Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Grand Master Sheng-Yen Lu’


By                   : Living Buddha LianSheng (Grand Master Sheng-Yen Lu)
Translation     :Meilinda Xu 莲花许月珊
Source            : B228 – Unusual Past Lives of The Dharma King
Copied from  : http://www.dapinstore.com/news/read/4/tempat_persembunyian_rahasia_di_dalam_ingatan_raja_trison_detsen/
            Dalam kehidupan yang lampau, saat saya bereinkarnasi menjadi Raja Trison Detsen,saya sejak awal telah memahami kekentalan dari paham kesukuan.
            Salah satu di antaranya :
            Paham suku Sindhu di India sangatlah kuat. Secara internal ada kasta Brahmana, Ksatriya, Waisya, dan Sudra, pembagian kelasnya dapat dilihat dengan sangat jelas. Secara eksternal, ajaran kaum Brahmana tidak boleh dibabarkan keluar, termasuk agama Buddha aliran Theravada, Mahayana, Tantrayana. Ingin mempelajari Buddha Dharma dari India, sangatlah sulit.
            Pada saat itu, sepuluh orang biksu diutus ke India untuk mempelajari Buddha Dharma Tantrayana. Namun niat mereka untuk mempelajari secara diam-diam ternyata ketahuan, sehingga mereka malah diburon untuk dibunuh. suku India memiliki chauvinisme yang sangat tinggi. Biksu yang berhasil mempelajari dan tiba di Tibet juga menghadapi suku Tibet yang juga memiliki chauvinisme yang tinggi, terutama di distrik An dan distrik Kang. Biksu yang berhasil mempelajari, semuanya juga menghadapi nasib diburon.
            (Dalam kehidupan sekarang ini, saya, Sheng-Yen Lu, juga mengalami nasib yang sama dari sifat orang Tibet yang chauvinisme. Pembabaran Tantrayana Tibet hingga ke daratan China meskipun telah menempuh jalan yang sangat berbahaya, namun pembabarannya tidak sampai 10% bahkan 1% pun. Tidak hanya India yang memiliki chauvinisme, Tibet juga memiliki chauvinisme, suku Han dari daratan China juga memiliki chauvinisme. Sifat chauvinisme semacam ini telah menyebabkan sulitnya dan kecilnya Buddha Dharma Tantrayana yang telah terbabarkan, sangatlah patut disayangkan.)
Saat saya berada di zaman Raja Trison Detsen, Guru Padmasambhava sejak awal  sudah memahami realita sifat chauvinisme kesukuan. Oleh karena itu, Guru Padmasambhava menggunakan metode ‘persembunyian rahasia’ dan membagikan seluruh pusaka ajaran Dharma Beliau ke dalam berbagai ‘tempat persembunyian rahasia’ seperti di dalam gunung dan bebatuan, di bumi, di danau, di angkasa, menunggu untuk dikeluarkan oleh generasi penerus agar ajaran Dharma dapat dibabarkan.
            Guru Padmasambhava menyebut metode penyembunyian tersebut dengan ‘persembunyian di dalam bumi’.
            Waktu.
            Lokasi.
            Guru yang menyembunyikan.
            Dikeluarkan pada saat yang tepat, agar generasi penerus dapat memperoleh mantra rahasia ajaran Dharma Tantrayana.
            Selain itu :
            Di dalam ingatan saya sebagai Raja Trison Detsen, Guru Padmasambhava juga telah menyegel sebuah tempat persembunyian rahasia.
            Tempat persembunyian rahasia ini merupakan ‘ingatan persembunyian rahasia’. Guru Padmasambhava benar-benar sangat luar biasa, Beliau menyegel seluruh ajaran Dharma beliau di dalam ingatan saya. Saat kesempatan dan jodoh telah matang, maka saya akan dapat membabarkan Dharma Beliau. Saya dapat mengeluarkan ajaran Dharma dari Guru Padmasambhava dari dalam ingatan saya.
            Di Tibet :
            Saya bereinkarnasi menjadi Raja Trison Detsen.
            Saya bereinkarnasi menjadi Raja dari Dinasti Kerajaan Kuge.
            Saya bereinkarnasi menjadi Guru Silsilah Je Tsongkhapa… dll, dll.
            Di India :
            Saya bereinkarnasi menjadi Guru Atisa Dipamkara. (sebelum bereinkarnasi menjadi Je Tsongkhapa)
            Saya bereinkarnasi menjadi Raja Ayi.
            Saya bereinkarnasi menjadi Guru Tilopa… dll, dll.
            Di daratan China :
            Saya bereinkarnasi menjadi Kaisar Jinzong, Kaisar Renzong, dan kaisar terakhir dari Negara Dabaigao (Dinasti Kerajaan Xia Barat).
            Saya bereinkarnasi menjadi Shri Simha… dll, dll.
            Di Taiwan :
            Saya bereinkarnasi menjadi Buddha Hidup Liansheng Sheng-Yen Lu, dll, dll.
            (Ini adalah beberapa reinkarnasi yang cukup penting, sedangkan reinkarnasi lainnya jumlahnya tidak terhitung banyaknya.)
            Jika ada jodoh dan kesempatan, saya akan menuliskan lebih banyak lagi mengenai reinkarnasi lampau saya.
            Tubuh reinkarnasi Raja Trison Detsen telah mendapatkan ‘ingatan persembunyian rahasia’ dari Guru Padmasambhava, sehingga saya sangat familiar terhadap ajaran Dharma dari Guru Padmasambhava.
            Oleh karena inilah, di kehidupan ini, saya secara mencengangkan memahami :
            ‘Serangkaian Dharma yang dapat mengikis seluruh rintangan karma’.
            ‘Sembilan Tahapan Dasar Sadhana’.
            ‘Metode dalam Sadhana Yamantaka Lanjutan’.
            ‘Dua belas Metode dalam Sadhana Vajrakilaya Lanjutan’.
            ‘Kumpulan Metode dalam Sadhana Mamo Ekajati Lanjutan’.
            Dll, dll.
            Karena saya telah memiliki ‘ingatan persembunyian rahasia ajaran Dharma Guru Padmasambhava’, saya mengatakan bahwa seluruh ajaran Dharma ada di dalam hati saya, puluhan ribu Dharma ada di dalam hati saya, semuanya ini ada sebabnya.

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


By                   : Living Buddha LianSheng (Grand Master Sheng-Yen Lu)
Translation     : Meilinda Xu 莲花许月珊
Source            : B228 – Unusual Past Lives of The Dharma King
Image            Di kehidupan yang lampau, di zaman Yao menjadi kaisar di daratan China, Guru dari Yao adalah seorang pertapa bernama Xuyou. Xuyou adalah seorang yang memiliki prajna yang luar biasa tinggi, bukan prajna yang dimiliki oleh orang awam, melainkan prajna dari orang suci.
            Sehingga, dapat dikatakan bahwa Yao juga tergolong orang suci. Oleh sebab itu, Yao menyerahkan kedudukannya kepada Shun, dan Shun menyerahkan kedudukannya kepada Yu. ‘Penyerahan kedudukan’ yang seperti ini juga merupakan sifat bijak dari para suciwan.
            Yao – Shun – Yu merupakan tiga orang kaisar yang memiliki posisi dan kehormatan yang sangat tinggi di daratan China. Ketiganya diberi julukan ‘Maharaja Penguasa Langit, Bumi, dan Air’.
            Yao adalah Maharaja penguasa Langit.
            Shun adalah Maharaja penguasa Bumi.
            Yu adalah Maharaja penguasa Air.
            Trilogi yang terus bertahan hingga ribuan tahun bak semerbak wangi dupa.
            Yao pernah berekreasi ke suatu tempat. Di sana, seseorang berkata kepadanya, “Selamat datang, suciwan! Semoga suciwan panjang umur!”
            Yao berkata, “Tidak.”
            Orang itu berkata, “Semoga suciwan menjadi orang terkaya nomor satu di bawah dunia!”
            Yao berkata, “Tidak.”
            Orang itu berkata, “Semoga suciwan menghasilkan keturunan lelaki!”
            Yao berkata, “Tidak.”
            Orang itu berkata, “Asalkan orang di dunia, semuanya pasti mengharapkan memiliki harta, keturunan lelaki pewaris, dan panjang umur. Harta – keturunan – panjang umur adalah hal yang selalu diimpikan dan dimohon oleh setiap orang. Akan tetapi, mengapa anda tidak menginginkannya?”
            Yao berkata, “Jika saya telah menghasilkan anak lelaki, saya akan bisa mengkhawatirkan masa depannya kelak bagaimana. Selain itu, jika saya telah menjadi sangat berada, akan ada banyak gosip bermunculan. Semakin kaya, akan semakin banyak masalah. Ada lagi, jika saya panjang umur, orang yang memfitnah saya akan bisa menghina saya lebih lama lagi. Oleh sebab itu, saya tidak berani menerima harta, keturunan lelaki, dan panjang umur.”
            Orang itu berkata, “Ternyata anda bukan suciwan. Suciwan harus mengerti mengubah nasib. Tidak mengerti mengubah nasib, berarti bukanlah suciwan.”
            Yao bertanya, “Apa yang dimaksud dengan mengubah nasib?”
            Orang itu berkata, “Sudah melahirkan, maka harus dididik dengan baik, hingga ia tumbuh dewasa dan menjadi orang yang baik. Tumbuh menjadi orang yang baik dan gentleman, apa yang perlu ditakutkan? Setelah memiliki harta dan menjadi orang terkaya nomor satu di dunia, gunakanlah uang di dunia untuk didanakan kepada manusia di dunia, bukankah ini lebih baik? Maka tidak akan ada banyak masalah lagi. Selain itu, panjang umur, fitnahan juga panjang. Tidak perduli fitnahan panjang atau pendek, asalkan sesuai dengan jalan kebenaran, jalankan saja. Asalkan bisa melatih jalan kebenaran ini, fitnahan juga termasuk dalam pelatihan jalan kebenaran ini. Setelah berhasil melatih, naik ke alam dewa, mengendarai awan putih, bebas leluasa dan bahagia, apalah artinya fitnahan tersebut!”
            Begitu Yao mendengar, ia pun sangat terkejut.
            Orang tersebut bergegas pergi!
            Yao ingin bertanya lagi.
            Orang itu berkata, “Cepatlah anda pulang!”
            Saya di kehidupan yang saat ini :
            Memiliki seorang anak lelaki — ajari dia, menjadi baik ataupun jahat, terserah dia.
            Memiliki sedikit uang — mendirikan Yayasan Sheng-Yen Lu Foundation.
            Memiliki sedikit panjang umur — fitnahan, bukan urusanku.
            Sebenarnya, Padmakumara dari Mahapadminiloka sudah sejak dahulu menitis ke dunia manusia pada zaman Tiga Kaisar Lima Raja, dan bukan sekali menitis hanya satu Padmakumara saja, melainkan banyak Padmakumara menitis dalam satu waktu yang sama. Sama seperti reinkarnasi dari titisan, dalam satu zaman yang sama menitis beberapa Padmakumara. Para pembaca tidak perlu merasa heran, di mata saya, semua ini sangatlah lumrah.
            Jika Yao bukan saya, kalau begitu siapakah saya? Rahasia, rahasia, rahasia.

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


by Grand Master Sheng-Yen Lu, source : B216 – Q&A of Contemporary Dharma King

Translation:Meilinda Xu 莲花许月珊

Image

= Grand Master Sheng-Yen Lu =

Ada yang bertanya, “Bagaimana mengetahui arti mimpi?”

Saya menjawab :

Mahaguru Lu pernah berkata, mimpi juga merupakan manifestasi suatu alam. Alam manusia adalah suatu alam. Manusia saat sedang bermimpi juga sedang berada di suatu alam tertentu. Selain itu, alam Yin tempat seseorang berada setelah meninggal juga merupakan suatu alam tersendiri.

Mari kita pikirkan dengan saksama :

Alam manusia.

Mimpi.

Alam Yin (alam roh).

Adakah keterkaitan satu sama lainnya?

Saya menggunakan “rembulan di dalam air” sebagai analogi: rembulan di dalam air dapat diamati dengan mata kita. Bulannya ada, namun jika tangan kita masuk ke dalam air dan hendak menggapainya, selamanya bulan ini tidak akan dapat ditemukan.

Adakah “rembulan di dalam air”?

Tidak adakah “rembulan di dalam air”?

“Rembulan di dalam air” pada dasarnya hanyalah sebuah mimpi. Tidakkah anda merasa demikian? Kehidupan manusia adalah mimpi besar ratusan tahun. ‘Mimpi’ adalah sebuah mimpi di alam Yang (alam fisik). Alam bardo adalah sebuah mimpi 49 hari pasca meninggal. Semuanya adalah mimpi!

Tubuh jasmaniah kita ini, merupakan suatu eksistensi yang ada dengan meminjam “panca-skandha” rupa, perasaan, pikiran, perbuatan, dan pencerapan. Begitu terurai maka sudah tidak ada lagi, bagaikan mimpi.

Kita melakukan praktek Buddha Dharma adalah agar rupa, perasaan, pikiran, dan perbuatan tidak jatuh ke tiga alam samsara.

Terus begitu, hingga “Buddhata” selamanya menghentikan tumimbal lahir.

***

Tantrayana adalah melatih mimpi.

Di dalam mimpi, kita harus terus berlatih, hingga :

Menyadari mimpi ––– menyadari bahwa semuanya hanyalah mimpi.

Memahami mimpi ––– mimpi haruslah sangat jelas.

Mengendalikan mimpi ––– mengendalikan mimpi ini.

Melatih mimpi ––– di dalam mimpi juga bisa melatih diri.

Sebenarnya, keempat poin ini sangatlah penting. Sebagian sadhaka di pagi hari mampu bersadhana, namun di malam hari ia malah hilang kontrol dan pikirannya melayang ke hal yang tidak baik. Pelatihan diri yang seperti ini adalah belum mencapai nilai yang bagus.

Menyadari mimpi, memahami mimpi, mengendalikan mimpi, melatih mimpi. Bagaimanakah melatihnya?

Kuncinya berada di :

Memohon adhistana Mulaguru!

Memohon adhistana Muladinata!

Memohon perlindungan Dharmapala!

Di malam hari melatih Sadhana Tidur Bercahaya, memasuki samadhi mimpi, cahaya suci melindungi, dengan sendirinya dapat menyadari mimpi, memahami mimpi, mengendalikan mimpi, dan melatih mimpi.

Jika tidak demikian, alam mimpi dari sadhaka, dalam beberapa hembusan nafas saja sudah menjadi alam pikiran yang amburadul. Seorang sadhaka yang melatih mimpi mampu memahami petunjuk mimpi. Mimpinya sangat jelas, di dalam mimpi bertemu dengan Mulacarya, di dalam mimpi bertemu dengan Muladinata. Semua yang diketahui dan diberitahukan dalam mimpi merupakan sebuah petunjuk.

(Umumnya mimpi yang terjadi sekitar jam enam pagi merupakan petunjuk mimpi).

Di dalam mimpi juga harus waspada. Saat menerima petunjuk, jika petunjuk yang diterima adalah yang asli, sadhaka menjapa mantra hati Mulaguru, cahaya yang lebih terang dapat muncul.

Jika petunjuknya palsu, saat sadhaka menjapa mantra hati Mulaguru, alam mimpi tersebut dengan sendirinya akan menghilang.

Saya berikan sebuah contoh :

Dulu ketika saya masih mengenyam pendidikan di Sekolah Zheliang, di malam hari saya mimpi bertemu dengan Presiden Jiang Jinguo, sangat jelas, namun saya tidak berani langsung percaya.

Kemudian, Presiden Jiang Jinguo mampir meninjau sekolah Zheliang.

Kepsek Mayjend Jun Zhongqi menghadiahkan buku karya saya yang berjudul Danyanji (淡煙集) kepada Presiden Jiang.

Presiden Jiang lantas mengundang saya untuk bertemu dan berbincang-bincang.

Sudah dialami dalam mimpi!

Contoh kasus telah mengalami terlebih dahulu dalam mimpi sebelum terjadi di dunia nyata tidak habis dihitung, sungguh tidak dapat diremehkan!

Image

Heart Mantra of Grand Master Sheng-Yen Lu (also the Heart Mantra of White Mahapadmakumara Bodhisattva) : Om Guru LianSheng Siddhi Hum

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


by Grand Master Sheng Yen Lu

Translation : Meilinda Xu 莲花许月珊

source : B216 – Q&A from the Contemporary Dharma King

Image

Ada yang bertanya, “Di dalam buku ‘Arsip Rahasia Sheng-Yen Lu”, Mahaguru Lu telah membeberkan banyak rahasia yang belum diketahui orang banyak, meliputi apakah anda merupakan anak yang lahir prematur hingga apakah sering dipukuli saat masih kecil. Sebenarnya, banyak orang juga memiliki ingatan masa kecil yang tidak bahagia, malahan menjadi bayang-bayang gelap. Apakah Buddha Dharma memiliki cara untuk mengatasi masalah psikologis seperti ini?” Saya menjawab, “Asalkan dapat menyelami Buddha Dharma, memahami hati dan menyaksikan Buddhata, maka tidak hanya bayang-bayang gelap penderitaan masa kecil, bahkan siksaan penderitaan seumur hidup, dapat diatasi.” Saya mengatakan: Di dalam kehidupan manusia, penderitaan lebih banyak dari kebahagiaan. Di dalam Sutra Buddha, sering dikatakan: Kelahiran merupakan dukkha. Masa kanak-kanak merupakan dukkha. Masa muda dan masa tua, kehilangan pasangan hidup, harta, kebahagiaan, dipenuhi kedukaan. Beban pikiran merupakan dukkha. Sakit merupakan dukkha berkali lipat. Penuaan lebih merupakan dukkha. Meskipun telah memiliki “harta”, saat kehilangan semakin menderita. Meskipun telah memiliki “nama besar”, banyak menuai keiri-hatian dan kabar simpang-siur, juga menderita. Meskipun telah memiliki “wajah rupawan”, begitu mengedipkan mata sudah berlalu, ini juga dukkha. Dan juga, “harta”, “nama”, “rupa” hanya dapat dimiliki dalam waktu singkat saja, saat kehilangan, penderitaannya berkali lipat. Keseluruhan delapan dukkha adalah: Dukkha kelahiran, dukkha penuaan, dukkha penyakit, dukkha kematian, dukkha cinta jangan meninggalkan kita, dukkha dendam kebencian, dukkha karena tidak mendapatkan yang diinginkan, dukkha akibat pancaskandha. Jika sudah mendapatkan yang diinginkan? Bukankah itu sudah tidak menderita lagi? Sebenarnya belum tentu demikian, karena setelah mendapatkan yang diinginkan, takut kehilangan lebih merupakan penderitaan. Gatha pujian kepada Samantabhadra Bodhisattva berbunyi demikian: Waktu akan segera berlalu. Nyawa akan segera berakhir. Bagaikan ikan kekurangan air. Adakah kebahagiaan? * Setelah mendiskusikan begitu banyak dukkha, kemudian, bagaimanakah Buddha Dharma dapat mengatasinya? Sutra Vajrachedika berkata: Segala Dharma yang terkondisi. Bagaikan gelembung bayangan ilusi. Bagaikan embun dan kilat. Seharusnya berpandangan demikian. Maksudnya adalah, melihat dukkha sebagai mimpi, ilusi, gelembung, bayangan, bukan merupakan sesuatu yang kekal. Melihat dukkha bagaikan embun, kilat, cahaya, batu dan api, dengan segera akan lenyap. Juga berarti: Sama halnya dengan ilusi, dengan cepat akan segera berlalu! Masih ada cara mengatasi yang lebih baik. Sutra Vajrachedika menyebutkan: Tiada yang namanya aku, tiada yang namanya orang, tiada yang namanya insan, tiada yang namanya jiwa. Ini merupakan “kesunyataan mulia yang terutama”. Segala penderitaan, dimulai dari “adanya aku”, jika berlatih hingga “tiada yang namanya aku”, maka dukkha telah teratasi. Segala penderitaan, dimulai dari adanya “orang lain dan aku”, jika berlatih hingga “tiada yang namanya orang”, maka dukkha telah teratasi. “Tiada yang namanya insan” (tiada semesta). “Tiada yang namanya jiwa” (tiada waktu). Dalam pandangan sadhaka bermutu tinggi, dukkha dan kebahagiaan merupakan dua sisi yang berbeda, sebenarnya juga merupakan satu sisi yang sama. Kita memahami logika dari “kesunyataan mulia yang terutama”, dukkha dan kebahagiaan pada dasarnya tidak pernah ada, tidak ada dukkha, juga tidak ada kebahagiaan, pada dasarnya merupakan “tiada, bagaimana bisa menjadi ada”. Saat sadhana telah mencapai tahap “tiada, bagaimana bisa menjadi ada”, maka bayang-bayang gelap penderitaan sudah tidak ada sejak awal, tidak ada lagi yang dilekati oleh hati, bagaimana bisa ada bayang-bayang gelap? Di dalam Buddha Dharma, sifat Buddhata yang terunggul (sifat sunyata) adalah kesunyataan mulia yang terutama. Jika dapat benar-benar tercerahkan, mengatasi bayang-bayang gelap penderitaan merupakan hal yang mudah diselesaikan. Saya balik bertanya, “Adakah dukkha?”

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »