Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘pencerahan’


076 先将自己走的稳稳当当

From B174 一道彩虹 – An Arc of Rainbow 《Seutas Pelangi》

Author  : Grand Master ShengYen Lu

Translation : Meilinda Xu 莲花许月珊

Banyak orang yang belajar Buddha Dharma, diri sendiri masih belum berpendirian, sebentar condong ke kiri, sebentar condong ke kanan, bersarana pada yang ini, menghujat yang itu, bersarana lagi ke yang lain, menghujat lagi yang ini, dirinya sendiri saja sudah tidak stabil jalannya, sedangkan prinsip dasar sebagai manusia saja ia tidak mengerti, masih ingin menjadi Buddha dan jadi moyang, belum becus mengurus dirinya sendiri, tapi ingin mengurus insan?

Saya berpendapat belajar “Theravada”, urus diri sendiri, mampu “melancarkan diri sendiri”, diri sendiri dapat berdiri tegak, berdiri dengan kokoh, ini sesungguhnya jauh lebih baik jika dibandingkan dengan orang yang membangkitkan Mahabodhicitta namun masih belum bisa berdiri kokoh tersebut.

Yang menyedihkan adalah, setelah mempelajari aliran keagamaan yang ini, kemudian menghujat habis seluruh aliran keagamaan lainnya di muka bumi ini, malahan merasa diri sendirilah yang paling tinggi, di seluruh muka bumi ini hanya dialah yang telah mencapai pencerahan, sadhaka lainnya semuanya hanya selevel anak Taman Kanak-Kanak, hanya dirinyalah yang telah di level Profesor.

Ada pula orang yang lebih arogan, mengatakan bahwa dirinya lebih agung dari Sakyamuni Buddha, lebih besar dari Buddha manapun, Tuhan Yesus, Nabi Muhammad, semuanya tidak lebih baik dari dirinya. Mulutnya hanya membual,  bagaimana dirinya berlatih, seagung apa dirinya, memandang rendah seluruh insan di kolong langit.

Namun, di dalam kehidupannya, kali ini mengalami musibah, kali lainnya mengalami sakit penyakit, bagaimana menyelesaikannya pun ia bingung-bingung, dirinya sendiri masih belum mampu “melancarkan diri sendiri”, bagaimana pula mampu “melancarkan insan lain”? Orang ini sudah sangatlah kasihan, patut dikasihani.

Terhadap orang yang tercerahkan seperti ini, saya beranggapan apalah gunanya pencerahannya, lebih baik setiap hari lancar dalam hal “makan”, lancar dalam hal “tidur”.

Menuliskan sebuah sajak :

Jangan mengatakan diri sendiri sedari awal telah mencerahi

Karena orang yang telah pencerahan tidak akan mengatakan ia telah tercerahkan

Bisakah anda tidur

Tidurlah baik-baik

Bersihkan seluruh riasan wajah

Barulah mengetahui wajah asli

Alam tertinggi juga hanyalah menjalani takdir dengan tenang

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care! 

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian yang anda berikan!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


Dari buku ke-60, “Dunia Lain di Dalam Danau” (湖濱別有天 – The Inner World of the Lake)

Translation  :Meilinda Xu 莲花许月珊

Oleh: Grand Master Sheng-Yen Lu

Saat saya baru pertama kali menginjakkan kaki ke Amerika Serikat, sebetulnya saya mengalami kesulitan yang teramat sangat ketika memulai pekerjaan Dharmaduta. Karena, orang Amerika hidupnya susah. Dan, orang Amerika tidak mengerti, apakah yang dimaksud dengan “membangkitkan niat dan tekad”? Mereka bertanya pada saya, mengapa perlu belajar Buddha Dharma? mengapa perlu menjadi Buddha? Apa pula kegunaan dari menjadi Buddha? Mereka malah memberitahu saya, bahwa mereka sama sekali tidak ingin menjadi Buddha.

Mengembangkan Buddha Dharma ternyata memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, karena orang Amerika sebenarnya tidak mengerti “Buddha” itu apa, dan juga tidak ingin menjadi Buddha. Jika tidak ingin menjadi Buddha, bagaimana pula bisa rajin dan bersungguh-sungguh menekuni Buddha Dharma?

Saya tahu, mereka tidak ingin menjadi Buddha, namun di dalam hati, mereka menyimpan rasa kagum terhadap filsafat dan kebudayaan timur. Sedikit saja menyinggung dua patah kata mengenai istilah ketimuran, langsung muncul kegairahan yang tinggi. Terhadap filsafat pemikiran dari Laozi[1], Zhuangzi[2], dan kaum Taois yang lainnya, sangat berminat. Mereka juga pernah mendengar nama Sakyamuni Buddha.

Terhadap orang Amerika yang seperti ini, terlebih dahulu saya mengobrol sedikit mengenai filsafat pemikiran Laozi, filsafat pergaulan Zhuangzi, untuk mengundang minat mereka, lalu menyisipkan Empat Kebenaran Mulia[3] dari Sakyamuni Buddha. Kemudian, dilanjutkan dengan menjelaskan bahwa Sakyamuni Buddha pada saat itu meninggalkan keduniawian dan mencari jalan pembebasan dukkha dengan tekad demi menolong semua makhluk, dengan mencari pemahaman terhadap dukkha supaya dapat menemukan cara menghilangkan dukkha semua makhluk. Hidup manusia diliputi bermacam-macam dukkha. Dari sisi internal, “400 macam penyakit” merupakan dukkha di fisik, “kesedihan, kekhawatiran, iri hati, kemarahan” adalah dukkha di hati. Dari sisi eksternal, terdapat dukkha akibat bencana alam yang meliputi “angin, salju, dingin, panas”. Selain itu, ancaman rampok dan kemalingan, ancaman harimau dan serigala, semua ini merupakan bencana yang dapat diakibatkan oleh manusia dan hewan.

Selanjutnya, saya jelaskan mengenai delapan macam dukkha dalam Sutra Buddha – –

Dukkha karena kelahiran – – kelahiran merupakan dukkha bagi manusia: merepotkan ibunda hingga menderita kesakitan semasa mengandung; sementara itu, berada di dalam kandungan maupun keluar dari kandungan, semuanya membawa penderitaan (bisa ditelusuri dalam Sutra Sabda Buddha mengenai Sadhana Panjang Usia, Penghapus Dosa, dan Pelindung Kaum Kumara), merupakan dukkha.

Dukkha karena tua – – seorang yang lanjut usia akan memiliki dukkha akibat perasaan khawatir akan kelambanan pergerakannya, penuaan organ tubuh, penurunan kemampuan pendengaran dan penglihatan, dan pergerakan badan yang tidak leluasa.

Dukkha karena sakit – – saat manusia menderita penyakit, takut hawa dingin dan takut hawa panas, jiwa dan raga menjadi tidak fit/tidak produktif, mengalami penderitaan, tidak mampu mengutarakan penderitaan yang dialaminya.

Dukkha kematian – – penderitaan menghadapi perpisahan, penderitaan karena tidak adanya sandaran menjelang hilangnya kesadaran/kematian, semuanya merupakan derita yang dihadapi.

Dukkha kehilangan yang dicintai – – suatu hari nanti akan berpisah juga dengan semua yang disukai.

Dukkha berkumpul dengan musuh – – tidak dapat menghindari semua yang tidak disukai, bahkan sering merasa terganggu.

Dukkha tidak mendapatkan yang diinginkan – – merasakan penderitaan karena tidak mendapatkan yang diinginkan.

Dukkha akibat lima sisi gelap panca-skandha – – lima sisi gelap panca-skandha (rupa, perasaan, pikiran, perbuatan, kesadaran), kelahiran dan kematian dari segala sesuatu yang berkondisi, lebih merupakan penderitaan.

Secara ringkas, sepuluh macam dukkha dalam hidup manusia adalah: “dukkha akibat kelahiran, dukkha akibat penuaan, dukkha akibat penyakit, dukkha akibat kematian, dukkha akibat gelisah, dukkha akibat kebencian, dukkha yang dirasakan setelah mengalami dukkha, dukkha akibat kesedihan, dukkha akibat kemarahan, dukkha karena bertumimbal lahir.”

***

Saya sering menjelaskan kenyataan akan hal yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia, seperti dukkha akibat “segala sesuatu tidak ada yang dapat bertahan lama”, “kelahiran dan kematian yang silih berganti”, “tidak dapat beristirahat dengan tenang”, untuk membangkitkan perasaan mereka, membuat mereka sadar akan keberadaan kondisi-kondisi tersebut. Dengan adanya kesadaran tersebut, barulah dapat membangkitkan niat dan tekad untuk menekuni Buddha Dharma.

Manusia zaman sekarang, mau membangkitkan niat dan tekad mereka untuk belajar Buddha Dharma sangatlah susah, karena mereka tersesat pada “warna” dari wujud luar. Mengejar “nama”, “keuntungan”, bahkan “istri” dan “keturunan”, juga sangat mengejar “kenikmatan hidup”, karena melekatlah sehingga timbul bermacam-macam dukkha.

Saya memberitahu mereka agar membangkitkan niat dan tekad, sungguh-sungguh menekuni kebijaksanaan dari Buddha Dharma, mengatasi bermacam-macam dukkha dengan menggunakan kebijaksanaan dari Buddha Dharma, tekun mengubah “tidak bebas” menjadi “bebas”, berusaha menekuni cara “sucikan pikiran dalam kekinian, otomatis akan tenang”. Saya perlahan-lahan memandu dengan cara seperti ini, hingga pada akhirnya mereka semua ikut bersarana pada “Ling Xian Zhen Fo Zhong[4]”.

Namun, pada kenyataannya, ingin seorang siswa yang baru mulai membangkitkan niat dan tekad untuk mempertahankan semangat dan konsistensinya, juga sangatlah susah. Seorang siswa Tantrayana yang membangkitkan tekad mempelajari Buddha Dharma, tidak dipungkiri masih dapat terkena pengaruh dunia luar, sehingga mundur dari tekadnya mencapai ke-Buddha-an. Siswa yang terkena pengaruh dunia luar dan mundur sudah terlalu banyak, terlalu banyak…

“Sangha monastik melepas jubah” juga berarti mundur dari tekad mencapai ke-Buddha-an.

“Siswa yang telah bersarana tidak lagi bersadhana” juga berarti mundur dari tekad mencapai ke-Buddha-an.

“Meninggalkan lingkungan jalan menuju ke-Buddha-an, memasuki kembali lingkungan jalan keduniawian”, juga berarti mundur dari tekad mencapai ke-Buddha-an.

“Di dalam lingkungan jalan menuju ke-Buddha-an, berebut nama dan keuntungan”, juga berarti mundur dari tekad mencapai ke-Buddha-an.

***

Saya berharap, orang-orang yang telah mundur dari tekad mencapai ke-Buddha-an, mengamati secara mendalam, berpikir, apakah kebenaran hakiki itu, apakah “jatidiri sesungguhnya yang suci dan tenang”, mengapa setelah membangkitkan tekad, masih mau ditutupi (dikendalikan, dipengaruhi) oleh debu duniawi… Terhadap kebenaran dunia ini, mengapa tidak tercerahkan, mengapa diri sendiri masih tidak tenang dan suci… Jika begini, harus menekuni dengan sungguh-sungguh “jatidiri sesungguhnya yang suci nan tenang”, mengenali dengan jelas makna kehidupan manusia ini.

Setelah membangkitkan tekad, haruslah juga membangkitkan Bodhicitta[5].

Mantra pengembangan Bodhicitta:

「嗡。婆提支達。母打達牙。彌。」/Pinyin: Weng. Bodizhida. Mudadaya. Mi.

(Cara baca Indonesia: “Om. Poticeta. Mutataya. Mi.”)

Ini adalah mantra pengembangan Bodhicitta, yang memberkati dan mendukung orang yang mengembangkan Bodhicitta, bahkan hingga mencapai keBuddhaan, mengokohkan ketetapan hati untuk tidak memudarkan sradha[6]. Mantra ini mampu menjaga sradha para siswa Tantra. Seluruh Bodhisattva membaca mantra ini saat pertama kali membangkitkan Bodhicittanya, memasuki bhumi sradha yang kokoh.

Seluruh siswa yang bersarana pada aliran Tantrayana Satya Buddha, harus memahami “Gatha Bodhicitta”:

Saya dengan berdasarkan pada [alam] Dharma, tidak mengabaikan makhluk luas

Bersama-sama bersarana pada Guru[7] , Buddha, Dharma, Sangha

Demi menyeberangi lautan samsara, membangkitkan metta karuna mudita upeksa

Semoga (pelatihan) tubuh-ucapan-pikiran dapat seberhasil seperti Adinata[8]

Satu lagi mantra pembangkit Bodhicitta:

「嗡。婆提支打。別炸。沙媽呀。啞吽。」/Pinyin: Weng. Bodizhida. Biezha. Shamaya. Ahum.

(Cara baca Indonesia: “Om. Poticeta. Pieca. Samaya. Ahom.”)

Kedua buah mantra tersebut, dapat meningkatkan dan mendukung pengembangan Bodhicitta, kebajikannya sama besar.

Saya sendiri merasakan, susah membuat orang mempercayai Buddha. Dan, lebih susah lagi untuk membuat orang yang telah mempercayai Buddha dan orang yang telah belajar Buddha-Dharma untuk tetap menjaga motivasi dan keyakinan yang tidak akan pernah luntur/berubah, dan, terutama bagi orang yang telah mempelajari Buddha-Dharma, lebih susah lagi untuk tetap memiliki ketetapan hati dalam menekuni sadhana. Orang yang mundur di tengah jalan, terlalu banyak, terlalu banyak… Ini disebabkan oleh apa? Adalah karena Mara[9] kuat, Dharma lemah! Seorang siswa yang memiliki ketetapan hati yang bulat, susah didekati oleh Mara, jika didekati namun tidak mundur dari tekad awal, barulah dapat dikatakan seorang yang suci/Ariya.

Dengan sangat jujur mengatakan: “Vajra Acarya Bermahkota Merah Berpita Suci” telah melampaui ratusan ujian kematian dan ribuan ujian kehidupan. Seluruh penderitaan yang kualami, jika diceritakan pun orang-orang akan susah mempercayai. Saya adalah orang yang telah memasuki ambang kematian lembah hantu namun tidak mati, benar-benar bernasib mujur. Saya orang yang mengalami dikhianati dan ditinggalkan oleh kerabat, teman, dan siswa, namun tetap dapat merelakan sesuai dengan hukum alam, tidak merasa sedih/menderita. Saya adalah orang yang mengalami serangan hujatan dari para sadhaka di seluruh dunia, namun, mereka meludahi Langit, Langitpun tidak akan menyusut, ini adalah ratusan ribu orang menghujat saya sendirian. Tekanan yang sebesar ini, kemajuan yang besar (yang diperoleh dari upaya melatih diri), dengan tekad yang bulat melatih diri, tidak mundur dari jalan keBuddhaan, merupakan maha upaya pelatihan yang tidak akan berubah dalam kondisi seperti apapun.

Makna kehidupan manusia, tidaklah pada “popularitas”, juga tidak pada “keuntungan”, “istri, harta, anak, kebahagiaan”. Harus bisa melarikan diri dari lingkaran “keuntungan dan popularitas”, barulah benar. Makna kehidupan manusia adalah untuk melatih keBuddhaan, mengejar dan mencari kebenaran yang hakiki, mendalami dan menghayati mahakebijaksanaan yang hakiki, menggunakan badan fisik untuk menjalaninya, mencapai “manunggaling-kawula-gusti” dengan alam semesta, kemudian kembali pada lautan jati diri dari Vairocana, maha lautan cahaya Buddha yang agung, penerangan yang seperti itu, sangatlah agung, merupakan yang paling agung di dunia.

Makhluk luas hendaklah membangkitkan niat dan tekad mempelajari Buddha-Dharma, tekun mempelajari dan mempraktekkan Buddha-Dharma, harus terus menjaga Bodhicitta memasuki bhumi sradha yang kokoh. Mampu mencapai “tidak mundur”, barulah dapat memperoleh penerangan dan mencapai pencerahan.

Yang mundur, Mara Langit tertawa terbahak-bahak, dijadikan sarapan oleh Mara Langit, benar-benar kasihan dan sangat disesalkan!

Saya amat menghimbau makhluk luas, orang yang mempercayai Buddha, segeralah membangkitkan niat dan tekad mempercayai Buddha dan mendalami Dharma. Yang telah mempelajari Buddha-Dharma, harus memiliki kesungguhan dan ketekunan untuk menghayati dan berkembang, tidak menyerah dalam memperoleh penerangan dan mencapai pencerahan, segera mengamati dan menyelidiki akar dari kilesa, berusaha sekuat tenaga dalam memperoleh kebenaran yang terpercaya, menjaga agar Bodhicitta tidak mengalami kemunduran, ini barulah kebenaran yang hakiki.

Yang belum membangkitkan niat dan tekad, akan terus ditemani karma baik dan karma buruk, berada di dalam perputaran lingkaran enam alam samsara.

Yang telah membangkitkan niat namun berbalik mundur, akan memasuki Neraka Vajra.

Yang telah membangkitkan niat, tekun menjaga Bodhicitta, tidak mengalami kemunduran, pastilah akan mencapai keberhasilan tertinggi (penerangan sempurna).


Artikel yang berhubungan (disarankan untuk dibaca):

Persembahan Tertinggi: Persembahan Dharma

Link artikel asli (berbahasa Mandarin):

http://www.tbsn.org/chinese2/article.php?id=5853&keyword=&backpage=&page=0


[1] Filsuf kenamaan dari China, di Indonesia sendiri serng disebut sebagai “Lao-tsu” penulis Kitab Dao De Jing (道德經 – Sutra mengenai Jalan dan Kebajikan). Di agama Buddha, Laozi merupakan emanasi dari Tai Shang Lao Jun, yaitu suciwan yang merupakan dewa tertinggi di dalam ajaran Taoisme.

[2] Salah satu filsuf kenamaan dari China

[3] Empat Kebenaran Mulia terdiri dari: Dukkha ()Sebab-sebab Dukkha ()Akhir dari Dukkha (), dan Jalan (道) untuk mengakhiri Dukkha yang lazim disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan

[4] Aliran Tantrayana Zhen Fo Zhong/Tantrayana Satya Buddha (靈仙真佛宗), merupakan salah satu dari aliran Tantra Cina (sadhana menggunakan bahasa Mandarin) yang merupakan penggabungan dari beberapa sekte Buddhisme Tibetan (yaitu Sekte Nyingmapa (Sekte Merah), Sekte Gelugpa (Sekte Kuning), Sekte Sakyapa (Sekte Kembang), dan Sekte Kargyupa (Sekte Putih)), sekte Sukhawati dari aliran Mahayana, dan Taoisme.

[5] Tekad mencapai keBuddhaan

[6] Tekad dan keyakinan dalam menapaki jalan ke-Buddha-an

[7] Guru spiritual

[8] Makhluk suci yang paling dijunjung (sesuai preferensi pribadi masing-masing), yang telah mencapai Arus Nibbana (Arus Nirvana). Dalam Tantrayana, sangatlah penting untuk memilih Guru Spiritual yang tepat dan Adinata yang paling dipuja/dijunjung dalam awal tahapan bersadhana, untuk memperkokoh fondasi paling dasar. Di dalam Tantrayana terdapat berbagai macam sadhana, yang mana setiap sadhananya memiliki Junjungan (Adinata) yang berbeda-beda. Ketekunan bersadhana dan sradha yang tinggi terhadap Guru Spiritual sangatlah penting dalam mencapai keberhasilan dalam sadhana Guruyoga, dan terhadap Adinata dalam sadhana Adinatayoga. Dalam setiap jenis sadhana Adinatayoga dalam Buddhisme, pencapaian tertinggi adalah mencapai yoga (kontak batin) dan manunggaling-kawula-gusti dengan Junjungan (melebur menjadi satu dengan Junjungan: Junjungan adalah saya, saya adalah Junjungan, tidak ada perbedaan lagi) pada masing-masing sadhana tersebut

[9] Godaan nafsu kemelekatan terhadap hal-hal duniawi, baik dari dalam diri sadhaka (internal) maupun dari pengaruh kondisi yang dialami sadhaka/lingkungan di sekitar sadhaka (eksternal)

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


(Intisari Ceramah Dharmaraja Liansheng pada Kebaktian Sabtu Tanggal 19 September 2009 di Ling Shen Ching Tze Temple)
diterjemahkan oleh Yau Fong

Sembah sujud pada Bhiksu Liaoming, Guru Sakya Zhengkong, Gyalwa Karmapa XVI, Guru Thubten Dhargye, Triratna Mandala! Sembah sujud pada yidam hari ini Padmakumara! Pemandu kebaktian Acarya Lianzhu, Gurudhara, Para Acarya, Dharmacarya, Bhiksu Lama, Pandita Dharmaduta, Pandita Lokapalasraya, Ketua Vihara, para umat se-Dharma, dan para umat se-Dharma di internet, salam sejahtera semuanya!

Hari ini kita lanjut menerangkan SUTRA ALTAR PATRIAK VI, Patriak VI bersabda, “Kalyana-mitra! Orang berbakat kecil, mendengar ajaran instan ini, ibarat tumbuhan berakar kecil, jika ditimpa hujan deras, semua ambruk, tidak dapat tumbuh. Orang berbakat kecil, juga demikian.” Saya baca sekali lagi, Patriak VI bersabda, “Kalyana-mitra! Orang berbakat kecil, mendengar ajaran instan ini, ibarat tumbuhan berakar kecil, jika ditimpa hujan deras, semua ambruk, tidak dapat tumbuh. Orang berbakat kecil, juga demikian.”

Di sini ada 2 titik berat. Titik berat pertama adalah “ajaran instan”. Di dalam Agama Buddha ada yang namanya “Eksoterik” dan “Esoterik”, ada yang namanya “Ajaran Bertahap” dan “Ajaran Instan”. Yang namanya “Ajaran Bertahap” adalah setahap demi setahap, mulai dari dasar. Tadi, Acarya Lianzhu bercerita tentang pelatihan militer, dari dasar dilatih setahap demi setahap, hingga menjadi seorang tentara yang serba bisa. Seorang tentara setelah melalui bermacam-macam latihan, pada akhirnya bisa menjadi seorang tentara sejati. Metode pendidikan demikian disebut “ajaran bertahap”, diajarkan secara bertahap.

Patriak VI bersabda, Dharma yang disabdakan Patriak VI disebut “Ajaran Instan”. Apa yang dimaksud “Ajaran Instan”? Di awal sudah diterangkan cara mencapai pencerahan, apa itu pencerahan, wujud dunia yang sebenarnya, kebenaran tertinggi alam semesta. Di awal Beliau sudah menerangkan hal-hal demikian. Sebagian besar orang awam, begitu mendengar “Ajaran Instan”, mereka tidak berani percaya. Oleh karena itu, “Ajaran Instan” tidak boleh langsung diutarakan, hanya boleh diutarakan secara tidak langsung, karena langsung diutarakan, banyak orang tidak akan percaya ada hal demikian. Oleh karena itu, Anda akan merasa “mengapa pencerahan itu sulit sekali?” Orang yang mencapai pencerahan dalam aliran kita, ia tentu saja tahu. Namun, yang tidak cerah, mereka menulis kata-kata yang dikira telah mencapai pencerahan, setelah saya membacanya, saya jelaskan sebentar, tidak langsung mengutarakan. Yang tidak cerah masih banyak. Mengapa? Karena sulit sekali dibayangkan bagaimana kondisi pencerahan itu. Sulit sekali dipikirkan, sulit sekali dituliskan, sulit sekali dicerahi. Ini disebut “Ajaran Instan”, ajaran instan artinya langsung mengutarakan pada Anda dan Anda harus mencerahinya, itu adalah “Pencerahan Instan”, Anda cerah dalam seketika.

Yang disabdakan Patriak VI adalah “Ajaran Instan”. Sekte Zen ada 2 macam, satu adalah “ajaran bertahap”, yaitu secara bertahap Anda dibimbing hingga mencapai pencerahan, disebut “ajaran bertahap”; satu lagi adalah “ajaran instan”, secara langsung mengatakan sudah sangat mendekati, lantas Anda pun mencapai penceahan instan dalam seketika, ini disebut “ajaran instan”. Di dalam sabda Patriak VI ini sempat dibahas satu contoh, orang awam pada umumnya disebut orang berbakat kecil. Orang berbakat kecil tidak akan percaya ajaran instan yang langsung mengutarakannya pada Anda, yakni tidak berani percaya ada hal demikian; ibarat turun hujan yang sangat deras, tidak hanya tanah longsor, rumah juga ambruk, apalagi tumbuhan kecil, semua rubuh. Karena hujan ini terlalu deras. Ajaran instan ibarat hujan deras, begitu turun, Anda tidak dapat menerimanya, Anda pun tidak berani percaya, lalu mati. Itulah sebabnya pencerahan tidak boleh langsung diutarakan. Mahaguru adalah orang yang telah mencapai pencerahan, mengapa tidak langsung mengutarakan prinsip pencerahan ini kepada Anda semua, karena di antara insan ada yang berbakat besar, begitu mendengarnya, hati dan pikirannya terbuka, segera mengerti. Namun, ada sebagian orang setelah mendengarnya tidak berani percaya, sebaliknya malah mencelakainya. Di sinilah alasan pencerahan itu sangat sulit, karena di luar dugaan Anda.

Dulu, Buddha Sakyamuni mencapai pencerahan di bawah Pohon Bodhi, Anda tidak bisa membayangkan sebenarnya apa yang dicerahi-Nya. Banyak Mahabhiksu, Mahabhiksuni, orang yang telah lama melatih diri, belum tentu dapat mencerahi tingkat pencerahan Buddha Sakyamuni, ini sangat sulit. Makanya, Patriak VI bersabda, mendengar ajaran instan ini, ibarat ditimpa hujan deras, banyak rumput, bunga, semua terbawa arus. Orang berbakat kecil tidak dapat menerima pencerahan. Makanya ada satu kalimat mengatakan, orang berbakat besar mendapatkan manfaat besar, orang berbakat kecil mendapatkan manfaat kecil, di sini Buddhadharma justru ada perbedaan, membimbing secara bertahap dan mencerahi Anda dalam seketika.

Bagaimana menjelaskan prinsip ini? Tadi, Lama Lianye mengatakan bahwa diam-diam ada takdirnya. Sebenarnya kita bisa mengubah takdir, takdir bisa diubah, Mahamayuri Vajrarajni pun berkata, karma tetap boleh diubah. Makanya, di dalam buku Empat Nasihat Liaofan ada “Cara Mengubah Nasib”, pada bagian pendahuluan Empat Nasihat Liaofan diceritakan tentang ada seorang yang mengerti Ilmu Perubahan Shaozi, orang yang mengerti ilmu perubahan, dengan sendirinya tahu diam-diam ada takdirnya. Shaozi adalah Shao Kangjie, ia adalah orang yang sangat hebat dalam mengetahui hal yang belum terjadi. Dulu ia membaca banyak buku, ia sangat pintar, semua buku sudah habis dibacanya. Setelah buku habis dibacanya, ia melanglang buana. Karena ia sangat pintar, tampangnya juga pintar. Ada seorang yang seperti dewa, ia setengah dewa, ia melihat Shao Kangjie, ia mengatakan orang ini sangat berbakat, lalu memberinya 3 kitab, kitab pertama adalah “Yijing”, kitab kedua adalah “Hetu”, “kitab ketiga adalah “Luoshu”.

Shao Kangjie membaca ketiga kitab ini, terus-menerus menyelidiki, tahu bahwa di antara langit dan bumi diam-diam ada takdirnya, sehingga ia menuliskan takdir ini menjadi beberapa buku, itulah “Ilmu Perubahan Shaozi”, yaitu “Tie Ban Shen Shu” (Ramalan Sejitu Baja) yang beredar sekarang. Tie Ban artinya, apa yang saya katakan ibarat baja, ramalan adalah hidup kita diramal, inilah takdir, diam-diam ada takdirnya. Inilah karya Shao Kangjie setelah “Yijing”, “Hetu”, dan “Luoshu” diselidiki, ditulis menjadi ratusan hingga ribuan butir, pokoknya Anda tidak bisa mengelak dari takdir ini, saya ramal, itulah takdir Anda. Kapan Anda lahir, siapa nama ayah, siapa nama ibu, berapa saudara, kapan Anda meninggal dunia, semua sudah ditakdirkan.

Yuan Liaofan mengatakan, setelah ia mengerti Ilmu Perubahan Shaozi, hatinya ibarat air mandek, selain itu, ia bertemu seseorang yang memberinya petunjuk, “Pemikiran Anda ini tidak benar, takdir bisa diubah.” Berdasarkan apa diubah, yang dijelaskan di dalam Empat Nasihat Liaofan adalah, mengubahnya dengan kebaikan dan kejahatan, mengubah takdir Anda dengan kebajikan besar, inilah yang tertulis di dalam Empat Nasihat Liaofan, diam-diam ada takdirnya, namun takdir bisa diubah. Makanya, masa lalu yang dikatakan Shao Kangjie sangat tepat, peristiwa yang telah berlalu mutlak sangat tepat; jika nasib Anda tidak berubah, masa depan juga sangat tepat, namun jika nasib Anda telah berubah, masa depan tidak tepat lagi. Oleh karena itu, Tie Ban Shen Shu karya Shao Kangjie adalah intisari hidupnya. Anda mengerti Tie Ban Shen Shu, berapa jumlah saudara Anda, bisa diramal. Berapa yang meninggal dunia dan umur berapa, apa shio ayah; contoh ayah saya shio macan, ibu shio kelinci, saya shio ayam; ia menggunakan tahun, bulan, tanggal, waktu, diramal sampai waktu, kemudian, takdir Anda diramalkan, tepat sekali, inilah Ilmu Perubahan Shaozi karya Shao Kangjie yang diwariskan turun-temurun di China.

Namun, apakah takdir ini bisa diubah? Bisa diubah. Bagaimana mengubahnya? Bersadhana bisa mengubahnya. Karena melatih diri itu sendiri adalah kebajikan besar. Contoh, Sadhana Mahamayuri, ia bisa mengubah takdir. Kita harus menjapa Mantra Mahamayuri, menjapa Mantra Sataksara, menjapa mantra banyak yidam, semua bisa mengubah takdir. Tadinya, Anda seharusnya terlahir menjadi kelahiran melalui telur, saya katakan, Anda bisa mengubah semua kelahiran antara lain: kelahiran melalui telur, kelahiran melalui janin, kelahiran melalui kelembaban, hanya bisa kelahiran secara spontan. Lewat kelahiran secara spontan, paling tidak Anda adalah Padmakumara. (Hadirin tepuk tangan) Oleh karena itu, kita mementingkan bersadhana, juga mementingkan membangkitkan Bodhicitta, berbuat kebajikan, alasannya di sini. Kita mesti menyesuaikan dengan Buddhadharma, kita harus kontak yoga dengan Buddhadharma, kontak yoga dengan yidam, kontak yoga dengan Buddha, kontak yoga dengan Bodhisattva, kontak yoga dengan semua yidam, boleh mengubah diri kita sendiri.

Pagi ini saya menulis tentang “prinsip kontak yoga”, saya merasa kontak yoga adalah penjelmaan, kontak yoga dan penjelmaan, kontak yoga adalah manunggal, setelah manunggal adalah menjelma. Jika Anda tidak kontak yoga dengan Buddha dan Bodhisattva, Anda selamanya seorang awam, tidak dapat bebas dari tumimbal lahir. Tadi, Acarya Lianzhu mengatakan bahwa ia menerangkan banyak sekali, penjelmaan pertama itu apa, penjelmaan kedua itu apa, ia bicara tentang “hidup dan mati”, “untung dan rugi”, “suka dan duka”, “kekuasaan dan kewajiban”, bicara lagi tentang “separuh kehidupan sebelumnya”, “separuh kehidupan sesudahnya”, bicara tentang “aku sejati” dan “aku palsu”, semuanya berlawanan. Ia tidak mengatakan cinta dan benci, sebenarnya cinta dan benci keluar dari perasaan yang sama, jangan mengira cinta dan benci itu perasaan yang berbeda. Salah! Cinta dan benci sama-sama keluar dari hati Anda, benda yang sama, semua ada perasaan, cinta dan benci adalah perasaan. Oleh karena itu, yang saya bicarakan adalah “teori 1”, yang dibicarakan Acarya Lianzhu adalah “teori 2”, apa itu penjelmaan pertama, apa itu penjelmaan kedua, sebenarnya adalah satu. Suka dan duka adalah satu; hidup dan mati adalah satu; untung dan rugi adalah satu; kekuasaan dan kewajiban adalah satu; separuh kehidupan sebelumnya dan separuh kehidupan sesudahnya tidak terbagi menjadi 2, tetapi 1; “aku sejati” dan “aku palsu” juga satu. Ia membaginya menjadi 2, saya gabungkan lagi, (hadirin tepuk tangan) ini adalah manunggal, Buddha dan saya adalah 1, bukan 2, Buddha dan saya adalah 1, sama sekali bukan 2, ini disebut manunggal.

Dalam ilmu pengetahuan, kita bisa melihat, jika nenas dikawinkan dengan Sarikaya, ia pun berubah menjadi sarikaya rasa nenas, ini adalah metode pencangkokan tumbuhan. Contoh, saya cangkok tumbuhan apa dengan tumbuhan apa, kelak kita makan pir, pir akan sebesar semangka, karena Anda cangkokkan, pir akan berubah menjadi sebesar semangka, ini adalah manunggal. Anda gunakan metode pencangkokan, bisa menciptakan banyak buah baru, binatang juga sama. Satu yang terpenting adalah, virus juga bisa manunggal, lekas selidiki vaksin untuk melawan virus itu. Asalkan virus manunggal maka bertransformasi, menjelma. Pagi ini, “Prinsip Kontak Yoga” yang saya tulis, Buddha dan saya manunggal, maka menjelma menjadi Buddha baru, muncullah Buddha yang baru, inilah manunggal dan menjelma.

Seseorang menulis sebuah cerita lucu untuk saya, tikus bertemu kucing, tikus berkata pada kucing, “Lain kali saya tidak takut kamu lagi, karena anak cucu saya sudah kawin dengan kelelawar, kelak tikus akan terbang di langit seperti kelelawar, kucing juga tidak bisa mengejar dan menangkap saya lagi.” Kucing ini tertawa sinis, “Anak cucu saya kawin dengan burung hantu, bagaimana kelelawar terbang, burung hantu tetap akan menangkapmu.” Inilah penjelmaan. Anda lihat begitu tikus kawin dengan kelelawar, ia pun bisa terbang, kucing kawin dengan burung hantu, ia pun berubah menjadi burung hantu, semua itu bisa berubah. Tantra itu sendiri justru sedang berubah, orang berbakat kecil tidak rasional, orang berbakat kecil tidak mengerti prinsip.

Di sini juga ada satu orang yang menuliskan cerita lucu. Ada seorang bhiksu menumpang di perahu yang sama dengan seorang gadis jelek sedang menyeberangi sungai. Bhiksu itu melihat sekilas wanita yang sangat jelek itu, wanita yang sangat jelek itu berkata, “Anda ini bhiksu genit, berani-beraninya mengintip wanita baik-baik.” Begitu bhiksu ini mendengar, ia tidak berani membuka matanya, matanya pun dipejamkan. Tak disangka, wanita jelek ini berkata, “Anda tidak berani membuka mata berarti Anda sedang membayangkan saya.” Bhiksu ini terpojok! Buka mata tidak benar, pejam mata juga tidak benar, bhiksu ini buru-buru menoleh, sekalian saja saya tidak buka mata dan tidak pejam mata, saya menoleh saja, tidak melihat Anda. Wanita jelek ini berpikir, “Anda malu bertemu saya, hati Anda pasti merasa bersalah.” Orang seperti ini tidak bisa diberi penjelasan, kita jelaskan prinsip padanya, ia justru berpikiran seperti itu, menurut Anda, apa yang harus dilakukan, benar tidak?! Makanya, tidak dapat diberi penjelasan.

Kadang-kadang saat konsultasi, saya bertanya A, orang lain menjawab B, atau orang lain bertanya A, saya menjawab B, kadang-kadang bisa tidak sambung juga. Seseorang menelepon, kalau di Amerika telepon 911, kalau di Taiwan telepon 119, saat telepon ke sana, ia berkata, “Rumah saya kebakaran!” Seberang bertanya, “Di mana?” Ia berkata, “Di dapur saya.” Seberang bertanya, “Saya tanya di mana lokasi kebakarannya?” “Dapur.” “Kalau begitu, di mana tempatnya?” “Rumah saya.” “Sekarang saya tanya Anda, bagaimana kami pergi ke rumah Anda?” “Bukankah Anda punya mobil pemadam kebakaran?” Apa yang dijawab selalu salah. Anda harus menjelaskan alamat rumah Anda, ini adalah tidak sambung.

Oleh karena itu, apa yang dikatakan Mahaguru, orang berbakat besar mengerti, orang berbakat kecil tidak mengerti. Orang berbakat besar mendengar kata-kata pencerahan, ia akan merasa mustahil. Jika saya mengutarakan apa itu pencerahan, orang berbakat besar sekali mendengar sudah mengerti, begini rupanya. Seperti yang dikatakan Acarya Lianzhu bahwa hidup bagai sandiwara, kita memainkan sebuah sandiwara, Upacara Penyeberangan Amitabha, semua orang hadir, Mahaguru menerangkan Sadhana Mahamayuri, umat dari berbagai belahan dunia pun datang, semua datang mendengarkan, wah! Sadhana ini bagus sekali, setelah mendengarnya, banyak orang menekuninya secara nyata. Juga ada orang setelah mendengar Sadhana Menstabilkan Gempa Bumi, contoh gempa bumi Washington, kita harus ambil tanah dari empat penjuru, harus ke Spokane, begitu jauh, ke tepi laut Seattle, ke perbatasan Vancouver, ke samping jembatan besi Portland. Wah! Kita harus pergi ke tempat yang begitu jauh untuk mengambil tanah dari empat penjuru, harus menjapa mantra, menjapa begitu banyak. Acarya Lianyin berkata, “Mahaguru lakukan saja, mohon Mahaguru melakukannya.”

Anda pintar sekali! Saya juga tidak bodoh! Siapa yang mengatakan, dia yang melakukan! Acarya Lianyin serba bisa, setelah saya mengajarkan sadhana homa, ia segera melakukannya 1000 kali homa. (Hadirin tepuk tangan) Ia juga melatih diri secara nyata. Sadhana begitu bagus, kita semua suruh Acarya Lianyin saja yang melakukannya, siapa yang mengatakan, dia yang melakukan!

Kejadian hidup ini benar-benar mirip sebuah sandiwara. Lihatlah begitu banyak orang berkumpul bersama, waktu sudah berlalu, menurut Anda, bisakah kita pada waktu yang sama, menghimpun orang-orang yang dulu pernah datang berkumpul di satu lokasi untuk mengadakan upacara ini lagi? Apakah bisa? Tidak bisa. Mustahil! Pertama, waktunya tidak mungkin sama, orang-orangnya juga mustahil sama lagi. Ada orang begitu pulang, yang sudah lanjut usia, sepulangnya tidak mungkin kembali lagi. Ia mengatakan cukup datang sekali saja, sepulangnya ia tidak mungkin datang lagi. Orang-orang yang sama mau dikumpulkan lagi, upacara yang sama, sadhana yang sama, waktu yang sama, lokasi yang sama, mustahil. Beginilah sandiwara kehidupan. Sudah berlalu, tidak mungkin terjadi lagi.

Oleh karena itu, di dalam Enlightenment Magazine saya menulis sepatah kata “Berlalu”, justru mengacu pada hal ini, apa itu berlalu, yaitu yang sudah berlalu tidak akan terjadi lagi, sandiwara ini tidak mungkin berulang lagi. Oleh karena itu, ini adalah masalah jodoh, ada sebagian orang sangat berjodoh, sebagian orang kurang berjodoh, sebagian orang hanya berjodoh bertemu sekali saja, sebagian orang bisa bertemu sepuluh kali, sebagian orang dapat hidup bersama sekian tahun. Suami istri paling malang, suami istri harus hidup bertahun-tahun. Seseorang pergi berobat, dokter memeriksanya, “Anda radang usus buntu, harus segera dioperasi.” Pasien pun berkata, “Dokter, coba periksa sekali lagi dengan lebih saksama.” Dokter sangat marah, “Saya dokter atau Anda dokter? Saya adalah dokter! Anda adalah pasien! Saya bilang radang usus buntu ya radang usus buntu.” Pasien pun berkata, “Tahun lalu saya baru operasi usus buntu.” (Hadirin tertawa) Tahun lalu baru operasi usus buntu mengapa masih bisa radang usus buntu?! Oleh karena itu, memeriksa pasien harus benar, Mahaguru juga sama, terhadap semua insan harus memberikan obat yang benar sesuai dengan penyakitnya.

Kita yang menggambar Fu juga tidak boleh sembarangan meracik Fu, kita harus memberi Fu sesuai dengan penyakitnya, orang ini sakit, saya berikan Fu pernikahan, bercanda! Saya bilang pada Acarya Lianning, orang ini sakit jiwa, Anda berikan Fu usus, ini sudah tidak benar. Oleh karena itu, kadang-kadang begitu saya melihat Fu, ini kembalikan, ambil lagi yang baru; orang ini sakit tulang, harus diberikan Fu untuk tulang, alhasil ia salah ambil karena buru-buru, diambil Fu untuk otak, ini tidak benar. Makanya, Buddhadharma ada 84000 pintu Dharma untuk menyembuhkan 84000 jenis penyakit. Di samping Ling Shen Ching Tze Temple disusun enam buah tungku, keenam tungku ini harus disesuaikan dengan penyakitnya. Jika Anda sakit kepala, sakit mata, sakit mulut, sakit hidung, sakit telinga. Bakar kertas sembahyang di tungku pertama, ini adalah kepala! Tungku pertama. Anda sakit kaki, sakit telapak kaki! Atau kaki keseleo, bakar kertas sembahyang di tungku keenam, itu adalah kaki. Jantung Anda bermasalah, bakar kertas sembahyang di tungku ketiga, tungku ketiga menguasai bagian jantung, empedu, limpa, dan paru-paru. Ginjal Anda bermasalah, bakar kertas sembahyang di tungku keempat. Tungku kedua menguasai leher. Bagi Anda yang mau kaya, jangan ambil Fu untuk kepala, Anda demam, bakar kertas sembahyang di tungku pertama, itu mengacu pada langit. Tungku pertama adalah langit. Tungku keenam adalah bumi. Anda mau kaya, semua kekayaan berasal dari bumi, misalnya: rumah, mobil, kavling, sandang dan pangan, tumbuh dari dalam bumi, bakar di tungku keenam.

Dari tungku pertama hingga tungku keenam, saya ajari kalian cara bakar kertas sembahyang itu ada alasannya. Anda sakit lutut, tungku kelima. Oleh karena itu, saya suruh Anda bakar di tungku keberapa itu bukan tidak ada maksudnya, itu adalah memberi obat sesuai penyakitnya. (Hadirin tepuk tangan) Begitu Buddha dan Bodhisattva menerimanya, Mereka pun tahu penyakit Anda di bagian itu, kemudian mencari di sana, dan mengatasinya. Dengan demikian baru bisa sembuh. Oleh karena itu, 84000 pintu Dharma, menyembuhkan 84000 jenis penyakit.

Setiap orang punya penyakit, oleh karena itu, melatih diri di alam manusia, karena ia memiliki duka dan suka, Anda tahu duka, Anda menderita baru bisa tahu melatih diri, setelah melatih diri baru bisa menghasilkan obat Dharma, menghasilkan obat Dharma, Anda pun mudah melatih diri. Sebenarnya takdir itu sulit diubah, seperti yang dikatakan Shao Kangjie, takdir sulit sekali diubah, hanya melatih diri satu-satunya cara mengubah takdir. Anda japa SUTRA RAJA AGUNG, japa Mantra Sataksara, atau Anda berusaha japa mantra Buddha Bhaisajyaguru, atau japa mantra yidam, setiap mantra ada efeknya. Kalau begitu, lekas rajin melatih diri, lihat apakah takdir bisa diubah. Atau sesuai dengan ramalan Shao Kangjie, jika Anda berjalan menurut takdir Anda sendiri, kapan Anda diramalkan meninggal dunia, Anda pun meninggal dunia pada hari itu, ia bahkan tidak hanya meramalkan hidup dan mati, kapan menikah, umur berapa Anda menikah, umur berapa bercerai, umur berapa menikah lagi, umur berapa bercerai lagi, umur berapa menikah lagi, semua sangat jelas, semua bisa diramalkan. Ada lagi, Anda bertemu siapa, orang itu membuat Anda rugi sekian, berapa bilangannya, mencakup orang itu marga apa, marga Guan, semua bisa diramalkan. Dulu, Mahaguru menggunakan Ilmu Perubahan Shaozi untuk meramal, butir tersebut kebetulan adalah “Buddha Sejati Turun ke Dunia, Berlaksa Manusia Bersarana”. (Hadirin tepuk tangan) Saya justru butir tersebut “Buddha Sejati Turun ke Dunia, Berlaksa Manusia Bersarana”, tepat sekali. Oleh karena itu, diam-diam Anda berjodoh dengan siapa, umur berapa meninggal dunia, diam-diam ada takdirnya. Satu-satunya cara mengubahnya adalah belajar Buddhadharma dan melatih diri, menekuni secara nyata, ubah takdir tersebut, maka muncullah mukjizat. Om Mani Padme Hum.

Sumber:
http://indonesia.tbsn.org/modules/news2/article.php?storyid=446

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Reposting is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Postingan ulang Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »