Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘sadhana’


019 行者的度量大如天

Source : B174  一道彩虹 An Arc of Rainbow 《Seutas Pelangi》

By : Grandmaster Shengyen Lu

Translation : Meilinda Xu 莲花许月珊

Kita menyadari beberapa fenomena nyata, sifat mengekslusifkan diri terhadap kepercayaan lain dari aliran keagamaan sangatlah kuat, baik itu agama Islam, agama Kristen Katolik, agama Kristen Protestan, agama Buddha, dll. Asalkan merupakan aliran keagamaan, rata-rata memiliki sifat mengekslusifkan diri, dan menganggap diri sendiri lah yang lurus, yang lainnya adalah sesat.

Di dalam dunia agama Buddha pun sama, contohnya empat aliran besar agama Buddha di Taiwan, jika anda berada di aliran besar yang ini, maka tidak boleh mengatakan kebaikan dari aliran lainnya, hanya boleh mengatakan kebaikan dari aliran sendiri. Masing-masing aliran besar ini hanya melindungi alirannya sendiri, dan saling berkompetisi.

Sebenarnya, ini merupakan penyakit yang umum diderita umat manusia, juga tidak dapat menyalahkan siapa-siapa, tidak hanya aliran keagamaan saja yang mengeksklusifkan diri, bahkan suku bangsa juga memiliki sifat mengekslusifkan diri.

Namun demikian, saya juga menyadari, sadhaka yang benar-benar memiliki pandangan benar yang sesungguhnya harus memiliki kapasitas hati yang sangat besar. Kita memuja Buddha, karena Buddha mentolerir seluruh dewa di tiga dunia, toleransinya luas tak terbatas. Kita memuja Mahakalyanamitra, Mahakalyanamitra yang sesungguhnya pastilah memiliki tingkat toleransi yang sebesar Langit. Kapasitas hati besar, barulah bisa banyak rezeki ; jika kapasitas hati sadhaka kecil, semakin berlatih hanya akan semakin sempit hatinya. Marilah kita berpikir secara cermat, bhavana harus memiliki toleransi yang besar barulah benar, jika toleransinya kecil berarti sudah gawat.

Toleransi besar, baru bisa harmonis dan saling membaur!

Toleransi besar, barulah menandakan tiada yang dapat menghalangi tindakan bajiknya!

Toleransi besar, barulah mampu mencapai keberhasilan prajna!

Menuliskan sebait gatha pendek :

Guru para dewa dan manusia barulah cocok disebut Buddha

Tidak melepaskan satu insan pun

Karena setiap insan adalah luar biasa

Mahakalyanamitra mampu mentolerir sepuluh penjuru tiga dunia

Mana mungkin bertikai hanya demi masalah kecil

Jika anda sudah tercerahkan

Mana peduli sadhaka mana yang bisa unggul

Jangan membuat komunitas kecil dan memperkaya diri

Berbesar hati barulah pencapaian sadhaka yang sesungguhnya

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care! 

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


by Grand Master Sheng-Yen Lu, source : B216 – Q&A from the Contemporary Dharma King

Translation :Meilinda Xu 莲花许月珊

Seorang siswa bermarga Shen melakukan pelanggaran sebuah kasus dan dipenjara. Yang lebih gawat dari siswa bermarga Shen ini adalah, ia menderita infeksi paru-paru, mengalami demam tinggi. Penyakitnya mereda setelah meminum obat, namun begitu efek obat berakhir, ia kembali terserang demam tinggi.

Di dalam mimpinya, siswa bermarga Shen melihat datang bagaikan hembusan angin, mengenakan baju putih, tubuh memancarkan cahaya putih.

Siswa bermarga Shen bertanya, “Ini adalah penjara, bagaimana Mahaguru bisa masuk?”

Saya tertawa, lalu berkata, “Mayakaya memenuhi sepuluh penjuru, tiada tempat yang tak bisa dijelajahi!”

Siswa bermarga Shen berkata, “Terserang infeksi paru-paru di dalam penjara, letih fisik dan jasmani, mohon Mahaguru berkenan menolong saya.”

Saya berkata, “Oleh karena itulah saya datang.”

Saya merogoh-rogoh sebungkus obat dari dalam baju putih saya, dan memberikannya kepada siswa Shen untuk diminum. Begitu siswa Shen terbangun di hari berikutnya, demam tingginya telah reda. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter penjara, penyakit infeksi paru-paru telah lenyap seluruhnya, benar-benar telah sembuh total.

*

Topan Marc.

Kepala vihara ketiga dari Vihara Zhenming, siswa Ding yiming, melihat Mahaguru Lu mempersemayamkan sebuah pasak Kalachakra Vajra di Desa Tongfu di sekitar pedesaan Xinyi.

Saat bencana badai, banjir, dan longsor melanda, seluruh Desa Tongfu terendam. Namun satu-satunya siswa Tantrayana Satya Buddha di Desa Tongfu, yaitu siswa Zhang jinfu dan siswi Lin jiaxin, lolos dari marabahaya.

Selain itu, seorang penduduk Desa Jiaxian di Xi An, Chen Zhenglong, juga merupakan siswa Tantrayana Satya Buddha, juga merupakan satu-satunya penduduk yang selamat dari marabahaya di desa tersebut.

*

Saat Topan Marc melanda, saya sedang berada di Seattle. Saya sedang mengadakan ritual homa api ulambana di Rainbow Villa Vihara Vajragarbha. Saya menggunakan 50 mayakaya, untuk menyelamatkan saudara-saudari sedharma yang meninggal.

Menggunakan 50 mayakaya melakukan penyelamatan, ternyata dirintangi oleh prajurit hantu alam Yin. Demi menyelematkan 50 saudara-saudari sedharma yang meninggal, akhirnya mengorbankan 50 mayakaya. Namun, saudara-saudari sedharma yang meninggal terseberangkan ke tanah suci Barat.

Ulambana kali ini berhasil.

Hanya saja, saya menderita kerugian yang berat.

Ada yang bertanya, “Mengapa mau menyelamatkan?”

Saya menjawab, “Buddha mengajarkan mahamaitri dan mahakaruna, ini adalah fokus dari aliran Mahayana. Insan tenggelam, maka diri sendiri juga tenggelam. Insan kelaparan, maka diri sendiri juga kelaparan. Sebagai seorang Bodhisattva, seharusnya mementingkan insan, tidak lebih mementingkan diri sendiri. Mengetahui insan mengalami penderitaan, mana ada alasan untuk tidak pergi menyelamatkan.”

Ada yang bertanya, “Demi menyelamatkan, mengorbankan 50 mayakaya, patutkah?”

Saya menjawab, “Ini adalah kesadaran mengorbankan diri demi insan lain, 50 mayakaya bisa didapatkan lagi dengan bersadhana.”

“Bagaimana melatih mayakaya?”

Saya menjawab, “Pada hakikatnya, mayakaya merupakan Yidam yang ada di nadi tengah kita sendiri, merupakan hasil dari perpaduan prana dan bindu, ditambah dengan sinar dari Buddhata kita sendiri, menerobos keluar dari ubun-ubun, menyatu dengan sinar dari bintang-bintang di angkasa, maka terbentuklah mayakaya berupa tubuh cahaya bintang. Pelatihan sadhana ini kedengarannya gampang, namun sebenarnya juga sangatlah susah. Semua ini merupakan prana, nadi, pelatihan bindu, sulit dijelaskan dengan kata-kata. Yang mampu melatih mayakaya berupa tubuh cahaya bintang, pastilah merupakah sadhaka yang bermutu tinggi.”

Ada yang bertanya, “Siswa Tantrayana Satya Buddha, sangat mudah mendapatkan kontak  Mahaguru Lu memasuki mimpi, malahan dalam satu malam, milyaran mayakaya, setiap orang merasakan kontak dengan Mahaguru. Bagaimana bisa demikian?”

Saya menjawab, “Ini semua adalah fungsi dari tubuh cahaya bintang, juga merupakan fungsi dari mayakaya. Sadhaka yang berkualitas tinggi, tentu dapat menggunakan mayakaya menyeberangkan insan. Hanya menggunakan satu Yidam saja tidak cukup.”

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


by Grand Master Sheng-Yen Lu, B216 Contemporary Dharma King

Translation :Meilinda Xu 莲花许月珊

Ada yang bertanya, “Haruskah kita bersadhana setiap hari? Haruskah kita setiap hari mengerjakan tugas harian? Haruskah kita bersamadhi dan bersadhana setiap hari?”

Saya menjawab, “Harus.”

Mengapa?

Logikanya sangat simpel: kita menjunjung tinggi Buddha Dharma, bersandar pada Buddha Dharma. Kita mempraktekkan Buddha Dharma, menyelami Buddha Dharma, untuk memperoleh penyelamatan.

Saya rasa, “Ini merupakan yang paling berharga di dalam kehidupan manusia.”

Yang dikejar oleh manusia zaman sekarang, semuanya merupakan penampilan luar:

“Harta”.

“Rupa”.

“Nama”.

Saya berkata, “Kekayaan hanya dimiliki sementara waktu saja di dunia manusia, rupa hanya dimiliki di masa muda saja, nama dan kedudukan juga hanya dimiliki sementara waktu saja. Saya mengatakan dengan sangat jujur, saya memandang rendah ‘harta’, ‘rupa’, ‘nama’.”

Ada yang menjadi konglomerat, menganggap diri sendiri sudah sangat menakjubkan!

Ada yang sangat rupawan di masa muda, menganggap diri sendiri sudah sangat menakjubkan!

Ada yang menjadi pejabat, menganggap diri sendiri sudah sangat menakjubkan!

Saya tertawa terbahak-bahak, tidak pantas!

Sudah menjadi seorang konglomerat, terus kenapa? Ketika tiba saatnya meninggalkan dunia ini, satu pun tidak ada yang dapat dibawa serta. Rupawan dan muda, terus kenapa? Hanya sekejap waktu saja, sudah menjadi si tua bangka. Menjadi pejabat tinggi, terus kenapa? Lewat beberapa tahun, sudah berubah menjadi ubanan dan lamban.

Semua itu hanya sesaat.

Yang benar-benar paling berharga adalah, terbebas dari kelahiran dan kematian, menentukan sendiri kelahiran dan kematian diri sendiri, memahami hati dan menyaksikan Buddhata, mencapai keBuddhaan dalam tubuh sekarang, tiada dilahirkan dan tiada musnah, menyaksikan Buddhata diri sendiri, Buddhata yang abadi.

Saya menghormati dan berdecak kagum pada sadhaka yang berhasil mencapai pencerahan.

Di dunia ini, satu-satunya yang paling memiliki harga adalah:

“Buddhata”.

*

Kutipan kata bajik zaman dahulu berkata, “Buddhata tidak diperoleh melalui pelatihan diri, Buddhata sesungguhnya telah ada.”

Saya berkata, “Jika tidak melalui samadhi dan proses sadhana yang lama, anda tidak akan dapat memahami bahwa Buddhata tidak diperoleh melalui pelatihan diri.”

Ini kelihatannya bertentangan.

Kemudian, anda mesti mengamati dengan saksama. Sadhaka yang mempraktekkan jalan ini sejak lama, jika tidak mengalami “ombak pasang”, bagaimana bisa memahami “tidak ada yang diperoleh”?

Buddhata tidak diperoleh dari pelatihan diri.

Namun, samadhi dan bersadhana merupakan keharusan.

*

Tantrayana menganggap:

Tahap halus dari bersadhana dan samadhi untuk mengenali hati, di saat tubuh menjadi tenang dan bersih, ucapan menjadi tenang dan bersih, pikiran menjadi tenang dan bersih, dapat memahami sunyata dari tubuh kasar diri. Sunyata tubuh kasar ini, dapat membebaskan dari tumimbal lahir kelahiran dan kematian, dan dapat melepaskan beban pikiran dan penderitaan.

Prajna dari hawa.

Pembebasan dari nadi.

Titik cahaya terang yang suci.

Pengalaman bersadhana yang demikian dapat memperlihatkan dengan jelas bahwa harapan duniawi sebetulnya biasa-biasa saja, memahami makna hidup yang sesungguhnya, bahkan dengan prajna dari kesunyataan dapat mengakhiri penderitaan, harapan, avidya.

Kita sepatutnya:

Menghormati Buddhata yang ada dalam diri kita.

Buddhata bagaikan penari yang bersahaja.

Pakaian duniawi yang bergemerlapan seluruhnya ditinggalkan.

Menembusi lautan ilusi.

Hanya Arya yang melakukan samadhi dan bersadhana, barulah dapat mengenali anda.

Saya berkata, “Samadhi dan bersadhana merupakan keharusan, sama seperti Buddha Dharma, hanyalah merupakan sebuah alat. Saya telah mendalami selama 40 tahun, akhirnya menyaksikan Buddhata yang amat langka dan amat berharga. Tak dapat disangkal, samadhi, sadhana, dan Buddha Dharma hanya merupakan alat. Namun, tanpa alat, tidak akan dapat menyaksikan Buddhata!”

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »


diterjemahkan dari buku karya Grand Master Sheng-Yen Lu ke-006 “Tenang dan Pikirkan dengan Seksama”
Translation : Meilinda Xu 莲花许月珊

Mahaguru Buddha Hidup LianSheng Sheng-Yen Lu

Hari ini kita membahas mengenai yang hal yang ditemui dan didengar oleh Biksulama Lianjin di Hongkong.

Saya ingat dulu saya pernah mengunjungi rumah Acarya Changren di Hongkong, rumahnya di Gunung Cheyun, ruang pribadinya sama seperti yang diceritakan oleh Biksulama Lianjin yaitu hanya satu ruangan dengan satu beranda, bahkan tempat untuk menjemur pakaian pun tidak ada; oleh karena itu mereka menjulurkan keluar bambu jemuran dari ruangannya dan menggantungkan pakaiannya hingga penuh, dilihat dari jalanan seperti lautan bendera. Ow! Ini adalah bendera jutaan negara di Hongkong.

Orang-orang ini sangatlah miskin, namun juga ada yang kaya. Kesenjangan sosial antara yang kaya dan miskin cukup besar. Di antara para siswa Tantrayana Satya Buddha juga ada yang sangat kaya, orang yang sangat kaya datang mengendarai mobil Rolls Royce, luas tempat tinggalnya meliputi setengah gunung, rumah bergaya Barat yang sangat besar, di dalamnya masih ada lift, gonta-ganti supir, rumahnya mempekerjakan pelayan, ruang tamunya juga sangat mewah, kesenjangan yang kaya dan miskin terlalu besar, sebagian orang sudah sangat bersyukur memiliki tempat tinggal!

Vihara Vajragarbha Hongkong pernah memiliki “Yayasan Welas Asih Sheng-Yen Lu”. Pada musim dingin, mereka pernah meletakkan sangat banyak kasur dan selimut kapas di lantai dasar gedung berkuda. Anda dapat melihat para fakir miskin segera mencari tempat yang nyaman, di malam harinya mereka menggelar selimut kapas dan tidur di atasnya, tidak punya rumah untuk pulang. Begitu para pekerja Vihara Vajragarbha Hongkong berkunjung, di setiap tempat, setiap pekerja vihara menggelar kasur selimut kapas untuk mereka, ini adalah melakukan perbuatan welas asih.

Biksulama Lianjin masih belum pernah melihat bahwa di Hongkong ada hal seperti ini. Ia menyewa sebuah lokasi tidur, di samping lokasi tidur tersebut, semuanya adalah jaring besi, mendirikan sebuah ranjang. Jaring besi ini juga mempunyai pintu jaring besi, ada kait penguncinya. Barang bawaannya diletakkan di atas kasurnya. Saat ingin tidur di malam hari, maka pulang membuka kunci pintu dan masuk untuk tidur. Pintunya dikunci saat pergi bekerja pada pagi hari, hanya ada sebuah lokasi tidur saja! Ada yang tidak memiliki tempat tinggal, juga ada yang hanya memiliki sebuah lokasi tidur. Sudah sangat bagus jika kita menemukan sekeluarga tidur bersama dalam hanya sebuah ruangan dengan satu beranda.

Sebenarnya tidak perlu pergi ke Hongkong untuk melihatnya. Anda pergi ke New York juga dapat melihatnya. Ada sangat banyak gelandangan yang tidak memiliki rumah, sangat banyak pelajar yang keluarganya tidak punya banyak uang, namun saat belajar, seperti temannya Foqing (anak perempuan Mahaguru), menyewa sebuah tempat seharga 600 sen – USD 0.600. Tempat yang disewa seharga USD 0.600 di New York adalah tempat yang seperti apa? Adalah sebesar kamar mandi anda saja! Tempat yang sebesar kamar mandi itu punya satu pintu masuk, adalah tempat yang hanya sebesar itu! Satu setengah tatami, lebih kurang hanya satu setengah tatami saja. Tinggal di sana, mandi dan buang air di toilet umum. Di New York juga ada.

Oleh karena itu, pada saat ini, lihatlah kehidupan-kehidupan yang seperti ini. Masih ada yang lebih menderita daripada ini! Walaupun demikian, di Hongkong dan New York masih terdapat bahan makanan. Anda pergilah ke Afrika dan lihatlah penduduk yang menderita kelaparan. Pergilah ke tempat pengungsian. Mereka mendirikan tenda, semuanya tinggal di dalam, di dalam tenda tersebut.

Tadi Biksulama Lianjin juga melihat orang Hongkong yang seperti itu, sebenarnya dulu saat saya ke Hongkong juga sering berkata seperti ini,  “Bagaimana bisa seperti ini? Di jalanan Hongkong,di dalam kota, bagaimana bisa setiap hari ada begitu banyak orang berjalan ke sana kemari, tidak satu detik pun pernah berhenti? Orang-orang berlalu lalang di jalanan, berjalan ke sana kemari, berjalan ke sana kemari, orang yang itu-itu juga, mengapa bisa ada begitu banyak orang yang kurang kerjaan, melintas di jalanan?”

Saya juga memiliki perasaan seperti ini, untuk apa mereka berlalu lalang di jalanan (Mahaguru tertawa)? Setiap orang memiliki tujuan yang berbeda, tidak semua orang demi memiliki tempat tinggal (Mahaguru tertawa): tadi Biksulama Lianjin mengatakan bahwa ia melihat setiap orang berusaha demi mampu memiliki sebuah tempat tinggal, sebenarnya itu benar bagi sebagian dari mereka, sebagian lagi malah untuk sandang pangan – berpakaian, makan, bekerja.

Saya sering tidak habis pikir kenapa mereka berlalu lalang di jalanan. Suatu hari saat saya berada di Villa Pelangi di dekat sebuah sarang semut, saya melihat banyak semut berlalu lalang di sana, akhirnya saya mengerti mengapa mereka berlalu lalang (Mahaguru tertawa), karena semut juga setiap hari berlalu lalang di sana! Lantas, apa bedanya manusia dan semut?

Mengapa mereka melintas di sana? Cuaca begitu dingin, mengapa tidak bersembunyi di rumah sendiri, di luar berlalu lalang untuk apa? Melihat segerombolan besar semut berlalu lalang di sana, maka anda akan mengerti mengapa manusia berlalu lalang di jalanan, adalah karena alasan yang sama.

Segala makhluk hidup adalah demi mempertahankan hidup, yang disampaikan dalam dharmadesana tadi juga bagus, kita hidup di sini lebih tidak khawatir. Pangan, sandang, papan, sadhana – punya tempat tinggal, setiap orang di sini memiliki tempat yang dapat ditinggali. Di sisi makanan tidak ada yang perlu anda khawatirkan. Sisi pakaian juga tidak perlu dikhawatirkan. Sisi sadhana juga sama.

Bhaktisala Altar Utama Caodun Leizangsi di Kota Caodun, Taiwan

Oleh karena itu, kadang kala perlu memahami, bagaimana orang lain melewati hidupnya? Lalu, bagaimana kita melewati hidup kita? Kita melewati hidup seperti ini, adakah maknanya? Di manakah maknanya? Tujuan anda sendiri di mana? Maknanya di mana? Di dalam kehidupan yang sekarang ini, apa yang ingin anda lakukan? Lalu, apakah tugas dan tanggung jawab setiap hari telah diselesaikan? Kegunaan hidup anda setiap hari apakah telah dimanfaatkan sebaik-baiknya? Kegunaan kehidupan anda yang sekarang ini apakah telah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya? Setiap hari hendaknya berpikir seperti ini, sehingga tidak terlalu menyia-nyiakan waktu, tidak akan dapat membiarkan waktu dilewatkan begitu saja dengan sia-sia.

Sangat cepat! Anda berpikir sekarang anda masih sangat muda, tidak terpikirkan masa depan. Pada saat saya baru datang dari Taiwan ke Amerika – usia 38 tahun, saya juga tidak pernah memikirkan masa depan. Saat itu saya tidak pernah memikirkan masa depan saya akan seperti apa, tidak pernah mencoba memikirkannya, namun dengan cepat waktu telah terlewatkan! Saya merasa saya sangat muda saat saya berusia 38 tahun, beginilah kehidupan manusia.

Oleh karena itu, anda mampu dari usia 38 tahun, menempuh hidup hingga 50 tahun. Begitu mengedipkan mata, sudah 70-an tahun. Pada saat usia 80-an, anda mampu mengeluarkan sesuatu barang untuk diperlihatkan kepada orang-orang, katakanlah anda benar-benar memiliki sesuatu barang, poin ini sangatlah penting! Tidak boleh saat anda telah berusia 70 atau 80 tahun, yang anda hasilkan masih tetap sama seperti ketika anda berusia 20 tahun.

Oleh karena itu, kita mempelajari Buddha Dharma juga tetap harus menyerahkan rapor, bersadhana juga harus menyerahkan rapor; pada saat tiba usia senja, nilai rapor yang diperlihatkan berwarna hijau, lulus, bukan setiap mata pelajaran mendapat nilai merah, tidak lulus.

Dapat juara satu sangatlah baik! Namun juga tidak boleh juara satu dari belakang. Dapat juara satu sangatlah baik, setelah dihitung-hitung, cuma ada anda seorang, tentu saja dapat juara satu! (Mahaguru tertawa) Namun tidak boleh dapat juara satu dari belakang. Kehidupan kita sebagai manusia juga harus menyerahkan rapor, namanya rapor kehidupan manusia.

Tidak menyia-nyiakan kehidupan ini mesti bagaimana? Adalah pada saat rapor kehidupan manusia diperlihatkan, nilai setiap mata pelajaran adalah lulus. Dengan demikian anda dapat mempertanggungjawabkannya kepada para Buddha dan Bodhisattva di Vihara Vajragarbha ini, karena anda tinggal di sini, hidup di sini. Yang anda makan adalah milik Bodhisattva, yang anda tinggali adalah rumahnya Bodhisattva, yang anda pakai adalah milik Bodhisattva, bepergian menggunakan kendaraan milik Bodhisattva! (Mahaguru tertawa) Anda hidup dengan memandang wajah Bodhisattva, rapor anda nanti, harus anda serahkan kepada Bodhisattva!

Om Mani Padme Hum.

~ Tulisan ini diambil dari bagian pendahuluan buku karya Sheng-Yen Lu “Lagu Buddha hidup (1)”

********

Browse for origin article please Sign In (Free) to https://www.tbboyeh.org/    daftar (Gratis) untuk membaca artikel sumber

*If you are pleased to see the translation, or if you find the article and translation are helpful and insightful to you, would you like to donate a penny for the Author’s Religious Charity Society https://sylfoundation.org/ no matter how much is it, we are really thankful, because the merits that counts 🙂 thank you very much for your care!

Jika anda senang dengan terjemahan ini, atau jika anda merasakan bahwa artikel dan terjemahan ini berguna dan menginspirasi, maukah anda berdana sedikit ke Badan Amal dari Penulis di https://sylfoundation.org/ berapapun itu sangat berarti, kami sangat berterimakasih karena setiap dana yang diterima sangatlah berharga 🙂 terimakasih banyak atas perhatian anda!*

**This Article Translation is dedicated to all beings, thanks a lot for our Grand Master Shengyen-Lu for this Precious Teaching

Penerjemahan Artikel ini didedikasikan untuk semua insan, terimakasih banyak kepada Grand Master Shengyen-Lu atas Ajaran yang Berharga ini**

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »