Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Sadhana’ Category


Diketik ulang dari Buku ke-183 “Meninggalkan Keduniawian (Transcending Samsara)” dengan sedikit perubahan yang tidak mengubah arti, hanya menggaris-bawahi yang penting diperhatikan oleh pembaca.

Oleh: Grand Master Sheng-Yen Lu

Dulu, pernah ada seorang umat yang selalu berada di samping saya. Ia banyak mempelajari mustika sadhana aliran Tantra Tibet yang amat berharga.

Ia memang sangat serius dan tekun.

Dan saya pun mengajarkan beberapa kunci rahasia kepadanya. setelah menjalani latihan dalam jangka waktu tertentu, ia telah dapat menguasai tataritual Sadhana Tantra dengan sangat sempurna. Baik teori maupun praktek, tak satu pun yang terlewatkan olehnya.

Ia melaksanakan Sadhana Santika[1], Paustika[2], Vasikarana[3], dan Abhicaruka[4]. Semua kunci rahasianya sudah dilengkapi.

Ia juga telah menekuni Apihoma[4] sebanyak ratusan kali, Argampuja[5] sebanyak ratusan kail, Mahapuja sebanyak ratusan kali, Dewapuja sebanyak ratusan kali, Dharmapalapuja sebanyak ratusan kali, Gurupuja sebanyak ratusan kali, Adinatapuja sebanyak ratusan kali, berbagai persembahan sebanyak ratusan kali….

Suatu hari, ia datang ke tempat saya. Dengan wajah murung ia mengeluh, “Sama sekali tidak terjadi yukta[6].”

“Apakah kamu sudah mengundang para Mahasattva?”

“Sudah semua.”

“Apakah kamu sudah membaca Sutra Raja Agung Avalokitesvara[7] sebanyak seribu kali?”

“Sudah.”

“Apakah kamu sudah menjapa Mantra Mahaguru sebanyak delapan juta kali?”

“Sudah.”

“Apakah kamu sudah membaca Sutra Suvarnaprabhasottama sebanyak 49 kali?”

“Sudah juga.”

“Apakah kamu sudah melakukan berbagai ritual pertobatan?”

“Sudah.”

Ia telah menekuni hampir seluruh sadhana yang ada.

Ia telah berupaya dengan segala sadhana, akan tetapi sama sekali tidak memperoleh yukta. Laksana garam hanyut dalam laut, tiada bekas.

Ia bertanya, “Guru Lu, apakah masih ada sadhana yang lain?”

Saya menjawab, “Semua sadhana telah dilaksanakan, apa lagi yang harus saya katakan?”

“Bukankah dikatakan akan terjadi yukta? Terutama Sadhana Citta dalam hati?”

“Ya.”

“Mengapa tidak memperoleh yukta?”

” Saya sungguh tidak tahu.” Saya sangat menyesal.

Saat bersamadhi, diri saya masuk ke dalam kesadaran ketiadaan dan kekosongan. Itulah yang dikatakan “terlahir dalam kekosongan, berada dalam ketiadaan. Saya terlahir jadi Adinata, tetapi terhanyut oleh pikiran.”

Saat itu, saya muncul di alam “Buddha Ratna Wijaya”.

Saya bertanya pada Buddha Ratna Wijaya, “Mengapa setelah menekuni segala sadhana dengan penuh ketulusan, tetapi masih belum terjadi yukta?”

Buddha Ratna Wijaya menjawab, “Daripada menekuni segala macam sadhana, lebih baik berusaha mengosongkan pikiran. Yang ada menjadi tiada, yang tiada menjadi ada.”

“Mohon dijelaskan.”

Buddha Ratna Wijaya menjelaskan:

“Ada tiga macam manusia yang tidak mungkin memperoleh yukta dalam menekuni sadhana. Dengarkanlah dengan seksama. Jenis manusia pertama adalah mereka yang emosional dan mudah marah, jenis manusia kedua adalah mereka yang berhati culas dan kejam, jenis manusia ketiga adalah mereka yang amat serakah.”

Saya menjadi terdiam setelah mendengarkannya.

Buddha Ratna Wijaya melanjutkan, “Hati Buddha ber-yukta dengan hati langit, hati langit ber-yukta dengan hati manusia. Hati yang galau, keji, dan tamak, sadhana apapun yang ditekuninya tetap tidak akan memperoleh yukta.”

Oleh sebab itu, dengarkanlah sepatah kata yang cukup klise dari saya: “Utamakanlah menyucikan hati daripada menekuni sadhana! Apakah hati Anda suci adanya?”

– – –

Kosakata:

[1] Sadhana yang menitikberatkan pada efek Pemberkahan (peningkatan kemujuran/hoki dalam melakukan sesuatu)

[2] Sadhana yang menitikberatkan pada efek Peningkatan Berkah Harta Duniawi

[3] Sadhana yang menitikberatkan pada efek Pengikis karma buruk

[4] Sadhana yang menitikberatkan pada efek Tolakbala

[4] Sadhana pujana api (persembahan melalui media api)

[5] Sadhana pujana air (persembahan melalui media air)

[6] Kontak batin

[7] GaoWang Jing (baca: “Kau Wang Cin”), atau “Ko Ong Keng” dalam dialek Hokkian

– – –

Mohon Baca artikel yang berkaitan di bawah ini:

https://meilindaxu.wordpress.com/2010/10/02/mencapai-kebuddhaan-dalam-tubuh-sekarang/

Referensi:

Lu, Sheng-Yen. 2009. “Meninggalkan Keduniawian.” Medan: PT Budaya Daden Indonesia.

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Reposting is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Postingan ulang Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


Oleh: Grand Master Sheng-Yen Lu

Translation :Meilinda Xu 莲花许月珊

Dari buku ke-174 <<一道彩虹>> (A Rainbow Arc – Seutas Pelangi)

Dalam hidup ini, saya mempelajari Buddha Dharma dan melatih diri, dari badan jasmaniah sendiri selalu mempersembahkan “jasmani bersih”[1], “ucapan bersih”[2], “pikiran bersih”[3].

Kemudian, merasa bahwa karma buruk diri ini banyak dan berat, besar-kecilnya tidak terhingga, sehingga beberapa tahun terakhir ini saya menitikberatkan mencoba mengubah karma melalui mempraktekkan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Saya juga mengembangkan Bodhicitta yang besar, mencontoh Avalokitesvara Bodhisatva, Ksitigarbha Bodhisatva yang menggunakan seluruh raganya dalam menyeberangkan arwah di enam alam samsara.

Sepanjang hidup ini, saya diberi persembahan yang tak terhingga jumlahnya dari murid-murid saya. Jika tidak bersadhana[4] dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati, atau ada sedikit ketidak-seriusan, atau tidak memuaskan, maka sungguh telah mengecewakan murid saya sendiri.

Kembali ke permasalahan awal, di dalam Vimalakīrtinirdeśasūtra《維摩結經》ada disebutkan bahwa, dalam seluruh jenis persembahan, yang nomor wahid adalah persembahan Dharma.

Makna persembahan sangatlah dalam; ada persembahan barang yang berkualitas, atau yang juga mengandung makna tertentu, yang tentunya memiliki bentuk dan bernilai tinggi. Sadhaka[5] memberikan persembahan pada Buddha, Dharma, dan Sangha dengan persembahan barang bermutu, atau dengan persembahan puji-pujian, atau persembahan empat perbuatan, atau sepuluh macam persembahan, termasuk di dalamnya bersadhana, atau hanya satu kali saja melakukan pujabakti[6] di depan altar, pada saat tubuh-ucapan-pikiran disucikan, maka itulah yang disebut dengan “persembahan Dharma”.

Ternyata, hanya dengan melakukan pujabakti dengan khidmat, tenang, dan sungguh-sungguh mengerahkan jasmani dan jiwa di depan altar, sudah merupakan “mempersembahkan Dharma”!

Ini adalah persembahan tubuh-ucapan-pikiran yang sesungguhnya kepada Guru[7] dan seluruh Buddha Bodhisattva-Mahasattva.

Menuliskan sebuah gatha:

Melihat bebek kecil berenang di kolam

Melihat bunga yangliu[8]bergoyang dalam tiupan angin

Kamu haruslah memiliki mata Dharma

Persembahan apakah yang tertinggi

Pintu hati haruslah lapang dan luas

Harus sering menjalankan seluruh ajaran Buddha

Jangan sampai menyia-nyiakan usia muda

Persembahan seperti ini, bisakah kamu melakukannya

Artikel yang berkaitan (disarankan untuk dibaca):

https://meilindaxu.wordpress.com/2010/10/21/membangkitkan-tekad-dan-bodhicitta/

Link artikel asli berbahasa Mandarin:

http://www.tbsn.org/chinese2/article.php?id=8358&keyword=&backpage=&page=0


[1] Melambangkan “mensucikan perbuatan yang dilakukan oleh tubuh/fisik”, yaitu perbuatan yang berkaitan dengan membatasi diri memuaskan hawa nafsu yang dapat dicapai oleh fisik, melalui panca indera

[2] Melambangkan “mensucikan ucapan”, sesuai dengan sila yang berkaitan dengan ucapan dalam Atthasila untuk mencegah berbuat karma buruk melalui ucapan, yaitu tidak berkata yang tidak benar, tidak berkata yang tidak penting, tidak mengucapkan kata yang dapat menyakiti hati makhluk lain, dan tidak berbicara pada waktu yang tidak tepat

[3] Melambangkan “mensucikan pikiran”, yaitu tidak sedang memikirkan hal-hal yang dapat mengganggu ketenangan batin, termasuk di antaranya hal-hal yang berkaitan dengan kilesa/kekotoran batin (keserakahan/pemuasan hawa nafsu, kebodohan, emosi negatif seperti kesedihan, kebencian, dan kemarahan)

[4] Melatih diri (melakukan chanting, meditasi, menaati sila, berbuat kebajikan, pelimpahan jasa, dan segala tindakan/cara yang dapat meningkatkan kualitas Buddhata makhluk hidup untuk mencapai ke-Buddha-an)

[5] Orang yang melatih diri

[6] Sadhana yang sifatnya lebih fokus pada chanting dan meditasi

[7] Guru spiritual dan para Guru silsilah dalam Agama Buddha.

[8] Sejenis pohon, tumbuh dengan subur di daratan China

 

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


Oleh Grand Master Sheng-Yen Lu

释莲支:  “成佛?成魔?全在於「一心」,「心能自主」便成了「佛道」,心不能「自主」,便成了魔道。成佛?成魔?一線而已!”

Menjadi Buddha? Menjadi Mara? Semua bergantung pada “Satu Hati”. “Hati dapat mengendalikan diri” akan berubah menjadi “Jalan keBuddhaan”. Hati yang tidak mampu “mengendalikan diri” akan berubah menjadi jalan Mara. Menjadi Buddha? Menjadi Mara? Perbedaannya sangatlah tipis!

(Shi LianZhi)

***

Selama hidup menyepi di Danau Daun, di bayang-bayang gunung, di tepian danau, hatiku terasa sepi dan sempit. Namun, dengan khusyuk, aku menulis buku, menuangkan pikiranku, lebar tanpa tepi.

Aku merasa bahwa hatiku semakin lama semakin lapang, memikirkan apa yang telah kulakukan di masa lampau, ada yang perlu disesali, maka akupun menyatakan penyesalan di depan para Buddha Bodhisattva, teratai pun langsung menebarkan keharuman.

Jika dipikirkan kembali, zaman sekarang, hati manusia tidak teguh, kebiadaban semakin tinggi, bertindak berdasarkan keegoisan tinggi dan kepicikan, sehingga saling berebut. Lebih lanjut, hal ini berkembang menjadi peperangan antar negara, antar suku, antar rumah tangga, antar personil…

Manusia zaman sekarang, sungguh individualis, jika ingin sungguh-sungguh berbaur, sungguh-sungguh saling membantu, sungguh-sungguh saling memedulikan, tidak berpura-pura, tidak sentimen, tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, kelihatannya sangatlah tidak mudah. Kenapa di lingkungan manusia begitu banyak perhitungan seperti itu? Tidak mampu mewujudkan dunia yang damai nan indah, aku pun merenungkan secara seksama dan mendalam, ini semua disebabkan oleh ketidakmampuan dalam melapangkan hati.

Sangatlah banyak orang yang egois, atau iri hati, atau sirik, hanya menginginkan kemegahan diri sendiri, menjatuhkan orang lain, ini adalah permulaan dari hukum “sebab-akibat”.

Mengapa bisa ada enam alam gati? (enam alam tumimbal lahir)

Serakah, maka masuk ke alam neraka.

Iri hati, maka masuk ke alam setan kelaparan.

Bodoh, maka masuk ke alam binatang.

Sedangkan, alam manusia adalah separuh baik separuh buruk. Alam asura adalah tidak berhenti dalam bersaing dan berebut, terlalu mementingkan diri sendiri.

Alam dewa, jika menjalankan sepuluh kebajikan, maka akan terlahir di alam ini.

Sebenarnya, siapapun yang memberikan hal yang indah untukmu, atau siapapun yang memberikan hal yang menyakitkan bagimu, tidaklah mengapa.

Asalkan hatimu lapang dan luas, hingga luas tak bertepi, sudah merupakan keberhasilan dalam melatih diri. Saya berdiam di Danau Daun, bahkan mengganti nama dan marga, melupakan keakuan, berterimakasih pada semua makhluk. Saya tidaklah penting, semua makhluk-lah yang penting. Hatiku tanpa kebencian, tidak mampu menyalahkan siapapun, hanya dapat menyalahkan diri sendiri. Menyesallah!

Kita sebagai sadhaka, hanya memiliki rasa terimakasih, yang dapat melihat luasnya hati, harus berusaha dan belajar. Yang dapat melihat kesempitan hatinya, hendaknya merefleksi diri. Jika menginginkan dunia menjadi tanah suci yang sebenarnya, ternyata dapat dicapai dengan melapang-luaskan hati. Hati yang sempit dan picik, barulah akan selamanya berseteru dan bersaing tiada henti, tiada akhir.

Di pagi hari yang cerah di Danau Daun, saya memanjat hingga puncak gunung, tiada burung yang berkicau. Memandang ke langit, melihat warna langit yang tak bertepi, tak berbatas. itu adalah warna yang ada di dunia manusia. Di bawah langit biru ada gunung, sungai, dan daratan luas. Di gunung, sungai, dan daratan luas, manusia dan makhluk hidup bersama dengan saling memangsa.

Saya ingin terbang ke langit biru.

Mendoakan: dalam dunia manusia tidak ada benar dan salah, makhluk hidup tidak ada saling membunuh dan memangsa.

Hatiku sangatlah kosong…

Menyanyikan sebuah gatha:

Langit langit langit biru tanpa dilap

Hanya dengan beberapa langkah angsa baru terbang melintas

Terbang tanpa menyisakan jejak

Tanpa jejak tanpa jalur

Panggilan terpendam melihat gunung sungai daratan luas

Asap tebal di empat penjuru

Berkekurangan kedamaian

Ternyata adalah bencana perang

Siapapun tidak mengalah

Dekat, namun juga jauh

Mulai sekarang dunia surga dan dunia manusia selalu terpisah

Hanya seperti gejolak ombak

melatih diri untuk apa

mengapa harus mengganggu kedamaian yang susah diperoleh di dunia manusia

namun dengan melatih melapang-luaskan hati

secara alami akan mengetahui

bagaimana dapat terlahir

hati Bodhisattva tiada berbatas

senantiasa luas dan lapang

Link artikel asli: http://tbsn.org/chinese2/article.php?id=8399&keyword=&backpage=&page=0

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »

« Newer Posts