Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Sadhana’ Category


By                   : Living Buddha LianSheng (Grand Master Sheng-Yen Lu)
Translation     :Meilinda Xu 莲花许月珊
Source            : B228 – Unusual Past Lives of The Dharma King
Copied from  : http://www.dapinstore.com/news/read/4/tempat_persembunyian_rahasia_di_dalam_ingatan_raja_trison_detsen/
            Dalam kehidupan yang lampau, saat saya bereinkarnasi menjadi Raja Trison Detsen,saya sejak awal telah memahami kekentalan dari paham kesukuan.
            Salah satu di antaranya :
            Paham suku Sindhu di India sangatlah kuat. Secara internal ada kasta Brahmana, Ksatriya, Waisya, dan Sudra, pembagian kelasnya dapat dilihat dengan sangat jelas. Secara eksternal, ajaran kaum Brahmana tidak boleh dibabarkan keluar, termasuk agama Buddha aliran Theravada, Mahayana, Tantrayana. Ingin mempelajari Buddha Dharma dari India, sangatlah sulit.
            Pada saat itu, sepuluh orang biksu diutus ke India untuk mempelajari Buddha Dharma Tantrayana. Namun niat mereka untuk mempelajari secara diam-diam ternyata ketahuan, sehingga mereka malah diburon untuk dibunuh. suku India memiliki chauvinisme yang sangat tinggi. Biksu yang berhasil mempelajari dan tiba di Tibet juga menghadapi suku Tibet yang juga memiliki chauvinisme yang tinggi, terutama di distrik An dan distrik Kang. Biksu yang berhasil mempelajari, semuanya juga menghadapi nasib diburon.
            (Dalam kehidupan sekarang ini, saya, Sheng-Yen Lu, juga mengalami nasib yang sama dari sifat orang Tibet yang chauvinisme. Pembabaran Tantrayana Tibet hingga ke daratan China meskipun telah menempuh jalan yang sangat berbahaya, namun pembabarannya tidak sampai 10% bahkan 1% pun. Tidak hanya India yang memiliki chauvinisme, Tibet juga memiliki chauvinisme, suku Han dari daratan China juga memiliki chauvinisme. Sifat chauvinisme semacam ini telah menyebabkan sulitnya dan kecilnya Buddha Dharma Tantrayana yang telah terbabarkan, sangatlah patut disayangkan.)
Saat saya berada di zaman Raja Trison Detsen, Guru Padmasambhava sejak awal  sudah memahami realita sifat chauvinisme kesukuan. Oleh karena itu, Guru Padmasambhava menggunakan metode ‘persembunyian rahasia’ dan membagikan seluruh pusaka ajaran Dharma Beliau ke dalam berbagai ‘tempat persembunyian rahasia’ seperti di dalam gunung dan bebatuan, di bumi, di danau, di angkasa, menunggu untuk dikeluarkan oleh generasi penerus agar ajaran Dharma dapat dibabarkan.
            Guru Padmasambhava menyebut metode penyembunyian tersebut dengan ‘persembunyian di dalam bumi’.
            Waktu.
            Lokasi.
            Guru yang menyembunyikan.
            Dikeluarkan pada saat yang tepat, agar generasi penerus dapat memperoleh mantra rahasia ajaran Dharma Tantrayana.
            Selain itu :
            Di dalam ingatan saya sebagai Raja Trison Detsen, Guru Padmasambhava juga telah menyegel sebuah tempat persembunyian rahasia.
            Tempat persembunyian rahasia ini merupakan ‘ingatan persembunyian rahasia’. Guru Padmasambhava benar-benar sangat luar biasa, Beliau menyegel seluruh ajaran Dharma beliau di dalam ingatan saya. Saat kesempatan dan jodoh telah matang, maka saya akan dapat membabarkan Dharma Beliau. Saya dapat mengeluarkan ajaran Dharma dari Guru Padmasambhava dari dalam ingatan saya.
            Di Tibet :
            Saya bereinkarnasi menjadi Raja Trison Detsen.
            Saya bereinkarnasi menjadi Raja dari Dinasti Kerajaan Kuge.
            Saya bereinkarnasi menjadi Guru Silsilah Je Tsongkhapa… dll, dll.
            Di India :
            Saya bereinkarnasi menjadi Guru Atisa Dipamkara. (sebelum bereinkarnasi menjadi Je Tsongkhapa)
            Saya bereinkarnasi menjadi Raja Ayi.
            Saya bereinkarnasi menjadi Guru Tilopa… dll, dll.
            Di daratan China :
            Saya bereinkarnasi menjadi Kaisar Jinzong, Kaisar Renzong, dan kaisar terakhir dari Negara Dabaigao (Dinasti Kerajaan Xia Barat).
            Saya bereinkarnasi menjadi Shri Simha… dll, dll.
            Di Taiwan :
            Saya bereinkarnasi menjadi Buddha Hidup Liansheng Sheng-Yen Lu, dll, dll.
            (Ini adalah beberapa reinkarnasi yang cukup penting, sedangkan reinkarnasi lainnya jumlahnya tidak terhitung banyaknya.)
            Jika ada jodoh dan kesempatan, saya akan menuliskan lebih banyak lagi mengenai reinkarnasi lampau saya.
            Tubuh reinkarnasi Raja Trison Detsen telah mendapatkan ‘ingatan persembunyian rahasia’ dari Guru Padmasambhava, sehingga saya sangat familiar terhadap ajaran Dharma dari Guru Padmasambhava.
            Oleh karena inilah, di kehidupan ini, saya secara mencengangkan memahami :
            ‘Serangkaian Dharma yang dapat mengikis seluruh rintangan karma’.
            ‘Sembilan Tahapan Dasar Sadhana’.
            ‘Metode dalam Sadhana Yamantaka Lanjutan’.
            ‘Dua belas Metode dalam Sadhana Vajrakilaya Lanjutan’.
            ‘Kumpulan Metode dalam Sadhana Mamo Ekajati Lanjutan’.
            Dll, dll.
            Karena saya telah memiliki ‘ingatan persembunyian rahasia ajaran Dharma Guru Padmasambhava’, saya mengatakan bahwa seluruh ajaran Dharma ada di dalam hati saya, puluhan ribu Dharma ada di dalam hati saya, semuanya ini ada sebabnya.

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


by Grand Master Sheng-Yen Lu, B216 Contemporary Dharma King

Translation :Meilinda Xu 莲花许月珊

Ada yang bertanya, “Haruskah kita bersadhana setiap hari? Haruskah kita setiap hari mengerjakan tugas harian? Haruskah kita bersamadhi dan bersadhana setiap hari?”

Saya menjawab, “Harus.”

Mengapa?

Logikanya sangat simpel: kita menjunjung tinggi Buddha Dharma, bersandar pada Buddha Dharma. Kita mempraktekkan Buddha Dharma, menyelami Buddha Dharma, untuk memperoleh penyelamatan.

Saya rasa, “Ini merupakan yang paling berharga di dalam kehidupan manusia.”

Yang dikejar oleh manusia zaman sekarang, semuanya merupakan penampilan luar:

“Harta”.

“Rupa”.

“Nama”.

Saya berkata, “Kekayaan hanya dimiliki sementara waktu saja di dunia manusia, rupa hanya dimiliki di masa muda saja, nama dan kedudukan juga hanya dimiliki sementara waktu saja. Saya mengatakan dengan sangat jujur, saya memandang rendah ‘harta’, ‘rupa’, ‘nama’.”

Ada yang menjadi konglomerat, menganggap diri sendiri sudah sangat menakjubkan!

Ada yang sangat rupawan di masa muda, menganggap diri sendiri sudah sangat menakjubkan!

Ada yang menjadi pejabat, menganggap diri sendiri sudah sangat menakjubkan!

Saya tertawa terbahak-bahak, tidak pantas!

Sudah menjadi seorang konglomerat, terus kenapa? Ketika tiba saatnya meninggalkan dunia ini, satu pun tidak ada yang dapat dibawa serta. Rupawan dan muda, terus kenapa? Hanya sekejap waktu saja, sudah menjadi si tua bangka. Menjadi pejabat tinggi, terus kenapa? Lewat beberapa tahun, sudah berubah menjadi ubanan dan lamban.

Semua itu hanya sesaat.

Yang benar-benar paling berharga adalah, terbebas dari kelahiran dan kematian, menentukan sendiri kelahiran dan kematian diri sendiri, memahami hati dan menyaksikan Buddhata, mencapai keBuddhaan dalam tubuh sekarang, tiada dilahirkan dan tiada musnah, menyaksikan Buddhata diri sendiri, Buddhata yang abadi.

Saya menghormati dan berdecak kagum pada sadhaka yang berhasil mencapai pencerahan.

Di dunia ini, satu-satunya yang paling memiliki harga adalah:

“Buddhata”.

*

Kutipan kata bajik zaman dahulu berkata, “Buddhata tidak diperoleh melalui pelatihan diri, Buddhata sesungguhnya telah ada.”

Saya berkata, “Jika tidak melalui samadhi dan proses sadhana yang lama, anda tidak akan dapat memahami bahwa Buddhata tidak diperoleh melalui pelatihan diri.”

Ini kelihatannya bertentangan.

Kemudian, anda mesti mengamati dengan saksama. Sadhaka yang mempraktekkan jalan ini sejak lama, jika tidak mengalami “ombak pasang”, bagaimana bisa memahami “tidak ada yang diperoleh”?

Buddhata tidak diperoleh dari pelatihan diri.

Namun, samadhi dan bersadhana merupakan keharusan.

*

Tantrayana menganggap:

Tahap halus dari bersadhana dan samadhi untuk mengenali hati, di saat tubuh menjadi tenang dan bersih, ucapan menjadi tenang dan bersih, pikiran menjadi tenang dan bersih, dapat memahami sunyata dari tubuh kasar diri. Sunyata tubuh kasar ini, dapat membebaskan dari tumimbal lahir kelahiran dan kematian, dan dapat melepaskan beban pikiran dan penderitaan.

Prajna dari hawa.

Pembebasan dari nadi.

Titik cahaya terang yang suci.

Pengalaman bersadhana yang demikian dapat memperlihatkan dengan jelas bahwa harapan duniawi sebetulnya biasa-biasa saja, memahami makna hidup yang sesungguhnya, bahkan dengan prajna dari kesunyataan dapat mengakhiri penderitaan, harapan, avidya.

Kita sepatutnya:

Menghormati Buddhata yang ada dalam diri kita.

Buddhata bagaikan penari yang bersahaja.

Pakaian duniawi yang bergemerlapan seluruhnya ditinggalkan.

Menembusi lautan ilusi.

Hanya Arya yang melakukan samadhi dan bersadhana, barulah dapat mengenali anda.

Saya berkata, “Samadhi dan bersadhana merupakan keharusan, sama seperti Buddha Dharma, hanyalah merupakan sebuah alat. Saya telah mendalami selama 40 tahun, akhirnya menyaksikan Buddhata yang amat langka dan amat berharga. Tak dapat disangkal, samadhi, sadhana, dan Buddha Dharma hanya merupakan alat. Namun, tanpa alat, tidak akan dapat menyaksikan Buddhata!”

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »



Sumber:
http://www.snowlionpub.com/pages/N64_4.html (Diakses tanggal 7 Mei 2010)

Publikasi ulang artikel ini adalah dengan seizin penulis asli dan Redaksi The SNOW LION Newsletter. Artikel asli berbahasa Inggris oleh Polly Turner (mantan editor Sangha Journal), penerjemah ke dalam bahasa Indonesia dan editor ahli oleh Mei Linda (FT UI ‘06), editor kebahasaan oleh Willy Dozan Wijaya (FIB UI ’08)

Menjapa satu mantra;

gerakkan jempol dan telunjukmu

sepanjang butiran mala berikutnya

dari untaian tersebut; kemudian ulangi.

Mala Budhisme Tibetan, atau yang sering juga disebut sebagai japamala atau niànzhū dalam bahasa Mandarin, merupakan alat untuk membantu praktisi dalam menghitung jumlah penjapaan mantra sekaligus membantu seseorang untuk dapat menjaga konsentrasi dan kesadaran agar tetap fokus. Ketika seseorang menggerakkan butiran mala dengan jarinya pada saat menjapa mantra dan memvisualisasikan sosok suci, maka orang tersebut sedang menjapa mantra dengan melibatkan tubuh, ucapan, dan pikiran sekaligus.

Instruksi dasar untuk menggunakan mala cukup sederhana. Bagaimanapun juga, meskipun terdapat banyak kemiripan antara ritual dalam tradisi Budhisme Tibetan dan Bön, terdapat juga banyak perbedaan pada satu tradisi dengan tradisi lainnya, bahkan pada sekolah Budhis itu sendiri. Adalah lebih baik jika anda mengonsultasikan mengenai serangkaian tatacara ritual dengan orang yang berpengetahuan di dalam tradisi anda.

Beberapa Dasar mengenai Mala



Mala dipegang dengan kelembutan dan penghormatan, umumnya di tangan kiri. Satu butiran melambangkan satu kali penjapaan mantra, dimulai dengan butiran pertama yang tersusun di dalam lingkaran untaian setelah butiran “Guru” – butiran yang paling besar dan lebih terdekoratif pada akhir untaian mala, dan butiran sunyata, yang terletak setelah butiran “Guru”. Butiran pertama pada lingkaran untaian dipegang di antara jempol dan jari tengah. Setiap satu kali penjapaan, jempol menarik butiran yang lainnya menggantikan posisi butiran sebelumnya pada posisi di antara jari tengah dan jempol.

Setelah menyelesaikan satu untaian penuh dari mala, praktisi memutar mala 180 derajat (hal ini memerlukan latihan) dan memulai kembali penjapaan seperti sebelumnya, dalam arah penarikan butiran yang berlawanan dengan yang sebelumnya. Jika penjapaan putaran pertama menggunakan jempol tangan kiri untuk menarik butiran, maka penjapaan putaran kedua menggunakan jempol tangan kanan untuk menarik butiran, dan demikian untuk putaran berikutnya secara bergantian. Hal ini dilakukan sebagai simbol untuk menghindari melangkahi butiran “Guru”, sama halnya seperti seorang praktisi tidak boleh melangkahi (catatan penerjemah: “melangkahi” dalam konteks ini memiliki arti meremehkan atau tidak menghormati) Gurunya sendiri.

=dalam gambar ini, butiran Guru adalah butiran yang bermotif, butiran sunyata adalah butiran setelah butiran Guru (yang lebih pipih)=

Menurut the Office of Tibet, kantor perwakilan Yang Mulia Dalai Lama di London, butiran Guru melambangkan kebijaksanaan dari sunyata. Butiran sunyata yang mengikuti butiran Guru dan terletak sebelum butiran pertama penjapaan adalah butiran yang melambangkan sunyata itu sendiri; bersama, kedua butiran ini melambangkan telah menundukkan semua lawan/rintangan.

=Japamala Tibetan (lengkap dengan Vajra Dorje, Vajra Gantha, Butiran Caturmaharajakayika, Butiran Guru, Butiran Sunyata, dan Rumbai benang Tangan Teratai=

Untuk membantu penghitungan penjapaan mantra, kebanyakan mala Tibetan dilengkapi dengan butiran pembatas dengan warna yang berbeda, yang membatasi lingkaran untaian dalam empat bagian yang sama. Pemakai juga dapat menambahkan sepasang ikatan penghitung pada mala sebagai alat tambahan untuk membantu penghitungan. Masing-masing ikatan tersebut terdiri dari benang ganda yang dikaitkan dengan sepuluh lempengan cincin kecil, yang biasanya terbuat dari perak, emas, atau perunggu, di mana ikatan ini biasanya digunakan untuk menghitung butiran ke sepuluh dan keseratus dari lingkaran untaian mala.

Alat penghitung ketiga juga dapat ditambahkan pada mala untuk mengawasi jumlah lingkaran penjapaan yang telah dilakukan. Seringkali menggunakan simbol roda atau batu permata, penghitung ini ditempelkan pada benang di antara dua butiran, yang kemudian dapat direlokasikan dari butiran yang satu ke butiran yang lainnya untuk menandai jumlah lingkaran penjapaan yang telah dilakukan.

=salah satu contoh pembatas jumlah lingkaran penjapaan pada japamala=

Pemilihan Mala

Sebuah mala yang dilengkapi 108 butiran dalam satu untaian lingkarannya digunakan untuk tujuan umum oleh kebanyakan praktisi Budhisme Tibetan. Butiran dari biji bodhi secara umum dipertimbangkan baik untuk digunakan dalam pencapaian berbagai tujuan dari latihan maupun penjapaan mantra, dan kayu cendana merah atau biji teratai juga direkomendasikan secara luas untuk pemakaian universal.

Umumnya, mala terdiri dari 108 butiran untuk satu lingkaran untaian, yang dibagi dalam empat bagian yang sama, di mana setiap bagiannya terdiri dari 27 butiran. Jadi, setiap satu lingkaran penuh untaian mala melambangkan 108 kali penjapaan mantra. Angka 108 ini melambangkan banyak makna yang penting, menurut Robert Beer*, sebagai berikut:

“Oleh zaman sebelum berkembangnya Budhisme, angka keramat 108 merupakan angka klasik yang melambangkan jumlah makhluk suci atau dewata dalam agama Hindu. Sebagai hasil kali dari 12 dengan 9, angka ini melambangkan sembilan planet yang berada dalam ruang cakupan 12 zodiak. Sebagai hasil kali 27 dengan 4, angka ini juga melambangkan empat bagian bulan pada setiap 27 mansion atau konstelasi bulan. Sembilan juga merupakan angka ajaib, di mana setiap angka yang dikalikan dengan sembilan akan menghasilkan serangkaian angka yang jika dijumlahkan akan menghasilkan angka sembilan juga. Dalam Pranayana Yoga, terhitung bahwa seseorang melakukan pernafasan sebanyak 21.600 kali dalam siklus 24 jam, yang terdiri dari 60 periode dari 360 kali pernafasan; maka dari itu, siklus 12 jam pada siang hari sama dengan 10.800 pernafasan. Jumlah 108 butiran juga memastikan bahwa sedikitnya seratus kali penjapaan mantra telah dilakukan dalam satu lingkaran penuh untaian mala.”

Di samping kegunaan mala yang telah dideskripsikan di atas, ada beberapa jenis mala yang dianggap cocok digunakan untuk berbagai tujuan.

Mantra dapat dijapa untuk empat tujuan yang berbeda: untuk menenangkan, untuk meningkatkan, untuk mengatasi, atau untuk menjinakkan sesuatu secara paksa, menurut the Office of Tibet di London, yang mana juga menawarkan pedoman tambahan dalam memilih mala yang tepat untuk tujuan-tujuan tersebut:

Mala yang digunakan menjapa mantra untuk menenangkan harus terbuat dari butiran-butiran kristal, mutiara atau induk mutiara, dan setidaknya harus berwarna putih atau bening. Mala yang digunakan untuk tujuan ini harus memiliki setidaknya 100 butiran seperti itu. Mantra yang dihitung pada butiran-butiran ini bermanfaat untuk menghapus rintangan, seperti penyakit dan bencana lainnya, dan memurnikan seseorang dari ketidaksehatan.

Mala yang digunakan menjapa mantra untuk tujuan peningkatan harus terbuat dari emas, perak, tembaga, atau biji teratai, dan seluruh 108 butiran mala harus terbuat dari bahan-bahan tersebut. Mantra yang dihitung pada butiran ini bermanfaat untuk meningkatkan rentang hidup (memperpanjang umur), pengetahuan, dan status sosial (jabatan/kehormatan).

Mala yang digunakan menjapa mantra untuk tujuan mengatasi dibuat dari kayu cendana, kunyit, dan bahan-bahan alami lainnya yang memiliki keharuman. Mala ini terdiri atas 25 butiran. Mantra yang dihitung pada butiran ini bertujuan untuk menjinakkan yang lain, namun motivasi melakukannya haruslah merupakan keinginan yang murni untuk membantu makhluk hidup lainnya dan tidak dengan maksud untuk keuntungan pribadi.

Mala yang digunakan untuk menjapa mantra untuk tujuan menundukkan makhluk dengan paksa harus terbuat dari biji raksha atau tulang manusia dengan jumlah 60 butiran dalam satu untaian lingkaran mala. Lagi-lagi, tujuan melakukan ini haruslah dengan dasar kepentingan orang lain, dan satu-satunya orang yang mampu melakukannya hanyalah Bodhisatva yang termotivasi oleh rasa welas asih yang besar untuk makhluk yang tidak dapat dijinakkan dengan cara lain, sebagai contohnya adalah arwah yang rasa dendamnya sangat besar, atau malapetaka universal, yang divisualisasikan sebagai bola hitam yang padat.

Butiran yang terbuat dari biji atau kayu Bodhi dapat digunakan menghitung segala jenis mantra untuk berbagai tujuan, seperti mendoakan, mengatasi stress, mengharapkan kelancaran dalam suatu proses kondisi yang berulang, dan sebagainya**.

Tradisi spiritual Tibetan yang berbeda dapat juga memberikan pedoman yang berbeda dari yang telah diberikan di atas. Sebagai contoh, dalam tradisi Bön, mala dari biji Bodhi dianjurkan untuk keempat tujuan di atas; dan untuk aktivitas penentraman, direkomendasikan untuk menggunakan mala dengan 100 butiran kristal, kulit kerang, atau lapis lazuli. Untuk aktivitas peningkatan, disarankan menggunakan mala yang terdiri dari 108 butiran emas atau perak; untuk aktivitas kekuatan mengatasi, sebaiknya menggunakan mala dengan 50 butiran batu karang, tembaga, atau kayu cendana merah; dan untuk aktivitas penaklukan, mala dengan sepuluh butiran dari biji rudraksha direkomendasikan***. Biji rudraksha adalah buah kering dari pohon rudraksha yang tumbuh di Indonesia, Nepal, dan India; bentuknya bulat dan berbintik-bintik, dengan tonjolan berbutiran kecil-kecil, dan berukuran diameternya antara seperempat inci hingga lebih dari satu inci.

=Dua contoh japamala dari biji rudraksha=

=biji rudraksha=

Sering dianjurkan bahwa mala yang terbuat dari tulang – baik tulang manusia maupun hewan –hanya boleh digunakan oleh yogi yang telah mencapai pencerahan, karena objek ritual yang terbuat dari tulang dipercayai digunakan untuk menampung efek karma.

Beberapa Kata Mengenai Mantra

Siapa yang menjapa mantra, bagaimana mantra tersebut dijapa, niat seseorang ketika menjapanya – kesemuanya merupakan pertimbangan yang sangat penting. Dalam beberapa kasus, juga perlu dipertimbangkan siapa saja yang berada dalam jarak pendengaran saat seseorang sedang menjapa mantra. Bardor Tulku Rinpoche mencatat bahwa dalam tradisi Kagyu, adalah dapat diterima dalam berbagai kondisi untuk menjapa mantra dengan lantang, bahkan ketika orang lain yang tidak mengerti atau menghormati kekeramatan dari mantra tersebut dapat mendengarnya. Bagaimanapun juga, sejumlah tradisi lainnya menetapkan bahwa penjapaan mantra tertentu yang sangat berkekuatan haruslah dirahasiakan sama sekali.

Beberapa praktik memerlukan praktisi untuk menjapa mantra tertentu sebanyak 100.000 kali, atau bahkan sejuta kali. Karena sebuah mantra merupakan kumpulan dari intisari kekuatan pengajaran spiritual yang luar biasa, yang diringkas menjadi beberapa suku kata, sehingga lebih mudah untuk menduga seberapa besar kekuatan dari menjapa hanya sebuah mantra berulang kali hingga sebanyak itu. Orang yang melakukan penjapaan dengan penuh kesungguhan hati, dengan tetap menjaga samadhi di dalam pikiran mereka saat menjapa, dan menyandarkan diri pada kekuatan pemberkahan/adhistana (blessing), kekuatan abhiseka (empowerments), dan instruksi dari Guru yang berkualitas, akan memiliki kesempatan untuk membuktikan kekuatan dari pemberkahan dan mantra dengan lebih cepat.

Catatan kaki:

*     Dari The Encyclopedia of Tibetan Symbols and Motifs, oleh Robert Beer, Boston: Shambala, 1999.

**  Dicetak ulang dengan izin dari www.tibet.com, website dari the Office of Tibet, kantor perwakilan Yang Mulia Dalai Lama di London.

*** Detil mengenai aliran Bön dalam artikel ini bersumber dari Yang Mulia Lungtok Tenpai Nyima, kepala spiritual dari tradisi Bön Tibetan; dipublikasikan dengan seizin Sherab Palden dan Judy Marz.

Penerjemahan artikel ini didedikasikan untuk semua makhluk, semoga jasa kebajikan yang diperoleh dari artikel ini dapat menjadi karma baik penyebab tercapainya penerangan sempurna bagi semua makhluk. Sadhu, sadhu, sadhu.

Read Full Post »


Oleh: Grand Master Sheng-Yen Lu, diterjemahkan oleh Lianhua Shian, dipublikasikan ulang dari Notes-nya Padma Nanda Buddhist arts (di facebook)

dari buku ke-054 “Mizongjiemofa – 密宗羯摩法”

Note : Sadhana ini cocok untuk yang memiliki kandungan lemah atau sering keguguran.
Di Thailand ada sesosok dewa yang sangat terkenal, berada di tengah kota, yaitu Dewa Empat Mukha (Simianshen – 四面神). Sedangkan Dewa Empat Mukha atau <ket> Buddha Empat Mukha (SimianFo – 四面佛) sebenarnya adalah Dewa Mahabrahmaraja 「Da Fan Tian Wang – 大梵天王」。

Mahabrahma artinya adalah suci, di agama Brahmana merupakan Dewa Pencipta, dalam agama Buddha adalah Raja Dewa di rupadhatu jhana pertama. Dewa Empat Mukha di Thailand sangat terkenal di seluruh dunia, sebenarnya adalah Mahabrahma yang memang terkenal di seluruh dunia.

Sedangkan Mahabrahma ini adalah yang dibawa dari Thailand oleh siswaku yang bernama (Upasaka Lin Zhong Bei – 林忠杯) dan dipersemayamkan di mandala tantra saya. Maha Brahma adalah tuan di alam surga, bisa dikatakan merupakan ayah dari para insan, saat dewa ini senang maka dunia manusia akan tenteram, namun saat dewa ini murka, maka dunia akan terjadi kekacauan yang menyebabkan para insan menjadi tidak tenteram. Menurut apa yang saya dengar, gembira atau murkanya Mahabrahma mempengaruhi perubahan besar dan malapetaka besar dalam hidup manusia. <ket>

Dalam Sutra Mahavairocana ada dijelaskan wujud Nya :
「Mahabrahma, memakai mahkota jalinan rambut, duduk di kereta, empat mukha, empat lengan. Tangan kanan pertama membawa padma, ke 2 membawa japamala ; Tangan kiri pertama membawa tongkat (bisa juga gada), ke 2 membentuk mudra AUM / manggala. 」Namun wujud Buddha Catur Mukha di Thailand adalah empat mukha dan delapan lengan, singasana Nya juga tidak sama. Yang disemayamkan di rumahku adalah yang duduk di panggung Dharma, satu kaki terjulur ke bawah, sedangkan singasana Buddha Empat Mukha juga ada yang berupa gajah, beraneka ragam.

Dari sadhana karman yang berbahasa Pali, saya membaca sebuah rahaysa, yaitu : 「Para insan sebenarnya terlahir dariu satu pikiran dan satu energi dari Mahabrahma, maka adalah Bapa para insan, oleh karena itu , barang siapa memohon putera maupun puteri, hendaknya menekuni Sadhana Maha Brahma, menjapa mantra Maha Brahma, bervisualisasi Maha Brahma, membentuk mudra Maha Brahma, maka akan memperolehnya 」

Menurut sepengetahuan saya, Mahabrahma memiliki 15 Raja Setan yang khusus melindungi sadhana ini, namanya adalah :

1. 彌酬迦鬼
Michoujia gui

2. 彌伽王鬼
Miqiewang gui

3. 騫陀鬼
Qiantuo gui

4. 阿波悉摩羅鬼
Aboximoluo gui

5. 摩至迦鬼
Mozhijia gui

6. 摩知迦鬼
MOzhijia gui

7. 閻迷迦鬼
Yanmijia gui

8. 迦迷尼鬼
Jiamini gui

9. 離婆地鬼
Lipodi gui

10. 富多那鬼
Fuduona gui

11. 曼多難提鬼
Manduonanti gui

12. 舍九尼鬼
shejiuni gui

13. 建次波尼鬼
Jianciboni gui

14. 目佉曼荼鬼
Muqumantu gui

15. 藍波鬼。
Lanbo gui

Menekuni sadhana ini harus mempersemayamkan Mahabrahma dan menulis nama 15 Raja Setan ini untuk disemayamkan di kiri – kanan Mahabrahma, persembahkan makanan yang lezat, bunga wangi yang indah, dupa berkualitas, pelita dan susu.

Bagi yang memohon anak harus mempersembahkan bijih wijen.

Demikian sadhananya :

Melakukan sadhana ini paling baik saat , bulan 8 tanggal 15 kalender lunar atau tiap tanggal 15 bulan lainnya (kalender lunar), sang istri mandi dan mengenakan pakaian bersih, persembahkan semua pujana, sujud pada Mahabrahma, melafal nama 15 Raja Setan pengiring Mahabrahma masing masing 3 kali.

Sadhaka memasuki mandala , tangan membentuk mudra Mahabrahma.

Mudra Mahabrahma adalah,ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri membentuk lingkaran dan bersentuhan ujungnya, ketiga jari yang lain tegak lurus menghadap angkasa, mudra dibentuk di deposisi lebih tinggi dari bahu kita.

Tangan kanan mengambil beberapa butir wijen, diletakkan di atas kepala.

Saat itu bervisualisasi, wujud Mahabrahma agung bagaikan Buddha, tangan kiri dan kanan masing-masing membawa Dharmayudham, sebagai simbol bahwa dengan Sadhana ini dapat memperoleh keberhasilan yang sempurna, sesuai kehendak.

Kemudian bervisualisasi ulu hati Mahabrahma Devaraja, memancarkan cahaya biru terang ke arah bijih wijen di atas kepala sadhaka, bijih wijen berubah menjadi bayi yang diinginkan (putera atau puteri). Kemudian bayi tersebut berubah menjadi cahaya biru, memasuki tubuh sadhaka melalui puncak kepala , visualisasi ini sangat penting.

Setelah selesai bervisualisasi, meleraikan mudra , japa mantra :

「旦姪他。阿伽羅。伽寧那。伽伽寧。婆漏隸祇隸。伽婆隸。婆隸婆隸。不隸不隸。羅釵禰。修羅俾。遮羅俾。波 陀尼。沙尼。婆羅呵。那易。蘇波賀。」此咒唸四十九遍。

Danzhita. Aqieluo . Qie ning na. Qie qie ning. Po lou li zhi li. Qie Po Li. Po Li Po Li. Bu Li Bu Li. Luo Chai Ni. Xiu Luo Bi. Zhe Luo Bi. Bo Tuo ni. Sha Ni. Po Luo He. Na Yi . Su Bo He (49 kali)

menekuni sadhana ini bagi yang memohon anak, maupun ingin melahirkan putera atau puteri, semua akan terkabul sesuai dengan kehendak.

Sebenarnya Mahabrahma juga merupakan dewa Rejeki dan Dewa Pengabul kehendak. Bila seseorang bisa disukai oleh Mahabrahma pasti akan memperoleh pemberkahan dari Mahabrahma, berkah yang demikian adalah bagaikan naik ke alam surga.

mahabrahma Buddha Empat Mukha di Taiwan, sangat terkenal di seluruh penjuru dunia karena kemanjurannya, seperti saat ini di kota judi Las Vegas Amerika, ada sebuah satu tempat perjudian memesan satu rupang Mahabrahma muka empat untuk disemayamkan di pintu masuk utama perjudian, mengira supaya Mahabrahma bisa memberkati mereka dengan keberuntungan.

Namun itu adalah ketidak tahuan orang awam, kota judi mempersemayamkan Mahabrahma, begitu Mahabrahma Devaraja marah maka Las Vegas akan habis, orang awam sulit memahami misi dari Dewa Raja jhana pertama ini.

Biarlah saya menulis satu gatha untuk Mahabrahma Devaraja :

泰國梵王四面看,
Taiguo Fanwang Simian kan

Mahabrahma Thailand melihat dengan keempat mukha

初禪天主法成團;
chuchan Tianzhu Fa Chengtuan

Dharma Devaraja Jhana Pertama menjadi pasamuan

仙境美景令人爽;
Xianjin Meijing ling ren shuang

Pemandangan Indah Alam Mahadewa membuat takjub

求子有法不用煩。
Qiuzi you fa bu yong fan

Ada cara memohon anak, tak perlu lagi khawatir

– – –
Taisho Tripitaka No.1230, Sakyamuni Buddha mengatakan :
“Bagi yang mendengar mantra dan tata cara, bila menekuninya tanpa tata aturan yang sah (arus abhiseka Gurumula), semua mantra tak akan berfungsi, tingkah lakumu menyimpang dan merupakan pencurian Dharma, setelah meninggal dunia akan terjatuh dalam neraka, kemudian terlahir kembali di alam hewan. Inilah akibat pelanggaran dari penyimpangan itu !”

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Reposting is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Posting ulang Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »