Feel free to download. Below is the preview of the document :
Melalui Dharmadesana Mahaguru Lu di LCS Seattle (di Sadhana Yidamyoga Ksitigarbha 3 Februari 2024 penanggalan lokal Seattle), ada topik tanya jawab yang menanyakan apakah saat membaca sutra harus sambil memikirkan artinya, dan sambil diresapi maknanya? Mahaguru menjawab, kalau saat membaca ya fokus di baca saja (mengacu ke saat sedang bersadhana atau di pembacaan sutra di vihara). Boleh mengatur waktu senggang lain yang dikhususkan untuk meresapi maknanya. Karena harus fokus, jadi jika sambil dipikirkan maksudnya apa, ujung-ujungnya jadi tidak fokus dalam pembacaan. Selain itu, tidak semua Sutra mudah dipahami. Jadi, membaca adalah membaca, merenungkan adalah merenungkan, itu adalah dua hal yang berbeda. Atur waktunya untuk fokus ke salah satu saja.
Sutra versi ini khusus disusun untuk membantu pembacaan agar dapat berlangsung lancar (setidaknya mengurangi beban dalam memikirkan “huruf ini harusnya dibaca sebagai apa, bagaimana bunyinya”)
Di bagian mandarin juga sudah ditambahkan mantra pembalas jasa orang tua, mantra penambal kekurangan, mantra paripurna, mantra Sukhavati Vyuha Dharani, mantra Tujuh Buddha masa lampau. Selain itu juga ada penjelasan di dalam Sutra tentang penerima penyaluran jasa kebajikan hanya mendapatkan 1/7 bagian, sedangkan pelaku kebajikan tetap akan mendapatkan 6/7 bagian (lebih jelasnya bisa dilihat di bagian terjemahan Indonesia, sudah digaris bawahi dan dicetak tebal di sana).
Sutra Ksitigarbha yang dapat di-Download (tekan tombol “Download” di dekat judul), menggunakan Bahasa Indonesia sehingga dapat lebih mudah dipahami.
Tampilan dari file yang dapat di-download secara Gratis ini adalah sebagai berikut :
Ada penjelasan di dalam Sutra tentang penerima penyaluran jasa kebajikan hanya mendapatkan 1/7 bagian, sedangkan pelaku kebajikan tetap akan mendapatkan 6/7 bagian (sudah digaris bawahi dan dicetak tebal di sana).
From B174 一道彩虹 – An Arc of Rainbow 《Seutas Pelangi》
Author : Grand Master ShengYen Lu
Translation : Meilinda Xu 莲花许月珊
Kesadaran Buddha sebenarnya ada di mana? Ada yang mengatakan “Sunya”, ada yang mengatakan “Ada”, ada yang mengatakan “Tidak kosong”, ada yang mengatakan “Tidak ada”.
Di sini saya ingin mengungkapkan beberapa kata :
Teratai tumbuh dari lumpur namun tidak ternodai.
Di dalam beban pikiran dapat muncul Bodhi.
Di dalam kondisi lingkungan yang buruk muncul ketentraman.
Mencapai jalan kebudhaan di dalam dukha dan bencana insan.
Kita tidak melekati “Sunya”, juga tidak melekati “Ada”, sunya dan ada adalah alamiah, ini dinamakan jalan pembebasan dari tiada kemelekatan.
Ada yang melekati suatu metode, ada juga orang yang melekati banyak metode, di dalam suatu metode membeda-bedakan siapa tinggi siapa rendah, siapa besar siapa kecil, siapa benar siapa tidak benar, bergunjang-ganjing, masih lebih baik hidup dengan alamiah saja. Tidak usah mengurusi terlalu banyak, hari ini, besok, lusa, kemarin lusa; kehidupan lampau, kehidupan sekarang, kehidupan yang akan datang, semuanya tidak diambil pusing.
Saya hidup secara alamiah, jika prajurit musuh datang maka jendral menghalangi, jika air datang maka benam dengan tanah, tidak masuk ke dalam hati, di setiap tempat ada Buddha, di setiap kondisi selalu bersyukur, tenang dan damai, juga tidaklah kaku dan tidak natural, Sunya dan Ada saling melebur. Saya di “Danau Daun” melewati hidup yang seperti ini, natural itu baik, tidak melekati.
Menuliskan sebuah sajak :
Melihat apapun tidak gentar
Peduli amat berisik dan keributan
Melafal Buddha membuat hati tidak galau
Mendengar kritikan juga cuma senyum-senyum saja
Di dalam samadhi tiba di mimpi
Biarkan bunga mekar
Biarkan bunga gugur
Waktu tidak ada hubungannya dengan saya
Lahir batin menjalani secara natural
********
Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/ daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber
*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!
Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian yang anda berikan!*
**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching
Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**
Dulu saya kurang paham pelantunan gatha dalam ibadah pujabakti di Kargyupa, logika dari pelantunan intonasi dalam pujabakti.
Saya berkata : ”Mengapa Gatha pujian atau pelafalan Nama Buddha perlu dilantunkan sampai sepanjang itu, seperti nyanyian opera? Jika hanya dibaca, sebentar saja sudah selesai.”
Biksu Shanci berkata kepadaku : ”Ini dinamakan pelafalan panjang, suaranya harus halus, harus pelan, harus ditarik panjang, ada maknanya tersendiri.”
*
Biksu Shanci mengatakan ada tiga makna :
Pertama, memasuki sukma kesadaran diri sendiri.
Kedua, ungkapan langsung dari perasaan.
Ketiga, menghormati dari pikiran.
*
Kita melafalkan nama Buddha dan menyanyikan Gatha, terkandung ketiga makna ini di dalam, maka terwujudlah “halus, pelan, panjang”. Jika melafalkan nama Buddha dan menyanyikan Gatha tidak dengan cara demikian, tidak akan mampu “tertanam di hati”. Ungkapan langsung dari perasaan juga bukanlah raungan tangisan, juga bukan merupakan desahan pilu. Di tengah pelantunan sudah terdapat kesadaran dari “sembah sujud”, “persembahan”, “pujian”, “visualisasi” di dalamnya.
Ini sudah termasuk sedang melatih diri.
Jika tidak demikian, membaca secara terburu-buru, tidak mudah “menyelami hati”, “mencapai langsung”, “hormat”.
*
Menuliskan sebuah sajak :
Melafalkan nama Buddha menyanyikan Gatha janganlah tergesa-gesa
Ibarat hujan lebat angin badai
Namun haruslah halus pelan panjang
Jika tidak maka akan terasa menyebalkan
*
Setiap melodi naik turun memasuki telinga dan hati
Begitu bervisualisasi segera tiba dan berkeliling di paviliun Buddha
Juga tidak kebingungan dan tidak kabur
Sepatah demi sepatah kata sangat jelas mengguyur turun
Melambangkan niat dan penghormatan dari sadhaka
Tanpa pikiran menyimpang akan melembut secara alamiah
********
Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/ daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber
*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!
Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*
**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching
Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**