Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘sadhana’


by Grand Master Sheng-Yen Lu, source : B216 – Q&A from the Contemporary Dharma King

Translation :Meilinda Xu 莲花许月珊

Seorang siswa bermarga Shen melakukan pelanggaran sebuah kasus dan dipenjara. Yang lebih gawat dari siswa bermarga Shen ini adalah, ia menderita infeksi paru-paru, mengalami demam tinggi. Penyakitnya mereda setelah meminum obat, namun begitu efek obat berakhir, ia kembali terserang demam tinggi.

Di dalam mimpinya, siswa bermarga Shen melihat datang bagaikan hembusan angin, mengenakan baju putih, tubuh memancarkan cahaya putih.

Siswa bermarga Shen bertanya, “Ini adalah penjara, bagaimana Mahaguru bisa masuk?”

Saya tertawa, lalu berkata, “Mayakaya memenuhi sepuluh penjuru, tiada tempat yang tak bisa dijelajahi!”

Siswa bermarga Shen berkata, “Terserang infeksi paru-paru di dalam penjara, letih fisik dan jasmani, mohon Mahaguru berkenan menolong saya.”

Saya berkata, “Oleh karena itulah saya datang.”

Saya merogoh-rogoh sebungkus obat dari dalam baju putih saya, dan memberikannya kepada siswa Shen untuk diminum. Begitu siswa Shen terbangun di hari berikutnya, demam tingginya telah reda. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter penjara, penyakit infeksi paru-paru telah lenyap seluruhnya, benar-benar telah sembuh total.

*

Topan Marc.

Kepala vihara ketiga dari Vihara Zhenming, siswa Ding yiming, melihat Mahaguru Lu mempersemayamkan sebuah pasak Kalachakra Vajra di Desa Tongfu di sekitar pedesaan Xinyi.

Saat bencana badai, banjir, dan longsor melanda, seluruh Desa Tongfu terendam. Namun satu-satunya siswa Tantrayana Satya Buddha di Desa Tongfu, yaitu siswa Zhang jinfu dan siswi Lin jiaxin, lolos dari marabahaya.

Selain itu, seorang penduduk Desa Jiaxian di Xi An, Chen Zhenglong, juga merupakan siswa Tantrayana Satya Buddha, juga merupakan satu-satunya penduduk yang selamat dari marabahaya di desa tersebut.

*

Saat Topan Marc melanda, saya sedang berada di Seattle. Saya sedang mengadakan ritual homa api ulambana di Rainbow Villa Vihara Vajragarbha. Saya menggunakan 50 mayakaya, untuk menyelamatkan saudara-saudari sedharma yang meninggal.

Menggunakan 50 mayakaya melakukan penyelamatan, ternyata dirintangi oleh prajurit hantu alam Yin. Demi menyelematkan 50 saudara-saudari sedharma yang meninggal, akhirnya mengorbankan 50 mayakaya. Namun, saudara-saudari sedharma yang meninggal terseberangkan ke tanah suci Barat.

Ulambana kali ini berhasil.

Hanya saja, saya menderita kerugian yang berat.

Ada yang bertanya, “Mengapa mau menyelamatkan?”

Saya menjawab, “Buddha mengajarkan mahamaitri dan mahakaruna, ini adalah fokus dari aliran Mahayana. Insan tenggelam, maka diri sendiri juga tenggelam. Insan kelaparan, maka diri sendiri juga kelaparan. Sebagai seorang Bodhisattva, seharusnya mementingkan insan, tidak lebih mementingkan diri sendiri. Mengetahui insan mengalami penderitaan, mana ada alasan untuk tidak pergi menyelamatkan.”

Ada yang bertanya, “Demi menyelamatkan, mengorbankan 50 mayakaya, patutkah?”

Saya menjawab, “Ini adalah kesadaran mengorbankan diri demi insan lain, 50 mayakaya bisa didapatkan lagi dengan bersadhana.”

“Bagaimana melatih mayakaya?”

Saya menjawab, “Pada hakikatnya, mayakaya merupakan Yidam yang ada di nadi tengah kita sendiri, merupakan hasil dari perpaduan prana dan bindu, ditambah dengan sinar dari Buddhata kita sendiri, menerobos keluar dari ubun-ubun, menyatu dengan sinar dari bintang-bintang di angkasa, maka terbentuklah mayakaya berupa tubuh cahaya bintang. Pelatihan sadhana ini kedengarannya gampang, namun sebenarnya juga sangatlah susah. Semua ini merupakan prana, nadi, pelatihan bindu, sulit dijelaskan dengan kata-kata. Yang mampu melatih mayakaya berupa tubuh cahaya bintang, pastilah merupakah sadhaka yang bermutu tinggi.”

Ada yang bertanya, “Siswa Tantrayana Satya Buddha, sangat mudah mendapatkan kontak  Mahaguru Lu memasuki mimpi, malahan dalam satu malam, milyaran mayakaya, setiap orang merasakan kontak dengan Mahaguru. Bagaimana bisa demikian?”

Saya menjawab, “Ini semua adalah fungsi dari tubuh cahaya bintang, juga merupakan fungsi dari mayakaya. Sadhaka yang berkualitas tinggi, tentu dapat menggunakan mayakaya menyeberangkan insan. Hanya menggunakan satu Yidam saja tidak cukup.”

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


by Grand Master Sheng-Yen Lu, B216 Contemporary Dharma King

Translation :Meilinda Xu 莲花许月珊

Ada yang bertanya, “Haruskah kita bersadhana setiap hari? Haruskah kita setiap hari mengerjakan tugas harian? Haruskah kita bersamadhi dan bersadhana setiap hari?”

Saya menjawab, “Harus.”

Mengapa?

Logikanya sangat simpel: kita menjunjung tinggi Buddha Dharma, bersandar pada Buddha Dharma. Kita mempraktekkan Buddha Dharma, menyelami Buddha Dharma, untuk memperoleh penyelamatan.

Saya rasa, “Ini merupakan yang paling berharga di dalam kehidupan manusia.”

Yang dikejar oleh manusia zaman sekarang, semuanya merupakan penampilan luar:

“Harta”.

“Rupa”.

“Nama”.

Saya berkata, “Kekayaan hanya dimiliki sementara waktu saja di dunia manusia, rupa hanya dimiliki di masa muda saja, nama dan kedudukan juga hanya dimiliki sementara waktu saja. Saya mengatakan dengan sangat jujur, saya memandang rendah ‘harta’, ‘rupa’, ‘nama’.”

Ada yang menjadi konglomerat, menganggap diri sendiri sudah sangat menakjubkan!

Ada yang sangat rupawan di masa muda, menganggap diri sendiri sudah sangat menakjubkan!

Ada yang menjadi pejabat, menganggap diri sendiri sudah sangat menakjubkan!

Saya tertawa terbahak-bahak, tidak pantas!

Sudah menjadi seorang konglomerat, terus kenapa? Ketika tiba saatnya meninggalkan dunia ini, satu pun tidak ada yang dapat dibawa serta. Rupawan dan muda, terus kenapa? Hanya sekejap waktu saja, sudah menjadi si tua bangka. Menjadi pejabat tinggi, terus kenapa? Lewat beberapa tahun, sudah berubah menjadi ubanan dan lamban.

Semua itu hanya sesaat.

Yang benar-benar paling berharga adalah, terbebas dari kelahiran dan kematian, menentukan sendiri kelahiran dan kematian diri sendiri, memahami hati dan menyaksikan Buddhata, mencapai keBuddhaan dalam tubuh sekarang, tiada dilahirkan dan tiada musnah, menyaksikan Buddhata diri sendiri, Buddhata yang abadi.

Saya menghormati dan berdecak kagum pada sadhaka yang berhasil mencapai pencerahan.

Di dunia ini, satu-satunya yang paling memiliki harga adalah:

“Buddhata”.

*

Kutipan kata bajik zaman dahulu berkata, “Buddhata tidak diperoleh melalui pelatihan diri, Buddhata sesungguhnya telah ada.”

Saya berkata, “Jika tidak melalui samadhi dan proses sadhana yang lama, anda tidak akan dapat memahami bahwa Buddhata tidak diperoleh melalui pelatihan diri.”

Ini kelihatannya bertentangan.

Kemudian, anda mesti mengamati dengan saksama. Sadhaka yang mempraktekkan jalan ini sejak lama, jika tidak mengalami “ombak pasang”, bagaimana bisa memahami “tidak ada yang diperoleh”?

Buddhata tidak diperoleh dari pelatihan diri.

Namun, samadhi dan bersadhana merupakan keharusan.

*

Tantrayana menganggap:

Tahap halus dari bersadhana dan samadhi untuk mengenali hati, di saat tubuh menjadi tenang dan bersih, ucapan menjadi tenang dan bersih, pikiran menjadi tenang dan bersih, dapat memahami sunyata dari tubuh kasar diri. Sunyata tubuh kasar ini, dapat membebaskan dari tumimbal lahir kelahiran dan kematian, dan dapat melepaskan beban pikiran dan penderitaan.

Prajna dari hawa.

Pembebasan dari nadi.

Titik cahaya terang yang suci.

Pengalaman bersadhana yang demikian dapat memperlihatkan dengan jelas bahwa harapan duniawi sebetulnya biasa-biasa saja, memahami makna hidup yang sesungguhnya, bahkan dengan prajna dari kesunyataan dapat mengakhiri penderitaan, harapan, avidya.

Kita sepatutnya:

Menghormati Buddhata yang ada dalam diri kita.

Buddhata bagaikan penari yang bersahaja.

Pakaian duniawi yang bergemerlapan seluruhnya ditinggalkan.

Menembusi lautan ilusi.

Hanya Arya yang melakukan samadhi dan bersadhana, barulah dapat mengenali anda.

Saya berkata, “Samadhi dan bersadhana merupakan keharusan, sama seperti Buddha Dharma, hanyalah merupakan sebuah alat. Saya telah mendalami selama 40 tahun, akhirnya menyaksikan Buddhata yang amat langka dan amat berharga. Tak dapat disangkal, samadhi, sadhana, dan Buddha Dharma hanya merupakan alat. Namun, tanpa alat, tidak akan dapat menyaksikan Buddhata!”

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


diterjemahkan dari buku karya Grand Master Sheng-Yen Lu ke-006 “Tenang dan Pikirkan dengan Seksama”
Translation : Meilinda Xu 莲花许月珊

Mahaguru Buddha Hidup LianSheng Sheng-Yen Lu

Hari ini kita membahas mengenai yang hal yang ditemui dan didengar oleh Biksulama Lianjin di Hongkong.

Saya ingat dulu saya pernah mengunjungi rumah Acarya Changren di Hongkong, rumahnya di Gunung Cheyun, ruang pribadinya sama seperti yang diceritakan oleh Biksulama Lianjin yaitu hanya satu ruangan dengan satu beranda, bahkan tempat untuk menjemur pakaian pun tidak ada; oleh karena itu mereka menjulurkan keluar bambu jemuran dari ruangannya dan menggantungkan pakaiannya hingga penuh, dilihat dari jalanan seperti lautan bendera. Ow! Ini adalah bendera jutaan negara di Hongkong.

Orang-orang ini sangatlah miskin, namun juga ada yang kaya. Kesenjangan sosial antara yang kaya dan miskin cukup besar. Di antara para siswa Tantrayana Satya Buddha juga ada yang sangat kaya, orang yang sangat kaya datang mengendarai mobil Rolls Royce, luas tempat tinggalnya meliputi setengah gunung, rumah bergaya Barat yang sangat besar, di dalamnya masih ada lift, gonta-ganti supir, rumahnya mempekerjakan pelayan, ruang tamunya juga sangat mewah, kesenjangan yang kaya dan miskin terlalu besar, sebagian orang sudah sangat bersyukur memiliki tempat tinggal!

Vihara Vajragarbha Hongkong pernah memiliki “Yayasan Welas Asih Sheng-Yen Lu”. Pada musim dingin, mereka pernah meletakkan sangat banyak kasur dan selimut kapas di lantai dasar gedung berkuda. Anda dapat melihat para fakir miskin segera mencari tempat yang nyaman, di malam harinya mereka menggelar selimut kapas dan tidur di atasnya, tidak punya rumah untuk pulang. Begitu para pekerja Vihara Vajragarbha Hongkong berkunjung, di setiap tempat, setiap pekerja vihara menggelar kasur selimut kapas untuk mereka, ini adalah melakukan perbuatan welas asih.

Biksulama Lianjin masih belum pernah melihat bahwa di Hongkong ada hal seperti ini. Ia menyewa sebuah lokasi tidur, di samping lokasi tidur tersebut, semuanya adalah jaring besi, mendirikan sebuah ranjang. Jaring besi ini juga mempunyai pintu jaring besi, ada kait penguncinya. Barang bawaannya diletakkan di atas kasurnya. Saat ingin tidur di malam hari, maka pulang membuka kunci pintu dan masuk untuk tidur. Pintunya dikunci saat pergi bekerja pada pagi hari, hanya ada sebuah lokasi tidur saja! Ada yang tidak memiliki tempat tinggal, juga ada yang hanya memiliki sebuah lokasi tidur. Sudah sangat bagus jika kita menemukan sekeluarga tidur bersama dalam hanya sebuah ruangan dengan satu beranda.

Sebenarnya tidak perlu pergi ke Hongkong untuk melihatnya. Anda pergi ke New York juga dapat melihatnya. Ada sangat banyak gelandangan yang tidak memiliki rumah, sangat banyak pelajar yang keluarganya tidak punya banyak uang, namun saat belajar, seperti temannya Foqing (anak perempuan Mahaguru), menyewa sebuah tempat seharga 600 sen – USD 0.600. Tempat yang disewa seharga USD 0.600 di New York adalah tempat yang seperti apa? Adalah sebesar kamar mandi anda saja! Tempat yang sebesar kamar mandi itu punya satu pintu masuk, adalah tempat yang hanya sebesar itu! Satu setengah tatami, lebih kurang hanya satu setengah tatami saja. Tinggal di sana, mandi dan buang air di toilet umum. Di New York juga ada.

Oleh karena itu, pada saat ini, lihatlah kehidupan-kehidupan yang seperti ini. Masih ada yang lebih menderita daripada ini! Walaupun demikian, di Hongkong dan New York masih terdapat bahan makanan. Anda pergilah ke Afrika dan lihatlah penduduk yang menderita kelaparan. Pergilah ke tempat pengungsian. Mereka mendirikan tenda, semuanya tinggal di dalam, di dalam tenda tersebut.

Tadi Biksulama Lianjin juga melihat orang Hongkong yang seperti itu, sebenarnya dulu saat saya ke Hongkong juga sering berkata seperti ini,  “Bagaimana bisa seperti ini? Di jalanan Hongkong,di dalam kota, bagaimana bisa setiap hari ada begitu banyak orang berjalan ke sana kemari, tidak satu detik pun pernah berhenti? Orang-orang berlalu lalang di jalanan, berjalan ke sana kemari, berjalan ke sana kemari, orang yang itu-itu juga, mengapa bisa ada begitu banyak orang yang kurang kerjaan, melintas di jalanan?”

Saya juga memiliki perasaan seperti ini, untuk apa mereka berlalu lalang di jalanan (Mahaguru tertawa)? Setiap orang memiliki tujuan yang berbeda, tidak semua orang demi memiliki tempat tinggal (Mahaguru tertawa): tadi Biksulama Lianjin mengatakan bahwa ia melihat setiap orang berusaha demi mampu memiliki sebuah tempat tinggal, sebenarnya itu benar bagi sebagian dari mereka, sebagian lagi malah untuk sandang pangan – berpakaian, makan, bekerja.

Saya sering tidak habis pikir kenapa mereka berlalu lalang di jalanan. Suatu hari saat saya berada di Villa Pelangi di dekat sebuah sarang semut, saya melihat banyak semut berlalu lalang di sana, akhirnya saya mengerti mengapa mereka berlalu lalang (Mahaguru tertawa), karena semut juga setiap hari berlalu lalang di sana! Lantas, apa bedanya manusia dan semut?

Mengapa mereka melintas di sana? Cuaca begitu dingin, mengapa tidak bersembunyi di rumah sendiri, di luar berlalu lalang untuk apa? Melihat segerombolan besar semut berlalu lalang di sana, maka anda akan mengerti mengapa manusia berlalu lalang di jalanan, adalah karena alasan yang sama.

Segala makhluk hidup adalah demi mempertahankan hidup, yang disampaikan dalam dharmadesana tadi juga bagus, kita hidup di sini lebih tidak khawatir. Pangan, sandang, papan, sadhana – punya tempat tinggal, setiap orang di sini memiliki tempat yang dapat ditinggali. Di sisi makanan tidak ada yang perlu anda khawatirkan. Sisi pakaian juga tidak perlu dikhawatirkan. Sisi sadhana juga sama.

Bhaktisala Altar Utama Caodun Leizangsi di Kota Caodun, Taiwan

Oleh karena itu, kadang kala perlu memahami, bagaimana orang lain melewati hidupnya? Lalu, bagaimana kita melewati hidup kita? Kita melewati hidup seperti ini, adakah maknanya? Di manakah maknanya? Tujuan anda sendiri di mana? Maknanya di mana? Di dalam kehidupan yang sekarang ini, apa yang ingin anda lakukan? Lalu, apakah tugas dan tanggung jawab setiap hari telah diselesaikan? Kegunaan hidup anda setiap hari apakah telah dimanfaatkan sebaik-baiknya? Kegunaan kehidupan anda yang sekarang ini apakah telah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya? Setiap hari hendaknya berpikir seperti ini, sehingga tidak terlalu menyia-nyiakan waktu, tidak akan dapat membiarkan waktu dilewatkan begitu saja dengan sia-sia.

Sangat cepat! Anda berpikir sekarang anda masih sangat muda, tidak terpikirkan masa depan. Pada saat saya baru datang dari Taiwan ke Amerika – usia 38 tahun, saya juga tidak pernah memikirkan masa depan. Saat itu saya tidak pernah memikirkan masa depan saya akan seperti apa, tidak pernah mencoba memikirkannya, namun dengan cepat waktu telah terlewatkan! Saya merasa saya sangat muda saat saya berusia 38 tahun, beginilah kehidupan manusia.

Oleh karena itu, anda mampu dari usia 38 tahun, menempuh hidup hingga 50 tahun. Begitu mengedipkan mata, sudah 70-an tahun. Pada saat usia 80-an, anda mampu mengeluarkan sesuatu barang untuk diperlihatkan kepada orang-orang, katakanlah anda benar-benar memiliki sesuatu barang, poin ini sangatlah penting! Tidak boleh saat anda telah berusia 70 atau 80 tahun, yang anda hasilkan masih tetap sama seperti ketika anda berusia 20 tahun.

Oleh karena itu, kita mempelajari Buddha Dharma juga tetap harus menyerahkan rapor, bersadhana juga harus menyerahkan rapor; pada saat tiba usia senja, nilai rapor yang diperlihatkan berwarna hijau, lulus, bukan setiap mata pelajaran mendapat nilai merah, tidak lulus.

Dapat juara satu sangatlah baik! Namun juga tidak boleh juara satu dari belakang. Dapat juara satu sangatlah baik, setelah dihitung-hitung, cuma ada anda seorang, tentu saja dapat juara satu! (Mahaguru tertawa) Namun tidak boleh dapat juara satu dari belakang. Kehidupan kita sebagai manusia juga harus menyerahkan rapor, namanya rapor kehidupan manusia.

Tidak menyia-nyiakan kehidupan ini mesti bagaimana? Adalah pada saat rapor kehidupan manusia diperlihatkan, nilai setiap mata pelajaran adalah lulus. Dengan demikian anda dapat mempertanggungjawabkannya kepada para Buddha dan Bodhisattva di Vihara Vajragarbha ini, karena anda tinggal di sini, hidup di sini. Yang anda makan adalah milik Bodhisattva, yang anda tinggali adalah rumahnya Bodhisattva, yang anda pakai adalah milik Bodhisattva, bepergian menggunakan kendaraan milik Bodhisattva! (Mahaguru tertawa) Anda hidup dengan memandang wajah Bodhisattva, rapor anda nanti, harus anda serahkan kepada Bodhisattva!

Om Mani Padme Hum.

~ Tulisan ini diambil dari bagian pendahuluan buku karya Sheng-Yen Lu “Lagu Buddha hidup (1)”

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


(Intisari Ceramah Dharmaraja Liansheng pada Kebaktian Sabtu Tanggal 19 September 2009 di Ling Shen Ching Tze Temple)
diterjemahkan oleh Yau Fong

Sembah sujud pada Bhiksu Liaoming, Guru Sakya Zhengkong, Gyalwa Karmapa XVI, Guru Thubten Dhargye, Triratna Mandala! Sembah sujud pada yidam hari ini Padmakumara! Pemandu kebaktian Acarya Lianzhu, Gurudhara, Para Acarya, Dharmacarya, Bhiksu Lama, Pandita Dharmaduta, Pandita Lokapalasraya, Ketua Vihara, para umat se-Dharma, dan para umat se-Dharma di internet, salam sejahtera semuanya!

Hari ini kita lanjut menerangkan SUTRA ALTAR PATRIAK VI, Patriak VI bersabda, “Kalyana-mitra! Orang berbakat kecil, mendengar ajaran instan ini, ibarat tumbuhan berakar kecil, jika ditimpa hujan deras, semua ambruk, tidak dapat tumbuh. Orang berbakat kecil, juga demikian.” Saya baca sekali lagi, Patriak VI bersabda, “Kalyana-mitra! Orang berbakat kecil, mendengar ajaran instan ini, ibarat tumbuhan berakar kecil, jika ditimpa hujan deras, semua ambruk, tidak dapat tumbuh. Orang berbakat kecil, juga demikian.”

Di sini ada 2 titik berat. Titik berat pertama adalah “ajaran instan”. Di dalam Agama Buddha ada yang namanya “Eksoterik” dan “Esoterik”, ada yang namanya “Ajaran Bertahap” dan “Ajaran Instan”. Yang namanya “Ajaran Bertahap” adalah setahap demi setahap, mulai dari dasar. Tadi, Acarya Lianzhu bercerita tentang pelatihan militer, dari dasar dilatih setahap demi setahap, hingga menjadi seorang tentara yang serba bisa. Seorang tentara setelah melalui bermacam-macam latihan, pada akhirnya bisa menjadi seorang tentara sejati. Metode pendidikan demikian disebut “ajaran bertahap”, diajarkan secara bertahap.

Patriak VI bersabda, Dharma yang disabdakan Patriak VI disebut “Ajaran Instan”. Apa yang dimaksud “Ajaran Instan”? Di awal sudah diterangkan cara mencapai pencerahan, apa itu pencerahan, wujud dunia yang sebenarnya, kebenaran tertinggi alam semesta. Di awal Beliau sudah menerangkan hal-hal demikian. Sebagian besar orang awam, begitu mendengar “Ajaran Instan”, mereka tidak berani percaya. Oleh karena itu, “Ajaran Instan” tidak boleh langsung diutarakan, hanya boleh diutarakan secara tidak langsung, karena langsung diutarakan, banyak orang tidak akan percaya ada hal demikian. Oleh karena itu, Anda akan merasa “mengapa pencerahan itu sulit sekali?” Orang yang mencapai pencerahan dalam aliran kita, ia tentu saja tahu. Namun, yang tidak cerah, mereka menulis kata-kata yang dikira telah mencapai pencerahan, setelah saya membacanya, saya jelaskan sebentar, tidak langsung mengutarakan. Yang tidak cerah masih banyak. Mengapa? Karena sulit sekali dibayangkan bagaimana kondisi pencerahan itu. Sulit sekali dipikirkan, sulit sekali dituliskan, sulit sekali dicerahi. Ini disebut “Ajaran Instan”, ajaran instan artinya langsung mengutarakan pada Anda dan Anda harus mencerahinya, itu adalah “Pencerahan Instan”, Anda cerah dalam seketika.

Yang disabdakan Patriak VI adalah “Ajaran Instan”. Sekte Zen ada 2 macam, satu adalah “ajaran bertahap”, yaitu secara bertahap Anda dibimbing hingga mencapai pencerahan, disebut “ajaran bertahap”; satu lagi adalah “ajaran instan”, secara langsung mengatakan sudah sangat mendekati, lantas Anda pun mencapai penceahan instan dalam seketika, ini disebut “ajaran instan”. Di dalam sabda Patriak VI ini sempat dibahas satu contoh, orang awam pada umumnya disebut orang berbakat kecil. Orang berbakat kecil tidak akan percaya ajaran instan yang langsung mengutarakannya pada Anda, yakni tidak berani percaya ada hal demikian; ibarat turun hujan yang sangat deras, tidak hanya tanah longsor, rumah juga ambruk, apalagi tumbuhan kecil, semua rubuh. Karena hujan ini terlalu deras. Ajaran instan ibarat hujan deras, begitu turun, Anda tidak dapat menerimanya, Anda pun tidak berani percaya, lalu mati. Itulah sebabnya pencerahan tidak boleh langsung diutarakan. Mahaguru adalah orang yang telah mencapai pencerahan, mengapa tidak langsung mengutarakan prinsip pencerahan ini kepada Anda semua, karena di antara insan ada yang berbakat besar, begitu mendengarnya, hati dan pikirannya terbuka, segera mengerti. Namun, ada sebagian orang setelah mendengarnya tidak berani percaya, sebaliknya malah mencelakainya. Di sinilah alasan pencerahan itu sangat sulit, karena di luar dugaan Anda.

Dulu, Buddha Sakyamuni mencapai pencerahan di bawah Pohon Bodhi, Anda tidak bisa membayangkan sebenarnya apa yang dicerahi-Nya. Banyak Mahabhiksu, Mahabhiksuni, orang yang telah lama melatih diri, belum tentu dapat mencerahi tingkat pencerahan Buddha Sakyamuni, ini sangat sulit. Makanya, Patriak VI bersabda, mendengar ajaran instan ini, ibarat ditimpa hujan deras, banyak rumput, bunga, semua terbawa arus. Orang berbakat kecil tidak dapat menerima pencerahan. Makanya ada satu kalimat mengatakan, orang berbakat besar mendapatkan manfaat besar, orang berbakat kecil mendapatkan manfaat kecil, di sini Buddhadharma justru ada perbedaan, membimbing secara bertahap dan mencerahi Anda dalam seketika.

Bagaimana menjelaskan prinsip ini? Tadi, Lama Lianye mengatakan bahwa diam-diam ada takdirnya. Sebenarnya kita bisa mengubah takdir, takdir bisa diubah, Mahamayuri Vajrarajni pun berkata, karma tetap boleh diubah. Makanya, di dalam buku Empat Nasihat Liaofan ada “Cara Mengubah Nasib”, pada bagian pendahuluan Empat Nasihat Liaofan diceritakan tentang ada seorang yang mengerti Ilmu Perubahan Shaozi, orang yang mengerti ilmu perubahan, dengan sendirinya tahu diam-diam ada takdirnya. Shaozi adalah Shao Kangjie, ia adalah orang yang sangat hebat dalam mengetahui hal yang belum terjadi. Dulu ia membaca banyak buku, ia sangat pintar, semua buku sudah habis dibacanya. Setelah buku habis dibacanya, ia melanglang buana. Karena ia sangat pintar, tampangnya juga pintar. Ada seorang yang seperti dewa, ia setengah dewa, ia melihat Shao Kangjie, ia mengatakan orang ini sangat berbakat, lalu memberinya 3 kitab, kitab pertama adalah “Yijing”, kitab kedua adalah “Hetu”, “kitab ketiga adalah “Luoshu”.

Shao Kangjie membaca ketiga kitab ini, terus-menerus menyelidiki, tahu bahwa di antara langit dan bumi diam-diam ada takdirnya, sehingga ia menuliskan takdir ini menjadi beberapa buku, itulah “Ilmu Perubahan Shaozi”, yaitu “Tie Ban Shen Shu” (Ramalan Sejitu Baja) yang beredar sekarang. Tie Ban artinya, apa yang saya katakan ibarat baja, ramalan adalah hidup kita diramal, inilah takdir, diam-diam ada takdirnya. Inilah karya Shao Kangjie setelah “Yijing”, “Hetu”, dan “Luoshu” diselidiki, ditulis menjadi ratusan hingga ribuan butir, pokoknya Anda tidak bisa mengelak dari takdir ini, saya ramal, itulah takdir Anda. Kapan Anda lahir, siapa nama ayah, siapa nama ibu, berapa saudara, kapan Anda meninggal dunia, semua sudah ditakdirkan.

Yuan Liaofan mengatakan, setelah ia mengerti Ilmu Perubahan Shaozi, hatinya ibarat air mandek, selain itu, ia bertemu seseorang yang memberinya petunjuk, “Pemikiran Anda ini tidak benar, takdir bisa diubah.” Berdasarkan apa diubah, yang dijelaskan di dalam Empat Nasihat Liaofan adalah, mengubahnya dengan kebaikan dan kejahatan, mengubah takdir Anda dengan kebajikan besar, inilah yang tertulis di dalam Empat Nasihat Liaofan, diam-diam ada takdirnya, namun takdir bisa diubah. Makanya, masa lalu yang dikatakan Shao Kangjie sangat tepat, peristiwa yang telah berlalu mutlak sangat tepat; jika nasib Anda tidak berubah, masa depan juga sangat tepat, namun jika nasib Anda telah berubah, masa depan tidak tepat lagi. Oleh karena itu, Tie Ban Shen Shu karya Shao Kangjie adalah intisari hidupnya. Anda mengerti Tie Ban Shen Shu, berapa jumlah saudara Anda, bisa diramal. Berapa yang meninggal dunia dan umur berapa, apa shio ayah; contoh ayah saya shio macan, ibu shio kelinci, saya shio ayam; ia menggunakan tahun, bulan, tanggal, waktu, diramal sampai waktu, kemudian, takdir Anda diramalkan, tepat sekali, inilah Ilmu Perubahan Shaozi karya Shao Kangjie yang diwariskan turun-temurun di China.

Namun, apakah takdir ini bisa diubah? Bisa diubah. Bagaimana mengubahnya? Bersadhana bisa mengubahnya. Karena melatih diri itu sendiri adalah kebajikan besar. Contoh, Sadhana Mahamayuri, ia bisa mengubah takdir. Kita harus menjapa Mantra Mahamayuri, menjapa Mantra Sataksara, menjapa mantra banyak yidam, semua bisa mengubah takdir. Tadinya, Anda seharusnya terlahir menjadi kelahiran melalui telur, saya katakan, Anda bisa mengubah semua kelahiran antara lain: kelahiran melalui telur, kelahiran melalui janin, kelahiran melalui kelembaban, hanya bisa kelahiran secara spontan. Lewat kelahiran secara spontan, paling tidak Anda adalah Padmakumara. (Hadirin tepuk tangan) Oleh karena itu, kita mementingkan bersadhana, juga mementingkan membangkitkan Bodhicitta, berbuat kebajikan, alasannya di sini. Kita mesti menyesuaikan dengan Buddhadharma, kita harus kontak yoga dengan Buddhadharma, kontak yoga dengan yidam, kontak yoga dengan Buddha, kontak yoga dengan Bodhisattva, kontak yoga dengan semua yidam, boleh mengubah diri kita sendiri.

Pagi ini saya menulis tentang “prinsip kontak yoga”, saya merasa kontak yoga adalah penjelmaan, kontak yoga dan penjelmaan, kontak yoga adalah manunggal, setelah manunggal adalah menjelma. Jika Anda tidak kontak yoga dengan Buddha dan Bodhisattva, Anda selamanya seorang awam, tidak dapat bebas dari tumimbal lahir. Tadi, Acarya Lianzhu mengatakan bahwa ia menerangkan banyak sekali, penjelmaan pertama itu apa, penjelmaan kedua itu apa, ia bicara tentang “hidup dan mati”, “untung dan rugi”, “suka dan duka”, “kekuasaan dan kewajiban”, bicara lagi tentang “separuh kehidupan sebelumnya”, “separuh kehidupan sesudahnya”, bicara tentang “aku sejati” dan “aku palsu”, semuanya berlawanan. Ia tidak mengatakan cinta dan benci, sebenarnya cinta dan benci keluar dari perasaan yang sama, jangan mengira cinta dan benci itu perasaan yang berbeda. Salah! Cinta dan benci sama-sama keluar dari hati Anda, benda yang sama, semua ada perasaan, cinta dan benci adalah perasaan. Oleh karena itu, yang saya bicarakan adalah “teori 1”, yang dibicarakan Acarya Lianzhu adalah “teori 2”, apa itu penjelmaan pertama, apa itu penjelmaan kedua, sebenarnya adalah satu. Suka dan duka adalah satu; hidup dan mati adalah satu; untung dan rugi adalah satu; kekuasaan dan kewajiban adalah satu; separuh kehidupan sebelumnya dan separuh kehidupan sesudahnya tidak terbagi menjadi 2, tetapi 1; “aku sejati” dan “aku palsu” juga satu. Ia membaginya menjadi 2, saya gabungkan lagi, (hadirin tepuk tangan) ini adalah manunggal, Buddha dan saya adalah 1, bukan 2, Buddha dan saya adalah 1, sama sekali bukan 2, ini disebut manunggal.

Dalam ilmu pengetahuan, kita bisa melihat, jika nenas dikawinkan dengan Sarikaya, ia pun berubah menjadi sarikaya rasa nenas, ini adalah metode pencangkokan tumbuhan. Contoh, saya cangkok tumbuhan apa dengan tumbuhan apa, kelak kita makan pir, pir akan sebesar semangka, karena Anda cangkokkan, pir akan berubah menjadi sebesar semangka, ini adalah manunggal. Anda gunakan metode pencangkokan, bisa menciptakan banyak buah baru, binatang juga sama. Satu yang terpenting adalah, virus juga bisa manunggal, lekas selidiki vaksin untuk melawan virus itu. Asalkan virus manunggal maka bertransformasi, menjelma. Pagi ini, “Prinsip Kontak Yoga” yang saya tulis, Buddha dan saya manunggal, maka menjelma menjadi Buddha baru, muncullah Buddha yang baru, inilah manunggal dan menjelma.

Seseorang menulis sebuah cerita lucu untuk saya, tikus bertemu kucing, tikus berkata pada kucing, “Lain kali saya tidak takut kamu lagi, karena anak cucu saya sudah kawin dengan kelelawar, kelak tikus akan terbang di langit seperti kelelawar, kucing juga tidak bisa mengejar dan menangkap saya lagi.” Kucing ini tertawa sinis, “Anak cucu saya kawin dengan burung hantu, bagaimana kelelawar terbang, burung hantu tetap akan menangkapmu.” Inilah penjelmaan. Anda lihat begitu tikus kawin dengan kelelawar, ia pun bisa terbang, kucing kawin dengan burung hantu, ia pun berubah menjadi burung hantu, semua itu bisa berubah. Tantra itu sendiri justru sedang berubah, orang berbakat kecil tidak rasional, orang berbakat kecil tidak mengerti prinsip.

Di sini juga ada satu orang yang menuliskan cerita lucu. Ada seorang bhiksu menumpang di perahu yang sama dengan seorang gadis jelek sedang menyeberangi sungai. Bhiksu itu melihat sekilas wanita yang sangat jelek itu, wanita yang sangat jelek itu berkata, “Anda ini bhiksu genit, berani-beraninya mengintip wanita baik-baik.” Begitu bhiksu ini mendengar, ia tidak berani membuka matanya, matanya pun dipejamkan. Tak disangka, wanita jelek ini berkata, “Anda tidak berani membuka mata berarti Anda sedang membayangkan saya.” Bhiksu ini terpojok! Buka mata tidak benar, pejam mata juga tidak benar, bhiksu ini buru-buru menoleh, sekalian saja saya tidak buka mata dan tidak pejam mata, saya menoleh saja, tidak melihat Anda. Wanita jelek ini berpikir, “Anda malu bertemu saya, hati Anda pasti merasa bersalah.” Orang seperti ini tidak bisa diberi penjelasan, kita jelaskan prinsip padanya, ia justru berpikiran seperti itu, menurut Anda, apa yang harus dilakukan, benar tidak?! Makanya, tidak dapat diberi penjelasan.

Kadang-kadang saat konsultasi, saya bertanya A, orang lain menjawab B, atau orang lain bertanya A, saya menjawab B, kadang-kadang bisa tidak sambung juga. Seseorang menelepon, kalau di Amerika telepon 911, kalau di Taiwan telepon 119, saat telepon ke sana, ia berkata, “Rumah saya kebakaran!” Seberang bertanya, “Di mana?” Ia berkata, “Di dapur saya.” Seberang bertanya, “Saya tanya di mana lokasi kebakarannya?” “Dapur.” “Kalau begitu, di mana tempatnya?” “Rumah saya.” “Sekarang saya tanya Anda, bagaimana kami pergi ke rumah Anda?” “Bukankah Anda punya mobil pemadam kebakaran?” Apa yang dijawab selalu salah. Anda harus menjelaskan alamat rumah Anda, ini adalah tidak sambung.

Oleh karena itu, apa yang dikatakan Mahaguru, orang berbakat besar mengerti, orang berbakat kecil tidak mengerti. Orang berbakat besar mendengar kata-kata pencerahan, ia akan merasa mustahil. Jika saya mengutarakan apa itu pencerahan, orang berbakat besar sekali mendengar sudah mengerti, begini rupanya. Seperti yang dikatakan Acarya Lianzhu bahwa hidup bagai sandiwara, kita memainkan sebuah sandiwara, Upacara Penyeberangan Amitabha, semua orang hadir, Mahaguru menerangkan Sadhana Mahamayuri, umat dari berbagai belahan dunia pun datang, semua datang mendengarkan, wah! Sadhana ini bagus sekali, setelah mendengarnya, banyak orang menekuninya secara nyata. Juga ada orang setelah mendengar Sadhana Menstabilkan Gempa Bumi, contoh gempa bumi Washington, kita harus ambil tanah dari empat penjuru, harus ke Spokane, begitu jauh, ke tepi laut Seattle, ke perbatasan Vancouver, ke samping jembatan besi Portland. Wah! Kita harus pergi ke tempat yang begitu jauh untuk mengambil tanah dari empat penjuru, harus menjapa mantra, menjapa begitu banyak. Acarya Lianyin berkata, “Mahaguru lakukan saja, mohon Mahaguru melakukannya.”

Anda pintar sekali! Saya juga tidak bodoh! Siapa yang mengatakan, dia yang melakukan! Acarya Lianyin serba bisa, setelah saya mengajarkan sadhana homa, ia segera melakukannya 1000 kali homa. (Hadirin tepuk tangan) Ia juga melatih diri secara nyata. Sadhana begitu bagus, kita semua suruh Acarya Lianyin saja yang melakukannya, siapa yang mengatakan, dia yang melakukan!

Kejadian hidup ini benar-benar mirip sebuah sandiwara. Lihatlah begitu banyak orang berkumpul bersama, waktu sudah berlalu, menurut Anda, bisakah kita pada waktu yang sama, menghimpun orang-orang yang dulu pernah datang berkumpul di satu lokasi untuk mengadakan upacara ini lagi? Apakah bisa? Tidak bisa. Mustahil! Pertama, waktunya tidak mungkin sama, orang-orangnya juga mustahil sama lagi. Ada orang begitu pulang, yang sudah lanjut usia, sepulangnya tidak mungkin kembali lagi. Ia mengatakan cukup datang sekali saja, sepulangnya ia tidak mungkin datang lagi. Orang-orang yang sama mau dikumpulkan lagi, upacara yang sama, sadhana yang sama, waktu yang sama, lokasi yang sama, mustahil. Beginilah sandiwara kehidupan. Sudah berlalu, tidak mungkin terjadi lagi.

Oleh karena itu, di dalam Enlightenment Magazine saya menulis sepatah kata “Berlalu”, justru mengacu pada hal ini, apa itu berlalu, yaitu yang sudah berlalu tidak akan terjadi lagi, sandiwara ini tidak mungkin berulang lagi. Oleh karena itu, ini adalah masalah jodoh, ada sebagian orang sangat berjodoh, sebagian orang kurang berjodoh, sebagian orang hanya berjodoh bertemu sekali saja, sebagian orang bisa bertemu sepuluh kali, sebagian orang dapat hidup bersama sekian tahun. Suami istri paling malang, suami istri harus hidup bertahun-tahun. Seseorang pergi berobat, dokter memeriksanya, “Anda radang usus buntu, harus segera dioperasi.” Pasien pun berkata, “Dokter, coba periksa sekali lagi dengan lebih saksama.” Dokter sangat marah, “Saya dokter atau Anda dokter? Saya adalah dokter! Anda adalah pasien! Saya bilang radang usus buntu ya radang usus buntu.” Pasien pun berkata, “Tahun lalu saya baru operasi usus buntu.” (Hadirin tertawa) Tahun lalu baru operasi usus buntu mengapa masih bisa radang usus buntu?! Oleh karena itu, memeriksa pasien harus benar, Mahaguru juga sama, terhadap semua insan harus memberikan obat yang benar sesuai dengan penyakitnya.

Kita yang menggambar Fu juga tidak boleh sembarangan meracik Fu, kita harus memberi Fu sesuai dengan penyakitnya, orang ini sakit, saya berikan Fu pernikahan, bercanda! Saya bilang pada Acarya Lianning, orang ini sakit jiwa, Anda berikan Fu usus, ini sudah tidak benar. Oleh karena itu, kadang-kadang begitu saya melihat Fu, ini kembalikan, ambil lagi yang baru; orang ini sakit tulang, harus diberikan Fu untuk tulang, alhasil ia salah ambil karena buru-buru, diambil Fu untuk otak, ini tidak benar. Makanya, Buddhadharma ada 84000 pintu Dharma untuk menyembuhkan 84000 jenis penyakit. Di samping Ling Shen Ching Tze Temple disusun enam buah tungku, keenam tungku ini harus disesuaikan dengan penyakitnya. Jika Anda sakit kepala, sakit mata, sakit mulut, sakit hidung, sakit telinga. Bakar kertas sembahyang di tungku pertama, ini adalah kepala! Tungku pertama. Anda sakit kaki, sakit telapak kaki! Atau kaki keseleo, bakar kertas sembahyang di tungku keenam, itu adalah kaki. Jantung Anda bermasalah, bakar kertas sembahyang di tungku ketiga, tungku ketiga menguasai bagian jantung, empedu, limpa, dan paru-paru. Ginjal Anda bermasalah, bakar kertas sembahyang di tungku keempat. Tungku kedua menguasai leher. Bagi Anda yang mau kaya, jangan ambil Fu untuk kepala, Anda demam, bakar kertas sembahyang di tungku pertama, itu mengacu pada langit. Tungku pertama adalah langit. Tungku keenam adalah bumi. Anda mau kaya, semua kekayaan berasal dari bumi, misalnya: rumah, mobil, kavling, sandang dan pangan, tumbuh dari dalam bumi, bakar di tungku keenam.

Dari tungku pertama hingga tungku keenam, saya ajari kalian cara bakar kertas sembahyang itu ada alasannya. Anda sakit lutut, tungku kelima. Oleh karena itu, saya suruh Anda bakar di tungku keberapa itu bukan tidak ada maksudnya, itu adalah memberi obat sesuai penyakitnya. (Hadirin tepuk tangan) Begitu Buddha dan Bodhisattva menerimanya, Mereka pun tahu penyakit Anda di bagian itu, kemudian mencari di sana, dan mengatasinya. Dengan demikian baru bisa sembuh. Oleh karena itu, 84000 pintu Dharma, menyembuhkan 84000 jenis penyakit.

Setiap orang punya penyakit, oleh karena itu, melatih diri di alam manusia, karena ia memiliki duka dan suka, Anda tahu duka, Anda menderita baru bisa tahu melatih diri, setelah melatih diri baru bisa menghasilkan obat Dharma, menghasilkan obat Dharma, Anda pun mudah melatih diri. Sebenarnya takdir itu sulit diubah, seperti yang dikatakan Shao Kangjie, takdir sulit sekali diubah, hanya melatih diri satu-satunya cara mengubah takdir. Anda japa SUTRA RAJA AGUNG, japa Mantra Sataksara, atau Anda berusaha japa mantra Buddha Bhaisajyaguru, atau japa mantra yidam, setiap mantra ada efeknya. Kalau begitu, lekas rajin melatih diri, lihat apakah takdir bisa diubah. Atau sesuai dengan ramalan Shao Kangjie, jika Anda berjalan menurut takdir Anda sendiri, kapan Anda diramalkan meninggal dunia, Anda pun meninggal dunia pada hari itu, ia bahkan tidak hanya meramalkan hidup dan mati, kapan menikah, umur berapa Anda menikah, umur berapa bercerai, umur berapa menikah lagi, umur berapa bercerai lagi, umur berapa menikah lagi, semua sangat jelas, semua bisa diramalkan. Ada lagi, Anda bertemu siapa, orang itu membuat Anda rugi sekian, berapa bilangannya, mencakup orang itu marga apa, marga Guan, semua bisa diramalkan. Dulu, Mahaguru menggunakan Ilmu Perubahan Shaozi untuk meramal, butir tersebut kebetulan adalah “Buddha Sejati Turun ke Dunia, Berlaksa Manusia Bersarana”. (Hadirin tepuk tangan) Saya justru butir tersebut “Buddha Sejati Turun ke Dunia, Berlaksa Manusia Bersarana”, tepat sekali. Oleh karena itu, diam-diam Anda berjodoh dengan siapa, umur berapa meninggal dunia, diam-diam ada takdirnya. Satu-satunya cara mengubahnya adalah belajar Buddhadharma dan melatih diri, menekuni secara nyata, ubah takdir tersebut, maka muncullah mukjizat. Om Mani Padme Hum.

Sumber:
http://indonesia.tbsn.org/modules/news2/article.php?storyid=446

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Reposting is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Postingan ulang Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »

« Newer Posts