harus dapat memanggil kembali hati Anda, menempatkan kesadaran pikiran dan hati Anda bersama, terakhir bahkan kesadaran pun tidak ada lagi, hanya tinggal hati, ini baru disebut “memahami hati”. “Menyaksikan Buddhata” adalah, Anda telah buka kebijaksanaan Tathagata, Anda telah mengerti wujud sejati seluruh alam semesta, saat ini, disebut “menyaksikan buddhata”. Jadi, memahami hati dan menyaksikan Buddhata sulit sekali dijelaskan.

Namun, Anda harus menarik kembali hati Anda, lindungi hati Anda. Dulu, Guru Sesepuh Sekte Zen sering mengucapkan satu kalimat, “Lindungi diri baik-baik.” Ketika siswa hendak turun gunung, Sang Guru kerap menyampaikan satu kalimat padanya, “Lindungi diri baik-baik”. Anda harus lindungi baik-baik Buddhata Anda, jaga baik-baik Buddhata Anda, praktekkan baik-baik Buddhata Anda. Inilah tujuan utama Buddhadharma, justru di sinilah tujuan asasi Buddhadharma. Apakah kalian ada pertanyaan?(Siswa bertanya: Mahaguru, bagaimana kita mengalihkan “samadhi sukha” ke dalam “samadhi sunya”?)
“Mengalihkan sukha ke dalam sunya” adalah penerapan ganda antara sukha dan sunya.

(Siswa bertanya: Penggalan yang tadi Anda terangkan itu mulai menekuni “Dzog-rim”, sekarang yang kita tekuni adalah “Kye-rim”.)

Tataritual Zhenfo yang kita tekuni adalah “Kye-rim”, yang tadi diterangkan adalah awal dari “Dzog-rim”. Bukankah saya ada sebuah buku baru berjudul “Sunyata di dalam Mahasukha”? Bagaimana mengubah “Samadhi Sukha” menjadi “Samadhi Sunya”? Anda harus tahu satu kenyataan, semua kebahagiaan sangat singkat, hakikat dari kebahagiaan adalah sunya.
Anda selidiki saja kebahagiaan ini, Uh! Hari ini saya sangat bahagia, perlihatkan pada saya kebahagiaan itu! Tak bisa! Kebahagiaan itu tak berwujud, tak terlihat, kebahagiaan juga tak terdengar, itu perasaan Anda. Perasaan bahagia ini berlalu dalam sekejap. Jika besok Anda tersungkur, Anda pun tidak bahagia lagi. (Hadirin tertawa) Di dunia ini, kebahagiaan apapun adalah sementara, malah hakikatnya adalah sunya. Jadi, ketika Anda bahagia, Anda harus pikir, hakikatnya adalah sunya.

“Penerapan ganda antara sukha dan sunya” dalam Tantra adalah semacam kemudahan.
Ketika Anda sedang bahagia, Anda harus visualisasi kebahagiaan ini adalah sunya, Anda akan melepaskan kebahagiaan ini. Sebab, kebahagiaan ini sementara, tidak abadi. Ada orang yang bahagia pada pagi hari, siang ia mulai sedih, menderita; kadang-kadang, saat menderita, berubah menjadi bahagia lagi. Jadi, kita mengatakan “Tong-kuai! Tong-kuai!” (hadirin tertawa) yakni penderitaan dan kebahagiaan saling bertalian.

Mahaguru mengajarkan bahwa penderitaan dan kebahagiaan saling bertalian. Ada orang kadang-kadang sakit pinggang, kadang-kadang sakit pundak, itu sangat menderita, harus ubah menjadi kebahagiaan, Anda tempel selembar “Salonpas” (koyo pereda sakit), tiba-tiba, ia pun tidak sakit lagi, Anda pun pikir, inilah kebahagiaan. Seperti disuntik itu sangat menderita, pasien di rumah sakit itu sangat menderita. Mahaguru paling takut disuntik. Disuntik bisa sakit. Anda harus tahu sakit itu adalah sunyata, sakit juga sebentar saja! Sekali disuntik, sebentar saja, sakit itu hilang.
Misalnya, operasi di rumah sakit, ia membius Anda; atau Anda sakit, ketika ia meredakan sakit Anda dengan obat, Anda pun tidak sakit lagi. Sesungguhnya, penderitaan juga semacam sunyata. Jika Anda di rumah sakit sering berpikir demikian, Anda pun tidak akan menderita. Pasien di rumah sakit, merasa di rumah sakit sangat menderita, sungguh, di rumah sakit adalah satu hal yang paling menderita. Namun, ketika dibius, sakit pun hilang, ini membuktikan bahwa penderitaan itu sendiri adalah sementara, penderitaan itu sendiri juga sunya. Ketika menderita, harus dialihkan menjadi sementara, sunya, dan gejala yang singkat saja.

Mari kita perluas lagi, Anda mengira seluruh hidup ini adalah penderitaan, sesungguhnya, hidup ini sangat singkat. Umur 20 tahun lebih saya menjalani pelatihan di Chelongpu, sekarang saya kembali lagi ke Chelongpu, sudah umur 65 tahun, 45 tahun sudah berlalu. Apakah saya masih ada 45 tahun lagi? (Hadirin jawab: “Ada!”) Bagaimana pemikiran saya sekarang? Segala kebahagiaan adalah sementara, segala penderitaan juga sementara dan seketika, ubah seluruh penderitaan dan kebahagiaan di dunia ini menjadi sunyata.

Dalam menekuni Tantra, setelah kita mengerti teori ini, kita harus mulai menekuni sadhana dalam. Ketika Anda menekuni sadhana dalam, ketika prana Anda menembus nadi, ketika bindu menembus nadi, ketika api tummo menembus nadi, itu sangat bahagia, namun, kebahagiaan itu juga tidak abadi. Anda harus memanfaatkan api tummo Anda, membakar seluruh kerisauan materiil Anda, kemudian ubah tubuh Anda menjadi Buddhata, menjadi sunyata, inilah sadhana dalam dalam Tantrayana — metode “Dzog-rim”. Jadi, penjelmaan sinar pelangi Padmasambhava, Ia mengubah seluruh tubuh-Nya menjadi sinar pelangi, selamanya ada Tathata di dalam alam suci, inilah Buddhata sejati.

Secara teori, Anda harus mengubah sukha menjadi sunyata.
Dalam aspek sadhana dalam, Anda harus masuk tingkat sadhana yang lebih dalam lagi, dari penekunan “Kye-rim”, memasuki penekunan “Dzog-rim”, barulah dapat membuktikan kebahagiaan adalah sunyata.
Apakah masih ada pertanyaan?

(Siswa bertanya: mengenai pertanyaan yang Mahaguru ajukan di buku: agar nadi tengah sadhaka biasa terbuka, cakra hati harus terbuka, kebijaksanaan baru bisa terbuka, demikian baru bisa menyaksikan apa yang namanya “Buddhata”. Mohon Mahaguru berwelas asih mengabhiseka Bradha Kumbha Prana dan Samadhi Api Tummo, sehingga sadhaka baru bisa menjalankan sadhana) (Hadirin tepuk tangan dan bersorak)

Untuk buka nadi tengah, ketahuilah satu hal, harus melatih Bradha Kumbha Prana. Padmasambhava pernah bersabda, “Bradha Kumbha Prana adalah sumber pahala.” Segala pahala, berasal dari Bradha Kumbha Prana. Tantra mewajibkan kita melatih Bradha Kumbha Prana, mengapa? Supaya nadi tengah terbuka. Jadi, Bradha Kumbha Prana dan buka nadi tengah saling berhubungan. Dalam Tantra, Anda menekuni Bradha Kumbha Prana, Anda tarik napas, Anda harus visualisasi dengan pikiran, prana terus masuk dari nadi tengah, bukan di lambung, tapi 4 jari di bawah pinggang — Avadhuti, kemudian dari sana angkat anus.
Bagaimana dengan prana? Prana atas menekan ke bawah, prana bawah diangkat ke atas, di perut Anda berubah menjadi sebuah Bradha Kumbha. Berapa lama napas dapat disimpan? Anda simpan napas di sini hingga Anda tidak tahan lagi, perlahan-lahan Anda hembuskan napas dari lubang hidung, inilah Bradha Kumbha Prana dalam Tantra.

Demikianlah penekunan Taois, tarik napas, tiba di avadhuti, sama saja, tekan ke bawah dan angkat ke atas, seluruh napas disimpan di avadhuti, simpan sebentar, pakai pikiran, di bawah tulang belakang terus naik, tiba di nirvana, lalu turun dari sini (nirvana), tiba di sini (cakra kening), keluar dari posisi mata ketiga. Begitulah metode Taois, mengikuti tulang belakang, prana naik, keluar di sini (posisi mata ketiga), ketika Anda tidak tahan lagi, baru keluar dari lubang hidung, ini adalah penekunan Taois.

Tantrayana adalah, setelah tahan napas, tidak tahan lagi baru keluar dari nadi tengah hingga lubang hidung. Juga ada yang menggunakan “metode penyebaran”, napas keluar dari lubang pori-pori. Jika napas Anda dapat keluar dari lubang pori-pori, teknik yang sangat hebat; tarik napas dari lubang pori-pori, keluar dari lubang pori-pori, itu sangat hebat, itu sudah tingkat tinggi. Ketika kita baru mulai melatih, hanya melatih Bradha Kumbha Prana. “Tahan napas” pun harus dilatih bertahun-tahun.

(Siswa bertanya: kapan harus “mengunci tenggorokan”?)

Menekan jakun adalah menekan tenggorokan, agar napas di dalamnya tidak keluar; ketika mengeluarkan napas, jangan menekan jakun.

Jika Anda sering melatih (Bradha Kumbha Prana), dalam sehari jangan melebihi 21 kali. Sebab, ketika baru mulai latihan, panas dalam akan meningkat, bisa sakit kepala, sakit mata; ada yang bisa mimisan; ada yang bisa mengalami pembengkakan gusi. Anda harus atur pelan-pelan, atur hingga ia tidak panas dalam, amarah jangan begitu besar, juga jangan dingin, yang terpenting diatur pas-pasan. Kalau sudah lama dilatih, prana dengan sendirinya berjalan perlahan-lahan, memasuki nadi tengah, inilah prana kemudahan, prana yang memasuki nadi tengah, diubah menjadi prana kebijaksanaan. Ketika seluruh nadi tengah penuh dengan prana kebijaksanaan Anda, nadi tengah pun terbuka. Demikianlah nadi tengah terbuka.

Setelah buka nadi tengah, buka kelima cakra — cakra kening, cakra tenggorokan, cakra hati, cakra pusar, dan cakra reproduksi, semuanya dibuka, setelah semua terbuka, padukan dengan olahraga Anda, yakni Vajrasamdhi. Kita lebih dulu buka nadi tengah, memasukkan prana ke nadi tengah, lebih dulu melatih Bradha Kumbha Prana, setelah prana Anda dapat memasuki nadi tengah, perlahan-lahan, prana nadi tengah Anda pun penuh. Perlahan-lahan, satu demi satu cakra terbuka, sekali cakra terbuka, Anda pun bisa melihat sinar, ini adalah “membuka rintangan” dalam Tantra.

(Siswa bertanya: kapan menyalakan api tummo?)

Menyalakan api tummo, yakni setelah Bradha Kumbha Prana Anda sangat penuh, Anda visualisasi nadi tengah Anda dengan sangat jelas, prana ini mendesak api tummo di posisi empat jari di bawah pusar, yakni avadhuti bawah, posisi itu disebut “sumber api”. Anda harus visualisasikannya menjadi segitiga, segitiga melambangkan api, di tengah segitiga, ada sebuah benih aksara api, di dalam Tantra disebutkan separuh dari aksara “AH”, mirip sebuah ujung jari, ada sebuah percikan api di sana.
Ada yang mengatakan harus memanfaatkan Vajravahari berubah menjadi api merah, berdiri di tengah segitiga, ini mengandalkan visualisasi, saat visualisasi setitik api tersebut, tarik Bradha Kumbha Prana di kedua sisi Bradha Kumbha untuk mendesak api, agar api ini menyala, ini ibarat menghasilkan api dari menggosok kayu, anggap pikiran Anda sebagai dorje, anggap posisi avadhuti Anda sebagai kayu, gunakan kekuatan prana Anda untuk mendesak api tersebut, sekali api menyala, api tummo pun menyala.

(Siswa bertanya: visualisasi Vajrasattva atau visualisasi Vajravahari?)

Visualisasi Vajravahari, ini disebut “Samadhi Api Tummo Vajravahari.

(Siswa bertanya: saat abhiseka, harus visualisasi Vajravahari?)

Nanti, jika saya memberikan abhiseka Brabha Kumbha Prana dan buka nadi tengah, Anda harus visualisasi avadhuti atau sekujur tubuh Anda, berubah menjadi sebuah Bradha Kumbha, Bradha Kumbha ini berada di posisi empat jari di bawah cakra pusar Anda, ada percikan api sudah cukup. Menekuni sadhana ini, sama halnya berada di dalam lingkup abhiseka kedua.

Tantrayana memiliki 2 jenis penekunan, pertama lebih dulu menekuni “Kye-rim”, satu lagi adalah “Kye-rim” dan “Dzog-rim” ditekuni sekaligus. Mengerti? Saya hanya menjelaskan garis besarnya, di dalamnya banyak detil, saya sudah terangkan sangat jelas. Kita harus menekuni Bradha Kumbha Prana, sebab hanya saat Bradha Kumbha Prana berhasil, prana baru bisa bergetar, baru bisa bertenaga, sekujur tubuh baru bisa kokoh, baru bisa mengembangkan kekuatan Anda.
Kemudian, begitu nadi tengah terbuka, saat prana menelusuri tengah nadi tengah, sukha yang dihasilkan adalah mahasukha. Mengerti?

Sembilan tahap pernapasan Buddha adalah dasar dari Bradha Kumbha Prana. Kita atur pikiran kita lewat 9 tahap pernapasan Buddha, setelah menyelesaikan 9 tahap pernapasan Buddha, segera melakukan Bradha Kumbha Prana. Sembilan tahap pernapasan Buddha adalah memusatkan perhatian kita, saat prana bergerak, hati dan prana bisa terpusat, Kumbha Prana pun akan sukses, nadi tengah pasti terbuka. Di luar ada sebagian orang berkata, “Saya bisa membuat nadi tengah Anda terbuka dalam sekejap.” Itu jenius. Tantrayana kita saja tidak menyatakan secepat itu, harus bertahun-tahun. Melatih diri tidak secepat itu. Bila kita mau kontak yoga dengan Buddha dan Bodhisattva, Buddha dan Bodhisattva datang membantu kita, semua itu bertahun-tahun. Masih ada yang angkat tangan?

(Mahaguru, apakah menekuni “Bradha Kumbha Prana” dan “9 Tahap Meditasi” itu beda sistem sadhananya?)

“Sembilan Tahap Meditasi” adalah mengendalikan hati Anda; kita menekuni Bradha Kumbha Prana, juga menggunakan pikiran kita untuk menenangkan hati, walaupun beda sistemnya, Sembilan Tahap Pernapasan Buddha sama halnya dengan awal meditasi. Bradha Kumbha Prana juga harus memusatkan perhatian! Semua ini adalah Metode 9 Tahap Meditasi.

(Siswa bertanya: ada pertanyaan seputar gejala pergerakan roh.)

Pergerakan roh adalah pergerakan prana, merupakan teknik pengembangan diri, agar prana Anda mengalir di seluruh bagian tubuh Anda, bergerak ke mana-mana, sama halnya dengan suatu teknik penunjang, metode agar tubuh dan nadi Anda dapat terbuka. Umumnya adalah membiarkannya bergerak sendiri. Apabila Anda sedang ikut kebaktian, Anda juga bergerak seperti itu, bisa mempengaruhi orang lain.

Ada satu hal yang harus diingat, penting sekali, jika Anda anggap Anda memamerkan daya gaib dengan pergerakan roh, Anda akan mudah sekali kerasukan Mara, Anda mengira ini dewa apa yang datang, Anda pun menjadi medium. Kadang-kadang, api sedang menyala, Anda percaya begitu tangan Anda dimasukkan, tangan Anda tidak akan terbakar. Kalau begitu, Anda coba saja! Begitu tangan dimasukkan ke dalam api, tangan Anda pun hangus. Jangan percaya fenomena yang tidak masuk akal, sebab, setelah Anda kerasukan Mara, Mara itu akan menempel di badan Anda, Anda pun akan bergerak tanpa henti. Jadi, Anda harus kendalikan pergerakan roh Anda.

(Siswa bertanya: seorang umat berkata bahwa ia dulu kena herpes, namun, tidak bisa sembuh total, masih bisa sakit dan gatal.)

Berarti masih ada kuman di sana, berkembang biak di tubuh Anda, “kulit ular” sama dengan penyakit kulit, sembuh lalu kambuh lagi, itu adalah penyakit radang kulit yang sulit sembuh, Anda telah mengoleskan obat dari luar, setelah Anda bangun dari tidur, mulai gatal lagi.
Penyakit kulit sulit disembuhkan, kuman dibius oleh Anda dan tertidur, setelah bangun, mulai gatal lagi. (Mohon Mahaguru berkati nanti)

Amitabha! Begini saja!
Saya akan memberikan abhiseka Bradha Kumbha Prana dan Api Tummo pada Anda semua. Anda visualisasi diri sendiri adalah sebuah Bradha Kumbha, di tengah Bradha Kumbha, di posisi 4 jari dibawah pusar Anda adalah api tummo, keduanya diabhiseka sekaligus.

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Reposting is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Postingan ulang Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


Diketik ulang dari Buku ke-183 “Meninggalkan Keduniawian (Transcending Samsara)” dengan sedikit perubahan yang tidak mengubah arti, hanya menggaris-bawahi yang penting diperhatikan oleh pembaca.

Oleh: Grand Master Sheng-Yen Lu

Dulu, pernah ada seorang umat yang selalu berada di samping saya. Ia banyak mempelajari mustika sadhana aliran Tantra Tibet yang amat berharga.

Ia memang sangat serius dan tekun.

Dan saya pun mengajarkan beberapa kunci rahasia kepadanya. setelah menjalani latihan dalam jangka waktu tertentu, ia telah dapat menguasai tataritual Sadhana Tantra dengan sangat sempurna. Baik teori maupun praktek, tak satu pun yang terlewatkan olehnya.

Ia melaksanakan Sadhana Santika[1], Paustika[2], Vasikarana[3], dan Abhicaruka[4]. Semua kunci rahasianya sudah dilengkapi.

Ia juga telah menekuni Apihoma[4] sebanyak ratusan kali, Argampuja[5] sebanyak ratusan kail, Mahapuja sebanyak ratusan kali, Dewapuja sebanyak ratusan kali, Dharmapalapuja sebanyak ratusan kali, Gurupuja sebanyak ratusan kali, Adinatapuja sebanyak ratusan kali, berbagai persembahan sebanyak ratusan kali….

Suatu hari, ia datang ke tempat saya. Dengan wajah murung ia mengeluh, “Sama sekali tidak terjadi yukta[6].”

“Apakah kamu sudah mengundang para Mahasattva?”

“Sudah semua.”

“Apakah kamu sudah membaca Sutra Raja Agung Avalokitesvara[7] sebanyak seribu kali?”

“Sudah.”

“Apakah kamu sudah menjapa Mantra Mahaguru sebanyak delapan juta kali?”

“Sudah.”

“Apakah kamu sudah membaca Sutra Suvarnaprabhasottama sebanyak 49 kali?”

“Sudah juga.”

“Apakah kamu sudah melakukan berbagai ritual pertobatan?”

“Sudah.”

Ia telah menekuni hampir seluruh sadhana yang ada.

Ia telah berupaya dengan segala sadhana, akan tetapi sama sekali tidak memperoleh yukta. Laksana garam hanyut dalam laut, tiada bekas.

Ia bertanya, “Guru Lu, apakah masih ada sadhana yang lain?”

Saya menjawab, “Semua sadhana telah dilaksanakan, apa lagi yang harus saya katakan?”

“Bukankah dikatakan akan terjadi yukta? Terutama Sadhana Citta dalam hati?”

“Ya.”

“Mengapa tidak memperoleh yukta?”

” Saya sungguh tidak tahu.” Saya sangat menyesal.

Saat bersamadhi, diri saya masuk ke dalam kesadaran ketiadaan dan kekosongan. Itulah yang dikatakan “terlahir dalam kekosongan, berada dalam ketiadaan. Saya terlahir jadi Adinata, tetapi terhanyut oleh pikiran.”

Saat itu, saya muncul di alam “Buddha Ratna Wijaya”.

Saya bertanya pada Buddha Ratna Wijaya, “Mengapa setelah menekuni segala sadhana dengan penuh ketulusan, tetapi masih belum terjadi yukta?”

Buddha Ratna Wijaya menjawab, “Daripada menekuni segala macam sadhana, lebih baik berusaha mengosongkan pikiran. Yang ada menjadi tiada, yang tiada menjadi ada.”

“Mohon dijelaskan.”

Buddha Ratna Wijaya menjelaskan:

“Ada tiga macam manusia yang tidak mungkin memperoleh yukta dalam menekuni sadhana. Dengarkanlah dengan seksama. Jenis manusia pertama adalah mereka yang emosional dan mudah marah, jenis manusia kedua adalah mereka yang berhati culas dan kejam, jenis manusia ketiga adalah mereka yang amat serakah.”

Saya menjadi terdiam setelah mendengarkannya.

Buddha Ratna Wijaya melanjutkan, “Hati Buddha ber-yukta dengan hati langit, hati langit ber-yukta dengan hati manusia. Hati yang galau, keji, dan tamak, sadhana apapun yang ditekuninya tetap tidak akan memperoleh yukta.”

Oleh sebab itu, dengarkanlah sepatah kata yang cukup klise dari saya: “Utamakanlah menyucikan hati daripada menekuni sadhana! Apakah hati Anda suci adanya?”

– – –

Kosakata:

[1] Sadhana yang menitikberatkan pada efek Pemberkahan (peningkatan kemujuran/hoki dalam melakukan sesuatu)

[2] Sadhana yang menitikberatkan pada efek Peningkatan Berkah Harta Duniawi

[3] Sadhana yang menitikberatkan pada efek Pengikis karma buruk

[4] Sadhana yang menitikberatkan pada efek Tolakbala

[4] Sadhana pujana api (persembahan melalui media api)

[5] Sadhana pujana air (persembahan melalui media air)

[6] Kontak batin

[7] GaoWang Jing (baca: “Kau Wang Cin”), atau “Ko Ong Keng” dalam dialek Hokkian

– – –

Mohon Baca artikel yang berkaitan di bawah ini:

https://meilindaxu.wordpress.com/2010/10/02/mencapai-kebuddhaan-dalam-tubuh-sekarang/

Referensi:

Lu, Sheng-Yen. 2009. “Meninggalkan Keduniawian.” Medan: PT Budaya Daden Indonesia.

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Reposting is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Postingan ulang Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


Oleh: Grand Master Sheng-Yen Lu

Translation :Meilinda Xu 莲花许月珊

Dari buku ke-174 <<一道彩虹>> (A Rainbow Arc – Seutas Pelangi)

Dalam hidup ini, saya mempelajari Buddha Dharma dan melatih diri, dari badan jasmaniah sendiri selalu mempersembahkan “jasmani bersih”[1], “ucapan bersih”[2], “pikiran bersih”[3].

Kemudian, merasa bahwa karma buruk diri ini banyak dan berat, besar-kecilnya tidak terhingga, sehingga beberapa tahun terakhir ini saya menitikberatkan mencoba mengubah karma melalui mempraktekkan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Saya juga mengembangkan Bodhicitta yang besar, mencontoh Avalokitesvara Bodhisatva, Ksitigarbha Bodhisatva yang menggunakan seluruh raganya dalam menyeberangkan arwah di enam alam samsara.

Sepanjang hidup ini, saya diberi persembahan yang tak terhingga jumlahnya dari murid-murid saya. Jika tidak bersadhana[4] dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati, atau ada sedikit ketidak-seriusan, atau tidak memuaskan, maka sungguh telah mengecewakan murid saya sendiri.

Kembali ke permasalahan awal, di dalam Vimalakīrtinirdeśasūtra《維摩結經》ada disebutkan bahwa, dalam seluruh jenis persembahan, yang nomor wahid adalah persembahan Dharma.

Makna persembahan sangatlah dalam; ada persembahan barang yang berkualitas, atau yang juga mengandung makna tertentu, yang tentunya memiliki bentuk dan bernilai tinggi. Sadhaka[5] memberikan persembahan pada Buddha, Dharma, dan Sangha dengan persembahan barang bermutu, atau dengan persembahan puji-pujian, atau persembahan empat perbuatan, atau sepuluh macam persembahan, termasuk di dalamnya bersadhana, atau hanya satu kali saja melakukan pujabakti[6] di depan altar, pada saat tubuh-ucapan-pikiran disucikan, maka itulah yang disebut dengan “persembahan Dharma”.

Ternyata, hanya dengan melakukan pujabakti dengan khidmat, tenang, dan sungguh-sungguh mengerahkan jasmani dan jiwa di depan altar, sudah merupakan “mempersembahkan Dharma”!

Ini adalah persembahan tubuh-ucapan-pikiran yang sesungguhnya kepada Guru[7] dan seluruh Buddha Bodhisattva-Mahasattva.

Menuliskan sebuah gatha:

Melihat bebek kecil berenang di kolam

Melihat bunga yangliu[8]bergoyang dalam tiupan angin

Kamu haruslah memiliki mata Dharma

Persembahan apakah yang tertinggi

Pintu hati haruslah lapang dan luas

Harus sering menjalankan seluruh ajaran Buddha

Jangan sampai menyia-nyiakan usia muda

Persembahan seperti ini, bisakah kamu melakukannya

Artikel yang berkaitan (disarankan untuk dibaca):

https://meilindaxu.wordpress.com/2010/10/21/membangkitkan-tekad-dan-bodhicitta/

Link artikel asli berbahasa Mandarin:

http://www.tbsn.org/chinese2/article.php?id=8358&keyword=&backpage=&page=0


[1] Melambangkan “mensucikan perbuatan yang dilakukan oleh tubuh/fisik”, yaitu perbuatan yang berkaitan dengan membatasi diri memuaskan hawa nafsu yang dapat dicapai oleh fisik, melalui panca indera

[2] Melambangkan “mensucikan ucapan”, sesuai dengan sila yang berkaitan dengan ucapan dalam Atthasila untuk mencegah berbuat karma buruk melalui ucapan, yaitu tidak berkata yang tidak benar, tidak berkata yang tidak penting, tidak mengucapkan kata yang dapat menyakiti hati makhluk lain, dan tidak berbicara pada waktu yang tidak tepat

[3] Melambangkan “mensucikan pikiran”, yaitu tidak sedang memikirkan hal-hal yang dapat mengganggu ketenangan batin, termasuk di antaranya hal-hal yang berkaitan dengan kilesa/kekotoran batin (keserakahan/pemuasan hawa nafsu, kebodohan, emosi negatif seperti kesedihan, kebencian, dan kemarahan)

[4] Melatih diri (melakukan chanting, meditasi, menaati sila, berbuat kebajikan, pelimpahan jasa, dan segala tindakan/cara yang dapat meningkatkan kualitas Buddhata makhluk hidup untuk mencapai ke-Buddha-an)

[5] Orang yang melatih diri

[6] Sadhana yang sifatnya lebih fokus pada chanting dan meditasi

[7] Guru spiritual dan para Guru silsilah dalam Agama Buddha.

[8] Sejenis pohon, tumbuh dengan subur di daratan China

 

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


Oleh Grand Master Sheng-Yen Lu

释莲支:  “成佛?成魔?全在於「一心」,「心能自主」便成了「佛道」,心不能「自主」,便成了魔道。成佛?成魔?一線而已!”

Menjadi Buddha? Menjadi Mara? Semua bergantung pada “Satu Hati”. “Hati dapat mengendalikan diri” akan berubah menjadi “Jalan keBuddhaan”. Hati yang tidak mampu “mengendalikan diri” akan berubah menjadi jalan Mara. Menjadi Buddha? Menjadi Mara? Perbedaannya sangatlah tipis!

(Shi LianZhi)

***

Selama hidup menyepi di Danau Daun, di bayang-bayang gunung, di tepian danau, hatiku terasa sepi dan sempit. Namun, dengan khusyuk, aku menulis buku, menuangkan pikiranku, lebar tanpa tepi.

Aku merasa bahwa hatiku semakin lama semakin lapang, memikirkan apa yang telah kulakukan di masa lampau, ada yang perlu disesali, maka akupun menyatakan penyesalan di depan para Buddha Bodhisattva, teratai pun langsung menebarkan keharuman.

Jika dipikirkan kembali, zaman sekarang, hati manusia tidak teguh, kebiadaban semakin tinggi, bertindak berdasarkan keegoisan tinggi dan kepicikan, sehingga saling berebut. Lebih lanjut, hal ini berkembang menjadi peperangan antar negara, antar suku, antar rumah tangga, antar personil…

Manusia zaman sekarang, sungguh individualis, jika ingin sungguh-sungguh berbaur, sungguh-sungguh saling membantu, sungguh-sungguh saling memedulikan, tidak berpura-pura, tidak sentimen, tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, kelihatannya sangatlah tidak mudah. Kenapa di lingkungan manusia begitu banyak perhitungan seperti itu? Tidak mampu mewujudkan dunia yang damai nan indah, aku pun merenungkan secara seksama dan mendalam, ini semua disebabkan oleh ketidakmampuan dalam melapangkan hati.

Sangatlah banyak orang yang egois, atau iri hati, atau sirik, hanya menginginkan kemegahan diri sendiri, menjatuhkan orang lain, ini adalah permulaan dari hukum “sebab-akibat”.

Mengapa bisa ada enam alam gati? (enam alam tumimbal lahir)

Serakah, maka masuk ke alam neraka.

Iri hati, maka masuk ke alam setan kelaparan.

Bodoh, maka masuk ke alam binatang.

Sedangkan, alam manusia adalah separuh baik separuh buruk. Alam asura adalah tidak berhenti dalam bersaing dan berebut, terlalu mementingkan diri sendiri.

Alam dewa, jika menjalankan sepuluh kebajikan, maka akan terlahir di alam ini.

Sebenarnya, siapapun yang memberikan hal yang indah untukmu, atau siapapun yang memberikan hal yang menyakitkan bagimu, tidaklah mengapa.

Asalkan hatimu lapang dan luas, hingga luas tak bertepi, sudah merupakan keberhasilan dalam melatih diri. Saya berdiam di Danau Daun, bahkan mengganti nama dan marga, melupakan keakuan, berterimakasih pada semua makhluk. Saya tidaklah penting, semua makhluk-lah yang penting. Hatiku tanpa kebencian, tidak mampu menyalahkan siapapun, hanya dapat menyalahkan diri sendiri. Menyesallah!

Kita sebagai sadhaka, hanya memiliki rasa terimakasih, yang dapat melihat luasnya hati, harus berusaha dan belajar. Yang dapat melihat kesempitan hatinya, hendaknya merefleksi diri. Jika menginginkan dunia menjadi tanah suci yang sebenarnya, ternyata dapat dicapai dengan melapang-luaskan hati. Hati yang sempit dan picik, barulah akan selamanya berseteru dan bersaing tiada henti, tiada akhir.

Di pagi hari yang cerah di Danau Daun, saya memanjat hingga puncak gunung, tiada burung yang berkicau. Memandang ke langit, melihat warna langit yang tak bertepi, tak berbatas. itu adalah warna yang ada di dunia manusia. Di bawah langit biru ada gunung, sungai, dan daratan luas. Di gunung, sungai, dan daratan luas, manusia dan makhluk hidup bersama dengan saling memangsa.

Saya ingin terbang ke langit biru.

Mendoakan: dalam dunia manusia tidak ada benar dan salah, makhluk hidup tidak ada saling membunuh dan memangsa.

Hatiku sangatlah kosong…

Menyanyikan sebuah gatha:

Langit langit langit biru tanpa dilap

Hanya dengan beberapa langkah angsa baru terbang melintas

Terbang tanpa menyisakan jejak

Tanpa jejak tanpa jalur

Panggilan terpendam melihat gunung sungai daratan luas

Asap tebal di empat penjuru

Berkekurangan kedamaian

Ternyata adalah bencana perang

Siapapun tidak mengalah

Dekat, namun juga jauh

Mulai sekarang dunia surga dan dunia manusia selalu terpisah

Hanya seperti gejolak ombak

melatih diri untuk apa

mengapa harus mengganggu kedamaian yang susah diperoleh di dunia manusia

namun dengan melatih melapang-luaskan hati

secara alami akan mengetahui

bagaimana dapat terlahir

hati Bodhisattva tiada berbatas

senantiasa luas dan lapang

Link artikel asli: http://tbsn.org/chinese2/article.php?id=8399&keyword=&backpage=&page=0

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »

« Newer Posts